> *”Dan mereka dapati seorang hamba di antara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.”*
> (QS. Al-Kahfi: 65)
### **Sang Maestro Multidimensi**
Jalāl ad-Dīn Muhammad Rūmī (1207-1273) bukan sekadar penyair. Ia mufti, teolog, dan mistikus Sufi yang merangkum paradoks: seorang faqih yang piawai menari, sarjana hukum yang menyelami ekstase cinta. Gelar *Mawlānā* (“Tuan Kami”) bukan retorika—ia adalah profesor hukum yang meninggalkan fatwa demi menggubah puisi setelah pertemuan transformatif dengan Syams Tabriz. Julukan “Rumi” sendiri adalah jejak sejarah: ia hidup di tanah Bizantium, tempat ia merajut Persia, Yunani, dan Islam dalam syair-syairnya.
### **Mengapa Karyanya Abadi?**
Popularitas Rumi melintasi zaman karena dua keajaiban:
1. **Bahasa Universal Cinta**
Puisinya menerobos dikotomi benar-salah:
*”Di luar gagasan dosa dan ibadah, ada padang rumput. Kita akan bertemu di sana.”*
Kalimat ini—seperti diakui penyair AS Coleman Barks—menjembatani agama dan budaya. Barks menghabiskan 33 tahun “membebaskan” Rumi dari terjemahan kaku, hingga karyanya terjual 2 miliar eksemplar di 23 bahasa.
2. **Keseimbangan Rahasia**
Rumi menyelami esoterisme tanpa menabrak syariat. Lihat puisinya yang radikal:
*”Aku bukan Kristen, Yahudi, Muslim, Hindu… Aku hanya nafas manusia yang bernapas dalam Kekasih Ilahi.”*
Namun, ketaatannya pada hukum Islam (seperti Bayazid Busthami) membuat kaum eksoteris memaklumi “kenakalan”-nya. Ia membuktikan: *jalāl* (keagungan) dan *jamāl* (keindahan) adalah dua sisi matahari yang sama.
### **Warisan yang Menghidupkan**
Lee Bricceti (Poets House) menyimpulkan: “Puisi Rumi mengartikulasikan denyut nadi kehidupan manusia.” Kekuatannya terletak pada kemampuannya merangkum pergulatan jiwa—antara hati (*qalb*) sebagai sumber hikmah, dan cinta sebagai jalan pulang. Ia tak hanya penyair; ia dokter ruh yang meracik jenaka dengan kedalaman.
Penutup
> *”Mungkin di tengah dunia yang retak oleh sektarianisme, Rumi mengingatkan kita: Cahaya Ilahi tak pernah monopoli satu tradisi. Ia pelangi yang menyapa semua mata yang jujur—dari Balkh hingga New York, dari abad ke-13 hingga layar gawai kita hari ini.”*