Covid-19: Hukum Matilda dan PAUSE

Istilah Hukum Matilda dan PAUSE dikenalkan oleh Andrew Cuomo, Gubernur Negara Bagian New York, Amerika Serikat (USA). Konteksnya, New York telah dinyatakan oleh Cuomo sebagai episentrum Covid-19. Pernyataan ini bukan tanpa dasar: per 23/3/2010, pukul 02.20 GMT, sekitar 23% kasus baru kasus Covid-19 global terjadi di USA, dan 86% kasus baru nasional (USA) terjadi di New York.

Yang perlu dicatat, bagi Cumo kasus baru Covid-19 lebih merefleksikan frekuensi pemeriksaan dari pada gambaran penyebarannya di lapangan. Tetapi itu tidak berarti kasus baru tidak mengindikasikan keadaan lapangan. Cuomo agaknya juga sependapat mengenai ini. Buktinya, atas dasar itu dia melancarkan kampanye Hukum Matilda dan PAUSE secara tegas dan konsekuen. Tulisan singkat ini terkait dengan semangat dan isu kampanye ini,

Dilema Etis

Menurut pengakuan Cuomo, gagasan Hukum Matilda timbul dari pengalaman pribadinya berhubungan dengan ibunya, Matilda. Tidak dijelaskan apakah ibunya ini suspect atau terinfeksi Covid-19 tetapi terkesan sudah berusia lanjut. Yang dijelaskan, Cuomo telah mendiskusikan dengan saudara-saudaranya cara terbaik memperlakukan ibu.

Diskusi itu tanpa diduga telah menimbulkan dilema etis. Di satu sisi, mereka ingin berkhidmat pada ibunda dengan cara normal: datang beramai-ramai untuk menghibur ibu yang agaknya kesepian. Di sisi lain, Cuomo tahu persis cara itu berisiko besar bagi ibunya untuk tertular Covid-19.

Untuk keluar dari dilema itu Cuomo minta nasehat seorang ahli kesehatan yang dipercaya dan dikenal baik. Ahli itu agaknya meyakinkan Cuomo untuk “mengalahkan” pertimbangan etis dan mengedepankan tindakan rasional. Bagi Cumo nasehat ahli ini sangat realistis dan mengilhaminya untuk diterapkannya untuk memerangi penyebaran virus ini dalam kedudukannya selaku gubernur.

Delapan Pasal

Hukum Matilda dapat dikatakan penjabaran dari kebijakan Cuomo yang pada dasarnya diarahkan untuk memastikan agar semua orang selamat dari Covid-19. Kebijakan itu dikenalkan dengan singkatan PAUSE: Policies Assure Uninformed Safety Everyone. Pesan dasar kebijakan ini adalah tanggung jawab sosial seorang individu. Argumen dasarnya adalah pengaruh timbal-balik antara satu sama lain: “What I do affects you, what you do affects me”, kata Cumo.

Hukum Matilda — istilah hukum di sini tepat karena disertai law enforcement yang diberlakukan secara tegas dan tanpa pandang buku– terdiri dari delapan butir atau pasal aturan dalam bahasa yang sangat sederhana dan mudah dipahami (sehingga tidak perlu diterjemahkan). Ke delapan pasal itu adalah:

  • Remain indoor.
  • Can go outside for isolatory exercise.
  • Pre-screen all visitors and aides by taking their temperature.
  • Do not visit households with multiple people.
  • All vulnerable persons should wear a mask when in the company of others.
  • To greater possible, everyone in the presence vulnerable people should wear a mask.
  • Always stay at least six feet away from individuals.
  • Do not take public transportation unless urgent and absolutely necessary.

Butir ke-8 agaknya belum dapat diterapkan di Indonesia termasuk Jabodetabek. Butir ke-2 agaknya sesuai dengan budaya kita punya “bakat” menyepi, paling tidak dahulu kala.

