Musim haji ini adalah waktu yang tepat untuk menengok sosok Nabi Ibrahim AS paling tidak karena ada dua alasan. Pertama, Nabi AS inilah yang menyerukan manusia untuk berhaji. Seruannya sangat efektif dilihat dari banyaknya jamaah merespons dan beragamnya status sosial ekonomi[1] mereka. Kedua, beberapa ritual haji melestarikan nilai-nilai yang merupakan warisan Nabi AS atau keluarganya[2]. Pertanyaannya, siapakah tokoh luar biasa ini? Tulisan ini[3] bermaksud menjawab pertanyaan ini dengan menyajikan secara singkat sejarah Nabi AS ini dan mengilustrasikan– berdasarkan sejumlah ayat Al-Quran– bagaimana semua doa Nabi AS ini dikabulkan.
Sumber gambar: Google
Sejarah Ibrahim AS
Salah satu sumber bacaan sejarah Nabi AS ini yang kredibel, mudah diakses dan dibaca adalah Karya Dirk (2002)[4] dalam bukunya Abraham, the Friend of God[5]. Menurut Dirk, Ibrahim AS lahir di UR (Irak) pada tahun 2166 SM atau sekitar empat milenium yang lalu.
Ibrahim AS sangat berani dalam mengusung ajaran tauhid yang murni. Ketika masih berusia 16 tahun beliau sudah berdakwah secara terbuka bahkan di hadapan Kaisar Naram, kaisar Irak Kuno, yang musyrik. Akibatnya, beliau diadili oleh kaisar itu dan dihukum dengan cara diceburkan ke dalam api yang menyala. Gambaran selanjutnya mengenai sejarah Nabi AS ini diringkas pada Tabel 1.
Tabel 1: Garis Waktu Sejarah Ibrahim AS
| Tahun (Sebelum Masehi) | Umur Ibrahim AS (tahun) | Peristiwa |
| 2166 | 0 | Lahirnya Ibrahim AS ibn Aazar di UR (Irak). |
| 2150 | 16 | Ibrahim AS menghancurkan berhala, diadili Kaisar Naram dan dimasukkan ke dalam api. Luth AS mengakui Keesaan Tuhan. |
| 2117 | 49 | Ibrahim AS menikah dengan Sarah RA. |
| 2106 | 60 | Ibrahim AS membakar Kuil di UR. |
| 2091 | 75 | Ibrahim AS tiba di Palestina bersama Sarah RA dan Luth AS. |
| 2089 | 77 | Ibrahim AS, Sarah RA dan Luth AS tiba di Mesir. |
| 2084 | 82 | Ibrahim AS, Sarah RA dan Siti Hajar pindah ke Hebron. Sarah RA memberikan Siti Hajar kepada Ibrahim AS sebagai istri kedua. |
| 2081 | 85 | Siti Hajar RA mengandung. |
| 2080 | 86 | Ismail AS lahir (dari Siti Hajar RA). |
| 2067 | 99 | Ibrahim AS mengurbankan Ismail AS. Ibrahim AS dan Ismail AS dikhitan. |
| 2064-2029 | 108-137 | Ibrahim AS dan Ismail AS Membangun Kabah. |
| 1991 | 175 | Wafatnya Ibrahim AS. |
Sumber: Lihat Catatan 5.
Doa yang Terkabul
Sebagian doa Nabi AS ini didokumentasikan dalam Al-Quran. Tiga doa di antaranya yang terkait dengan haji adalah sebagai berikut (QS 2: 126-8):
- Doa agar Kota Mekah dikaruniai keamanan dan penduduknya dianugerahi kelimpahan buah-buahan (ayat 126);
- Doa yang doanya dikabulkan (ayat 127); dan
- Doa agar diri dan keturunan-keturunannya menjadi muslim dan diajari tata cara haji (ayat 128).
Semua doa ini terkabul. Ada doa lainnya yang diabadikan dalam ayat lanjutan:
Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Perkasa, Maha bijaksana (QS 2:129).
Ayat ini menarik jika disandingkan dengan ayat ke-151 (Surat yang sama):
Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikanmu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Quran) dan Hikmah (Sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.
“Seorang rasul” yang dimaksud dalam ayat ke-129 adalah Nabi Muhammad SAW. Jadi, doanya terkabul. Bagian selanjutnya ayat ini menggambarkan karakteristik misi rasul yang didoakan. Apakah ini juga terkabul? Jawabannya terungkap dalam ayat ke-151.
Agar jelas, kita dapat mencermati dua ayat ini dan membandingkannya. Sebagaimana terlihat, ayat ke-129 menggambarkan tiga misi rasul yang didoakan: (1) membacakan ayat-ayat-Nya, (2) mengajarkan Kitab dan Hikmah, dan (3) menyucikan. Ayat ke-151– dapat dikatakan sebagai “realisasi” dari doa itu– menggambarkan empat misi rasul: (1) membacakan ayat-ayat-Nya, (2) menyucikan, (3) mengajarkan Kitab dan Hikmah, dan (4) mengajarkan yang belum diketahui. Dari perbandingan dua ayat ini kita dapat menyimpulkan:
- Semua doa Ibrahim AS dikabulkan;
- Fungsi rasul yang ke-4, “mengajarkan yang belum diketahui”, adalah bonus dalam arti tidak termasuk dalam doa Ibrahim AS; dan
- Berbeda dengan ayat ke-129, urutan “menyucikan” disebutkan terlebih dahulu sebelum “mengajarkan Kitab Suci dan Hikmah” dan “mengajarkan yang belum diketahui”.
Kesimpulan ke-2 mengesankan misi khas Nabi Muhammad SAW adalah “mengajarkan apa yang belum diketahui”. Kesan ini paralel dengan ayat ke-5 Surat Al-Alaq (ke-96), Surat yang lima ayat pertamanya [6] mengabadikan wahyu pertama kepada Nabi SAW. Kesimpulan ke-3 agaknya mengisyaratkan kepada kita bahwa “kesucian” merupakan prasyarat untuk memperoleh “pengajaran Kitab dan Hikmah” dan untuk “memperoleh pelajaran baru“, tapi …
Wallahualam….@
[1] Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2019/07/21/haji-ibrahim-seruan-efektif/
[2] Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2019/07/24/haji-warisan-ibrahim/.
[3] Tulisan lain terkait dengan Nabi AS ini yang berjudul “Mengenal Pemimpin Besar Ibrahim” dapat diakses di sini.
[4] Dirk adalah mantan pendeta yang nama lengkapnya Haji Abu Yahya Jerald F. Donald, PsyD Abu ‘Alenda. Ini sebagian pengakuannya: “… saya lahir dan dibesarkan di lingkungan Kristen; saya punya izin berkhotbah dari Gereja Metodis Bersatu, 1969; saya adalah pendeta resmi dari Gereja Metodis Bersatu, 1972, dan memeluk Islam pada 1993 (halaman 10).
[5] Buku ini terbitan Amana Publications (2002) dan sudah diterbitkan dalam Bahasa Indonesia dengan judul Ibrahim Sang Sahabat Tuhan oleh Serambi (2004).
[6] Inilah terjemahan lima ayat yang dimaksud: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajarkan manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya“.
Contact: uzairsuhaimi@gmail.com