Bahasa Burung

Kita mengenai istilah “khabar burung” yang biasa digunakan untuk merujuk pada kualitas informasi yang dianggap tidak berdasar sehingga dapat dan bahkan perlu diabaikan. Konotasi negatif seperti itu bagi penulis agak mengherankan. Alasannya, dalam hampir semua tradisi, burung umumnya melambangkan kebaikan yang  berlawanan dengan ular yang melambangkan kejahatan. Garuda –atau burung yang serupa– dalam banyak tradisi melambangkan kekuatan kebaikan yang dapat mengatasi semua jenis binatang melata yang melambangkan kekuatan kejahatan. Dalam tradisi agama_agama samawi, burung sering digunakan sebagai lamabang makhluk Tuhan YME yang suci yaitu malaikat. Dalam perjalanan_malam dari Mekah ke Yerusalem (Isra), Nabi SAW dikisahkan menunggangi burung yang dinamai Buraq.

Istilah Qurani

Menurut terjemahan Yusuf Ali, kata burung (bird) tercantum 19 kali dalam 16 ayat Al-Qur’an. Fakta quranik ini tak_pelak lagi mengisyaratkan makna atau lambang penting dari burung yang patut direnungkan.

Dalam satu ayat teks suci disebutkan semua burung melakukan salat dan bertasbih, dua bentuk penghambaan diri yang sangat penting dalam Islam. Selain itu, jika kata “burung” dikombinasikan dengan kata “bahasa” maka akan terbentuk kata majemuk “bahasa burung” (manţiqa aţtayri), suatu istilah qurani dalam arti tercantum dalam Al-Qur’an. Bahasa burung ini merupakan salah satu kelebihan yang dianugrahkan kepada nabiyullah Sulaiman AS (juga kepada Daud AS?) sebagaimana didokumentasikan secara abadi dalam teks suci (27:16):

Wa Waritha Sulaymānu Dāwūda Wa Qāla Yā ‘Ayyuhā An-Nāsu `Ullimnā Manţiqa AţŢayri Wa ‘Ūtīnā Min Kulli Shay’in ‘Inna Hādhā Lahuwa Al-Fađlu Al-Mubīnu

Dan Sulaiman telah mewarisi Daud , dan dia berkata: “Hai Manusia, kepada kami telah diajarkan bahasa burung dan kepada kami telah diberikan segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu karunia yang nyata”.

Dari ayat itu tampak bahwa mukjizat Nabi Sulaiman AS tidak hanya berupa kekayaan yang melimpah, melainkan juga kemampuan berbahasa burung. Dalam ayat lain (dalam surat yang sama) diceritakan bagaiamana nabiyullah itu dapat memahami “bahasa semut” bahkan “bahasa jin”. Fakta naqliah ini (fakta berbasis teks suci) mengisyaratkan bahwa istilah “bahasa burung” memilki arti yang luas, bersifat simbolis, serta tidak boleh diartikan secara harfiah sebagaimana diungkapkan oleh Guenon[1]:

There is often mention, in diverse traditions, of a mysterious language called “the language of the birds”—a designation that is clearly symbolic, for the very importance that is attribute to the knowledge of this language, as the prerogative of high initiation, does not allow us to take it literally. We read, for example, in the Qur’an: “And Solomon …”

Ilustrasi

Bagi Guénon, bahasa burung terkait dengan realitas lebih tinggi (higher reality). Mereka yang menguasainya berarti memiliki akseses kepada kebenaran yang lebih tinggi. Guénon memulai artikelnya itu dengan mengutip tiga ayat pertama dari As-Saffat sebagai contoh ilustratif dari bahasa burung. Berikut ini kira-kira pemaknaan ayat yang diberikan oleh Guénon:

Ayat-1: Wa AşŞāffāti Şaffāan

Kata Aş-Şāffāti secara harfiah berarti burung tetapi secara denotatif menyimbolkan malaikat (al-malakah); oleh karenanya, ayat ini menunjukkan hirarki langit atau spiritual.

Ayat_2: Fālzzājirāti Zajrāan

Ayat ini merujuk pada peperangan antara malaikat melawan setan, kekuatan surgawi melawan kekuatan  nerakawi; jelasnya, perjuangan antara status lebih tinggi (higher states) dan status lebih rendah (lower states). Dalam tradisi Hindu ini pararel dengan perjuangan antara Deva dan Naga dan Aura, atau antara Garuda dan Naga.