Upaya Kongkret

Oleh Cuomo, delapan pasal Hukum Matilda itu diterjemahkan dalam berbagai upaya kongkret dengan pengawasan ketat dan transparan. Upaya itu termasuk:

  • memperkuat kapasitas rumah sakit,
  • menutupi kelangkaan medical supply khususnya ventilasi yang ternyata sangat serius bagi USA (ini di luar dugaan penulis),
  • meningkatkan ketersediaan tempat tidur rumah sakit,
  • meningkatkan frekuensi uji gejala terinfeksi Covid-19,
  • memastikan ketersediaan kebutuhan hidup yang esensial bagi masyarakat,
  • kampanye untuk mengabaikan rumor tak-berdasar, dan
  • (ini yang dia sangat tegaskan) memupus kepercayaan keliru dari kalangan muda bahwa mereka imun dan tidak akan menularkan virus.

Mengenai yang terakhir ini dia mengemukakan argumen ilmiah: 54% pasien Covid-19 di rumah sakit New York berusia 18-49 tahun.

Pujian dan Himbauan Bagi Warga

Selain melakukan upaya kongkret sebagaimana diilustrasikan di atas, Cuomo dalam salah satu siaran pers tidak lupa untuk memuji serta menyatakan terima kasih tulus kepada kelompok masyarakat yang digelarinya pahlawan sehari-hari (everyday heroes). Mereka termasuk pekerja kesehatan, grosir, pekerja apotek, pekerja transportasi publik, pemadam kebakaran, dan pengasuh anak.

Kepada warga Cuomo mengajak untuk merenungkan bagaimana mulia dan indahnya jiwa para pahlawan ini. Dia juga mengajak warganya untuk melakukan apa yang disebutnya praktik kemanusiaan (practice humanity): murah senyum, murah hati, rendah hati, peduli orang lain, bersikap lembut dan banyak sabar

Ini baru gubernur!

*****

Catatan: Tabulasi dan grafik sederhana mengenai sebaran geografis kasus Covid-19– antar negara untuk level global dan antar negara-bagian untuk USA — dapat diakses di sini.

← Back

Thank you for your response. ✨

Postur Penduduk Indonesia

Postur penduduk dibentuk oleh susunan penduduk menurut kelompok umur dan jenis kelamin yang dimulai dari kelompok paling muda  (=P(0-5)) sebagai alas, diikuti P(5-10), P(10-15), dan seterusnya[1]. Hasilnya semacam piramida dengan alas yang lebar dan terus memendek (mengerucut) sejalan dengan bertambahnya usia. Itu gambaran piramida yang sempurna yang tidak selalu atau bahkan jarang ditemui dalam susunan penduduk sebenarnya karena adanya dinamika penduduk akibat faktor alamiah (kelahiran dan kematian) maupun non-alamiah (migrasi).

Postur penduduk dalam sajian piramida menarik untuk dipelajari karena mudah dibaca selain karena mengindikasikan banyak hal antara lain: (1) sejarah kelahiran masa lalu dan perkiraannya ke depan, (2) besaran pasokan tenaga kerja masa kini dan perkiraannya di masa depan, dan (3) besaran wanita usia subur (WUS) yang menentukan “penciptaan generasi baru” untuk masa kini dan perkiraannya ke depan. Selain itu, postur penduduk, sampai taraf tertentu, dapat membedakan kemajuan ekonomi suatu negara. Demikian karena negara maju dapat dikenali dari tingginya proporsi usia tua, sementara negara-negara berkembang dari tingginya proporsi usia muda.

Tulisan ini memotret postur penduduk Indonesia pada tahun-tahun 1950, 2000, 2050 dan 2100 berdasarkan data PBB. Dua tahun pertama didasarkan pada proyeksi standar[2], sisanya pada proyeksi probabilitas[3].

Postur 1950

Pada tahun 1950 RI belum memiliki data sensus penduduk (SP) sehingga postur penduduk hanya dapat diperkirakan secara kasar berdasarkan sumber data yang terserak. Sumber data lain seperti catatan administrasi dan registrasi dengan kualitas yang dapat diandalkan mampir dapat dipastikan tidak tersedia. Implikasinya, postur 1950 perlu dilihat sebagai perkiraan kasar tanpa mengurangi maknanya serta apresiasi kepada PBB.

