Pada hari ‘alastu’, hari sebelum dilahirkan, kita semua mendatangani perjanjian, perjanjian priomordial dengan Rabb: ‘alastu birabbikum, qalu bala syahidna Q(7:172).
Izutsu membingkai perjanjian primordial ini sebagai **pola dasar kepercayaan**, dengan menyatakan bahwa perjanjian itu:
(1) Menjangkarkan Identitas Manusi: Perjanjian mendefinisikan hubungan manusia dengan Tuhan sebagai hubungan **ketergantungan ontologis**. Manusia adalah *ʿabīd* (hamba) yang terikat oleh sumpah primordial ini.
(2) Menjelaskan Universalitas Pewahyuan: Karena semua jiwa mengakui Tuhan, pesan-pesan kenabian (misalnya, melalui Ibraham AS, Musa AS, Muhammad SAW) adalah pengingat (*tadhkira*) akan kebenaran laten ini.
(3) Menyelesaikan Masalah Ketidakpercayaan (*Kufr*)**: *Kufr* (secara harfiah berarti “menutupi”) bukanlah ketidaktahuan tetapi *penyangkalan yang disengaja* atau “melupakan” (*nisyān*) atas perjanjian. Kemunafikan (*nifāq*) juga berasal dari hubungan yang retak dengan kebenaran mendasar ini.
Wallahualam… @