Selamat datang di uzairsuhaimi.blog! Blog ini merekam jejak pemikiran penulisnya mengenai bidang sosial-ekonomi-kependudukan dan refleksinya mengenai kebijaksanaan abadi dalam perspektif Islam.
Lawan Korupsi Berjamaah dengan Senjata ini: Birr wa Taqwa
Saat “korupsi berjamaah” hampir menjadi “norma baru”, di mana kejujuran dianggap naif dan keberanian untuk bersih justru dikucilkan—kita butuh senjata yang lebih kuat dari sekadar kampanye.
Allah SWT sudah memberikannya sejak 14 abad lalu:
“وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ”
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Mā’idah: 2)
Ayat ini bukan sekadar seruan moral. Ini adalah pedoman revolusioner untuk membongkar logika korupsi sistemik.
Mari kita bedah:
Korupsi berjamaah sering dibenarkan dengan dalih:
· “Ini sudah budaya, kita cuma ikut arus.”
· “Kalau nggak ikut, nanti disingkirkan.”
Ayat kita MEMBALIK logika itu:
1. “عَلَى الْبِرِّ” → Kerjasama hanya sah jika landasannya KEBAIKAN SEJATI: kejujuran, keadilan, amanah. Kerjasama untuk mencuri uang rakyat? Itu BUKAN kerjasama, itu konspirasi kejahatan.
2. “وَالتَّقْوَىٰ” → Landasannya adalah KESADARAN bahwa Allah Maha Melihat. Saat rasa takut pada atasan lebih besar dari takut pada Yang Maha Menyaksikan, di situlah korupsi tumbuh.
Maka, melawan korupsi berjamaah harus dengan KEBAIKAN berjamaah yang lebih kuat:
1. Bentuk “Jamaah Alternatif” di kantor, kampus, komunitas. Cari dan dukung mereka yang masih lurus. Solidaritas kita adalah untuk para pejuang integritas.
2. Transparansi adalah Ibadah. Mulai dari hal kecil: kelola kas RT, dana masjid, iuran organisasi dengan terbuka. Praktikkan “ta’āwun ‘alal birr” dari lingkaran terdekat.
3. Berani menjadi “Minoritas Mulia”. Keberanian untuk jujur dalam sistem yang busuk adalah jihad kontemporer. Sejarah akan membela mereka yang memilih takwa.
Korupsi berjamaah hanya bisa dikalahkan oleh kebaikan yang lebih berjamaah, lebih cerdas, dan lebih konsisten.
Mari jadikan ayat ini senjata sehari-hari. Mulai dari diri, lalu ajak satu orang, lalu bentuk lingkaran kebajikan.
Karena perbaikan harus dimulai, dan Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan berbuat kebaikan.
**Statistics and Spirituality: An Unexpected Synergy**
At first glance, the pairing of statistics and religion may seem unconventional—even paradoxical. One discipline is rooted in empirical analysis, quantifying the tangible realities of our world; the other contemplates the transcendent, exploring truths beyond the physical realm. Yet this very duality defines my journey: a lifelong dedication to statistical rigor intertwined with a deep fascination for humanity’s spiritual dimensions.
**Professional Journey: Three Decades of Data-Driven Impact**
From 1981 to 2011, I served as a statistician at *BPS-Statistics Indonesia*, the nation’s central bureau of statistics, contributing to data-driven policymaking and national development. Following this, I lent my expertise to Indonesia’s *TNP2K* (a Vice President’s Office initiative) and the *International Labour Organization’s Regional Office for Asia and the Pacific (ILO-ROAP)* as a senior statistician. Since 2012, I have operated as an independent consultant, collaborating with entities like the ILO and Indonesian government agencies on pivotal projects. A recent highlight includes leading Indonesia’s first comprehensive *estimation of child labor* for the ILO Country Office in Jakarta (2019), a critical step toward addressing this urgent social challenge.
**Spiritual Inquiry: Bridging the Universal and the Esoteric**
Parallel to my professional work, I have nurtured a decades-long intellectual passion for the essence of religious thought—its esoteric traditions, universal principles, and timeless wisdom. Sufism’s mystical teachings and the *perennial philosophy*, which seeks shared truths across spiritual traditions, hold particular resonance for me. To explore these themes, I have authored and shared reflections on my personal blog, inviting dialogue on how inner understanding intersects with our outer world.
**Convergence: Where Analysis Meets Meaning**
This unlikely harmony between data and devotion has profoundly shaped my perspective: statistics reveal the *"what"* of human conditions, while spirituality grapples with the *"why."* Together, they form a dynamic lens through which I seek to understand—and contribute to—both the measurable and the immeasurable dimensions of life.
.
View all posts by Uzair Suhaimi