Durasi hidup kita adalah jalur sempit yang semakin menyempit dan berujung pada kematian[1]. Dalam jalur itu ada dua kepastian yang menentukan segalanya: “masa kini” dan “kematian”. Yang pertama, penuh kebebasan[2]; yang kedua, tanpa kebebasan karena semuanya di “tangan” Tuhan.
Salat –dalam pengertian “ibadah mahdhah” atau “cannonical prayer”[3]—dapat dikatakan identik dengan kematian. Kenapa? Karena dalam Salat maupun “kematian” tidak ada kebebasan: kebebasan gerak, kebebasan bicara, kebebasan bersikap, atau kebebasan lainnya.
- Ketika Salat, gerakan tubuh maupun ucapan mesti megikuti aturan tertentu sesuai “pakem” atau kanonikal; tidak ada ruang bagi kebebasan atau inisiatif;
- Ketika salat, kedua kepastian itu –“masa kini” dan “kematian”—bertemu; tepatnya “waktu” berhenti di hadapan Salat; dan
- Ketika salat, dua kepastian lainnya juga bertemu: “bertemu Tuhan” dan tenggelam dalam “keabadian”.
Singkatnya, Salat mempertemukan empat kepastian: “masa kini”, “kematian”, “bertemu Tuhan” dan “keabadian”[4]. Itulah sebabnya orang cerdas[5] melaksanakan Salat selain sebagai suatu kewajiban agama tetapi juga sebagai wahana untuk latihan mati.
Selain latihan mati, apa yang layak dilakukan pada “masa kini” sebelum “bertemu Tuhan”? Jawaban singkat: dzikir. Simak saja ini:

Belum tibakah waktunya bagi orang yang beriman, untuk secara khusuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang fasik (QS 57:16)[6].
Wallahualam bi muradih…..@
[1] Lihat At-Takastsur (Qur’an: Surah 102)
[2] Kebebasan itu tentu saja tidak mutlak karena manusia secara niscaya adalah makhluk kontingen yang terikat ruang dan waktu.
[3] Pelaku Salat dalam pengertian ini kedudukannya bukan sebagai manusia “tertentu” atau yang “menyejarah” (such a man), tetapi manusia fithrah (man as such) bersama makhluk lainnya.
[4] Lihat “Makna Hidup da Salat” dalam blog ini.
[5] Orang cerdas adalah orang yang mengetahui atau mampu membedakan mana yang prioritas, esensial, penting dan menentukan.
[6] Al-Mizan (2008): Al-Qur’an disertai Terjemahan & Transliterasi.
