Selamat datang di uzairsuhaimi.blog! Blog ini merekam jejak pemikiran penulisnya mengenai bidang sosial-ekonomi-kependudukan dan refleksinya mengenai kebijaksanaan abadi dalam perspektif Islam.
Toshihiko Izutsu dalam *God and Man in the Quran* (Tuhan dan Manusia dalam Al-Qur’an) menyajikan analisis semantik terhadap konsep teologis kunci Al-Qur’an, menekankan hubungan dinamis antara Allah dan manusia. Inti pendekatan Izutsu adalah bahwa istilah-istilah Qur’ani memperoleh makna dari konteks relasionalnya dalam pandangan dunia teks, bukan definisi yang terisolasi. Ajaran utamanya meliputi:
1. **Transendensi dan Immanensi Ilahi**: Al-Qur’an menggambarkan Allah sebagai Yang Maha Transenden (*tanzīh*), melampaui pemahaman manusia, namun terlibat secara intim dalam penciptaan. Paradoks ini dijelaskan melalui konsep seperti *amana* (amanah), di mana manusia menerima tanggung jawab moral sebagai wakil Allah (*khalīfa*), mencerminkan kehendak ilahi di bumi.
2. **Hubungan Perjanjian**: Peran manusia dibingkai oleh perjanjian dengan Allah, mewajibkan perilaku etis dan ibadah. Izutsu menonjolkan istilah seperti *īmān* (iman) dan *islām* (penyerahan diri), yang merujuk pada komitmen eksistensial aktif, bukan kepercayaan pasif. Sebaliknya, *kufr* (kekafiran) menandakan ketidaksyukuran dan penolakan terhadap perjanjian ini.
3. **Dualisme Etis**: Al-Qur’an mempertentangkan *haqq* (kebenaran/kebaikan) dan *bāṭil* (kebatilan), menekankan akuntabilitas moral. Kebebasan manusia ada dalam kerangka kuasa ilahi: individu memilih jalan hidup, tetapi keputusan akhir ada pada Allah, menegaskan keadilan eskatologis.
4. **Relasionalitas Semantik**: Izutsu mengeksplorasi bagaimana istilah seperti *rabb* (Tuhan) dan *ʿabd* (hamba) mendefinisikan ikatan Tuhan-manusia. Konsep ini saling bergantung, membentuk pandangan dunia di mana tujuan manusia berasal dari penyerahan kepada kedaulatan ilahi.
Izutsu berargumen bahwa ajaran Al-Qur’an membentuk sistem etis-teologis terpadu, mendorong keselarasan transformatif dengan kehendak ilahi. Karyanya menjelaskan bagaimana bahasa membangun ontologi relasional, menempatkan manusia sebagai makhluk bermoral yang bertanggung jawab dalam alam semesta yang diatur oleh keesaan mutlak Allah (*tawḥīd*). Kerangka ini menegaskan penekanan Islam pada tanggung jawab eksistensial dan penyerahan diri spiritual.
**Statistics and Spirituality: An Unexpected Synergy**
At first glance, the pairing of statistics and religion may seem unconventional—even paradoxical. One discipline is rooted in empirical analysis, quantifying the tangible realities of our world; the other contemplates the transcendent, exploring truths beyond the physical realm. Yet this very duality defines my journey: a lifelong dedication to statistical rigor intertwined with a deep fascination for humanity’s spiritual dimensions.
**Professional Journey: Three Decades of Data-Driven Impact**
From 1981 to 2011, I served as a statistician at *BPS-Statistics Indonesia*, the nation’s central bureau of statistics, contributing to data-driven policymaking and national development. Following this, I lent my expertise to Indonesia’s *TNP2K* (a Vice President’s Office initiative) and the *International Labour Organization’s Regional Office for Asia and the Pacific (ILO-ROAP)* as a senior statistician. Since 2012, I have operated as an independent consultant, collaborating with entities like the ILO and Indonesian government agencies on pivotal projects. A recent highlight includes leading Indonesia’s first comprehensive *estimation of child labor* for the ILO Country Office in Jakarta (2019), a critical step toward addressing this urgent social challenge.
**Spiritual Inquiry: Bridging the Universal and the Esoteric**
Parallel to my professional work, I have nurtured a decades-long intellectual passion for the essence of religious thought—its esoteric traditions, universal principles, and timeless wisdom. Sufism’s mystical teachings and the *perennial philosophy*, which seeks shared truths across spiritual traditions, hold particular resonance for me. To explore these themes, I have authored and shared reflections on my personal blog, inviting dialogue on how inner understanding intersects with our outer world.
**Convergence: Where Analysis Meets Meaning**
This unlikely harmony between data and devotion has profoundly shaped my perspective: statistics reveal the *"what"* of human conditions, while spirituality grapples with the *"why."* Together, they form a dynamic lens through which I seek to understand—and contribute to—both the measurable and the immeasurable dimensions of life.
.
View all posts by Uzair Suhaimi