International Conference of Labour Statisticians (ICLS): A Brief Note

Sumber gambar: Google

 

(i) Function and Participants of ICLS:

  • Global standard-setting mechanism in labour statistics
  • ILO hosts & acts as Secretariat
  • Meets every 5 years (since 1923)
  • Tripartite structure: Governments (NSO, MoL), Employers, and Workers representatives
  • Observers: International and regional organizations, NGOs

 

(ii) The objective of ICLS:

Main objectives of ICLS statistical standards

  • Provide guidance to countries in setting their national labour statistics programmes
  • Promote coherence in concepts & methods across sources & topics / areas
  • Promote international comparability, and
  • Set priorities for future work

 

(iii) The most recent ICLS:

The most recent ICLS (the 19th) took place in 2013. It produces, among others, “Resolution 1: Resolution concerning statistics of work, employment and labour underutilization’ that contains 97 Paragraphs.

The complete version of the resolution can be accessed Here; some excerpts, Here.

 

 

Faktor Pengali Kebaikan dan Permutasi Kebajikan

Seharusnya kita lebih bergairah untuk melakukan kebaikan (Arab: hasanat) dari pada kejahatan (Arab: sayyiat).

Paling tidak ada dua argumen mengenai ini. Pertama, bagi manusia kebaikan secara spiritual bersifat alami. Tidak ada keraguan mengenai ini karena merupakan pengetahuan-langsung-bawaan. Kedua, bagi yang percaya Kitab Suci, rasio faktor pengali antara kebaikan dan keburukan sangat besar yaitu 10:1. Ajaran ini bukan berasal dari nasihat Ustaz, wejangan Kiai, atau bahkan Sabda Nabi SAW; ia bersumberkan Firman Ilahi.

Barang siapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya, dan barang siapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (QS 6:160).

Kalimat terakhir merujuk pada balasan kejahatan yang ditegaskan sebagai konsekuensi dari kezaliman diri-sendiri atau tanggung jawab individu; jadi, tidak perlu mencari “kambing hitam”. (Ayat ke-164 menegaskan tanggung jawab individu ini.)

Rabb SWT tentu lebih mengetahui maksud sebenarnya dari rasio 10:1 ini. Walaupun demikian kita mungkin diizinkan untuk berilustrasi mengenainya melalui skenario sederhana berikut.

Misalkan hari ini Anda melakukan 5 kebaikan dan 10 kejahatan. Misalkan juga, untuk mudahnya, bobot kebaikan dan keburukan sama (=1, tetapi beda tanda). Dalam kasus ini skor Anda adalah 45, angka yang diperoleh dari: 5×10(+1) + 10x(-1). Jika Anda melakukan kebaikan dan kejahatan dengan frekuensi yang sama (=10), maka skor Anda itu menjadi 90 = 10×10(+1) + 10×1(-1).

Sekali lagi, skenario di atas sekadar ilustrasi, sekadar upaya untuk memudahkan memaknai ayat yang bersangkutan. Lebih dari itu, jika dikehendaki-Nya, faktor pengali balasan kebaikan dapat tak terhingga (QS 40:40), sementara faktor pengali balasan kejahatan dapat NOL karena terhapus oleh kebaikan (QS 11:114).

Barang siapa mengerjakan perbuatan jahat maka dia akan dibalas sebanding dengan kejahatan itu. Dan barang siapa mengerjakan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan dia dalam keadaan beriman maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tidak terhingga (QS 40:40).

Dan laksanakanlah salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah) (QS 11:114).

Ruang lingkup kebaikan sangat luas, tidak hanya mencakup apa yang jelas-jelas merupakan kewajiban agama seperti salat, zakat, taklim dan sebagainya. Kebaikan termasuk perilaku dan kegiatan kongkret sehari-hari yang dimotivasi, dibimbing dan diarakan oleh kebajikan spiritual yang fundamental. Artinya, perilaku dan kegiatan yang berbasis kebenaran (veracity), serta mencerminkan kebersahajaan (humility) dan kemurahan hati (generosity).

Kebenaran, kebersahajaan, kemurahan hati. Inilah trilogi kebajikan fundamental.

Permutasi dua logi dari trilogi ini akan menghasilkan enam kebajikan turunan yang dapat memperjelas makna serta kualifikasi masing-masing logi: (1) Kemurahan-hati yang bersahaja, (2) Kebenaran yang bersahaja,  (3) Kebersahajaan yang murah-hati, (4) Kebenaran yang dermawan, (5) Kebersahajaan yang benar, dan (6) Kemurahan-hati yang benar. Penjelasan mengenai masing-masing kebajikan turunan ini dapat diakses di SINI, juga di SINI.

 

Sumber Gambar: Google

← Back

Thank you for your response. ✨

Mata Pelajaran untuk Anak: Refleksi Surat Lukman

Sumber Gambar: Google

Ada pepatah: di belakang seorang besar selalu ada seorang istri setia yang mendukungnya. Ini menunjukkan pentingnya istri sebagai pendamping hidup. Tetapi imbuhan “selalu ada” dalam pepatah ini berlebihan karena banyak kasus orang besar yang istrinya bukan saja tidak mendukung tetapi malah menjadi sumber masalah. Lihat saja kasus Nelson Mandela (Afrika Selatan). Atau, kalau kasus ini belum meyakinkan, lihat saja kasus Nabi Nuh AS dan Lut AS:

Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan istri Lut. Keduanya di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara  hamba-hamba Kami, lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya…. (QS 66:10).

