Toshihiko Izutsu dalam *God and Man in the Quran* (Tuhan dan Manusia dalam Al-Qur’an) menyajikan analisis semantik terhadap konsep teologis kunci Al-Qur’an, menekankan hubungan dinamis antara Allah dan manusia. Inti pendekatan Izutsu adalah bahwa istilah-istilah Qur’ani memperoleh makna dari konteks relasionalnya dalam pandangan dunia teks, bukan definisi yang terisolasi. Ajaran utamanya meliputi:
1. **Transendensi dan Immanensi Ilahi**: Al-Qur’an menggambarkan Allah sebagai Yang Maha Transenden (*tanzīh*), melampaui pemahaman manusia, namun terlibat secara intim dalam penciptaan. Paradoks ini dijelaskan melalui konsep seperti *amana* (amanah), di mana manusia menerima tanggung jawab moral sebagai wakil Allah (*khalīfa*), mencerminkan kehendak ilahi di bumi.
2. **Hubungan Perjanjian**: Peran manusia dibingkai oleh perjanjian dengan Allah, mewajibkan perilaku etis dan ibadah. Izutsu menonjolkan istilah seperti *īmān* (iman) dan *islām* (penyerahan diri), yang merujuk pada komitmen eksistensial aktif, bukan kepercayaan pasif. Sebaliknya, *kufr* (kekafiran) menandakan ketidaksyukuran dan penolakan terhadap perjanjian ini.
3. **Dualisme Etis**: Al-Qur’an mempertentangkan *haqq* (kebenaran/kebaikan) dan *bāṭil* (kebatilan), menekankan akuntabilitas moral. Kebebasan manusia ada dalam kerangka kuasa ilahi: individu memilih jalan hidup, tetapi keputusan akhir ada pada Allah, menegaskan keadilan eskatologis.
4. **Relasionalitas Semantik**: Izutsu mengeksplorasi bagaimana istilah seperti *rabb* (Tuhan) dan *ʿabd* (hamba) mendefinisikan ikatan Tuhan-manusia. Konsep ini saling bergantung, membentuk pandangan dunia di mana tujuan manusia berasal dari penyerahan kepada kedaulatan ilahi.
Izutsu berargumen bahwa ajaran Al-Qur’an membentuk sistem etis-teologis terpadu, mendorong keselarasan transformatif dengan kehendak ilahi. Karyanya menjelaskan bagaimana bahasa membangun ontologi relasional, menempatkan manusia sebagai makhluk bermoral yang bertanggung jawab dalam alam semesta yang diatur oleh keesaan mutlak Allah (*tawḥīd*). Kerangka ini menegaskan penekanan Islam pada tanggung jawab eksistensial dan penyerahan diri spiritual.
Wallahualam