Artikel pendek ini—dua halaman 367 kata— mengekpresikan pandangan penulis mengenai suatu tesis sederhana: keterhubungan (connectedness) adalah kata kunci untuk kebahagiaan. Argumennya sederhana: tiada kebahagiaan tanpa cinta dan tidak ada cinta tanpa keterhubungan. Jika berminat mengakses artikel berformat agak puitis ini silakan klik: Misteri_Keterhubungan
Misteri Keterhubungan
Published by Uzair Suhaimi
**Statistics and Spirituality: An Unexpected Synergy** At first glance, the pairing of statistics and religion may seem unconventional—even paradoxical. One discipline is rooted in empirical analysis, quantifying the tangible realities of our world; the other contemplates the transcendent, exploring truths beyond the physical realm. Yet this very duality defines my journey: a lifelong dedication to statistical rigor intertwined with a deep fascination for humanity’s spiritual dimensions. **Professional Journey: Three Decades of Data-Driven Impact** From 1981 to 2011, I served as a statistician at *BPS-Statistics Indonesia*, the nation’s central bureau of statistics, contributing to data-driven policymaking and national development. Following this, I lent my expertise to Indonesia’s *TNP2K* (a Vice President’s Office initiative) and the *International Labour Organization’s Regional Office for Asia and the Pacific (ILO-ROAP)* as a senior statistician. Since 2012, I have operated as an independent consultant, collaborating with entities like the ILO and Indonesian government agencies on pivotal projects. A recent highlight includes leading Indonesia’s first comprehensive *estimation of child labor* for the ILO Country Office in Jakarta (2019), a critical step toward addressing this urgent social challenge. **Spiritual Inquiry: Bridging the Universal and the Esoteric** Parallel to my professional work, I have nurtured a decades-long intellectual passion for the essence of religious thought—its esoteric traditions, universal principles, and timeless wisdom. Sufism’s mystical teachings and the *perennial philosophy*, which seeks shared truths across spiritual traditions, hold particular resonance for me. To explore these themes, I have authored and shared reflections on my personal blog, inviting dialogue on how inner understanding intersects with our outer world. **Convergence: Where Analysis Meets Meaning** This unlikely harmony between data and devotion has profoundly shaped my perspective: statistics reveal the *"what"* of human conditions, while spirituality grapples with the *"why."* Together, they form a dynamic lens through which I seek to understand—and contribute to—both the measurable and the immeasurable dimensions of life. . View all posts by Uzair Suhaimi
Pak Uzair Ysh,
Tulisannya menyentuh, terutama pada bagian akhir yang menyebutkan tiada kebahagiaan hakiki tanpa keterhubungan dengan yang Maha Mutlak. Saya seperti disadarkan kembali bahwa ada “Cinta” di atas Cinta (biasa). Dengan keterbatasan diri, saya tahu Cinta-Nya sangat besar dan meliputi semua ciptaannya termasuk saya. Cinta yang sangat indah, yang memberikan apa pun yang terbaik buat hamba-Nya. Namun, mampukah kita, saya khususnya, menjalin hubungan yang lebih intens kepadaNya, memberikan cinta yang juga indah kepada Dia yang Maha Indah. Hanya kepada Allah, saya memohon kekuatan untuk mencinta.
Terima kasih Pak Uzair atas pencerahannya.
ps. sastra itu Indah 🙂
LikeLike
Upi, Yth
TK komentarnya. Dugaan saya benar: Upi dapat menagkap point-nya (tidak semua bisa lho!). Mampukah menjalin keterhungan intens dengan Dia? Ya harus berkehendak kuat untuk mampu. So, the first step is the will, pasang niat kuat. Intensitas keterhubungan saya kira bertingkat (dalam skala interval) melalui banyak ‘stasiun’ dan ‘maqam’ (istilah sufi), serta melalui perjuangan sangat berat (riyadah, kata orang sufi) karena berhadapan langsung dengan musuh terbesar kita, ego kita. Hemat saya, itulah antara lain hikmah di balik ‘perintah’ Salat, dzikir, serta do’a kepada Dzat yang “membolak-balikan hati” agar diberi kekuatan ber-istaiqamah atau konsisten. (Hati tidak sepenuhnya berada dalam pengendalian kita lho.) Salam
LikeLike
Pak Uzair yang terkasih.
Tulisannya sarat dengan makna.
Saya sulit memberikan komentar, tetapi saya bisa merasakan “ruh” dari tulisannya.
Terima kasih, dan salam Takzim.
Sepertinya akan semakin produksif nih karya-karya nya dengan semangat memberi.
LikeLike