Selamat datang di uzairsuhaimi.blog! Blog ini merekam jejak pemikiran penulisnya mengenai bidang sosial-ekonomi-kependudukan dan refleksinya mengenai kebijaksanaan abadi dalam perspektif Islam.
Rasa manis yang tersembunyi ditemukan dalam perut yang kosong ini!
Ketika perut kecapi telah terisi, ia tidak dapat bersuara, nada rendah maupun nada tinggi.
Jika otak dan perutmu terbakar karena puasa, api mereka akan mengeluarkan ratapan dalam dadamu.
Melalui api itu, setiap waktu kau akan membakar seratus tabir– kau akan mendaki seribu seribu derajat di atas Jalan dan di dalam hasratmu.
Kosongkan perutmu! Merataplah seperti sebuah kecapi dan sampaikan keinginanmu pada Tuhan! Kosongkan perutmu dan bicaralah tentang misteri bagi ilalang.
Jika kau biarkan perutmu penuh, ia akan menjadi Setan bagimu di saat Kebangkitan, sebagai ganti akalmu, menjelma berhala sebagai bentuk Kabah.
Ketika kau puasa, amal-amal baik mengelilingimu bagaikan hamba sahaya, budak-budak, dan bergerombol.
Teruskan puasamu, karena ia adalah stambuk Sulaiman. Jangan kau berikan stambuk itu pada Setan, jangan kacaukan kerajaanmu.
Dan jika kerajaan dan pasukanmu hendak lari darimu, pasukanmu akan kembali, dan berilah dia perintah!
Hidangan telah datang dari surga bagi mereka yang berpuasa, karena Isa anak Maryam memanggilnya turun dengan doa[1].
Tunggulah Hidangan Rahmah dengan puasamu– ia lebih baik daripada kubis rebus.
Sumber: Rumi, Diwan 1793.
Demikianlah cara Rumi menggambarkan puasa: mudah dicerna, kaya-makna, tidak terkesan menggurui, dan … jenaka. Konon, karena kejenakaan ini maka pesan sufistik Rumi dapat diterima dengan mesem-mesem oleh para ulama besar yang kurang sreg dengan Sufi.
Juga terkait kejenakaan ini, siapa yang mampu berpikir untuk mengaitkan puasa[2] dengan kubis rebus, misalnya. Menariknya lagi, dalam Diwan ini Rumi mengontraskan “kubis rebus” dengan “Hidangan Rahmah” tanpa menjelaskan apa yang dimaksud dengan istilah ini. Dugaan penulis istilah ini merujuk pada “Hidangan dari Langit” sebagaimana yang tercantum dalam doa Nabi Isa Ibnu Maryam:
Isa putra Maryam berdoa, “Ya Tuhan kami, turunkan kepada kami hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi bagi orang yang sekarang bersama kami maupun bagi datang setelah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau, berikanlah kepada kami rezeki, dan Engkaulah sebaik-baiknya pemberi rezeki (QS 5:114).
**Statistics and Spirituality: An Unexpected Synergy**
At first glance, the pairing of statistics and religion may seem unconventional—even paradoxical. One discipline is rooted in empirical analysis, quantifying the tangible realities of our world; the other contemplates the transcendent, exploring truths beyond the physical realm. Yet this very duality defines my journey: a lifelong dedication to statistical rigor intertwined with a deep fascination for humanity’s spiritual dimensions.
**Professional Journey: Three Decades of Data-Driven Impact**
From 1981 to 2011, I served as a statistician at *BPS-Statistics Indonesia*, the nation’s central bureau of statistics, contributing to data-driven policymaking and national development. Following this, I lent my expertise to Indonesia’s *TNP2K* (a Vice President’s Office initiative) and the *International Labour Organization’s Regional Office for Asia and the Pacific (ILO-ROAP)* as a senior statistician. Since 2012, I have operated as an independent consultant, collaborating with entities like the ILO and Indonesian government agencies on pivotal projects. A recent highlight includes leading Indonesia’s first comprehensive *estimation of child labor* for the ILO Country Office in Jakarta (2019), a critical step toward addressing this urgent social challenge.
**Spiritual Inquiry: Bridging the Universal and the Esoteric**
Parallel to my professional work, I have nurtured a decades-long intellectual passion for the essence of religious thought—its esoteric traditions, universal principles, and timeless wisdom. Sufism’s mystical teachings and the *perennial philosophy*, which seeks shared truths across spiritual traditions, hold particular resonance for me. To explore these themes, I have authored and shared reflections on my personal blog, inviting dialogue on how inner understanding intersects with our outer world.
**Convergence: Where Analysis Meets Meaning**
This unlikely harmony between data and devotion has profoundly shaped my perspective: statistics reveal the *"what"* of human conditions, while spirituality grapples with the *"why."* Together, they form a dynamic lens through which I seek to understand—and contribute to—both the measurable and the immeasurable dimensions of life.
.
View all posts by Uzair Suhaimi