Setiap hari, dalam Salat kita, ada sebuah deklarasi hidup yang sering terucap, namun maknanya sering terlewati. Ia bukan sekadar rangkaian kata, tapi manifesto spiritual yang memadatkan seluruh tujuan penciptaan manusia:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)
Dua pilar itu—Pengabdian Mutlak (‘Ubūdiyyah) dan Ketergantungan Total (Isti‘ānah)—adalah kristal dari firman Allah: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Ayat ini bukan sekadar pernyataan ritual, melainkan cetak biru eksistensi manusia yang merdeka.
🔍 Kekuatan Bahasa yang Memerdekakan
Kalimat ini adalah mahakarya linguistik tauhid. Perhatikan kata “Iyyāka” (hanya kepada-Mu) yang diulang dan diletakkan di depan. Dalam bahasa Arab, ini adalah bentuk penegasan tertinggi (hasr), sebuah deklarasi tanpa kompromi: Bukan selain-Mu, bukan bersama-Mu, tetapi HANYA kepada-MU.
Ada pula kejutan spiritual: setelah membicarakan Allah di ayat-ayat sebelumnya, kita tiba-tiba berhadapan langsung dengan-Nya. Gaya bahasa ini (iltifāt) mengubah bacaan kita dari monolog menjadi dialog intim antara hamba dan Rabb-nya.
Na’budu (kami menyembah): Meliputi seluruh spektrum hidup. Dari Salat hingga kerja yang jujur, dari berbuat baik hingga menahan amarah. Ibadah adalah mengosongkan hati dari segala ‘tuhan’ selain Allah: ego, pujian, jabatan, atau harta.
Nasta’īn (kami memohon pertolongan): Bukan sikap pasif, tapi usaha aktif yang disertai pengakuan tulus: hasil akhir segala upaya kita bergantung sepenuhnya pada pertolongan-Nya. Kita bahkan memohon pertolongan-Nya agar bisa menyembah-Nya dengan benar.
💡 Relevansi Abadi: Kompas di Zaman Modern
Di dunia yang mendewakan individualisme dengan slogan “You are enough” dan “Trust yourself”, ayat ini membisikkan kebenaran sejati: “Kita tidak cukup, dan kekuatan kita terbatas.” Deklarasi ini adalah kompas penuntun yang relevan dalam setiap aspek kehidupan:
- Dalam Bekerja: Kerja tak sekadar “cari nafkah”, tapi bagian dari na’budu jika diniatkan ikhlas. Kesuksesan dan rezeki? Itu buah dari nasta’īn, melawan stres dan kecurangan.
- Di Media Sosial: Setiap konten baik bisa jadi ibadah (na’budu). Saat menghadapi cacian atau godaan pamer, “wa iyyāka nasta’īn” adalah tameng untuk memohon keteguhan.
- Untuk Kesehatan Mental: Saat kecemasan menyerang, mengulang “Wa iyyāka nasta’īn” adalah terapi. Ia memindahkan beban dari pundak kita yang lemah, ke pundak Allah Yang Maha Kuat. Inilah esensi tawakal yang menenangkan.
Deklarasi ini mengajarkan kita untuk tetap aktif berkarya, namun hati tak terjajah oleh ambisi atau ketakutan. Inilah kebebasan sejati: bebas dari tirani diri sendiri dan tekanan dunia.
📣 Sebuah Panggilan untuk Bertindak
Hari ini, di sela kesibukanmu—saat bekerja, mengasuh anak, atau menghadapi masalah—berhentilah sejenak. Rasakan kembali kekuatan deklarasi ini. Ucapkan dalam hati dengan penuh kesadaran:
“Ya Allah, hanya untuk-Mu aku melakukan ini, dan hanya kepada-Mu aku memohon kekuatan.”
Deklarasi ini adalah jalan merdeka sejati: merdeka dari penghambaan pada sesama makhluk, pada ego, dan pada dunia. Ia mengembalikan kita ke pusat yang benar: God-centered, bukan self-centered.
Wallahu a’lam bish-shawab.
