Aturan Emas: Meditasi, Konsentrasi dan Salat

Konon ada Aturan Emas (Golden Rule) yang merangkum inti ajaran semua agama. Aturan Emas itu adalah: “Mencintai Tuhan dengan segenap kekuatan dan mencintai tetangga”[1]. Dalam Aturan ini kata mencintai berarti tindakan inteligensi yang didasari keyakinan yang benar (Iman, Faith), tindakan kehendak untuk menyeleraskan dengan kebenaran Iman, serta tindakan hati untuk “berasimilasi” dengan kebenaran itu. Mencintai dengan pengertian ini menuntut partisipasi keseluruhan wujud (whole being): inteligensi, kehendak dan hati sekaligus.

Apakah hubungannya dengan meditasi? Jawabannya tergantung pada definisi meditasi. Jika meditasi diartikan secara umum sebagai “tindakan atau proses meluangkan waktu untuk berpikir tenang” (“act or process of spending time in quiet thought”)[2], maka meditasi tidak terkait dengan Aturan Emas. Sebaliknya, hubungan antara keduanya sangat erat jika meditasi diartikan sebagai “kontak antara inteligensi dengan Kebenaran” sebagaimana dilihat dari perspektif kaum tradisionalis. Untuk memperoleh gambaran yang agak memadai mengenai makna meditasi dari perspektif tradisional yang dimaksud, berikut ini disajikan kutipan dari tulisan tokoh utamanya:

Another mode of orison is meditation; contact between man and God here become contact between intelligence and Truth, or relative truths contemplated in the Absolute. …. Meditation acts on the one hand upon the intelligence, in which it “awaken” certain consubstantial “memories”, and on other hand upon the subconscious imagination, which end up incorporating into itself the truth mediated upon, resulting in fundamental and quasi-organic persuasion”[3].

Mode orisin yang lain adalah meditasi; kontak antara manusia dengan Tuhan disini menjadi kontak antara inteligensi dengan Kebenaran, atau kebenaran relatif dikontemplasikan dalam yang Absolut… Meditasi beraksi di satu sisi melalui inteligensi sehingga “membangkitkan” kenangan konsubstansial tertentu, dan di sisi lain melalui imaginasi bawah_sadar, yang berakhir dengan  penggabungan kebenaran yang dimeditasikan ke dalam diri, hasilnya adalah persuasi fundamental dan kuasi-organis.

Dari kutipan di atas jelas bahwa meditasi mengandung makna yang sangat luas dan mendalam, jauh lebih luas dan lebih mendalam dibandingkan dengan yang ditawarkan oleh kamus umum yang dikenal. Dengan perkataan lain, istilah meditasi dalam kamus umum yang kita kenal sebenarnya sudah didegradasikan maknanya dengan cara menghilangkan unsur-unsur yang “berbau” Tuhan. Degradasi berlaku untuk banyak istilah penting bagi kajian metafisis keagamaan lainnya termasuk intelek.[4]

Apa peran meditasi? Dalam perspektif kaum tradisionalis meditasi berperan penting dalam “membuka jiwa”:

The role of meditation is thus to open the soul, first to the grace that draws it away from the world, second to what brings it nearer to God, and third to what reintegrate it into God, if one may speak in this way, however, reintegration may be only a fixation in a given “beatific vision, that is, a still indirect participation in divine Beauty.

Meditasi berperan untuk membuka jiwa, pertama untuk berkah yang menjauhkan dari dunia, kedua untuk apa yang membawa lebih dekat kepada Tuhan, dan ketiga untuk apa yang mengintegrasikannya dengan Tuhan, jika boleh menggunakan ungkapan ini, tetapi reintegrasi mungkin hanya suatu fiksasi dari “visi keindahan” tertentu, suatu bentuk partisipasi tidak langsung dalam Keindahan ilahiah.

Jika meditasi terkait dengan Kebenaran dan inteligensi, maka konsentrasi terkait dengan Jalan (Way) dan kehendak (the will). Jika meditasi dan konsentrasi masing-masing adalah “amalan” inteligensi dan kehendak, lalu Salat amalan apa? Salat, sampai batas tertentu, dapat dilihat sebagai amalan jiwa. Meditasi, konsentrasi dan Salat; ketiganya menunjukkan secara jelas kehidupan spiritual sekaligus menunjukkan mode-modenya yang utama. Mengenai Salat, kutipan dari Shuon berikut ini layak direnungkan:

Prayer –in the widest sense—triumphs over four accidence of our existence: the world, life, the body, the soul; we might also say: space, time, matter, desire. It is situated like a shelter, like an islet. In it alone are we perfectly ourselves, because it puts us in the presence of God. It is like diamond, which nothing can tarnish and nothing can resist[5].

