CATATAN AKHIR TAHUN:                 Budaya Massa: Eksistensi Semu dan Panggilan Fitrah yang Terlupakan

:

Hidup mengalir begitu saja. Kita bangun, bekerja, mengonsumsi hiburan, berinteraksi di media sosial, tidur, lalu mengulanginya lagi esok hari. Tanpa kita sadari, aliran rutinitas ini seringkali menjadi arus deras yang menghanyutkan kesadaran terdalam kita. Inilah realitas yang dibentuk oleh Budaya Massa (BM): sebuah kehidupan yang dijalani tanpa dipikirkan secara mendalam, di mana eksistensi individu terancam kehilangan keotentikannya.

BM tidak sekadar tentang produk populer atau tren. Ia adalah mesin raksasa penyeragaman perasaan, hasrat, dan bahkan suara hati. Lihatlah fenomena hooliganisme di stadion atau histeria kolektif di konser mahal. Di sana, individu melebur, bersorak serempak, marah bersama, dan menangis bersama. Ia menemukan “identitas semu” yang menggoda: rasa menjadi bagian dari sesuatu yang besar, heroisme semu yang terasa membebaskan—“aku adalah bagian dari semua yang lain.” Namun, ini adalah kebebasan palsu. Yang terjadi sebenarnya adalah demoralisasi halus: kita melepaskan pertimbangan moral personal demi euforia kolektif. Suara hati yang unik dan kritis ditenggelamkan oleh desibel kerumunan.

Psikologi massa dalam BM menawarkan pelarian dari kecemasan eksistensial. Ia membuat kita alergi terhadap pertanyaan-pertanyaan ontologis mendasar: “Siapa aku?” “Untuk apa aku hidup?” “Apa tanggung jawabku?” Pertanyaan-unsur ini dianggap terlalu berat, terlalu serius, dan tidak “asyik”. BM menyodorkan jawaban instan: “Kamu adalah penggemar ini, konsumen itu, bagian dari grup ini.” Proses keterasingan pun dimulai: kita terasing dari diri sendiri (fitrah), dari sesama (yang hanya dilihat sebagai rival atau target eksploitasi), dan pada akhirnya, dari Sang Pencipta.

Di sinilah medan juang kita yang sebenarnya. Buku yang kita tulis bukan sekadar kritik, tetapi penawaran jalan pulang. Medan juangnya adalah scaling up suara hati otentik. Bagaimana caranya?

Pertama, membangunkan kesadaran fitrah. Ini diawali dengan mengingatkan kembali pada “Perjanjian Hari Alastu” (bukankah Aku ini Tuhanmu?), sebuah memori primordial dalam ruh setiap manusia tentang pengakuan ketuhanan dan kehambaan. Kesadaran ini adalah fondasi. Dari sini, lahir dua kesadaran operasional: “Kehambaan” (‘ubudiyyah) dan “Kekhalifahan” (istikhlaf). Sebagai ‘abd (hamba), kita tunduk hanya pada Allah, bukan pada tren, opini massal, atau idola budaya pop. Sebagai khalifah, kita memikul tanggung jawab aktif merawat, memperbaiki, dan memberdayakan kehidupan di muka bumi.

Kedua, mengkondisikan realisasi harmoni. Kesadaran fitrah itu harus diwujudkan dalam dua hubungan yang selaras: “Hablum minallah” (hubungan vertikal dengan Allah) dan “Hablum minannas” (hubungan horizontal dengan manusia). BM sering merusak keduanya: hubungan dengan Tuhan direduksi menjadi ritual tanpa makna, hubungan dengan sesama diracuni oleh kompetisi, kedengkian, dan isolasi digital.

