SDGs sebagai Panduan Operasional Misi Khalifah

Dunia hari ini sedang tidak baik-baik saja. Kemiskinan multidimensi, ketimpangan sosial, krisis lingkungan, dan konflik berkepanjangan membentuk satu simpul besar persoalan kemanusiaan. Dalam situasi inilah Agenda 2030 dan Sustainable Development Goals (SDGs) lahir—bukan sebagai utopia, tetapi sebagai tanda bahwa nurani kolektif manusia global belum sepenuhnya mati.

Dari perspektif Islam, kesadaran global ini bisa dibaca sebagai gema jauh dari janji primordial manusia: alastu bi rabbikum. Bahwa manusia—sadar atau tidak—masih menyimpan intuisi dasarnya sebagai khalifah, penanggung jawab bumi dan sesama.

SDGs patut diapresiasi. Ia adalah kerangka global paling inklusif yang pernah disepakati. Prinsip Leave No One Behind menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh berhenti pada angka rata-rata, tetapi harus menyentuh mereka yang paling tertinggal. Ini sejalan dengan nilai ‘adl, pembelaan terhadap mustadh‘afin, dan semangat kenabian. Mekanisme pelaporan dan akuntabilitasnya pun mencerminkan nilai muhasabah dan pertanggungjawaban moral.

Namun SDGs juga memiliki batas. Ia kuat sebagai panduan teknis, tetapi sunyi dalam menjawab pertanyaan terdalam: mengapa manusia harus berubah? SDGs mengobati gejala, tetapi sering belum menyentuh akar krisis peradaban—materialisme ekstrem, eksploitasi, dan sistem yang menormalisasi ketimpangan. Karena itu, SDGs tidak bisa diposisikan sebagai sistem nilai final, melainkan sebagai hudan terbatas: peta operasional, bukan kompas makna.

Di titik inilah konsep kekhalifahan menjadi relevan. Nilai-nilai Qurani—keadilan sosial, perlindungan kehidupan, keberlanjutan ekologis, kerja sama lintas perbedaan—beririsan luas dengan tujuan SDGs. Pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan, pendidikan, kesehatan, keadilan hukum, dan perlindungan bumi bukan agenda asing bagi Islam. Ia adalah inti dari amanah khalifah fi al-ardh.

Dalam konteks negara modern, SDGs dapat dipahami sebagai arena praksis kekhalifahan kolektif. Negara bukan sekadar pelaksana target global, tetapi institusi moral yang menerjemahkan nilai transendental ke dalam kebijakan publik: melindungi kehidupan, memberdayakan manusia, menjaga bumi, membangun ekonomi bermoral, dan menegakkan tata kelola berkeadaban.

Pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa agenda global bisa diterjemahkan secara kontekstual—melalui pembangunan inklusif, ekonomi hijau, dan perlindungan sosial. Tantangannya bukan pada kurangnya kerangka, tetapi pada konsistensi etis dan keberanian moral untuk memastikan bahwa manfaat pembangunan benar-benar sampai ke yang paling rentan.

Karena itu, kegagalan mencapai target SDGs bukan alasan untuk sinis atau putus asa. Ia justru mengingatkan kita bahwa pembangunan membutuhkan lebih dari sekadar indikator. Ia memerlukan kesadaran, komitmen etis, dan visi maknawi. Pertanyaannya kini bergeser ke kita semua: apakah kita ingin menjadi sekadar pengguna jargon pembangunan—atau bagian dari amanah kekhalifahan yang hidup dalam kebijakan, pilihan, dan tindakan sehari-hari?

Catatan: Uraian lebih luas dan lebih mendalam dapat ditemukan dalam Buku Khalifah sebagai Sintesis Kosmis: Fusi Hikmah Mulla Sadra dan Tanggung Jawab Global (Uzair Suhaimi, akan terbit). Catatan: Versi PDF dapat diakses di [link] ini

SDGs, Khalifah, and the System We Refuse to Question

Let’s name the problem.

We are not facing a “development gap.” We are facing a moral and structural crisis.

The same global system that speaks about sustainability is built on extraction. The same economy that promises growth depends on inequality. The same institutions that pledge climate action are financed by industries accelerating collapse.

And then we gather under the banner of the SDGs.

To be clear: the SDGs matter. They are the most comprehensive global framework we have. Leave No One Behind is a powerful ethical statement. The goals articulate real human needs—ending poverty, protecting the planet, advancing justice.

But here’s the harder question:

Can a system designed around endless accumulation truly deliver equitable sustainability?

We measure poverty without challenging wealth concentration. We track emissions without confronting overconsumption. We promote inclusion without redistributing power.

That is not transformation. That is management.

From an Islamic worldview, this crisis is deeper than policy failure. It is a betrayal of amanah.

Humanity was entrusted as khalifah—not owners of the earth, but trustees accountable before God and history. Yet modern civilization has normalized domination: of nature, of labor, of weaker nations, of future generations.

The Qur’an warns against فساد (systemic corruption and disorder). فساد is not just individual wrongdoing. It is structural injustice—when exploitation becomes policy, when greed becomes culture, when inequality becomes invisible.

If the SDGs are to mean anything, they cannot operate comfortably inside the very architecture that produces injustice.

Development without redistribution is illusion. Sustainability without restraint is hypocrisy. Growth without justice is violence—slow, bureaucratic, sanitized violence.

So, what does reclaiming the khalifah mandate look like today?

It means:

  • Questioning economic models that prioritize shareholders over human dignity.
  • Demanding climate accountability beyond symbolic pledges.
  • Supporting policies that genuinely redistribute opportunity and protection.
  • Redefining “success” away from consumption and toward stewardship.
  • Refusing to spiritualize faith while privatizing its ethics.

In Indonesia—and across the Global South—the choice is stark. We can become implementers of global checklists. Or we can become moral agents shaping development through justice-centered governance.

Missing SDG targets is not the deepest danger.

The deeper danger is achieving partial targets while leaving intact the logic of exploitation.

Being khalifah is not about inspirational language. It is about structural courage.

It means asking uncomfortable questions. It means resisting convenient narratives. It means aligning policy, economy, and daily life with justice—even when it disrupts privilege.

The world does not lack goals.

It lacks morally serious stewards willing to confront the system itself.

So the question is no longer whether we support the SDGs.

The question is whether we are willing to transform the structures that make them necessary.

Note: A PDF version of this article can be accessed through this [link]