Pemanasan Global dan Kesadaran Krisis

Ketika merespons tulisan penulis mengenai Climgeddon[1] seorang pembaca mengaku tidak tega menceritakan isinya kepada anak-cucunya. Respons ini wajar karena istilah itu merujuk pada skenario berakhirnya kehidupan akibat perubahan iklim. Perubahan ini mengarah pada pemanasan global yang terus meningkat secara eksponensial sehingga mencapai tingkat di mana tidak kesempatan untuk kembali, titik kritis (tipping points) dengan dampak yang sukar dibayangkan bagi kelangsungan kehidupan di Bumi.

Dua Tahun Ke Depan

Sekarang ini rata-rata suhu global 1.7º-2.2º Celsius di atas rata-rata sebelum era industri (1950-an). Angka idealnya adalah 1.5º Celsius sehingga kita sebenarnya telah memasuki Fase 1 dalam skenario Climgeddon. Berdasarkan pengalaman masa lalu dan dengan mengasumsikan kita secara kolektif melakukan kegiatan normal tanpa ada upaya radikal untuk menghindari maka dalam 2-6 tahun ke depan (2022) kita akan memasuki Fase 2. Dalam fase ini suhu global diprediksi akan mencapai 2.5º-3.2º Celsius (lihat Tabel).

Sumber: https://www.joboneforhumanity.org/climageddon_scenario 

Bencana Iklim

Pemanasan global pararel dengan peningkatan konsentrasi gas rumah kaca (khususnya karbon) di atmosfer bumi. Tiga tahun lalu (2017) konsentrasi gas karbon sekitar 407 satuan per juta atau 407 ppm (part per million). Dalam Fase 1 (sekarang), konsentrasi itu diperkirakan 400-450 ppm dengan titik tengah 425 ppm. Angka 425 ppm ini disebut sebagai ”garis perang” (battleline) yang tidak boleh dilewati; jika tidak, dalam waktu kurang dari satu dekade konsentrasi karbon akan mencapai 450. Dengan konsentrasi sebesar itu maka kita akan memasuki era yang bernama bencana iklim (Climate Cliff) yang sukar dibayangkan dampaknya (lihat grafik).

Empat Titik Kritis

Menurut skenario Climgeddon kita akan memasuki jalur dengan ada empat titik kritis (tipping points) yang menurut JobOne dapat menciptakan umpan balik positif yang membahayakan:

Tipping points can create highly dangerous positive feedback loops. Positive feedback loops—endless, self-reinforcing cycles can speed a global warming process so much that it will jump from a gradual, linear progression to a very steep, exponential progression or a falling off a cliff progression or complete system collapse which can lead to mass human extinction within our lifetimes.

Titik kritis dapat membuat putaran umpan balik positif yang sangat berbahaya. Putaran umpan balik positif — siklus tak berujung yang menguatkan diri dapat mempercepat proses pemanasan global sedemikian rupa sehingga akan melompat dari perkembangan linier yang bertahap ke perkembangan yang sangat curam dan eksponensial atau terjatuh dari tebing atau runtuhnya sistem secara total yang dapat menyebabkan kepunahan massal manusia dalam hidup kita.

Menurut JobOne ada empat titik kritis, diukur dengan emisi karbon di atmosfer bumi, yang memiliki ‘jadwal’ masing-masing:

  • 2025: emisi karbon 425-450 ppm,
  • 2042-2067 (atau lebih awal): pencairan es global yang mempercepat kepunahan,
  • 2063-2071 (atau sebelumnya): pelepasan metana masif yang semakin cepat, dan
  • Setelah 2072: suhu pemanasan global yang semakin meningkat.

Dampak pemanasan global sangat luas: semakin menyusutnya laut es, meningkatnya frekuensi banjir dan tsunami, meningkatnya kegiatan vulkanik, menghilangnya hutan, kematian plankton, dan sebagainya. Masing-masing dampak itu berinteraksi dan saling memperkuat. Grafik di bawah mengilustrasikan dampak pemanasan global terhadap berbagai aspek kehidupan di planet Bumi ini.