Di silah, konsep “menebar salam” hadir bukan sekadar sebagai ucapan, tetapi sebagai filosofi praksis. Salam (keselamatan, kedamaian) adalah trigger untuk mengingatkan kembali pada kesadaran fitrah dalam interaksi sehari-hari. Setiap kali kita menebar salam, kita sedang:

  1. Mengakui keselamatan hanya berasal dari Allah.
  2. Menegaskan komitmen untuk tidak mengganggu keselamatan orang lain.
  3. Membangun jembatan bagi harmoni sosial (hablum minannas) yang bersumber dari kesadaran ketuhanan (hablum minallah).

Dengan demikian, melawan efek mematikan Budaya Massa bukan dengan mengasingkan diri, tetapi dengan menginfeksi ruang publik dengan kesadaran otentik. Kita scale up suara hati fitri itu dari level individu, ke keluarga, komunitas, hingga masyarakat. Kita hadir di pasar, di media sosial, di tempat kerja, dengan identitas utama sebagai hamba dan khalifah yang aktif menebar salam (kedamaian substantif).

Tujuan akhirnya adalah memutus rantai keterasingan. Dari eksistensi semu yang diarahkan BM, kita kembali kepada eksistensi otentik yang diingatkan oleh fitrah: manusia yang merdeka karena hanya tunduk pada Allah, bertanggung jawab atas bumi, dan menjadi sumber rahmat bagi semesta melalui setiap salam yang diwujudkan dalam tindakan.

Budaya Massa menawarkan pelarian ke dalam keramaian yang asing. Fitrah memanggil kita pulang ke diri sendiri, untuk kemudian hadir di tengah manusia sebagai pembawa kedamaian yang otentik. Pilihan ada di kita: tenggelam dalam arus, atau membangkitkan arus penyeimbang dari sumber yang paling dalam dalam diri.

Melampaui Kebiskuitan: Membedakan “tradisi” dari “Tradisi”

Sebuah iklan biskuit pernah ditutup dengan dua kata sederhana: “It’s tradition.” Iklan itu brilian, setidaknya karena dua hal. Pertama, dari sudut bahasa, dua kata itu mampu menyampaikan pesan panjang: “Biskuit ini lezat, dan telah menjadi pilihan turun-temurun dalam keluarga kami.” Kedua—sadar atau tidak oleh pembuatnya—penggunaan kata “tradition” dalam konteks santai ini berhasil menetralkan kesan negatif yang kerap melekat padanya.

Dalam pemahaman umum, “tradisi” sering diiringi stereotip: ketinggalan zaman, kaku, dan statis. Ia menjadi antonim sempurna dari “modern” yang bersinar dengan citra kemajuan, kecerdasan, dan dinamika. Namun, apakah pemahaman ini sudah utuh? Tulisan singkat ini berupaya melampaui kesan negatif itu dan mengajak kita melihat bahwa makna “tradisi” jauh lebih dalam dan mulia daripada sekadar kebiasaan usang.

Akarnya: Dari Kata ke Makna

Secara etimologis, kata tradition berasal dari bahasa Latin trãdere, yang berarti “menyerahkan” atau “menyampaikan”. Kamus Webster mendefinisikannya sebagai “seperangkat pengetahuan, kebiasaan, dan sebagainya yang diturunkan antargenerasi.” Kata “dan sebagainya” di sini krusial; ia mencakup unsur non-material seperti pola pikir, keyakinan, dan filsafat hidup.

Namun, di sini kita perlu membuat pembedaan penting, sebagaimana diungkapkan oleh pemikir seperti M. Ali Lakhani: antara tradition (dengan ‘t’ kecil) dan Tradition (dengan ‘T’ besar).

  • tradition (t kecil) merujuk pada adat, kebiasaan, atau cara konvensional dalam melakukan sesuatu. Ia berbicara tentang masa lalu dalam pengertian yang lumrah dan bisa berubah.
  • Tradition (T besar) adalah sesuatu yang sama sekali berbeda. Ia merujuk pada suatu pandangan dunia atau cara berada yang bersumber dari prinsip-prinsip pertama yang abadi. Ia berbicara tentang Kebenaran yang tak terikat waktu (Timeless Truth).

