Hunsul Khatimah: Arti, Tanda dan Signifikansi Doa

Arti Husnul Khatimah

Kata husnul (Arab) berarti baik atau indah, sementara kata khatimah (Arab) artinya tamat, ujung, akhir, selesai, atau pamungkas. Jadi, secara kebahasaan (Arab: lughowi), husnul khatimah berarti akhir yang baik. Kata khatam dalam ungkapan khatam Al-Quran (Indonesia) biasa diartikan sebagai tamat membaca Al-Quran, sementara ungkapan khatamun nabiyyin (Arab) biasa diterjemahkan sebagai pamungkas para nabi-nabi.

Secara istilah (Arab: ishtilahi) husnul khatimah berarti akhir hidup yang baik. Istilah ini antara lain berarti meninggal dalam keadaan Muslim sebagaimana terungkap dalam wasiat Ibrahim AS dan Ishaq AS kepada anak-anak mereka: “…maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim” (Quran 2:132).

Dalam pengertian inilah seorang Muslim biasa menggunakan istilah husnul khatimah sebagai doa ketika melengkapi ungkapan belasungkawa atas meninggalnya seseorang. Eloknya, dia mengarahkan doa ini juga (atau bahkan terutama) untuk dirinya sendiri.

Tanda Husnul Khatimah

Tanda husnul khatimah yang dapat diamati adalah ikrar dan pengucapan dua kalimah syahadat sesuai dengan Hadits yang diterangkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim:

Dari Abu Dzar r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallaah,’ kemudian meninggal, maka pasti masuk surga.”

Dari Anas r.a., bahwa Nabi saw. telah bersabda, “Akan keluar dari neraka bagi orang yang mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallaah,’ walaupun hanya sebesar satu butir iman di hatinya.”

Atas dasar ini Muslim memiliki kebiasaan membimbing membacakan syahadat bagi orang yang dalam sakaratul maut (menjelang wafat). Dalam praktik, konon sangat sulit melakukan ikrar dan ucapan ini bagi orang-orang yang memenuhi lembar-lembar hidupnya dengan dosa-dosa. Wallahualam.

Signifikansi Doa

Doa Harian yang Penting

Muslim pada umumnya memahami arti penting husnul khatimah dan memiliki kepekaan mengenainya paling tidak karena tiga alasan. Pertama, mereka diajarkan bahwa “akhir hidup yang baik” merupakan isyarat kuat keselamatan diri dalam perjalanan pulang ke kampung akhirat. Kedua, mereka mengenal ajaran bahwa “kematian adalah suatu pintu yang setiap orang pasti memasukinya”. Ketiga, mereka mengetahui sejarah bahkan menyaksikan banyak kasus “tokoh” yang memiliki catatan karier hidup yang baik (alim, berjaya, tersohor), tetapi mengakhiri hidupnya secara menyedihkan (penuh-maksiat, hina, terpuruk).

Dengan tiga alasan ini maka layak jika seorang Muslim mengamalkan doa husnul khatimah sebagai doa harian yang penting, tentunya dibarengi amalan saleh yang relevan.

Husnul Khatimah sebagai Buah

Tetapi doa, agar efektif, menuntut upaya. Dengan demikian, doa husnul khatimah akan bermakna jika sejalan dengan upaya-upaya yang sesuai. (Dalam analisis terakhir, uluran kasih-Nya tentu paling menentukan tetapi ini di luar kendali manusiawi.) Dinyatakan secara berbeda, husnul khatimah adalah buah atau hasil atau resultan dari serangkaian upaya yang relevan dari sisi manusia.

Upaya-upaya yang relevan pada garis besarnya adalah menjalani kehidupan yang baik. Ini berati berpikir benar (Iman), berbuat benar (Islam) dan melakukan keduanya secara sempurna atau indah (Ihsan). Iman-Islam-Ihsan ini yang menjadi pilar Agama Islam (lihat Hadits Jibril, misalnya).

Doa Imam Ali

Dalam konteks ini menarik untuk disimak pelajaran Imam Ali Zainal Abidin mengenai doa husnul khatimah. Dalam redaksi doanya tampak bahwa  Imam ini yang secara jelas mengaitkan husnul khatimah dengan amalan dzikir (mengingat Rabb SWT), syukur (sikap berterima kasih kepada-Nya) dan taat (patuh kepada perintah-Nya). Beliau tidak berdoa secara langsung agar menggapai husnul khatimah, melainkan secara tidak langsung melalui tiga macam kemampuan: (1) untuk selalu berdzikir, (2) untuk senantiasa bersyukur, dan (3) untuk taat setiap taat. Doa itu diungkapkannya secara sungguh-sungguh, mendalam, dan dalam bahasa yang sangat indah, bahasa yang hanya mungkin timbul dari jiwa yang lembut dan indah[1].

Kesungguhan dan kedalaman doa beliau, serta keindahan bahasanya dapat dilihat dalam terjemahan berikut:

Wahai yang jika diingat akan memuliakan orang yang mengingat-Nya wahai yang jika disyukuri akan memberikan kemenangan bagi yang bersyukur pada-Nya, wahai yang jika ditaati akan menyelamatkan yang menaati-Nya.

