Selamat datang di uzairsuhaimi.blog! Blog ini merekam jejak pemikiran penulisnya mengenai bidang sosial-ekonomi-kependudukan dan refleksinya mengenai kebijaksanaan abadi dalam perspektif Islam.
Sahabat Fillah, kita tahu Islam mengajarkan keseimbangan. Iya kan? Islam menghendaki kita TIDAK buta hati namun juga TIDAK angkuh akal. Rasulullah SAW mengajarkan doa: “Ya Allah, tunjukkanlah aku akan kebenaran sebagaimana adanya.”
Diagram di atas memetakan tiga tipologi manusia dalam menyikapi Wahyu (Nur) dan Akal (Nalar):
🟢 Titik Ideal: ULUL ALBAB (Pusat Persimpangan)
Mereka adalah yang memadukan kekuatan iman dan kecerdasan intelektual secara harmonis. Mereka merenungi ayat-ayat Allah (Al-Qur’an) sekaligus ayat-ayat kauniyah (alam semesta) dengan akal yang tunduk pada wahyu.
Ciri: Bijaksana, mendalam, inovatif, dan membawa rahmat.
Dalil:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal (Ulul Albab).” (QS. Ali Imran: 190-191)
Mereka adalah golongan “An’amta ‘alaihim” (yang telah Engkau beri nikmat) dalam Surah Al-Fatihah.
🔴 Hanya Wahyu (Tanpa Nalar): FANATISME BUTA
Kelompok yang memiliki keyakinan kuat tetapi tercerabut dari akal sehat. Pemahamannya literal, tekstual, dan tidak disinari oleh kedalaman hikmah.
Ciri: Keras, sempit, mudah menyalahkan, dan merusak citra agama.
Dalil:
“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun (tidak menggunakan akal).” (QS. Al-Anfal: 22)
🔵 Hanya Nalar (Tanpa Wahyu): MATERIALISME & ATEISME
Kelompok yang menjadikan akal dan materi sebagai satu-satunya tuhan. Mereka menolak segala sesuatu yang non-materi dan di luar jangkauan akal manusia yang terbatas.
Ciri: Angkuh secara intelektual, hampa spiritual.
Dalil:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya…?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)
📌 Kesimpulan:
Agama tanpa nalar akan menjadi radikal. Nalar tanpa agama akan menjadi sesat. Keduanya adalah dua sayap yang membawa kita terbang menuju hakikat kebenaran yang paripurna.
Mari kita berdoa dan berusaha untuk senantiasa dimasukkan ke dalam golongan ULUL ALBAB, manusia yang berfikir dan berzikir.
**Statistics and Spirituality: An Unexpected Synergy**
At first glance, the pairing of statistics and religion may seem unconventional—even paradoxical. One discipline is rooted in empirical analysis, quantifying the tangible realities of our world; the other contemplates the transcendent, exploring truths beyond the physical realm. Yet this very duality defines my journey: a lifelong dedication to statistical rigor intertwined with a deep fascination for humanity’s spiritual dimensions.
**Professional Journey: Three Decades of Data-Driven Impact**
From 1981 to 2011, I served as a statistician at *BPS-Statistics Indonesia*, the nation’s central bureau of statistics, contributing to data-driven policymaking and national development. Following this, I lent my expertise to Indonesia’s *TNP2K* (a Vice President’s Office initiative) and the *International Labour Organization’s Regional Office for Asia and the Pacific (ILO-ROAP)* as a senior statistician. Since 2012, I have operated as an independent consultant, collaborating with entities like the ILO and Indonesian government agencies on pivotal projects. A recent highlight includes leading Indonesia’s first comprehensive *estimation of child labor* for the ILO Country Office in Jakarta (2019), a critical step toward addressing this urgent social challenge.
**Spiritual Inquiry: Bridging the Universal and the Esoteric**
Parallel to my professional work, I have nurtured a decades-long intellectual passion for the essence of religious thought—its esoteric traditions, universal principles, and timeless wisdom. Sufism’s mystical teachings and the *perennial philosophy*, which seeks shared truths across spiritual traditions, hold particular resonance for me. To explore these themes, I have authored and shared reflections on my personal blog, inviting dialogue on how inner understanding intersects with our outer world.
**Convergence: Where Analysis Meets Meaning**
This unlikely harmony between data and devotion has profoundly shaped my perspective: statistics reveal the *"what"* of human conditions, while spirituality grapples with the *"why."* Together, they form a dynamic lens through which I seek to understand—and contribute to—both the measurable and the immeasurable dimensions of life.
.
View all posts by Uzair Suhaimi