Melampaui Kebiskuitan: Membedakan “tradisi” dari “Tradisi”


Sebuah iklan biskuit pernah ditutup dengan dua kata sederhana: “It’s tradition.” Iklan itu brilian, setidaknya karena dua hal. Pertama, dari sudut bahasa, dua kata itu mampu menyampaikan pesan panjang: “Biskuit ini lezat, dan telah menjadi pilihan turun-temurun dalam keluarga kami.” Kedua—sadar atau tidak oleh pembuatnya—penggunaan kata “tradition” dalam konteks santai ini berhasil menetralkan kesan negatif yang kerap melekat padanya.

Dalam pemahaman umum, “tradisi” sering diiringi stereotip: ketinggalan zaman, kaku, dan statis. Ia menjadi antonim sempurna dari “modern” yang bersinar dengan citra kemajuan, kecerdasan, dan dinamika. Namun, apakah pemahaman ini sudah utuh? Tulisan singkat ini berupaya melampaui kesan negatif itu dan mengajak kita melihat bahwa makna “tradisi” jauh lebih dalam dan mulia daripada sekadar kebiasaan usang.

Akarnya: Dari Kata ke Makna

Secara etimologis, kata tradition berasal dari bahasa Latin trãdere, yang berarti “menyerahkan” atau “menyampaikan”. Kamus Webster mendefinisikannya sebagai “seperangkat pengetahuan, kebiasaan, dan sebagainya yang diturunkan antargenerasi.” Kata “dan sebagainya” di sini krusial; ia mencakup unsur non-material seperti pola pikir, keyakinan, dan filsafat hidup.

Namun, di sini kita perlu membuat pembedaan penting, sebagaimana diungkapkan oleh pemikir seperti M. Ali Lakhani: antara tradition (dengan ‘t’ kecil) dan Tradition (dengan ‘T’ besar).

  • tradition (t kecil) merujuk pada adat, kebiasaan, atau cara konvensional dalam melakukan sesuatu. Ia berbicara tentang masa lalu dalam pengertian yang lumrah dan bisa berubah.
  • Tradition (T besar) adalah sesuatu yang sama sekali berbeda. Ia merujuk pada suatu pandangan dunia atau cara berada yang bersumber dari prinsip-prinsip pertama yang abadi. Ia berbicara tentang Kebenaran yang tak terikat waktu (Timeless Truth).

Suara dari Sekolah Perenialis: Tradisi sebagai Cahaya Abadi

Untuk mendalami makna “Tradition” (T besar), kita dapat mendengarkan suara dari kalangan Traditionalist atau Perennialist. Bagi sekolah pemikiran ini, Kebenaran adalah mutlak, abadi (perennial), dan universal—ia menjadi jantung dari semua agama dan tradisi autentik. Dalam istilah Sufi, ini dikenal sebagai hikmah al-khalidiyyah (kebijaksanaan abadi).

Dua tokoh utamanya, Ananda K. Coomaraswamy dan René Guénon, memberikan penekanan yang jelas:

Coomaraswamy menegaskan, “Tradition has nothing to do with ‘ages’… Tradition represents doctrine about first principles, which do not change.” (Tradisi tidak ada hubungannya dengan ‘zaman’. Tradisi mewakili ajaran tentang prinsip-prinsip pertama, yang tidak berubah.)

Guénon menambahkan, “…there is nothing and can be nothing truly traditional that does not contain some element of super-human order.” (Tidak ada—dan tidak mungkin ada—sesuatu yang benar-benar tradisional tanpa mengandung unsur tatanan supra-manusia.)

Penerus mereka, Seyyed Hossein Nasr, memperjelas bahwa Tradisi atau ajaran tradisional adalah:

  • Anugerah dan rahmat dari Sang Maha Tinggi.
  • Penegasan kembali akan Kebenaran yang menjadi pusat dan esensi.
  • Respons terhadap Yang Sakral, yang merupakan awal dan akhir kehidupan manusia.
  • “Obat” bagi keterasingan manusia modern dari yang sakral.

Titik Kritik: Tradisi vs. Modernitas yang Lupa Diri

Tokoh puncak aliran ini, Frithjof Schuon, mengemas kritiknya dengan tajam. Baginya, Tradisi adalah pesan yang selalu relevan dan berbicara dalam bahasa yang dapat dipahami setiap orang—asalkan mereka mau mendengarkan. Yang “bangkrut” bukanlah Tradisi, melainkan kemanusiaan yang telah kehilangan intuisi akan yang supra-alami dan rasa kesucian.

Kebangkrutan ini, menurut Schuon, dipicu oleh saintisme—keyakinan dogmatis bahwa ilmu pengetahuan empiris adalah satu-satunya sumber kebenaran. Manusia modern terpesona oleh penemuan sains yang “totaliter dan tidak sah” karena sains semacam itu memberikan semua alasan untuk tetap terpaku pada dunia penampakan (world of appearances) dan menjauhkan diri dari Kehadiran Yang Mutlak.

“Humanity has allowed itself to be seduced by the discovery and invention of a totalitarian knowledge that is invalid… mesmerized by scientific phenomena… [and] drowns in its own creation.”

Kesimpulan: Kembali kepada Fitrah

Demikianlah, makna “Tradition” (T besar) ternyata begitu luas dan dalam. Ia bukan beban masa lalu, melainkan jalan pulang kepada prinsip-prinsip abadi yang menjadi pondasi keberadaan.

Semangat ini selaras dengan seruan Quran dalam istilah ad-dīn al-ḥanīf dan ad-dīn al-qayyim (QS. Ar-Rum: 30)—ajaran yang lurus dan kokoh, sesuai dengan fitrah penciptaan Allah, yang tidak berubah-ubah. Inilah Tradisi sejati: bukan sekadar warisan manusia, tetapi anugerah Ilahi yang menuntun kita kembali kepada Hakikat.

Memahaminya membuat kita sadar: memilih sebungkus biskuit “karena tradisi” adalah hal yang menyenangkan, tetapi mengenali dan hidup dalam “Tradition” adalah sebuah perjalanan menyelami makna hidup itu sendiri.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.