Apa yang harus diketahui? Truth (dengan T besar) atau Kebenaran Universal. Tidak ada kebenaran yang bukan merupakan bagian dari atau bersesuaian dengan Kebenaran Universal.
- Sarana apa yang dapat digunakan untuk mengetahui Kebenaran? Hanya satu yaitu inteligensi yang –karena kesesuainnya dengan Intelek Universal- memiliki kekuatan bawaan (innate power) yang suprarasional untuk mengetahui Kebenaran Universal.
- Karena kita aksiden dan bukan Substansi (dengan S besar) yang mencakup Semua Kemungkinan (All-Possibility) maka kebenaran kita selalu relatif, parsial dan berpotensi berjarak dengan locus Kebenaran Universal. Dosa adalah perspektif yang mengingkari jarak ontologis itu. Kebenaran Substansi bersifat mutlak dan “obyektif” dalam arti terlepas dari persepsi atau pengetahuan kita mengenainya. Inilah latar belakang perintah untuk senantiasa minta petunjuk.
Apa yang harus dikerjakan? Goodness (dengan G besar) atau Kebaikan Universal. Tidak ada kebaikan yang bukan merupakan bagian dari atau tidak sejalan dengan Kebaikan Universal.
- Apa yang dapat mendorong kita merealisasikan Kebaikan Universal? Hanya satu yaitu kehendak (the will). Kehendak kita –sejauh murni atau terbebas dari jebakan ego- memiliki kekuatan bawaan untuk berorientasi pada Kebenaran Universal. Bagi kehendak murni, orientasi kepada Kebenaran Universal bersifat alamiah, sealamiah “kerinduan” dan upaya pepohonan untuk menghadapkan pucuk daunnya ke arah matahari.
- Karena kita bukan Substansi maka kebaikan kita selalu relatif, parsial dan berjarak dengan locus Kebaikan Universal. Inilah latar belakang perintah untuk banyak minta ampun.
Sufi menyeru Tuhan dengan sebutan Kebenaran (al-Haqq). Bagi mereka Tuhan lebih esensial dari Maha Benar yakni Kebenaran itu sendiri ….@