Pandang-Dunia Jahili dan Qurani

Masyarakat global tengah waswas karena epidemi Coronavirus yang mengglobal, menjangkiti (per tanggal 11 Februari 2020) sebanyak 43,101 jiwa, dan sebanyak 1,107 di antaranya meninggal[1]. Epidemi ini dilaporkan melumpuhkan kegiatan ekonomi tidak hanya di Wuhan-Cina di mana episentrum epidemi terletak, tetapi juga di kawasan Cina lainnya, bahkan dilaporkan mulai menganggu aktivitas ekonomi Dubai–Uni Emirat Arab. Yang terakhir ini menambah waswas banyak pihak karena Dubai merupakan salah satu pusat persinggahan lalu-lintas global. Demikianlah gambaran singkat mengenai kenyataan obyektif situasi-terkait virus corona.

Pertanyanya adalah apa artinya semua itu bagi kita secara subyektif. Ini adalah pertanyaan eksistensialis model Kierkegaard. Jawabannya tergantung pada cara pandang-dunia (world view, Weltanschauung), cara pandang melihat dunia secara keseluruhan. Bagi Kierkegaard semua fenomena alam yang dapat kita amati dan persepsi adalah tanda (Arab: ayat). Sayangnya dia tidak mengelaborasi lebih lanjut tanda apa.

Ada banyak cara pandang-dunia dan dua di antaranya yang utama adalah cara-pandang jahili dan cara-pandang qurani. Tulisan ini membahas secara singkat dua cara-pandang ini.

Pandangan Jahili

Istilah jahili dalam tulisan ini merujuk pada cara-pandang arus-utama Bangsa Arab sebelum kedatangan Islam awal abad ke-7. Ada empat ciri utama cara-pandang ini: (1) Ada ilah (Tuhan) lain selain Allah, (2) Tuhan tidak campur-tangan dalam urusan dunia, (3) Waktu (al-Dahr) menentukan kehidupan dunia, (4) tidak mempercayai keabadian jiwa atau kehidupan akhirat[2]. Semua ciri itu diabadikan secara ringkas dalam QS (45:24):

Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia ini saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa (teks: al-Dhar). Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanya menduga-duga saja.

Pandang-dunia jahili ini sangat suram serta mendorong sikap dan perilaku fatalisme dan kehidupan hedonisme. Yang menarik untuk dicatat, pandangan ini sangat mirip (kalau tidak persis sama) dengan konsep nihilisme dan absurditas hidup sebagaimana dikembangkan oleh para sesepuh eksistensialisme[3]:

The notion of the absurd contains the idea that there is no meaning in the world beyond what meaning we give it. This meaninglessness also encompasses the amorality or “unfairness” of the world. This conceptualization can be highlighted in the way it opposes the traditional Abrahamic religious perspective, which establishes that life’s purpose is about the fulfillment of God’s commandments. Such a purpose is what gives meaning to people’s lives. To live the life of the absurd means rejecting a life that finds or pursues specific meaning for man’s existence since there is nothing to be discovered.

Pertanyaan: Apakah Zaman Now masih banyak penganut atau pemrakarsa cara-pandang jahili atau filsafat nihilis atau absurditas dunia?

Pandangan Qurani

Al-Quran, seperti halnya kitab-kitab berbasis wahyu lainnya (Taurat, Injil, dsb.), pada prinsipnya menegaskan dua ajaran pokok: (1) semua fenomena hidup di dunia-bawah-sini ini (the here-lower World) adalah tanda atau ayat keberadaan-Nya, (2) kehidupan abadi di Dunia-Atas-Sana (upper-hereafter World), dunia di mana semua jiwa akan mempertanggungkan kiprahnya di dunia ini secara adil. Ajaran kedua jelas mendorong kehidupan yang bertanggung jawab. Ajaran pertama mengingatkan bahwa Dia-SWT campur tangan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Al-Quran, meminjam istilah Izutsu, Dia SWT berkomunikasi dengan manusia secara lingustik (melalui wahyu) maupun non-lingustik (melalui fenomena alam). Dengan demikian, bagi mereka yang meyakini Kitab Suci berbasis wahyu, memaknai fenomena alam sebagai ayat, “cara”, “modus” Dia SWT berkomunikasi dengan manusia secara keseluruhan. Fenomena alam yang dimaksud mencakup aneka macam peristiwa alamiah (qurani: sunnatullah), termasuk epidemi Coronavirus, ledakan dahsyat bintang raksasa di suatu galaksi sehingga menimbulkan supernova, dan merekahnya kelopak bunga lily of the valey karena terpapar hangat matahari pagi.

