Salam sebagai Niat Kosmis: Dari Doa ke Tanggung Jawab Hidup


Kata Pengantar – Series Khalifah sebagai Sintesis Kosmis

Tulisan ini adalah bagian pertama dari tujuh seri refleksi yang masing-masing menyajikan ringkasan padat satu tema kunci dari buku Khalifah sebagai Sintesis Kosmis: Fusi Hikmah Mullā Ṣadrā dan Tanggung Jawab Global karya Uzair Suhaimi, yang akan segera diterbitkan oleh Nas Media Pustaka.

Ketujuh seri ini ditulis untuk berdiri secara mandiri, namun saling terhubung oleh satu benang merah: upaya membaca kembali makna khalifah bukan sebagai simbol teologis yang abstrak, melainkan sebagai amanah eksistensial yang menuntut keterlibatan nyata dalam kehidupan personal, sosial, dan global.

Alih-alih menyajikan argumen akademik yang berat, seri ini mengajak pembaca melakukan perjalanan reflektif—dari salam yang kita ucapkan setiap hari, ke kerja sosial, agenda pembangunan global, filsafat transenden, krisis spiritual umat, hingga dialog lintas peradaban. Setiap tulisan diakhiri dengan satu pertanyaan sederhana, namun menentukan:di mana posisi kita dalam amanah itu?

Seri pertama dimulai dari hal yang paling dekat dan sering diabaikan: Salam. Sebuah doa yang kita ucapkan berulang kali—namun jarang kita sadari konsekuensi etik dan kosmisnya.


Kita mengucapkan Salam setiap hari. Tapi jarang bertanya: apakah hidup kita benar-benar membawa keselamatan?

Setiap hari kita menutup salat dengan Salam:“Assalamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillahish shalihin.” Salam untuk Nabi, untuk diri kita, dan untuk seluruh hamba Allah yang saleh.Tapi pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: Apa konsekuensi dari Salam yang terus kita ulangi ini?

Salam bukan sekadar ucapan sopan. Dalam tradisi Islam, ia adalah doa yang menuntut tanggung jawab. Kita tidak sedang berkata dunia ini sudah damai—kita sedang berjanji untuk tidak menjadi sumber kerusakan di dalamnya.

Menariknya, Al-Qur’an menggambarkan seluruh alam—gunung, pepohonan, hewan, bahkan bintang—sebagai “hamba Allah” yang taat pada hukum-Nya. Maka ‘ibadillahish shalihin bukan hanya manusia. Ia adalah seluruh jaringan kehidupan.

Artinya, setiap Salam yang kita ucapkan adalah doa keselamatan bagi semesta.

Lalu pertanyaannya bergeser: Siapa yang bertanggung jawab mewujudkan Salam itu di dunia nyata?

Jawabannya sederhana dan berat sekaligus: manusia.

Inilah makna Khalifah. Bukan gelar kehormatan, tapi amanah. Kita menerima tugas yang ditolak langit dan gunung: menjaga keseimbangan, keadilan, dan kehidupan.

Krisis lingkungan, ketimpangan sosial, dan kekerasan hari ini bukan sekadar masalah teknis. Bisa jadi itu tanda bahwa Salam kita berhenti di lisan, tidak turun ke tindakan.

Maka pertanyaan akhirnya sangat personal:

Apakah hidup kita hari ini sudah menjadi perpanjangan Salam—atau justru pengingkarannya?

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.