Kesadaran Krisis

Skenario Climgeddon berbasis pengetahuan, bukan sensai jurnalis apalagi isapan jempol. Skenario ini menegaskan kita dalam krisis eksistensial, menyangkut kelangsungan hidup. Pesan ini sudah dikumandangkan secara sangat tegas pada tingkat global melalui berbagai forum termasuk SDG (Goal 13: Climate Actions) dan Paris Agreement. Pertanyaannya, kenapa aksi yang diharapkan SDG terkesan masih belum merasuki kesadaran kolektif kita secara signifikan, kesadaran krisis (sense of crisis) mengenai bencana iklim. Jawabannya, sebagian, karena ideologi[2] sebagian besar kita kita menganut doktrin tempus nullinus (empty time, “waktu hampa”) yang, sebagaimana diungkapkan Roman Krznaric (19/2/19), seakan-akan menjustifikasi penjajahan masa depan.

We treat the future like a distant colonial outpost devoid of people, where we can freely dump ecological degradation, technological risk, nuclear waste and public debt, and that we feel at liberty to plunder as we please.

Jawaban lain yang masuk akal adalah bahwa isu pemanasan global, berbeda dengan isu Covid-19, misalnya, tidak tampak (invisible), tidak dianggap sebagai ancaman langsung (immediate threat), tidak ada ‘contoh’ sebelumnya (unprecedented), dan hubungan sebab-akibatnya tidak sederhana (complex).

Doktrin tempus nullinus secara kategoris bertentangan dengan semangat ajaran dasar semua agama, iman kepada hari akhir. Dalam konteks masa kini ajaran ini dapat dianalogikan dengan konsep pembangunan berkesinambungan yang diwujudkan sebagai upaya sadar dan komitmen total untuk menunda kebahagiaan” hari ini demi kebahagiaan hari esok (meminjam istilah Cak Nur), demi kelangsungan hidup generasi mendatang…

Ulah Manusia

Skenario Climgeddon mengambil titik awal 1950-an ketika era industri menjadi mode ekonomi yang dianut secara universal. Manfaat pembangunan industri bagi kemaslahatan manusia mustahil dibantah. Yang diperlukan adalah kesadaran bahwa industrialisasi membawa serta unsur-unsur yang memandu kita pada bencana iklim yang gejalanya semakin me nampak:

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS 30:41).

Apakah pandemi Covid-19 adalah salah satu cara Dia Rabb SWT mendidik (unsur dari Rabb) manusia? Pertanyaan ini timbul karena pengurangan aktivitas ekonomi karena pandemi ini terbukti membawa “berkah” dalam bentuk membaiknya kualitas atmosfer bumi walaupun agaknya tidak signifikan secara global dan belum memadai untuk memenuhi target Paris Agreement.

Wallahualam ….. @

[1] Lihat https://uzairsuhaimi.wordpress.com/2020/08/06/climgeddon-global-warming-climate-change/

[2] Lihat https://uzairsuhaimi.wordpress.com/2019/06/24/perubahan-iklim-kenapa-kita-abai/

← Back

Thank you for your response. ✨

Climgeddon

Akhir dunia. Semua agama dan tradisi besar mengenai istilah ini. Dalam Hinduisme, misalnya, ada istilah Pralaya[1] yang merujuk pada periode kehancuran alam semesta atau akhir dunia. Kata Mahapralaya merujuk pada situasi ketika kehancuran itu bersifat menyeluruh atau total. Tulisan ini terkait dengan skenario akhir dunia dalam skala Pralaya, akhir kehidupan di planet bumi ini. Skenario ini dikenal dengan kata majemuk Climgeddon, kombinasi kata Armageddon (skenario akhir dunia) dan climate (iklim) atau mudahnya pemanasan global. Singkatnya, Climgeddon adalah skenario berakhirnya kehidupan di bumi karena pemanasan global. Asumsi skenario: kita secara kolektif melakukan kegiatan normal seperti biasa tanpa aksi nyata untuk mengatasinya.

Masuk Akal

Skenario Climgeddon masuk akal karena tren pemanasan global adalah haq (Arab); artinya, benar dan nyata (riil). Ini angkanya: rata-rata suhu global naik lebih 1℃ dibandingkan dengan suhu sebelum industri (1950-an); angkanya, meningkat (Grafik 1).

