Al-Wahn: Epidemi Spiritual Umat dalam Cengkeraman Dunia


Pada suatu senja profetik, Rasulullah ﷺ memberi peringatan yang terasa semakin relevan hari ini. Beliau bersabda bahwa akan datang masa ketika umat Islam berjumlah banyak, tetapi tidak berdaya—seperti buih di lautan. Ketika ditanya penyebabnya, beliau menyebut satu penyakit dengan dua wajah: al-wahn—cinta dunia dan takut mati.

Hari ini, nubuat itu terasa nyata. Secara demografis, umat Islam mencakup lebih dari seperlima penduduk dunia. Namun dalam banyak arena—politik global, ekonomi, ilmu pengetahuan, bahkan wacana moral—kita sering tampil bukan sebagai penentu arah, melainkan sebagai objek yang mudah diarahkan. Masalahnya bukan pada jumlah, tetapi pada orientasi jiwa kolektif.

Al-wahn bukan kelemahan fisik atau intelektual. Ia adalah penyakit maknawi: kesalahan arah hidup. Cinta dunia pada dirinya tidak tercela. Al-Qur’an sendiri mengakui bahwa harta, keluarga, dan kenikmatan dunia adalah bagian dari ujian hidup. Masalah muncul ketika dunia bergeser dari wasilah (sarana) menjadi maqshad (tujuan). Ketika dunia tidak lagi berada di tangan, tetapi telah bersemayam di hati—di situlah wahn berakar.

Cinta dunia yang berlebihan hampir selalu berjalan beriringan dengan takut mati. Bukan takut karena ketidaksiapan ruhani, tetapi takut karena harus berpisah dari kenyamanan, jabatan, dan akumulasi materi. Dari sini lahir sikap menghindari risiko iman: enggan bersikap jujur jika mahal, enggan membela kebenaran jika berbahaya, enggan berkorban jika mengancam zona nyaman.

Di level kolektif, al-wahn menjelma dalam wajah-wajah yang akrab: konsumerisme yang dirayakan seolah agama baru, fobia terhadap perjuangan, mentalitas inferior yang bergantung pada sistem dan nilai pihak lain, serta perpecahan internal yang membuat umat mudah diadu domba. Buih tidak pernah menentukan arah—ia hanya mengikuti arus.

Namun Islam tidak berhenti pada diagnosis. Penyembuhan al-wahn dimulai dari introspeksi, bukan apologetik. Rasulullah ﷺ dan para sahabat menekankan muhasabah: menghisab diri sebelum dihisab. Sejarah pun menguatkan pelajaran ini. Runtuhnya Abbasiyah di Baghdad dan Cordoba di Andalusia bukan semata akibat serangan Mongol atau Reconquista, tetapi puncak dari kebusukan internal: hedonisme elit, perebutan kuasa, dan hilangnya kesadaran amanah.

Serangan luar hanyalah pukulan terakhir. Penyakitnya telah lama bersarang di dalam.

Karena itu, jihad terbesar umat hari ini adalah jihad melawan al-wahn. Mengembalikan dunia ke tangan, bukan ke hati. Menghidupkan kembali kesadaran akhirat tanpa melarikan diri dari tanggung jawab dunia. Bekerja seolah hidup panjang, tetapi beramal seolah ajal begitu dekat.

Transformasi umat tidak dimulai dari slogan besar, tetapi dari perubahan kompas batin. Dari keberanian bertanya: apakah kita sedang hidup sebagai khalifah—atau sekadar buih yang hanyut dalam arus zaman?

Catatan: Uraian dalam konteks yang lebih luas dan lebih menadalam dari artikel ini dapat ditemukan dalam Khalifah sebagai Sintesis Kosmis: Fusi Hikmah Mulla Sadra dan Tanggung Jawab Global (Uzair Suhaimi, akan terbit, Nasmedia). Versi PDF-nya dapat diakses alam [link] ini.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.