Lebih Berhati-hati Ketika Berbuat Baik
Uzair Suhaimi
uzairsuhaimi.gmail.com
Judul di atas tampak aneh tetapi benar. Ketika melakukan perbuatan buruk kita cenderung berhati-hati karena takut kelihatan orang; jadi, motivasinya jaim (jaga image). Sebaliknya, ketika berbuat baik kita cenderung merasa aman dan tentram; karena alasan (terselubung) orang lain akan setuju, mendukung, atau bahkan (dengan harapan) memuji kita. Jadi, lagi-lagi motivasinya jaim. Lebih celaka lagi, ketika berbuat baik kita cenderung merasa puas diri (karena PD habis!)
![]()
Apa dalilnya dari pendapat di atas? Dalilnya adalah Rumus ke-132 dalam Al-Hikam[1]: Anta ilaa hilmihi idzaa atho’tahu ahwaju minka ila hilmihi idza ‘ashaitahuu. Terjemahan rumus itu kira-kira berarti:
Engkau lebih membutuhkan kemurahan-Nya kala mentatinya ketimbang kala berbuat maksiat kepadanya.
Belum jelas? Silakan lihat ulasan singkat Fadhlalla (rahimahullah):
“Ketika engkau berbuat maksiat, engkau direndahkan dan dihina, namun rahmat Allah dekat denganmu dalam keadaanmu seperti itu. Akan tetapi salik[2] yang taat bisa merasa bangga, sombong, persis sebagaimana mereka tidak memiliki lagi keikhlasan dan tauhid manakala ia puas dengan dirinya. Sunguh, puas dengan diri sendiri membutuhkan pengampunan dan kesabaran-Nya”[3] (garis bawah tambahan).
Pelajaran inilah yang tampaknya terkandung antara lain dalam keteladanan dari al-Amin SAW yang terbiasa istighfar paling tidak 100 kali dalam sehari.