Menurut perkiraan PBB, total penduduk Indonesia 1950 sekitar 69,5 juta atau sekitar 2.7% dari total penduduk global. Posturnya disajikan pada Paramida 1.

Piramida 1: Struktur Umur-Jenis Kelamin Penduduk Indonesia 1950.

Piramida 1 menunjukkan antara lain:

  • Postur penduduk sangat kokoh dalam arti memiliki alas yang sangat lebar untuk mendukung batang bangunan di atasnya yang semakin pendek.
  • Kelompok usia muda (berwarna paling terang) mendominasi penduduk. Di lain pihak, penduduk usia lanjut (warna paling gelap) memainkan peran yang sangat kecil dalam membangun piramida itu.
  • Lebar alas piramida, P(0-5)[4], mengindikasikan besarnya peristiwa kelahiran dalam 5 tahun[5] terakhir. Dalam kaitannya dengan indikator kelahiran, lebar alas itu tentu bersifat indikatif karena sebagian dari penduduk kelahiran 5 tahun terakhir sudah meninggal sehingga tidak terdata sebagai penduduk.
  • Lebarnya alas piramida juga mengisyaratkan besarnya tekanan 15 tahun mendatang terhadap pasar kerja, juga terhadap tambahan pasokan wanita usia subur (WUS).

Dengan  postur semacam itu penduduk Indonesia 1950 tergolong masih sangat muda. Sumber datanya mengungkapkan proporsi P(0-15) hampir 40% (tepatnya 39%) sementara proporsi P(65+) baru 4%.

Postur 2000

Bagaimana postur 2000? Yang jelas, pada tahun itu RI telah diperkaya dengan lima 5 set data data SP: 1961, 1971, 1980, 1990 dan 2000 sehingga gambaran postur penduduknya meyakinkan.

Piramida 2 menyajikan postur 2000 yang mengungkapkan antara lain:

  • Kelompok usia muda (berwarna paling terang) masih mendominasi bangunan piramida.
  • Kelompok usia lanjut (berwarna paling gelap) sudah bertambah dibandingkan dengan keadaan 50 tahun sebelumnya 1950 tetapi masih relatif kecil.
  • Berbeda dengan postur 1950, postur piramida kurang kokoh dalam arti alasnya harus menunjang tiga kelompok umur di atasnya yang lebih besar. Pertambahan lebar empat batang pertama dalam piramida mengindikasikan penurunan angka fertilitas yang terus menerus selama 20 tahun terakhir (1980-2000).

Pertambahan lebar empat batang pertama piramida mengindikasikan penurunan terus menerus angka fertilitas 20 tahun terakhir.

Piramida 2: Struktur Umur-Jenis Kelamin Penduduk Indonesia 2000.

Postur penduduk Indonesia 2000 masih tergolong muda. Sumber datanya mengungkapkan proporsi P(0-15) masih 31% sementara proporsi penduduk tua (65+) baru 5%. Sisanya, 64% adalah penduduk usia produktif dan usia reproduktif (bagi wanita)

Postur 2050

Seperti disinggung sebelumnya, postur 2050 dan 2100 didasarkan pada hasil proyeksi probabilitas yang tentunya mempertimbangkan berbagai faktor ketidakpastian (uncertainty factors). Postur 2050 diungkapkan oleh Piramida 3 yang mengisyaratkan berlanjutnya penurunan angka fertilitas[6] dan proses penuaan penduduk. Postur penduduk sudah mulai tua. Sumber datanya mengungkapkan proporsi P(0-15) 19%, proporsi P(65+) 16%. Walaupun demikian, usia produktif (P(15-64) masih mayoritas (66%).

Piramida 3: Perkiraan Struktur Umur-Jenis Kelamin Penduduk Indonesia 2050.