Limpahkan sejahtera kepada Nabi Muhammad dan keluarganya; dan sibukkanlah hati kami dengan tetap mengingat-Mu, lidah kami dengan mengingat-Mua, dan anggota tubuh kami dengan taat kepada-Mua, bukan kepada selain-Mu.

Bila Engkau memberikan waktu luang padaku tanpa kesibukan apa pun, maka jadikanlah itu suatu waktu luang yang membawa keselamatan tanpa perasaan adanya ikut-ikutan, maupun rasa jemu, sehingga Malaikat pencatat amalan kejahatan segera meninggalkan kami dengan catatan kosong dari sebutan dosa-dosa.

Dan Malaikat pencatat kebaikan segera meninggalkan kami dengan perasaan gembira, karena catatan kami tertulis amalan kebaikan, bila hari-hari kehidupan kami mulai lewat, bila batas umur kami sudah habis, dan kami sudah harus memenuhi undangan-Mu yang tai bisa ditunda-tunda lagi untuk dipenuhi.

Maka limpahkan sejahtera kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, isilah di akhir catatan amalan kami yang ditulis oleh Malaikat pencatat dengan amalan Taubat yang diterima, yang tidak lagi dipenuhi catatan dosa atau kemaksiatan yang pernah kami lakukan.

Janganlah Engkau membuka rahasia kami yang Engkau tutup rapat di hadapan para saksi, di suatu hari di mana seluruh amalan hamba-Mu sedang diperiksa.

Sesungguhnya Engkau maha Penyayang atas mereka yang menyampaikan doa kepada-Mua, Maha penerima Jawaban atas mereka yang memanggil-Mu.

SumberKumpulan Doa-doa Mustajab Imam Ali Zainal Abidin AS (2010), halaman 114-118.

Paling tidak ada dua pelajaran penting yang perlu disimak dalam doa Imam ini. Pertama, beliau mencontohkan adab berdoa yang baik: diawali dengan banyak pujian kepada-Nya, dan diakhiri (bahkan boleh dikatakan dipenuhi) oleh banyak selawat kepada rasul-Nya. Kedua, beliau terkesan bermaksud mengajarkan bahwa husnul khatimah bukan merupakan sesuatu yang instan (terjadi begitu saja), tetapi akan dicapai melalui– atau sebagai hasil— pembiasaan berdzikir dan sikap syukur, serta kesabaran dalam menaati-Nya…..@

[1] Imam ini adalah cicit Nabi SAW. Catatan singkat mengenai doa-doa harian beliau dapat diakses di https://uzairsuhaimi.blog/2018/11/02/belajar-berdoa/.

Versi pdf dapat diakses di  https://drive.google.com/open?id=1WFMlvIDMIWuLayThHt2sqGiOJho6oqcN

← Back

Thank you for your response. ✨

Doa Harian

Orang beragama menyadari arti penting dan kekuatan doa karena meyakini apa pun terjadi berkat izin atau “campur-tangan”-Nya. Mereka berdoa dalam hampir semua hal: keselamatan jiwa, kesehatan, kelancaran urusan, dan  –ini mungkin yang paling populer—kelimpahan rezeki. Semua doa semacam ini tentu sah-sah saja apalagi jika mencerminkan kerendahan hati di hadapan Rabb SWT.

Ada doa yang dikabulkan (arab: mustajab), ada pula yang kurang atau tidak dikabulkan. Doa yang dikabulkan tentu patut disyukuri. Bagaimana dengan doa yang belum atau tidak dikabulkan? Mengenai hal ini sikap orang yang terpuji adalah sabar dengan keyakinan: (1) waktu pengabulan doa sesuai dengan kehendak-Nya, dan (2) Dia mengetahui yang terbaik bagi hamba-Nya.

Mengenai doa mustajab menarik untuk direnungkan ucapan Ali RA yang berisi nasehat agar bersyukur jika doa dikabulkan (karena sesuai harapan), tetapi lebih bersyukur jika tidak dikabulkan (karena yang terjadi sesuai harapan-Nya). Juga mengenai doa ini menarik untuk disimak “Kumpulan Doa-doa Mustajab” dari Imam Ali Zainal Abidin” RA[1] sebagai bahan pembelajaran.

Kumpulan doa ini menarik paling tidak karena lima alasan:

(1) Pengarangnya, Imam Ali Zainal Abidin, bukan orang sembarangan tetapi tokoh Islam masa awal; beliau adalah putra Husain RA bin Ali bin Abu Thalib, cicit Nabi SAW,

(2) Susunan doanya ideal sehingga jadi model: dimulai dengan pujian kepada Rabb SWT dan diakhiri selawat (doa keselamatan) bagi Nabi SAW;

(3) Mencerminkan kesantunan (Adab) dalam berdoa;

(4) Dari sisi sastra, susunan kata-katanya sangat indah; dan

(5) Isi doanya boleh dikatakan sangat tidak “duniawi”.