Salat –dalam pengertian paling luas—mengatasi empat aksiden dari keberadaan kita: dunia, hidup, tubuh, jiwa; kita dapat juga mengatakan: ruang, waktu, materi dan hasrat. Salat ibarat suatu tempat berlindung yang hanya di dalamnya kita menjadi diri kita sendiri secara sempurna karena menempatkan kita dihadapan Tuhan. Salat layaknya berlian, tidak ada yang dapat menodai maupun menolaknya.

Wallâhu’alam… @


[1] Dalam konteks Islam, Aturan Emas ini dirumuskan sebagai aturan untuk menjaga tali hubungan vertikal dengan yang Mutlak (hablun min Allah) dan hubungan horizontal dengan sesame (habl min annas). Kehinaan menimpa siapapun yang mengabaikan kedua macam hubungan ini. Wâllahu’alam.

[2] Meriam Webster, Advance Learner’s English Dictionary.

[3] Frithjof Schuon (2005), dalam Prayer Fashions Man, “Mode of Prayer” (59).

[4] Menurut Meriam-Webster, intelek adalah “kemampuan berpikir secara logis” (the ability to think in a logical way). Bagi kaum tradisional maknanya jauh lebih luas: “at once mirrors of the supra-sensible and itself a supernatural ray of light” (lihat Valodia dalam Glossary of Terms Used by Frithjof Schuon, tanpa tahun).

[5] Frithjof Schuon (2005), dalam Prayer Fashions Man, “The Servant and Union” (182).

← Back

Thank you for your response. ✨

Puasa, Iman dan Kebajikan

Puasa secara umum dapat didefinisikan sebagai berpantang_diri selama periode tertentu untuk makan, minum, hubungan seksual, tiga kebutuhan dasar fisiologis dan biologis, atau perbuatan lain yang dapat membatalkan puasa. Dalam pengertian ini puasa dikenal dalam semua agama dan tradisi, bukan hanya Islam. Mungkin tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kemampuan berpantang_diri sementara untuk tidak makan_minum_sex menentukan derajat manusia secara kategoris: tanpa kemampuan itu manusia setara dengan binatang atau bahkan lebih rendah[1]. Dari cara pandang ini alasan berpuasa sangat mendasar dan gamblang: kita berpuasa karena kita manusia (bukan binatang).

Bagi seorang muslim “perintah” puasa tak_terbantahkan karena berdasarkan dalil naqli (berbasiskan nash atau teks suci):

Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Ayat 183).

(Yaitu) dalam beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (Ayat 184)[2]

Ayat di atas dimulai dengan seruan bagi orang-orang yang beriman yang mengisyaratkan pentingnya unsur iman  dalam berpuasa[3]. Beriman kepada apa? Beriman kepada Dia yang Mutlak yang formulanya disarikan dalam bentuk kesaksian (syahadah): “La ilaha illa Allah”, “Tidak ada Tuhan Selain Allah”, rukun Islam yang pertama dan utama. Kenapa utama? Karena tanpanya, puasa dan pilar Islam lainnya (Salat, Zakat dan Haji) tidak bermakna. Kesaksian itu juga mengisyaratkan keterkaitan erat antara rukun Islam (Law) dengan rukun Iman (Faith)[4]. Menarik untuk dikemukakan bahwa rumusan syahadat itu menurut Schuon (2002: 81) merangkum semua Kebenaran metafisis: “All metaphysic is in fact contained in the Testimony of Faith (Shahadah), which is the pivot of Islam[5]. Kebenaran metafisis secara sederhana dapat didifenisikan sebagai Kebenaran[6] (dengan K besar) atau Truth (dengan T besar) yang bersifat abadi, supra-formal, bersifat mutlak karena sudah tertanam (built-in, pre-printed) dalam cetak_biru jiwa manusia, diakui atau tidak diakui.

Istilah Iman tidak sama dengan kepercayaan sebagaimana dipahami secara umum. Dalam kaitan ini berharga untuk dicermati “peringatan” Schuon mengenai perbedaan kedua istilah itu:

Faith is nothing other than the adherence of our whole being to Truth, whether we have of truth a direct intuition of this Truth or indirect notion. It is a misuse of language to reduce “faith” to “belief”; it is the opposite that is true: believe—or theoretical knowledge—must be changed into faith “that moves the mountain.

Iman tidak lain dari pada ketaatan keseluruhan diri kita pada Kebenaran (dengan K besar), apakah kita memahaminya secara langsung maupun tidak langsung. Merupakan suatu kesalahan bahasa untuk mereduksi Iman dengan Kepercayaan; sebaliknya lah yang benar: kepercayaan –atau pengetahuan teroritis– perlu dirubah menjadi Iman agar dapat “memindahkan gunung”[7].

Dalam konteks Islam, amalan-amalan yang sangat dianjurkan selama bulan Puasa, termasuk salat taraweh, salat malam, tadarus dan dzikir (kontemplasi dan meditasi), semuanya dapat dilihat sebagai upaya sadar dan intensional untuk memperkuat Iman serta mendekatkan diri (muraqabah) kepada yang Mutlak sampai seolah-olah melihat dan “jatuh cinta” kepada-Nya. Singkatnya, amalan-amalan itu dapat dilihat sebagai upaya untuk memcintai-Nya dengan seluruh keberadaan diri kita (with the whole of our being).