Suara dari Sekolah Perenialis: Tradisi sebagai Cahaya Abadi

Untuk mendalami makna “Tradition” (T besar), kita dapat mendengarkan suara dari kalangan Traditionalist atau Perennialist. Bagi sekolah pemikiran ini, Kebenaran adalah mutlak, abadi (perennial), dan universal—ia menjadi jantung dari semua agama dan tradisi autentik. Dalam istilah Sufi, ini dikenal sebagai hikmah al-khalidiyyah (kebijaksanaan abadi).

Dua tokoh utamanya, Ananda K. Coomaraswamy dan René Guénon, memberikan penekanan yang jelas:

Coomaraswamy menegaskan, “Tradition has nothing to do with ‘ages’… Tradition represents doctrine about first principles, which do not change.” (Tradisi tidak ada hubungannya dengan ‘zaman’. Tradisi mewakili ajaran tentang prinsip-prinsip pertama, yang tidak berubah.)

Guénon menambahkan, “…there is nothing and can be nothing truly traditional that does not contain some element of super-human order.” (Tidak ada—dan tidak mungkin ada—sesuatu yang benar-benar tradisional tanpa mengandung unsur tatanan supra-manusia.)

Penerus mereka, Seyyed Hossein Nasr, memperjelas bahwa Tradisi atau ajaran tradisional adalah:

  • Anugerah dan rahmat dari Sang Maha Tinggi.
  • Penegasan kembali akan Kebenaran yang menjadi pusat dan esensi.
  • Respons terhadap Yang Sakral, yang merupakan awal dan akhir kehidupan manusia.
  • “Obat” bagi keterasingan manusia modern dari yang sakral.

Titik Kritik: Tradisi vs. Modernitas yang Lupa Diri

Tokoh puncak aliran ini, Frithjof Schuon, mengemas kritiknya dengan tajam. Baginya, Tradisi adalah pesan yang selalu relevan dan berbicara dalam bahasa yang dapat dipahami setiap orang—asalkan mereka mau mendengarkan. Yang “bangkrut” bukanlah Tradisi, melainkan kemanusiaan yang telah kehilangan intuisi akan yang supra-alami dan rasa kesucian.

Kebangkrutan ini, menurut Schuon, dipicu oleh saintisme—keyakinan dogmatis bahwa ilmu pengetahuan empiris adalah satu-satunya sumber kebenaran. Manusia modern terpesona oleh penemuan sains yang “totaliter dan tidak sah” karena sains semacam itu memberikan semua alasan untuk tetap terpaku pada dunia penampakan (world of appearances) dan menjauhkan diri dari Kehadiran Yang Mutlak.

“Humanity has allowed itself to be seduced by the discovery and invention of a totalitarian knowledge that is invalid… mesmerized by scientific phenomena… [and] drowns in its own creation.”

Kesimpulan: Kembali kepada Fitrah

Demikianlah, makna “Tradition” (T besar) ternyata begitu luas dan dalam. Ia bukan beban masa lalu, melainkan jalan pulang kepada prinsip-prinsip abadi yang menjadi pondasi keberadaan.

Semangat ini selaras dengan seruan Quran dalam istilah ad-dīn al-ḥanīf dan ad-dīn al-qayyim (QS. Ar-Rum: 30)—ajaran yang lurus dan kokoh, sesuai dengan fitrah penciptaan Allah, yang tidak berubah-ubah. Inilah Tradisi sejati: bukan sekadar warisan manusia, tetapi anugerah Ilahi yang menuntun kita kembali kepada Hakikat.

Memahaminya membuat kita sadar: memilih sebungkus biskuit “karena tradisi” adalah hal yang menyenangkan, tetapi mengenali dan hidup dalam “Tradition” adalah sebuah perjalanan menyelami makna hidup itu sendiri.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.