Sahabat Fillah, kita tahu Islam mengajarkan keseimbangan. Iya kan? Islam menghendaki kita TIDAK buta hati namun juga TIDAK angkuh akal. Rasulullah SAW mengajarkan doa: “Ya Allah, tunjukkanlah aku akan kebenaran sebagaimana adanya.”
Diagram di atas memetakan tiga tipologi manusia dalam menyikapi Wahyu (Nur) dan Akal (Nalar):
- 🟢 Titik Ideal: ULUL ALBAB (Pusat Persimpangan)
Mereka adalah yang memadukan kekuatan iman dan kecerdasan intelektual secara harmonis. Mereka merenungi ayat-ayat Allah (Al-Qur’an) sekaligus ayat-ayat kauniyah (alam semesta) dengan akal yang tunduk pada wahyu.
Ciri: Bijaksana, mendalam, inovatif, dan membawa rahmat.
Dalil:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal (Ulul Albab).” (QS. Ali Imran: 190-191)
Mereka adalah golongan “An’amta ‘alaihim” (yang telah Engkau beri nikmat) dalam Surah Al-Fatihah.
- 🔴 Hanya Wahyu (Tanpa Nalar): FANATISME BUTA
Kelompok yang memiliki keyakinan kuat tetapi tercerabut dari akal sehat. Pemahamannya literal, tekstual, dan tidak disinari oleh kedalaman hikmah.
Ciri: Keras, sempit, mudah menyalahkan, dan merusak citra agama.
Dalil:
“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun (tidak menggunakan akal).” (QS. Al-Anfal: 22)
- 🔵 Hanya Nalar (Tanpa Wahyu): MATERIALISME & ATEISME
Kelompok yang menjadikan akal dan materi sebagai satu-satunya tuhan. Mereka menolak segala sesuatu yang non-materi dan di luar jangkauan akal manusia yang terbatas.
Ciri: Angkuh secara intelektual, hampa spiritual.
Dalil:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya…?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)
📌 Kesimpulan:
Agama tanpa nalar akan menjadi radikal. Nalar tanpa agama akan menjadi sesat. Keduanya adalah dua sayap yang membawa kita terbang menuju hakikat kebenaran yang paripurna.
Mari kita berdoa dan berusaha untuk senantiasa dimasukkan ke dalam golongan ULUL ALBAB, manusia yang berfikir dan berzikir.
“Wallahu a’lam bish-shawab.”
