Selamat datang di uzairsuhaimi.blog! Blog ini merekam jejak pemikiran penulisnya mengenai bidang sosial-ekonomi-kependudukan dan refleksinya mengenai kebijaksanaan abadi dalam perspektif Islam.
Umat Muslim tengah menyongsong lebaran, suatu momen yang layak mereka rayakan setelah menuntaskan puasa selama sebulan penuh. Pertanyaannya: (1) Apakah Umat Non-Muslim berhak merayakan? (2) Apakah “bayi” termasuk yang merayakan? dan (3) Apakah definisi merayakan? Tanpa definisi mustahil menghitung populasi. Tetapi memperkirakannya, atau menggunakan proksi indikator, adalah mungkin. Dengan asumsi tentunya. Tulisan ini mengasumsikan L=M di mana
L: perkiraan populasi yang merayakan lebaran, dan
M: perkiraan populasi Muslim
Asumsi ini akan menghasilkan perkiraan yang underestimate jika jawaban terhadap pertanyaan (1) positif; artinya, Non-Muslim berhak merayakan lebaran. Tetapi hal ini akan di-compensate jika jawaban terhadap pertanyaan (2) negatif; artinya, bayi dikeluarkan dalam perhitungan. Jadi, asumsinya agaknya lumayan masuk akal.
Dengan asumsi ini maka L atau perkiraan total populasi yang merayakan secara global sekitar 1.8 milyar jiwa (Untuk sumber lihat INI). Di mana saja mereka tinggal? Tersebar di lima benua tetapi sekitar 1.4 milyar atau 77% dari mereka tinggal di 15 “negara” Muslim: Indonesia, Pakistan, India, Bangladesh, Nigeria, Mesir, Iran, Turki, Aljazair, Sudan Irak, Maroko, Ethiopia, Afganistan dan Arab Saudi. Dalam konteks ini ada empat catatan yang layak dikemukakan:
Daftar ini diurutkan dari terbesar dan menujukan Indonesia “merajai” angkanya sementara Arab Saudi paling kecil.
India termasuk dalam daftar karena definisi “negara” Muslim dalam tulisan ini adalah besar populasi Muslim.
Sekalipun secara proporsional Muslim di India hanya mencakup 14.2% dari total penduduknya, jumlahnya pada 2019 diperkirakan mencapai 1889 juta.
Dengan populasi sekitar 1.33 milyar dan pola pertumbuhan penduduknya maka India diperkirakan akan menggeser posisi Indonesia pada tahun 2050. Selamat India!
Tabel 1 merinci total penduduk dan populasi muslim di 15 negara yang dimaksud.
**Statistics and Spirituality: An Unexpected Synergy**
At first glance, the pairing of statistics and religion may seem unconventional—even paradoxical. One discipline is rooted in empirical analysis, quantifying the tangible realities of our world; the other contemplates the transcendent, exploring truths beyond the physical realm. Yet this very duality defines my journey: a lifelong dedication to statistical rigor intertwined with a deep fascination for humanity’s spiritual dimensions.
**Professional Journey: Three Decades of Data-Driven Impact**
From 1981 to 2011, I served as a statistician at *BPS-Statistics Indonesia*, the nation’s central bureau of statistics, contributing to data-driven policymaking and national development. Following this, I lent my expertise to Indonesia’s *TNP2K* (a Vice President’s Office initiative) and the *International Labour Organization’s Regional Office for Asia and the Pacific (ILO-ROAP)* as a senior statistician. Since 2012, I have operated as an independent consultant, collaborating with entities like the ILO and Indonesian government agencies on pivotal projects. A recent highlight includes leading Indonesia’s first comprehensive *estimation of child labor* for the ILO Country Office in Jakarta (2019), a critical step toward addressing this urgent social challenge.
**Spiritual Inquiry: Bridging the Universal and the Esoteric**
Parallel to my professional work, I have nurtured a decades-long intellectual passion for the essence of religious thought—its esoteric traditions, universal principles, and timeless wisdom. Sufism’s mystical teachings and the *perennial philosophy*, which seeks shared truths across spiritual traditions, hold particular resonance for me. To explore these themes, I have authored and shared reflections on my personal blog, inviting dialogue on how inner understanding intersects with our outer world.
**Convergence: Where Analysis Meets Meaning**
This unlikely harmony between data and devotion has profoundly shaped my perspective: statistics reveal the *"what"* of human conditions, while spirituality grapples with the *"why."* Together, they form a dynamic lens through which I seek to understand—and contribute to—both the measurable and the immeasurable dimensions of life.
.
View all posts by Uzair Suhaimi