Grafik 1: Rata-rata anomali Suhu Global

Sepintas kenaikan ini suhu global kecil tapi dampaknya luar biasa dan dapat dirasakan secara global. Kenaikan ini terjadi karena atmosfer bumi dipenuhi CO2 dan gas rumah kaca lainnya. Sekarang ini konsentrasi CO2 di atmosfer bumi sekitar 400 ppm, tertinggi selama 800,000 tahun. Yang bertanggung jawab kita yang secara global memancarkan CO2 ke atmosfer sekitar 36 miliar ton per tahun; angkanya, meningkat (Grafik 2).

Grafik 2 Total Emisi CO2 menurut Kawasan

Daftar Pendek

Kini kita berada pada Fase-1 Climgeddon dengan suhu global 1.7º-2.2º Celsius di atas level pra-industri. Dalam fase ini kita sudah menyaksikan berbagai bencana yang semakin sering dan parah. Ini daftar pendeknya (Sumber: https://www.joboneforhumanity.org/climageddon_scenario):

  • menyusutnya laut es dan rak es, gletser dan salju di belahan Utara Bumi,
  • kegagalan panen serta meningkatkan kelaparan massal (juga, melonjaknya harga pangan),
  • meningkatnya frekuensi dan intensitas semua jenis badai ekstrem, (angin topan, tornado, bom hujan, topan bom, dll.),
  • meluasnya kekeringan, semakin langkanya ketersediaan air minum bersih,
  • meluasnya penggurunan,
  • semakin seringnya kebakaran dan kebakaran hutan dan banjir, semakin beracunnya polusi udara, pengasaman laut semakin meningkat[2],
  • keanekaragaman hayati terus berkurang,
  • migrasi hewan dan serangga,
  • semakin berkurangnya fungsinya hutan dalam mengambil karbon dari atmosfer[3], dan
  • semakin besarnya kerugian ekonomi karena dampak pemanasan global[4].

Daftar dapat ditambah dengan, misalnya, semakin banyaknya pulau yang ‘hilang’ tenggelam[5].

Sukar Dibayangkan

Dengan mengaji daftar pendek di atas, ketika suhu global 1.7º-2.2º Celsius di atas level pra-industri, mudah bagi kita membayangkan skenario ketika suhu global menjadi 2.5º-3.2º Celsius. Angka ini adalah Fase-2 Climgeddon; jadwalnya, 2027. Suhu global terus meningkat sehingga pada tahun 2071 mencapai 5º-6º Celsius.

Perancang Climgeddon membuat gambaran situasi sampai tahun 2070 tetapi tidak berani membayangkan situasinya tahun berikutnya dan hanya menuliskan ‘unknown‘. Silahkan simak Grafik 3 untuk melihat jadwal lengkap Climgeddon.

Grafik 3: Jadwal Climgeddon

Sumber: https://www.joboneforhumanity.org/climageddon_scenario

******

Bagi Muslim, dalam konteks tulisan ini, terjemahan dua ayat ini layak direnungkan:

  • Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang mengadakan perbaikan” (QS 2;11).
  • Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia… (QS 30:41).

Wallahualam….. @

[1] Kamus Meriam-Webser mendefinisikannya sebagai “a period of dissolution or destruction of the manifested universe at the end of a kalpa according to Hindu philosophy: the end of the world“.

[2] Ini menyebabkan kehidupan laut kritis dan kematian terumbu karang. Pemanasan laut dan pengasaman laut dari karbon dari pemanasan global pada akhirnya akan membunuh banyak plankton penghasil oksigen lautan. Plankton ini bertanggung jawab atas sebanyak 50% dari semua oksigen diproduksi di planet ini.

[3] Hutan yang merupakan kekuatan penstabil utama yang menyerap karbon menjadi netral dalam penyerapan karbonnya dan berhenti mengambil karbon dari atmosfer. Segera dalam fase selanjutnya, hutan akan mulai melepaskan simpanan karbon mereka yang besar yang mendorong suhu lebih tinggi bahkan lebih cepat.

[4] Dalam fase ini, sebagian besar negara akan menghabiskan 1-3 persen dari total produk domestik bruto (PDB) secara langsung atau tidak langsung untuk membayar konsekuensi dari darurat pemanasan global.

[5] Menurut suatu laporan Pulau Seribu sudah kehilangan beberapa pulau kecial dan Indonesia dalam waktu dekat akan kehilangan sekitar 2,000 pulau.

← Back

Thank you for your response. ✨