Ada pepatah lain: di belakang orang besar selalu ada orang tua yang mendidiknya. Kembali, imbuhan “selalu ada” dalam konteks ini berlebihan. Banyak kasus orang besar dan berhasil secara politik dan sosial, bahkan para pendidik dan ulama-ulama besar, yang terjerumus oleh perilaku anak-anaknya. (Maaf untuk kasus ini tidak diberikan contoh.)

Apa pun kasusnya, Al-Quran mewanti-wanti bahwa di antara “istri-istri” dan “anak-anakmu” berposisi “musuh bagimu” (QS 64:14). Apa pun kasusnya, siapa pun memiliki kewajiban untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka “yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS 66:6). Salah satu upaya ke arah ini adalah dengan memberikan pelajaran khususnya untuk anak-anak. (Untuk istri sudah telat?)

Soal pembelajaran kepada anak-anak menurut ayat terakhir jelas merupakan kewajiban orang tua. Ayatnya sangat eksplisit. Menyerahkan anak kepada ustaz, guru atau lembaga pendidikan, perlu dilihat sebagai upaya ke arah ini tetapi tidak menggugurkan kewajiban orang tua melihat eksplisitnya ayat ini.

Al-Quran sangat serius mengenai masalah pendidikan anak sehingga menyajikannya secara relatif rinci. Hal ini dapat disimak dalam tujuh ayat dalam Surat Lukman (QS 31:13-19) yang menceritakan bagaimana Lukman menasihati anaknya. Nasehatnya mencakup pelajaran mengenai keimanan, penghormatan kepada orang tua khususnya ibu, dan perilaku terpuji termasuk sikap rendah hati dan berkata santun:

  1. Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika di memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”
  2. Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada orang tua Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada orang tuamu.
  3. Dan jika keduanya memaksamu mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia ini dengan baik, ikutlah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang kamu kerjakan.
  4. (Lukman berkata), “Wahai anakku! Sungguh jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Mahahalus, Mahateliti.
  5. Wahai anakku! Laksanakan Salat dan suruhlah (manusia) berbuat makruf dan cegahlah (mereka) dari yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu perkara yang penting.
  6. Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.
  7. Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sungguh seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

Dari kumpulan ayat di atas tampak jelas pentingnya menghormati orang tua. Pelajaran mengenai ini disajikan dalam dua ayat berturut-turut, diletakkan segera setelah pelajaran tauhid, dan disajikan bahkan sebelum pelajaran mengenai Salat.

Wallahualam bi maradih….@

← Back

Thank you for your response. ✨

Salat yang Sempurna

Sumber Gambar: Google

Ibadah Istimewa

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya pertama-tama perbuatan manusia yang dihisab pada hari kiamat, adalah Salat Wajib. Maka apabila ia telah menyempurnakannya (maka selesailah persoalannya). Tetapi apabila tidak sempurna Salatnya, dikatakan (kepada malaikat), “Lihatlah dulu, apakah ia pernah mengerjakan Salat Sunat! Jika ia mengerjakan Salat Sunat, maka kekurangan dalam Salat Wajib wajib disempurnakan dengan Salat Sunatnya”. Kemudian semua amal-amal yang wajib diperlakukan seperti itu”. (HR. Khamsah dalam Nailul Authar Juz I halaman 345)[1].

Hadits di atas menyiratkan keistimewaan Salat. Keistimewaannya juga tersirat dari banyaknya ayat Al-Quran yang berbicara mengenai Salat.

Penelusuran ayat dengan Lafzi mengantarkan kita pada lebih dari 100 ayat Al-Quran mengenai Salat yang diletakkan dalam berbagai konteks. Salah satu ayat yang dimaksud adalah ini:

Dan laksanakanlah Salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah) (QS 11:114).

Analisis Bahasa

Kata laksanakanlah dalam kutipan atas merupakan terjemahan dari kata aqimi yang berbentuk kata kerja perintah (Arab: fi’il amr). Kata ini berasal dari kata aqama (bukan qama) yang memiliki timbangan (Arab: wazan) af’ala (bukan fa’ala).

Seperti diungkapkan Shihab[2], kata af’ala berarti ’melaksanakan sesuatu pada waktunya, berbentuk, tertib urutan-urutannya, menghasilkan sesuatu, sungguh-sungguh, serta penuh kekhidmatan; singkatnya, melakukan sesuatu secara sempurna. Jadi, kalimat aqimi al-shalah (dalam ayat di atas) terjemahan lebih lengkapnya kira-kira laksanakanlah Salat secara sempurna yang berbeda dari terjemahan yang sering ditemukan yaitu “dirikanlah Salat”[3] .

Salat Sempurna

Dari analisis singkat di atas kita dapat mengidentifikasi paling lima ciri Salat yang sempurna sebagai berikut.

