Kegagalan Masyarakat yang Diimpikan: Ketika Kita Terlalu Sukses Kita Lupa Cara “Gagal” dengan Benar

Di suatu pagi di Baghdad era keemasan Abbasiyah, seorang amil zakat berkeliling kota dengan kantong penuh dinar, dan pulang dengan kantong yang masih sama beratnya. Bukan karena ia malas, tetapi karena ia tidak menemukan seorang pun yang layak menerimanya. Masyarakat sudah begitu makmur, mustahiq—orang yang berhak—menjadi barang langka. Bayangkan: sebuah peradaban yang “gagal” menyalurkan zakat karena tidak ada lagi kemiskinan absolut. Ini bukan kegagalan—ini adalah kegagalan yang diimpikan.

Kita hidup di zaman yang ironis. Di satu sisi, kita dikelilingi oleh pencapaian teknologi yang memukau: AI yang menulis puisi, eksplorasi Mars, dan akses informasi yang hampir tanpa batas. Di sisi lain, kita menghadapi demoralisasi massal, kehausan spiritual, dan rasa hampa yang mendalam—seolah kemajuan material justru menggerus jiwa kita. Apa yang salah?


Filsuf eksistensialis Jean-Paul Sartre mungkin akan tersenyum sinis. Ia pernah menggambarkan dunia sebagai absurd, manusia terlempar ke dalam keberadaan tanpa tujuan bawaan. Tapi Sartre tidak melihat datangnya budaya media massa yang bukan hanya menggambarkan absurditas, melainkan memproduksinya secara industri. Media sosial, yang seharusnya menjadi alat pemersatu, sering berubah menjadi panggung pertunjukan kepribadian yang terfragmentasi, memicu kecemburuan, polarisasi, dan krisis makna yang terstruktur.

Di sinilah letak paradoks kita: kita memiliki alat, tetapi kehilangan arah. Kita punya big data, tapi miskin kebijaksanaan. Kita terkoneksi secara global, tapi terasing secara spiritual. Aliansi IPTEK dan sains seharusnya membawa kita pada pencerahan, tetapi seringkali hanya mempercepat dehumanisasi—manusia direduksi menjadi data, emosi menjadi engagement metric, dan kebenaran menjadi narrative war.

Lalu, apa yang tersisa? Kehausan spiritual yang tak terpuaskan. Di tengah banjir konten, kita justru merindukan keheningan. Di tengah gemerlap virtual, kita rindu sentuhan manusiawi yang otentik. Kita seperti masyarakat Abbasiyah itu, tapi dengan kemiskinan yang berbeda: kekayaan materi ada, kemiskinan jiwa merajalela.

Tapi inilah peluang besar kita. Kegagalan masyarakat Abbasiyah dalam menyalurkan zakat bukanlah akhir—itu adalah petunjuk. Itu menunjukkan bahwa ketika masalah dasar terpenuhi, manusia dihadapkan pada tantangan yang lebih tinggi: bukan lagi “bagaimana bertahan hidup,” melainkan “bagaimana hidup yang bermakna.”

Sekarang, bayangkan jika kita bisa menciptakan “kegagalan” versi era digital:

· Kegagalan mencari hoaks, karena literasi digital sudah menjadi DNA generasi.
· Kegagalan memicu hate speech, karena etika bermedia telah mengakar dalam budaya.
· Kegagalan menemukan ruang digital yang toxic, karena kebaikan menjadi algoritma sosial yang baru.

Untuk mencapai itu, kita tidak bisa hanya mengandalkan teknologi semata. Kita perlu aliansi baru: antara logic sains dan wisdom tradisi, antara inovasi digital dan moralitas yang dalam. Kita perlu regenerasi nilai, di mana alat media massa tidak lagi jadi alat dehumanisasi, tetapi jaringan jiwa-jiwa yang sedang pulang.

Mungkin, inilah resolusi tahun baru yang paling radikal: berani bermimpi tentang kegagalan yang lebih mulia. Bukan gagal karena miskin, tetapi “gagal” karena kebajikan sudah menjadi norma. Bukan gagal karena terbelakang, tetapi “gagal” karena peradaban sudah melampaui naluri destruktifnya.

Mari kita mulai dari hal sederhana: menjadi mustahiq dan muzaki sekaligus di ruang digital. Menerima dengan kritis, memberi dengan tulus. Menjadi generasi yang tidak hanya pintar mengklik, tetapi juga berani memilih: antara yang viral dan yang valid, antara yang populer dan yang bermartabat.

Sejarah sudah membuktikan: kegagalan tertinggi peradaban adalah ketika kebaikan menjadi masalah logistik, bukan lagi masalah niat. Itulah masyarakat yang diimpikan. Itulah “kegagalan” yang layak kita perjuangkan.

Tahun baru, bukan hanya soal waktu yang berganti. Tapi tentang visi yang berani naik tingkat.
Sudah siap “gagal” dengan cara yang baru?

#KegagalanYangDiimpikan, #MasyarakatMustahil, #ZakatDigital, #OptimismeRadikal, #GenerasiMadaniDigital, #GagalLebihTinggi, #AliansiIlmuDanHati, #PemikirPeradaban, #NgopiSejarah,, #ResetPeradaban2025