Refleksi Akhir Tahun: Pengakuan Dosa

Refleksi Akhir Tahun: Pengakuan Dosa

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Ya Rabb; tahun ini segera berakhir dan tahun depan segera menjelang. Dalam kesempatan ini izinkanlah hamba memohon perlindungan dari sifat adil-MU karena neraca amalku sangatlah timpang: amalku yang tipis sangat tidak sebanding dengan dosaku yang tebal. Ampunilah hamba: Bukankah Engkau Maha Pengampun? Tipisnya amalku, jika ada, adalah berkat kemurahan-Mu; tebalnya dosaku adalah akibat perbuatanku yang melewati batas-Mu. Ya Rabb; mohon agar ketimpangan neraca amalku tidak menghalangi pemberian anugerah ampunan-Mu: Bukankah sifat rahmat-Mu mengatasi murka-Mu?

Ya Rabb; di akhir tahun ini izinkanlah hamba melakukan pengakuan dua dosa besar: “syirik” dan menganiaya diri sendiri. Ya Rabb; hamba mengaku belum mampu terbebas dari sifat “syirik” dengan mempertuhankan selain-Mu yaitu hawa nafsu. Ke-ilahan-Mu yang mutlak seringkali kucemari dengan penghambaan diri terhadap hawa nafsu. Terlalu sering hamba mengabaikan panggilan-Mu karena memperturutkan hawa nafsu melakukan tindakan bodoh dan sia-sia.

        • Panggilan-Mu melalui adzan dzuhur kerap tidak mengusik obrolanku yang mubazir.
        • Peringatan-Mu melalui adzan Isya sering kuabaikan karena asyik menikmati tontonan.
        • Seruan-Mu melalui adzan shubuh jarang kutanggapi secara sungguh-sungguh.

Ya Rabb; hamba mengaku bodoh dengan terlalu sering mendzalimi diri sendiri:

        • Berkat hidayah dan kemurahan-Mu, hamba mengetahui jalan lurus, jalan taqwa, tetapi secara bodoh cenderung memilih jalan bengkok, jalan fujur.
        • Hamba dapat membedakan jalan terang (al-Nur) petunjuk-Mu tetapi malah sering cenderung memilih jalan gelap (dhulumat), jalur thagut.
        • Hamba dapat mendengar ajakan-Mu untuk bersegera menuju jalan ampunan-Mu tetapi belum mampu menanggapi respon secara memadai.

images

Ya Rabb; di akhir tahun ini, jika Engkau masih berkenan memberikan hamba kesempatan menapak tahun depan di dunia fana ini, izinkanlah hamba bermunajat agar hamba dikaruniai serta diperkuat hamba dengan sifat khusyu’, tekun dengan jiwa tenang, karena berdzikir, tanpa menunda-nunda, untuk merespon secara positif ajakan-Mu sebagaimana Engkau nyatakan secara gamblang dalam firman-Mu:

۞ أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ ﴿١٦﴾

Belumkah tiba saatnya bagi orang-orang beriman, untuk khusyu’ hati mereka karena dzikrullah dan apa yang telah turun (kepada mereka) dari kebenaran? Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang diberi al-Kitab sebelumnya lalu berlalulah atas marea masa yang panjang sehingga hati mereka keras dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang fasik (al-Hadid: 16).