1. Pada Waktunya.

Salat– maksudnya lima Salat Wajib yaitu Subuh, Zuhur, Asar, Magrib dan Isya– dilakukan pada waktu yang ditetapkan. Mengenai waktu Salat ini Nash (ayat Al-Quran) mencantumkannya secara eksplisit (QS 4:103).

Rentang waktu Salat Wajib menetapkan batasan kapan dimulai dan kapan berakhir waktu Salat. Sebagai contoh, Salat Subuh dimulai dari waktu fajar dan berakhir ketika matahari terbit. Rentang waktu itu relatif panjang tetapi para Ulama agaknya sepakat untuk menyegerakannya atau di awal waktu.

2. Mematuhi Tata Cara yang Baku

Salat harus dilaksanakan dengan mematuhi tata cara yang sudah baku. Tata cara ini termasuk menghadapkan diri ke arah Kiblat, melafalkan Al-Fatihah dan bacaan wajib lainnya,  dan melakukan gerakan tubuh sesuai yang dicontohkan oleh Nabi SAW. Mengenai yang terakhir Hadits Nabi SAW menyatakannya secara eksplisit: “Salatlah sebagaimana kalian melihatku Salat.” (HR. Bukhari 631, 5615, 6008)

3. Menaati Tata Tertib

Menurut definisi Salat dimulai dengan mengucapkan Takbir dan diakhiri dengan Salam. Ucapan takbir ‘membuka komunikasi sangat pribadi dengan Allah SWT’ dan merupakan ‘lambang dari iman, dari taqwa, dari ikhlas, dan dari segala sesuatu yang bersifat pribadi’. Tetapi itu tidak cukup karena Salat harus diakhiri dengan ucapan Salam sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Ucapan dan tindakan ini ‘menandakan bahwa setelah khusyuk berkomunikasi dengan Allah, kita tidak boleh melupakan komunikasi kita dengan lingkungan sosial kita’ (Majid, 2000:82)[4].

Di antara Takbir dan Salam ini terdapat gerak tubuh (dan bacaan) yang harus dilakukan secara tertib atau urutan yang ditentukan. Menaati tata tertib ini bersifat mutlak dalam arti menentukan keabsahan Salat.

4. Berdampak Sosial Positif

Salat dapat dikatakan berhasil-guna jika berhasil “menghadirkan” Rabb SWT ke dalam hati pelaku Salat. Al-Quran menggunakan istilah mengingat-Nya untuk maksud yang sama (QS 20:14):

Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah dan laksanakanlah Salat untuk mengingat-Ku.

Dalam konteks yang lebih luas, Salat dikatakan sempurna jika melahirkan dampak sosial yang positif. Mengenai hal ini paling tidak ada dua argumen. Pertama, dalam Al-Quran perintah Salat hampir selalu diikuti oleh perintah berzakat yang jelas berdimensi sosial. Kedua, dalam salah satu Surat (ke-107), Al-Quran secara eksplisit mengecam orang Salat– bahkan menuduhnya sebagai pendusta agama– tetapi mengabaikan anak yatim dan orang miskin.

5. Serius

Untuk dikatakan sempurna Salat perlu dilakukan secara serius dalam arti terbebas dari perilaku negatif termasuk malas, ria, dan lalai. Al-Quran mencirikan orang munafik dengan orang yang Salat tetapi menyandang perilaku-perilaku negatif semacam itu (QS 4:142):

Sesungguhnya orang munafik hendak menipu Allah, tetapi Allah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk Salat mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit.

Na’udzu billah min dzalik.

Demikianlah catatan singkat mengenai kesempurnaan Salat. Sebagai catatan akhir, Salat idealnya difungsikan juga sebagai wahana “Latihan Mati” sebagaimana terungkap dalam posting INI.

Wabillahit taufiq wal hidayah…  @

 

[1] https://www.fiqihmuslim.com/2015/09/kumpulan-hadist-nabi-tentang-sholat.html.

[2] Quraisy Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Volume I (2002:176).

[3] Yang terakhir ini tidak tepat secara kebahasaan karena menggunakan timbangan fa’ala, bukan af’ala .

[4] Majid, Nurholish, Perjalanan Religius ‘Umrah Haji, PARAMADINA.

 

[Versi pdf dapat dakses di SINI]

← Back

Thank you for your response. ✨

Wudu: Makna Batiniah dan Doa

Daftar Isi

Wudu tidak hanya bersih-bersih dalam artian lahiriah atau persyaratan formal (syariah) sebelum Salat. Ia sarat dengan makna-batin: anggota tubuh yang dibasuh ketika wudu menyimbolkan aneka daki-kekotoran-diri yang tak kasat mata.

Penyucian ini disyaratkan ketika akan menghadap-Nya karena Dia-Maha-Suci. Lebih dari itu, mengingat tebalnya daki itu, masih terkait dengan wudu, diperlukan doa yang mengungkapkan pengakuan kelemahan diri dihadapan-Nya.

Dua tulisan pendek ini mengenai makna-batin dan doa yang dimaksud.

1. Dalamnya Makna Batiniah Wudu

2. Doa Wudu: Kesaksian Diri