Ibadah Haji terkait dengan warisan Nabi Ibrahim AS di Arab[1]. Warisan yang dimaksud utamanya adalah ajaran untuk mengesakan Tuhan YME, monoteisme atau tauhid. Nabi AS ini masyhur karena kegigihan dan keberaniannya mengusung prinsip tauhid ini secara murni. Prinsip tauhid inilah yang terungkap dalam talbiyah, bacaan yang dikumandangkan oleh jamaah haji ketika mengenakan pakaian ihram. Dengan mengumandangkan ini jamaah berikrar siap berhaji hanya untuk-Nya dan pengakuan tidak ada sekutu bagi-Nya. Singkatnya, ibadah haji menekankan pemurnian prinsip tauhid.
Sumber Gambar: Google
Bukan Ziarah Biasa
Haji biasa diterjemahkan dengan ziarah (Indonesia) atau pilgrimage (Inggris). Penulis meragukan ketepatan terjemahan ini:
- Istilah ziarah (pilgrmage) umumnya terkait dengan niatan mengunjungi makam (kuburan), situs atau peninggalan orang yang dianggap suci. Dalam berhaji tidak ada makam yang dikunjungi! Makam Rasul SAW? Tidak juga. Kunjungan ke sana bukan bagian dari ibadah haji.
- Sebagian jamaah mungkin mengunjungi hudaibiyah, situs di mana Rasul SAW menyelenggarakan perjanjian historis dengan pihak Quraisy Mekkah. Tetapi itu bukan untuk berziarah, melainkan untuk miqat atau mengambil titik mulai haji dan mulai mengenakan pakaian ihram.
- Masjid Haram dan Kabah jelas situs sejarah tetapi kehadiran jamaah di sana tidak diniatkan untuk ziarah dalam pengertian umum kata itu, melainkan untuk salat, sa’i dan tawaf. Mencium Kabah juga bukan bagian dari ibadah haji. Terkait dengan ini ada ucapan Umar RA otoritatif: “Kalau Rasul SAW tidak melakukan aku pasti tidak melakukannya”.
Singkatnya, haji bukanlah ziarah dalam pengertian umum. Oleh karena itu, memadankan kata haji dengan kata ziarah dalam pengertian umum berisiko mengaburkan makna substantif ibadah haji.
Warisan Ibrahim AS
Seperti ditegaskan sebelumnya, warisan utama Ibrahim AS adalah ajaran tauhid. Di luar ini paling tidak ada enam alasan untuk mengaitkan ibadah haji dengan warisan Nabi AS itu. Hampir semua alasan itu bersifat qurani dalam arti berbasis ayat Al-Quran sebagaimana terlihat pada daftar berikut:
- Yang menyerukan ibadah haji adalah Ibrahim AS (QS: 22:27) kira-kira empat milenium yang lalu[2];
- Yang membangun (ulang) Kabah adalah Ibrahim AS dan anaknya Ismail (QS 2:125);
- Yang memohon petunjuk mengenai tata-cara atau Manasik Haji adalah Ibrahim AS bersama anaknya Ismail AS (QS 2:128);
- Ritual Sa’i –lari-lari kecil antara Bukit Marwah dan Bukit Shafa tujuh balik– melestarikan nilai kegigihan seorang ibu (Sarah AS) ketika berjuang mencari air dan meminta pertolongan (di tempat yang tak berpenghuni) bagi bayinya (Ismail AS) yang tengah sekarat karena kepalaparan dan dehidrasi;
- Ritual Jumrah melestarikan nilai ketegasan Ibrahim AS menentang desakan Setan untuk melawan perintah-Nya kembali ke istri pertamanya (Sarah AS) di Palestina dan meninggalkan Hajr AS yang tengah mengandung; dan
- Tradisi korban hewan pada Bulan Haji melestarikan nilai kepatuhan-mutlak Ibrahim AS terhadap peritah-Nya untuk mengorbankan satu-satunya anak (ketika itu) yang sudah puluhan tahun di dambakannya yaitu Ismail AS ketika beranjak dewasa (QS 37:102).
QS (37:102) tidak menyebutkan secara eksplisit anak yang dikorbankan Ibrahim AS: Ismail AS sebagaimana diyakini Muslim atau Ishak AS sebagaimana diyakini Yahudi dan Kristen. Dalam konteks ini layak dicatat kesimpulan Dirk (lihat catatan ke-2), berdasarkan kajian cermat terhadap teks biblikal yang relevan, yang lebih mengarah kepada keyakinan Muslim. Selain itu, fakta sosiologis historis bahwa tradisi korban (hewan) dalam Bulan Haji yang mentradisi di wilayah Arab dan lingkungan komunitas Muslim, sejalan dengan kesimpulan Dirk: anak yang dikorbankan oleh Ibrahim AS adalah Ismail AS, leluhur Nabi Muhammad SAW.
Allahumma shalli wa barik ‘alaa Muahmmad waalihi/kama shallaita wa barakta ‘alaa Ibrahim waalilihi/fil’alamin innaka hamidun majid/
[1] Rujukan geografis perlu disebutkan karena wilayah dakwah beliau sangat luas: Irak, Palestina, Mesir dan Arab. Itulah sebabnya beliau diakui sebagai pemimpin besar, imam atau patriarch oleh penganut ketiga agama samawi: Yahudi, Kristen dan Islam.
[2] Dr. Jerald F. Dirk (2002, Ibrahim Sang Sahabat Tuhan (Tabel 9, 286-290), Serambi.

