Ya Rabb, terkadang hamba memulai wudu dalam rangka menghadap-Mu dengan dengan kalimat pendek yang berdaya menyucikan, bismillah; sayangnya, aku terlalu sering lalai menyelaraskan perilaku keseharian dengan doa-doaku itu.
Ketika mencuci pergelangan tangan aku berdoa: “Ya Rabb, berkatilah kedua tangan ini agar gemar terangkat bermunajat ke haribaan-Mu dan agar terbebas dari sifat kikir yang membelenggu”.
Dalam keseharian hati ini lebih sering mengabaikan-Mu yang Maha Hadir seolah-olah tidak butuh uluran tangan-Mu yang Maha Pemurah.
Ketika berkumur aku bermohon: “Ya Rabb, berkatilah mulutku agar mampu menyatakan kebenaran dan hanya kebenaran”.
Dalam keseharian mulut ini lebih banyak berceloteh sia-sia dan sering kali menyerempet bahaya.
Ketika hidung menghirup air aku berkata lirih: “Ya Rabb, berkatilah agar hidungku peka terhadap wewangian surgawi”.
Dalam keseharian hidungku lebih terbius oleh bau asap dunia fana yang menyesakkan dan mengaburkan visi kesucian.
Ketika membasuh wajah aku melafalkan doa: “Ya Rabb, limpahkan wajahku cahaya-Mu agar mampu merefleksikan kelembutan hati serta menebarkan kesejukan”.
Dalam keseharian wajahku lebih banyak mencuatkah kekasaran dan kekerasan hati.
Ketika mencuci tangan aku bermunajat: “Ya Rabb, limpahkan sedikit kekuatan-Mu agar kedua tanganku ini mau dan mampu melakukan kebajikan untuk kesejahteraan sesama”.
Dalam keseharian tanganku didominasi karya egosentris yang tidak peka terhadap kepentingan orang lain.
Ketika mengusap kepala aku meminta: “Ya Rabb, kendalikan pikiranku agar cukup jernih untuk mentadaburi luasnya rahmat-Mu yang mencakup segala”.
Dalam keseharian kepalaku didominasi perspektif sempit dan tidak merasa nyaman ketika mengenakan lensa universalitas.
Ketika mengusap telinga aku mengadu: “Ya Rabb, berkatilah telingaku agar menggemari suara yang mengajak ke jalan-Mu”.
Dalam keseharian telingaku lebih terobsesi oleh suara hiruk-pikuk dunia tanpa makna.
Ketika mencuci kaki aku berdoa: “Ya Rabb, bimbinglah kakiku agar condong ke jalan kebaikan dan hanya kebaikan”.
Dalam keseharian kakiku terbiasa menyusuri jalan kesia-siaan duniawi yang sering kali menyerempet batas-Mu.
“Ya Rabb, aku terlalu lemah untuk menyelaraskan perilaku keseharian dengan doa yang mungkin karena daki dosaku sudah terlalu tebal; oleh karena itu, berilah aku kelimpahan keberkahan bersuci sehingga mampu melunturkan daki dosaku!”.
”Ya Rabb, didiklah aku agar mampu bersuci secara layak sebelum menghadap-Mu, sebelum berpartisipasi sesama mahkluk lain dalam bertasbih kepada-Mu, sebelum menceburkan diri dalam cahaya-Mu yang tanpa batas!”
“Ya Rabb, terimalah doaku ini!; limpahkanlah Salawat dan Salam kepada junjunganku, rasul-Mu yang terakhir dan agung itu!… @
Semangat yang sejalan dengan do’a setelah wudhu sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW:
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
Artinya : “Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang bersuci”
Menurut Prof. Dr. Nasaruddin Umar, kata al-taibin dan al-tawwabin (orang-orang yang bertobat) berasal dari akar kata taba-yatubu yang artinya kembali, yaitu kembali ke jalan yang benar setelah menempuh jalan meyimpang.
STAIN Malang memaknai thohhir atau bersih dengan bersih dari hal-hal yang bersifat angkara murka, dholim,mungkar dan sifat subyektif atau mengharap sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
LikeLike
Mungkin bisa ditambahkan: bersih (paling tidak untuk sementara) dari cara pandang egosentris yang sempit serta mengharapkan berkah kemampuan memiliki cara pandang Diri_Sejati (True Self) yang luas dan mencakup segala. Bukankah cinta Tuhan, seperti sinar matahari, mencakup segala tanpa membeda-bedakan? Gimana?
LikeLike