Makna Hidup dan Salat

Hidup bukanlah semacam ruang kemungkinan yang menawarkan berbagai kesenangan hidup sebagaimana dipercayai oleh anak-anak dan orang-orang duniawi (worldly people); hidup adalah jalan yang semakin menyempit, dari momen masa kini ke kematian. Di ujung jalan ini ada kematian dan pertemuan dengan Tuhan, kemudian keabadian; semua realitas itu sudah hadir dalam Salat; dalam aktualitas nir-waktu dari Kehadiran ilahiah.

kali1000

Sumber: Google

Apa yang penting bukanlah keragaman pengalaman hidup sepanjang bentangan ajaib yang kita sebut durasi, tetapi ketekunan dalam “kenangan” (“rememberance”) yang membawa kita keluar dari waktu dan mengangkat kita mengatasi harapan-harapan dan ketakutan-ketakutan kita. Kenangan ini sudah ada dalam keabadian; di dalamnya, rangkaian aktivitas hidup hanyalah ilusi yang menjadi satu dalam Salat; Salat dengan demikian sudah merupakan suatu kematian, suatu pertemuan dengan Tuhan, suatu keabadian dalam kebahagiaan.

Apakah arti dunia kalau bukan aliran bentuk-bentuk (forms), dan apakah arti hidup kalau bukan suatu bejana yang dikosongkan dari satu malam ke malam lainnya? Dan apakah arti Salat kalau bukan satu-satunya titik stabil –terbuat dari kedamaian dan cahaya—di dalam dunia mimpi ini dan dalam gerbang sempit yang membawa kita pada suatu “tempat” dimana semua yang ada dalam dunia dan kehidupan ini menjadi remeh? Dalam kehidupan manusia, empat kepastian adalah segalanya: momen sekarang, kematian, bertemu Tuhan, dan keabadian. Kematian adalah pintu keluar dari dunia yang menjadi tertutup; bertemu Tuhan layaknya suatu pembuka jalan yang mengarah pada ketakterbatasan yang penuh cahaya dan tak berubah.

Keabadian adalah kelimpahan cahaya murni; dan masa kini adalah suatu tempat yang hampir tak terfahami dalam durasi kita yang sudah abadi—suatu tetesan keabadian di tengah perubahan bentuk dan melodi; Salat memberikan daya penuh kebadian dan nilai-nilai ilahiah dalam titik waktu duniawi; Salat adalah kapal suci yang mengantarkan muatannya, melalui kehidupan dan kematian, menuju pelabuhan berikut, menuju keheningan cahaya. Dan lebih dari itu, dalam level yang lebih dalam, bukannya Salat yang berlalu dalam waktu; waktu itulah yang berhenti di hadapan Salat yang sudah menjadi kesatuan utuh dan keunikan surgawi dari Salat.

Catatan: Tulisan ini merupakan terjemahan bebas dari Prayer Fashions Man: Fritjhof Shuon on Spiritual Life, World Wisdom, Inc., halaman 75.