Selamat datang di uzairsuhaimi.blog! Blog ini merekam jejak pemikiran penulisnya mengenai bidang sosial-ekonomi-kependudukan dan refleksinya mengenai kebijaksanaan abadi dalam perspektif Islam.
[Sambil memandang ke luar jendela Rumi berkata perlahan…]
Rumi: Apakah antum[1] mengenali jalan-jalan di luar sana?
Murid: Sedikit, Master.
Rumi: Gunakan mata-hati. Antum lihat banyak sekali jalan di sana. Ada yang besar, ada yang kecil. Ada yang lurus, ada yang berkelok. Ada yang aman, banyak yang rawan. Bahkan ada yang bertanda kutip: “jalan”.
[Murid hanya diam dan segera menyiapkan telinga-hatinya untuk menerima ajaran pagi ini. Dia maklum Master suka menggunakan “bahasa burung”[2] yang hanya dapat dipahami melalui telinga-hati.]
Rumi: Ketahuilah, jalan terbesar, lurus dan teraman adalah jalan Al-Mustafa[3].
[Karena lawan bicara hanya diam maka Rumi melanjutkan.]
Rumi: Antum mengetahui martabatku?
Murid: Samar-samar, Master.
Rumi: Aku adalah debu di jalan Al-Mustafa. Tetapi aku beruntung karena terberkati sedikit wewangiannya. Hanya sedikit. Kau bisa menciumnya?
Murid: Sangat, Master.
Rumi:Antum tahu siapa yang paling mencintai Al-Mustafa?
Murid: Tidak ada ide, Master.
Rumi: Bilal. Setelah ditinggal kekasihnya dia tidak lagi bersedia mengumandangkan azan. Ketika khalifah membujuknya ia mengelak: “Biar aku jadi Muazin Rasul saja”, katanya. Tidak bisa dipaksa. Sebab, jika dipaksa, ia hanya sanggup sampai pada bagian ini:”waasyhadu anna Muhammadan ar-Rasuilullah”.
[Mendengar ini Si Murid hanya termangu, mencoba membayangkan situasinya. Melihat muridnya diam saja, Rumi melanjutkan].
Rumi: Antum tahu apa yang paling dicintai dan disayangi Al-Mustafa?
[2] Istilah bahasa burung (Arab: mantiq al-thair) digunakan teks suci untuk menyampaikan kebenaran lebih tinggi, higher truth. Teks suci menyinggung Sulaiman AS sebagai nabi yang memahami bahasa burung dalam pengertian ini. Posting mengenai bahasa burung dapat diakses di SINI.
[3] Al-Mustafa (Arab) artinya yang terpilih (the chosen one). Rumi biasa menggunakan istilah ini untuk merujuk kepada Nabi SAW.
[4] Maksudnya, kelompok masyarakat yang terpinggirkan (marginalized), termasuk kaum fakir-miskin.
**Statistics and Spirituality: An Unexpected Synergy**
At first glance, the pairing of statistics and religion may seem unconventional—even paradoxical. One discipline is rooted in empirical analysis, quantifying the tangible realities of our world; the other contemplates the transcendent, exploring truths beyond the physical realm. Yet this very duality defines my journey: a lifelong dedication to statistical rigor intertwined with a deep fascination for humanity’s spiritual dimensions.
**Professional Journey: Three Decades of Data-Driven Impact**
From 1981 to 2011, I served as a statistician at *BPS-Statistics Indonesia*, the nation’s central bureau of statistics, contributing to data-driven policymaking and national development. Following this, I lent my expertise to Indonesia’s *TNP2K* (a Vice President’s Office initiative) and the *International Labour Organization’s Regional Office for Asia and the Pacific (ILO-ROAP)* as a senior statistician. Since 2012, I have operated as an independent consultant, collaborating with entities like the ILO and Indonesian government agencies on pivotal projects. A recent highlight includes leading Indonesia’s first comprehensive *estimation of child labor* for the ILO Country Office in Jakarta (2019), a critical step toward addressing this urgent social challenge.
**Spiritual Inquiry: Bridging the Universal and the Esoteric**
Parallel to my professional work, I have nurtured a decades-long intellectual passion for the essence of religious thought—its esoteric traditions, universal principles, and timeless wisdom. Sufism’s mystical teachings and the *perennial philosophy*, which seeks shared truths across spiritual traditions, hold particular resonance for me. To explore these themes, I have authored and shared reflections on my personal blog, inviting dialogue on how inner understanding intersects with our outer world.
**Convergence: Where Analysis Meets Meaning**
This unlikely harmony between data and devotion has profoundly shaped my perspective: statistics reveal the *"what"* of human conditions, while spirituality grapples with the *"why."* Together, they form a dynamic lens through which I seek to understand—and contribute to—both the measurable and the immeasurable dimensions of life.
.
View all posts by Uzair Suhaimi
2 thoughts on “Dialog Imaginer dengan Rumi (2)”