Mengenai butir 3-5 dapat dikemukakan cuplikan dari salah satu doa beliau.

Wa habli fits tulatsaai tsalatsan: (1) Laa tada’ lii dzanban illa gfartahu, (2) Wa laa ghamman illaa adzhabtahu, (3) Wala ‘aduwwa illaa dafa’tahu

Berilah aku di hari Selasa ini (Selasa, Arab, artinya tiga) tiga hal: jangan biarkan pada diriku dosa kecuali Engkau maafkan, kesusahan kecuali Engkau hapuskan, musuh kecuali Engkau tolakkan.

Baris tiga terakhir sangat populer bagi Muslim.

Cuplikan doa di atas adalah bagian dari doa harian Imam RA pada hari Selasa. Selasa (Arab) artinya tiga; jadi beliau hanya meminta tiga hal itu. Agaknya Imam RA ini memiliki kebiasaan meminta sebanyak nama hari. Jadi, dalam doa hari Minggu beliau hanya meminta satu hal karena Minggu dalam Bahas Arab adalah Ahad yang berarti satu, Rabu empat (Arab arbi’a, berarti empat), Kamis lima (Arab: khamis, berarti lima).

Bagaimana dengan doa hari Jumat dan Sabtu? Jumat bagi Bagi Imam RA agaknya memiliki arti khusus sehingga tidak mengajukan doa khusus kecuali minta dibimbing agar dapat menjalankan kewajiban Salat Jumat dan kewajiban lainnya. Doa Sabtu beliau meminta agar Rabb SWT “tidak menelantarkan orang-orang penentram dekatku” (Arab: wa laa tuuhisya bii ahli unsii).

Untuk memperoleh gambaran agak menyeluruh, berikut disajikan Tabel yang mencuplik bagian “pembukan” dan “isi” doa-doa harian Imam RA.

Hari Pembukaan Isi
Minggu Dengan nama Allah yang tidak aku harapkan kecuali karunia-Nya dan tidak aku takutkan kecuali keadilan-Nya(*)… Ya Allah aku berlepas diri dari kemusyrikan dan kekafiran pada hari ini (minggu) dan sesudahnya (hari-hari minggu yang akan datang)
Senin Puji bagi Allah yang menciptakan langit dan bumi  tanpa seorang saksi, yang menebar makhluk tanpa seorang pembantu, tidak ada sekutu dalam keilahian-Nya, tidak ada yang setara dalam keesaan-Nya, tidak merasa kelu mengungkapkan sifat-Nya… Ya Allah, jadikan permulaan hari ini suatu kebaikan, pertengahannya kejayaan, akhirnya keuntungan…
Selasa Segala puji bagi Allah, puja dan puji adalah hak-Nya, pujian yang melimpah adalah milik-Nya Lihat teks
Rabu Puji bagi Allah yang membuat malam sebagai pakaian, tidur sebagai peristirahatan, siang sebagai saat bertebaran… Ya Allah, tetapkan bagiku empat hal di hari Rabu: jadikan kekuatanku pada ketaatan (kepada)-Mu, ketekunanku pada ibadah-Mu, kedambaanku pada ganjaran-Mua, keenggananku pada apa saja yang mengundang kepedihan siksa-Mu…
Kamis Puji bagi Allah yang mengusir malam yang gelap dengan kodrat-Nya, yang menyuguhkan siang yang terang dengan rahmat-Nya, menutupku dengan cahaya-Nya, membawa padaku nikmat-Nya… Ya Allah, tetapkan bagiku pada hari Kamis lima hal yang tak tercapaikan kecuali dengan kemurahan-Mu, yang tak kan teraih kecuali dengan nikmat-Mua: keselamatan yang menokohkan ketaatan kepada-Mua, ibadah yang menjamin kelimpahan pahala-Mua, keleluasaan lantaran rezeki yang halal, Kautentramkan aku dari ketakutan dengan perlindungan-Mua, Kaulindungi aku dari gundah-gulana dengan benteng-Mua….
Jumat Puji bagi Allah yang awal sebelum penciptaan dan penghidupan dan akhir setelah punah semua Lihat teks
Sabtu Aku berlindung kepada Allah dari kekejaman manusia kejam, dari tipu daya manusia dengki, dari kebencian manusia zalim, dan aku memuji-Mu di atas pujian semua yang memuji… Lihat teks
Sumber: lihat catatan kaki, halaman 821-866

(*) Beliau terkesan khawatir amalnya tidak seberapa dengan dosanya; suatu sikap yang sangat rendah hati-hati.

Pemeriksaan cermat mengenai doa-doa dalam sumber ini memberikan kesan kuat:

sebagian besar doa berisi pujian-pujian (tahmid), pernyataan kerendahan hati di hadapan Rabb SWT, selawat, dan sangat sedikit doa yang bersifat pribadi-duniawi.

Yang terakhir ini agaknya “berat” bagi kebanyakan kita….@

 

[1] Diterbitkan oleh Penerbit Lentera (2004).

 

← Back

Thank you for your response. ✨