Tetapi mencintai-Nya perlu bukti dan ini berarti kebajikan (virtue) dalam arti luas sehingga kebenaran Iman menjadi kongkrit, terlihat dan hidup. Tiga unsur kebajikan yang fundamental adalah kebersahajaan (humility), kemurahan_hati (charity) dan kebenaran (veracity)[8]. Iman -syarat sah puasa- jelas terkait dengan unsur ketiga yaitu kebenaran.

Unsur pertama, kebersahajaan dapat diartikan sebagai pengakuan jujur mengenai keterbatasan diri. Hemat penulis, potongan kalimat “agar kamu menjadi bertakwa” mengesankan bahwa puasa merupakan syarat yang perlu (necessary reason), bukan syarat yang cukup (sufficient reason), untuk mencapai derajat takwa. Ini berarti, untuk mencapai derajat itu, mutlak perlu unsur lain dan itu tidak lain dari rahmat (mercy) Dia SWT[9].

Bagaimana dengan unsur kedua yaitu kemurahan_hati? Secara sederhana kemurahan hati dapat dirumuskan sebagai kemampuan melihat kedudukan orang lain setara dengan kedudukan kita di hadapan-Nya: seperti aku, orang lain juga subyek -tepatnya subyek yang kita obyektifkan (objectified subjects)- yang merupakan ekstensi atau perluasan dari Subyek Murni (Pure Subject) yang Riil yang mencakup subyek-subyek ralatif termasuk aku dan orang lain. Dalam perpektif ini maka anjuran untuk banyak ber-sodaqoh (berderma) selama bulan puasa dapat mudah dipahami dasar metafisisnya. Demikian pentingnya kemurahan_hati sehingga puasa menjadi kondisional bagi orang yang berat menjalankan puasa dengan cara mengkonpensasinya dengan “fidyah”, “memberi makan orang miskin” (pertengahan Ayat 184). Wallahu’alam…@


[1] Kenapa lebih rendah? Karena, konon, hewan mampu “mengendalikan diri”: makan_minum sekadar memenuhi kebutuhan fisiologis -tanpa unsur keserakahan apalagi kemewahan- dan kawin sesuai “musim” dan semata-mata karena dorongan biologis untuk reproduksi. “Musim kawin” tidak dikenal manusia.

[2] Al-Qur’an ( 2:183); terjemahan dari Al-Qur’an: Diseratai Terjemahan dan Transelasi, Al-Mizan (2008).

[3] Demikian pentingnya unsur itu sehingga para ulama pada umumnya menyepakatinya menentukan keabsahan puasa.

[4] Dua rukun itu, ditambah dengan pilar lainnya ang kurang popular yaitu Ihsan (Way), sesuai hadits Jibril, merupakan bangunan dari Tradisi terakhir dalam rangkaian agama-agama Langit (Yahudi, Nasrani dan Islam). Bagi penulis, istilah “memeluk Islam secara sempurna” (kaffah) berarti merealisasikan ketiga pilar itu (Iman, Islam dan Ihsan) secara lengkap dan seimbang. Artikel penulis mengenai ikhsan dapat diakses dalam web ini.

[5] Roots of the Human Condition, World Wisdom. Schuon menerjemahkan syahadat itu dengan “There is no divinity if not the (sole) Divinty (Allah)”. Baginya, rumusan dapat dibandingklan dengan rumusan Vedanata: “Brahman is real, the world is an appearance”.

[6] Dalam perspektif filsafat perrennial Kebenaran metafisis dapat diketahui oleh inteligensi yang fungsi utamanya membedakan antara yang Mutlak (the absolute, Atma) dengan yang relatif (maya, riil tetapi realitasnya relatif terhadap yang Mutlak). Tanpa kemampuan ini inteligensi bukan apa-apa. Dari kemampuan membedakan ini mucul kapasitas perasaan proporsionalitas (sense of proportionality) diri terhadap yang Mutlak: di hadapan yang Mutlak aku bukan apa-apa. Kelangkaan perasaan proporsionalitas ini yang ditemukan dalam figur Iblis, Fir’aun atau manusia lainnya dengan mentalitas luferian.

[7] Schuon (2007), Spiritual Perspective and Human Facts,”Knowledge and Love” (halaman 134).

[8] Uraian agak rinci mengenai kebajikan dapat diakses daalm web ini yang berjudul Kebajikan Funmdamental.

[9] Karena penuh rahmat, maka bulan puasa, khusunya dalam lailatul qadar, merupakan waktu yang tepat untuk menyiapkan diri menerima rahmat-Nya yang di luar kuasa kita. Apa yang dapat dilakukan adalah meningkatkan status kesiapan diri (state of preparadeness) untuk menerimanya.