… memaknai fenomena alam sebagai ayat, “cara”, “modus” Dia SWT berkomunikasi dengan manusia secara keseluruhan.

Ayat non-lingustik ini “diturunkan” (istilah qurani: tanzil) oleh-Nya dan manusia dapat memahaminya (qurani: aqala, fahima, dsb.) Kenapa? Karena manusia memiliki organ yang dibutuhkan yaitu hati (qurani: lubb (pl. albab), qalb (fuad)).

Ayat itu dapat berbentuk khabar gembira (qurani: tabasshir) termasuk nikmat dan rahmat atau kabar buruk atau peringatan (qurani: indhar) termasuk azab. Respons manusia dua macam, membenarkan (qurani: tashdiq) atau mendustakan (qurani: takzib). Respons ini menentukan secara kategori apakah manusia tergolong beriman atau kafir.

Terima kasih layak ditujukan pada Izutsu telah membuat sistematika alur pikir Weltanschauung[4] Al-Quran mengenai ayat non-linguistik ini. Sebagian kecil dari sistematika itu disajikan pada Tabel berikut dengan harapan dapat mempermudah bacaan mengenai alur pikir itu.

Tabel: Ayat Non-Lingustik dan Respons Manusia

Divine Part God “send down” the ayat Tanzil
 

 

 

 

 

 

Human Part

Man understands the meaning of ayat aqala, fahima. faqiha, tafkkara, tadzakkara, tawassama, etc
The organ of understanding lubb (pl. albab), qalb (fuad)
The meaning of ayat A: ni’mah, rahmah, etc. (tabasshir)

B: intiqam, ‘iqab. ‘adzab, sakhat, etc (indhar)

The human response (a) tashdiq

(b) takdzib

The immediate consequence I: shukr (A+a)

II: taqwa (B+a)

III. kufr ((A,B)+b)

The final result Iman (I,II),

kufr (III)

Sumber: Diadaptasi dari Izutsu (1964:147).

Sikap Taqwa

Mereka yang memilik cara-pandang qurani tidak menapikan kemungkinan fenomena alam– termasuk tetapi tidak hanya epidemi Coronavirus– sebagai azab (=B) serta membenarkannya (=a) sebagai bentuk capur tangan Dia SWT. Cara pandang ini akan menghasilkan sikap taqwa (=B+a) dalam arti takut akan azab-Nya. Inilah arti dasar taqwa. Orang yang berpandangan ini selain berusaha menghenatikan penyebaran virus lebih lanjut (ini bagian manusia) juga akan menggantungkan harapan akan campur tangan-Nya (ini bagian ilahiah). Mereka akan berharap agar pademi black death–yang menelan korban jiwa 75-200 juta jiwa manusia Eurasia dan Eropa (puncaknya 1347-1351)– tidak terulang dalam sejarah manusia [5] berkat rahmat-Nya.

Mereka tidak membutuhkan bukti logis yang canggih untuk sampai kepada kesimpulan dan sikap itu karena bagi mereka kebutuhan semacam itu berbanding lurus dengan ketidaktahuan (ignorance), bukan pengetahuan (knowledge). Pandangan mereka tercermin dalam ungkapan Schuon (2007:4) yang padat: For the sage every star, every flower, is metaphysically a proof of the Infinite [6]; yakni, Dia SWT. “Rahasia” mereka terletak pada penggunaan hati (heart) sebagai organ pemahaman (lihat Tabel), bukan pikiran (mind) yang ranahnya terbatas pada alam terikat ruang dan waktu dunia-bawah-sini (spatio-temporal realm).

For the sage, every star, every flower, is metaphysically a proof of the Infinite

Wallahualam….@

[1] https://edition.cnn.com/asia/live-news/coronavirus-outbreak-02-11-20-intl-hnk/index.html

[2] Lihat Izutsu (1964), God and Man in Quran, Koeio University.

[3] https://en.wikipedia.org/wiki/Existentialism

[4] Penutur Bahasa Inggris menggunakan istilah ini (dengan hruf awal Kapital) dalam dikursus filsafat kognitif yang serius karena padanannya world view dianggap mengambang (vague) bahkan tidak memadai.

 [5] https://en.wikipedia.org/wiki/Black_Death.

[6]Schuon, F. Spiritual Perspective & Human Facts, World Wisdom.

