Kita hidup di dunia yang overstimulated tapi under-fulfilled. Teriak-teriak “self-care” & “mental health,” tapi lupa pada spiritual first-aid yang sudah diberikan gratis: Salat.
KENAPA?
- Kita Capek Dijajah Algorithm. Setiap scroll adalah eksploitasi perhatian. Salat adalah digital detox tertinggi. Saat sujud, kamu reclaim your attention. Kamu bukan produk, tapi hamba.
- Kita Krisis Identitas. Di dunia yang mendikte “kamu harus jadi siapa,” Salat mengingatkanmu pada jati diri sejati: manusia yang punya misi ketuhanan. Lebih dari sekadar pencari kerja & konten kreator.
- Kita Rindu Koneksi yang Autentik. DM bisa dibaca tapi dibalas besok. Salat adalah live connection dengan Sang Sumber Energi. No ghosting. Dia selalu menjawab, “Aku dekat.” (QS. Al-Baqarah: 186).
Salat itu bukan ritual kuno. Itu adalah REBELLION.
- Rebel against materialism. Dengan takbir, kamu declare: “Yang Maha Besar bukan masalah keuangan, bukan popularitas, tapi ALLAH.”
- Rebel against anxiety. Dalam rukuk, kamu serahkan semua kekhawatiranmu. Kamu akui: “Aku tidak punya kendali penuh, tapi Tuhanku punya.”
- Rebel against emptiness. Setiap salam adalah pengingat: hidupmu punya tujuan akhir yang mulia.
Kamu bilang susah khusyuk? Itu wajar. Ibarat otot yang lama tidak dipakai. Tapi sekali kamu rasakan the high-nya, ketenangan yang tidak bisa dibeli oleh apapun, kamu akan ketagihan. Itu adalah secret power-up yang diabaikan banyak orang.
Salat adalah mi’raj-nya Gen Z. Perjalanan terpenting yang bisa kamu lakukan 5 kali sehari, tanpa perlu kuota.
The Choice is Yours. Terus hidup dalam mode reaktif, dijajal notifikasi dan tren… ATAU Ambil kendali. Berdiri. Shalat. Temukan dirimu yang sebenarnya.
“Karena dengan mengingat Allah, hati akan tenteram.” (QS. Ar-Ra’d : 28) . . .

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.



