Judul itu kira-kira berarti “bukan itu, bukan itu, bukan itu”.., suatu negasi terhadap deskripsi apapun mengenai Yang Mutlak. Artikel pendek ini (62×7 kata) mencoba meringkas –sepadat dan sesederhana mungkin— inti ajaran sejumlah teolog besar tetapi sangat rendah hati dari bebagai latar tradisi keagamaan yang menegaskan: bahasa manusia tidak memadai mendeskripsikan Yang Mutlak, Beyond Being.
Neti, Neti, Neti, …
Published by Uzair Suhaimi
**Statistics and Spirituality: An Unexpected Synergy** At first glance, the pairing of statistics and religion may seem unconventional—even paradoxical. One discipline is rooted in empirical analysis, quantifying the tangible realities of our world; the other contemplates the transcendent, exploring truths beyond the physical realm. Yet this very duality defines my journey: a lifelong dedication to statistical rigor intertwined with a deep fascination for humanity’s spiritual dimensions. **Professional Journey: Three Decades of Data-Driven Impact** From 1981 to 2011, I served as a statistician at *BPS-Statistics Indonesia*, the nation’s central bureau of statistics, contributing to data-driven policymaking and national development. Following this, I lent my expertise to Indonesia’s *TNP2K* (a Vice President’s Office initiative) and the *International Labour Organization’s Regional Office for Asia and the Pacific (ILO-ROAP)* as a senior statistician. Since 2012, I have operated as an independent consultant, collaborating with entities like the ILO and Indonesian government agencies on pivotal projects. A recent highlight includes leading Indonesia’s first comprehensive *estimation of child labor* for the ILO Country Office in Jakarta (2019), a critical step toward addressing this urgent social challenge. **Spiritual Inquiry: Bridging the Universal and the Esoteric** Parallel to my professional work, I have nurtured a decades-long intellectual passion for the essence of religious thought—its esoteric traditions, universal principles, and timeless wisdom. Sufism’s mystical teachings and the *perennial philosophy*, which seeks shared truths across spiritual traditions, hold particular resonance for me. To explore these themes, I have authored and shared reflections on my personal blog, inviting dialogue on how inner understanding intersects with our outer world. **Convergence: Where Analysis Meets Meaning** This unlikely harmony between data and devotion has profoundly shaped my perspective: statistics reveal the *"what"* of human conditions, while spirituality grapples with the *"why."* Together, they form a dynamic lens through which I seek to understand—and contribute to—both the measurable and the immeasurable dimensions of life. . View all posts by Uzair Suhaimi
neti, neti, neti..
Pertanyaannya kenapa ada 7 cara: diam 7x. cukup 1 cara saja yaitu: Diam.
artikel yg ringan namun memiliki arti filosofi tersendiri. Usaha sekeras apapun untuk mencari makna”Maha” tidak akan dapat menghasilkan hasil yg memuaskan, krn “Maha” akan selalu mematahkan arti yg kita dapatkan.
Salam Takzim
LikeLike
Menjelang mendarat dari pesawat seorang pramugari biasanya mengingatkan dengan segala kekenesannya untuk tidak membuka sabuk pengaman “sebelum pesawat benar-benar berhenti”. Pertanyaannya, kenapa tidak cukup bilang “sampai berhenti”, tidak perlu tambahan “benar-benar”; toh berhenti ya berhenti. But we understand what she is trying to say: memperkuat. Analog dengan ini, kita memang harus “benar benar diam”, tidak cukup, misalnya, “pura-pura diam”, atau “diamnya setengah-setengah”. Kenapa 7? Karena 7 konon lambang sempurna [baca kan artikel misteri angka 7 saya] So, ada argumennya kan. Salam
LikeLike
Kontemplasi atas Sang Kholik…. Cukup Pada Wujud para Makhluk Nya. Tak akan mampu Syaraf Otak Insan mencapai Kontemplasi atas Wujud Alloh SWT. Ketika memaksakannya, jalinan syaraf yang sudah tersusun rapih akan hancur berantakan. yang kemudian lahir banyak penyimpangan pemikiran akan Dzat Alloh Robbul Izzati.
Semoga Hidayah menunjukkan Cahaya penerang dan lentera bagi semua kesimpulan pada output pemikiran kita.
LikeLike
TK komentarnya yang pas. Sebenarnya tulisan dimaksudkan sebagai kritik terhadap ‘mereka’ yang merasa pengetahuannya mengenai yang Mutlak sempurna, final dan paling benar; mereka yang tidak mampu membedakan antara –meminjam pendekatan Ibnu ‘Arabi– Allah sebagaimana ada-Nya [Hua] yang pasti tak terjangkau, dengan Allah sebagaimana kita yakini atau kita perspesikan yang pasti relatif, dapat berbeda antar orang, dapat berbeda antar waktu sesuai dengan kematangan spiritual, dan tidak pernah memadai). Sekali TK ya komentarnya. Coba komentari tulisan yang lain.
LikeLike