Ayat_3: Fālttāliyāti Dhikrāan:

Ayat ini menunjukkan pelafalan dhikr yang secara umum diinterpretasikan Qur’an, bukan Qur’an dalam bentuk yang diekspresikan dalam bahasa manusia, tetapi dalam bentuk prototype-nya yang abadi dalam al-lawh al-mahfuz. Dalam tradisi Hindu, dhikr dalam konteks ini setara dengan pelafalan Mantras secara berulang, sesuatu yang dilakukan oleh Devas untuk proteksi diri ketika perang melawan Auras.

Bagi penulis, ilustrasi di atas sangat mencerahkan, sesuatu yang sejauh ini tidak penulis temukan dalam tafsir yang dikenal. Wallahu’alam…@

 

← Back

Thank you for your response. ✨

 

 


[1]Réne Guénon, “The Language of Birds”, www.worldwisdom/pblic/ library/defaultt.aspx. Penulis sengaja tidak menerjemahkan kutipan agar pembaca yang budiman terdorong untuk mengakses artikel aslinya.

Dikendalikan Alam

Mungkin sekadar mengurangi rasa pegal, di kawasan paling miskin Turki Selatan, ketika suhu udara mendekati titik_beku pada pertengahan Oktober 2011, bumi menggerakkan sedikit badannya sejanak; terjadilah apa yang dikenal sebagai gempa bumi dengan skala 7.2, terbesar dalam 10 tahun terakhir di negara itu. Akibatnya: setidaknya 217 meninggal, 350 terluka, puluhan bangunan rumah dan apartemen ambruk, saluran listrik dan gas alam rusak tak_berfungsi[1]. Pertanyannya: Siapa dapat mencegah agar bumi di sana agar diam tanpa menggerakkan badan dulu paling tidak untuk “sementara” (yakni, sebelum Malaikat-Nya melakukan tugasnya meniupkan Sangkakala Kiamat Kubra)?

Mungkin karena sedang ceria, ombak di selatan Thailand– kebetulan penulis lagi “nyangkul” di negara gajah ini– memperlihatkan ketinggiannya sehingga tuan rumah laut enggan menerima kedatangan tamu berupa rombongan besar air sisa hujan dari utara. Akibatnya, terjadilah banjir berkepanjangan, tiga-bulanan, yang konon terbesar dalam 50 tahun terakhir di kerajaan itu. Pertanyannya: Siapa yang dapat memerintah ombak di sana agar tidak terlalu bergembira dulu sehingga ombak berkenan menerima rombongan sisa air hujan dari ketinggian daratan?

Mungkin karena sudah lama saling berdiam diri, belahan bumi Amerika bersalaman ketika berpapasan dengan rekannya dari Asia sehingga terjadilah sekitar 58 kali gempa bumi masing-masing berskala 6-7 dan dua berskala 7 lebih. Akibatnya, 7/4/2011 terjadilah tsunami di kawasan Jepang yang luar biasa hebat[2]? Pertanyannya: Siapa dapat memerintah agar keduanya untuk sementara tetap saling_acuh?

Untuk semua peristiwa alam itu –seperti halnya untuk peristiwa alam lainnya termasuk gunung meletus, banjir besar, dan kemarau panjang– kita memberikan label musibah. Kenapa? Karena dampaknya terhadap manusia: semakin besar dampaknya, semakin tinggi kita memberikan peringkat musibah. Fakta tak terbantahkan, plain and simple, semua peristiwa itu di luar kendali manusia.

Jelaslah, manusia tidak berkuasa menaklukkan alam. Jelaslah, berdasarkan tiga contoh itu, manusia dikendalikan alam. Agaknya akan lebih baik jika jargon “menaklukkan alam” (conquer the nature) dihapus dalam perbendaharaan kata kita agar tidak terjebak dalam ilusi yang aburd.

Selain tidak kuasa menaklukkan alam, tanpa rahmat-Nya, manusia tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar bagi kelangsungan hidup mereka. Teks suci sudah mengingatkan hal ini sekitar 15 milenium yang lalu lalu[3]:

  • Pernahkan kamu perhatikan benih yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkan? Sekiranya kami kehendaki, niscaya Kami hancurkan sampai lumat; maka kamu akan heran tercengang (sambil berkata) “Sungguh, kami benar-benar menderita kerugian” Bahkan kami tidak mendapat hasil apa pun.
  • Pernahkah kamu perhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, mengapa kamu tidak bersyukur.
  • Maka pernahkan kamu memperhatikan tentang api yang kamu nyalakan (dengan kayu). Kamukah yang menumbuhkannya (api itu) untuk peringatan dan bahan berguna bagi yang musafir. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Mahabesar.

Wallahu a’lamu bi muradih..….@