← Back

Thank you for your response. ✨

Tren Tidak Pernah Bohong

Jika Anda mengamati situasi internal Amerika Serikat (AS) akhir-akhir ini maka Anda akan menikmati serunya hiruk-pikuk politik di negara Paman Sam itu. Momennya mendukung: (1) tahun ini adalah tahun pemilihan Potus, the President of the United States of America, (2) Potus yang sekarang, Trump, baru saja lolos dari proses pemakzulan oleh Senat setelah sebelumnya dimakzulkan oleh Kongres, dan (3) sejak awal administrasinya, Trump “berhasil” menciptakan kondisi yang membuat masyarakat AS terbelah secara efektif antara pendukung Partai Republik pendukung gigih Trump dan Partai Demokrat yang sejak awal berupaya memakzulkan Trump.

Kesan penulis, sebagian besar (kalau tidak mayoritas) masyarakat AS tidak mengamini gaya kepemimpinan Trump khususnya terkait dengan kebijakan luar negeri dan keadaban berkonstitusi dalam kedudukan sebagai Potus. Tapi pernyataan ini masih perlu diverifikasi melalui Pemilu akhir 2020 ini. Masalahnya bagi barisan Partai Demokrat adalah bahwa ekonomi AS lagi bagus-bagusnya sehingga dikhawatirkan Trump masih akan memenangkan kursi Potus untuk putaran kedua.

Bahwa ekonomi lagi bagus didukung oleh indikator sosial-ekonomi yang meyakinkan: pasar modal sangat bagus, pertumbuhan ekonomi lumayan, angka kemiskinan rendah (diklaim oleh kubu Trump terendah dalam sejarah AS), angka penganggur di diklaim paling rendah dalam sejarah, penciptaan lapangan kerja terus bertambah.

Dua indikator pertama (pasar modal dan pertumbuhan ekonomi) dianggap belum meyakinkan karena belum menyangkut hajat hidup orang banyak secara langsung. Dua indikator berikutnya (kemiskinan dan penganggur) jelas meyakinkan. Istilah penganggur jelas terkait dengan employment, bukan hanya job; artinya, menyangkut orang banyak secara kongkret, bukan hanya kelompok tertentu.

Indikator yang mungkin paling meyakinkan adalah penciptaan lapangan kerja. Tidak ada negara yang menganggap enteng urusan ini. Negara “gagal” atau “setengah gagal” umumnya terkait dengan urusan ini, khususnya ketidakmampuan menyediakan lapangan kerja bagi kalangan muda yang semakin terdidik. (Ini salah satu paradoks pembangunan: penduduk semakin terdidik tetapi penganggur tinggi justru mencolok bagi kalangan terdidik.)

Negara “gagal” atau “setengah gagal” umumnya terkait dengan urusan ini, khususnya ketidakmampuan menyediakan lapangan kerja bagi kalangan muda yang semakin terdidik.

Kembali ke Trump.

Saat ini penciptaan lapangan kerja AS bertambah bahkan lebih banyak dari yang diramalkan oleh para ahli. Ini didukung oleh statistik resmi AS, DOL (Department of Laour). Pertanyaannya, apakah ini faktor Trump? Ini pertanyaan kompleks. Untuk menjawab ini, orang statistik biasanya merekomendasikan pendekatan perbandingan dengan mengajukan pertanyaan kira-kira begini:

“Mana yang lebih banyak lapangan kerja yang diciptakan, apakah di era Obama tiga tahun terakhir, atau di era Trump tiga tahun pertama?”

Analisis statistik menggunakan data DOL menunjukkan bahwa lapangan kerja baru ternyata lebih banyak diciptakan di era tiga terakhir Obama dari pada di era tiga pertama Trump. Dengan kata lain, perluasan kesempatan kerja yang terjadi akhir-akhir ini bukan faktor Trump.

Tetapi urusan belum selesai. Menurut salah seorang penyiar CNN, kubu Trump melakukan analisis statistik yang canggih dengan melihat ulang seri data yang panjang tetapi ketenagakerjaan… ini yang menarik… dan melakukan berbagai penyesuaian (adjustment) yang mengarah pada pendeskriditan kinerja Obama. Di sini patut diduga ada isu moral statistik “How to lie with statistics?”

Isu moral Statistik: “How to lie with statistics?

Hasil analisisnya? Tren di era Trump ternyata merupakan kelanjutan tren di era Obama. Kesimpulannya, besarnya penciptaan lapangan usaha di AS akhir-akhir ini tidak bisa diklaim sebagai faktor Trump.

Mengamati hasil analisis itu CNN edisi 8 Februari 2020 mengetengahkan headline:Trend never lie“, “Tren tidak pernah bohong”

Wallahualam…@

← Back

Thank you for your response. ✨