 

Postur 2100

Seperti postur 2050, postur 2100 juga didasarkan model proyeksi probabilitas. Selain itu, rentang interval proyeksi 2100 jauh lebih yang luas dari rentang proyeksi 2050. Ini berarti tingkat akurasi postur 2100 jauh lebih rendah dari pada tingkat akurasi 2050. Tetapi semua ini tidak mengurangi makna bagi perencanaan pembangunan jangka panjang. Selain itu, sumber PBB ini mungkin salah satu sumber informasi utama yang dapat diandalkan mengenai megatrend penduduk global.

Postur 2100 disajikan pada Piramida 4. Seperti ditunjukkan oleh piramida itu  postur penduduk Indonesia 2050 sudah semakin tua. Sumber datanya mengungkapkan proporsi P(0-15) 15%, proporsi P(65+) 24%. Ini berarti proporsi usia produktif masih dominan, 61%. Hal ini tentu menguntungkan dari sisi ekonomi sebagaimana diilustrasikan secara dalam bagian akhir tulisan ini.

Piramida 4: Perkiraan Struktur Umur-Jenis Kelamin Penduduk Indonesia 2100.

Belum Terlalu Tua

Seperti disinggung sebelumnya, postur penduduk Indonesia 2050 terlihat dari relatif besarnya proporsi P(65) yaitu 19% dan relatif kecilnya proporsi P(0-15) yaitu yaitu 16%. Dari dua angka proporsi ini dapat dihitung rasio ketergantungan lanjut usia [=P(65+)/P(15-64)] dan hasilnya adalah 25%. Rasio ketergantungan ini yang lazim digunakan sebagai ukuran “ketuaan” suatu populasi: semakin tinggi rasio, semakin tua.

Dengan rasio ketergantungan lanjut usia 25% penduduk Indonesia 2050 dapat dikatakan sudah tua. Tapi seberapa tua? Yang jelas, angka itu  sebenarnya lebih rendah dari angka-angka untuk negara-negara maju seperti Amerika Serikat (USA), Inggris, Prancis, Jerman dan Jepang seperti yang ditunjukkan oleh Grafik 1. Grafik itu menyajikan angka rasio ketergantungan lanjut usia beberapa negara maju 2020 dan Indonesia 2050. Apa yang terlihat dari grafik itu sangat jelas: penduduk Indonesia 2050 sebenarnya belum terlalu tua, belum setua negara-negara maju tahun 2020.

… penduduk Indonesia 2050 sebenarnya belum setua penduduk negara-negara maju tahun 2020.

Grafik 1: Rasio Ketergantungan Usia Lanjut (%)

Paradoks Pembangunan

Tingginya rasio ketergantungan lanjut usia menunjukkan rendahnya barisan usia produktif. Ini berarti pula rendahnya barisan penduduk yang dapat berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi produktif yang pada gilirannya menyulitkan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Ini agaknya paradoks pembangunan (development paradox): pembangunan menuakan penduduk yang pada gilirannya menyulitkan pertumbuhan ekonomi.

…. paradoks pembangunan (development paradox): pembangunan menuakan penduduk yang pada gilirannya menyulitkan pertumbuhan ekonomi.

Wallahualam…@

[1] Dalam tradisi demografi, pencatatan umur dibulatkan ke bawah. Penduduk berumur 11 tahun, misalnya, mencakup yang berumur 11 tahun 11 bulan. Penulisan P(0-5) perlu dibaca sebagai penduduk “dari 0 sampai 5”, bukan ” dari 0 sampai dengan 5″ karena 5 tidak dicakup. Analog, P(5-10) tidak mencakup penduduk umur 10.

[2] https://population.un.org/wpp/Download/Standard/Population/

[3] https://population.un.org/wpp/Download/Probabilistic/Population/. Lihat juga Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2019/11/28/total-penduduk-indonesia-masa-depan/

[4] Lihat catatan kaki 1.

[5] Tepatnya, 4.99…<5 tahun. Lihat catatan kaki 1

[6] Postur penduduk lebih ditentukan oleh angka fertilitas dari pada oleh mortalitas

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

← Back

Thank you for your response. ✨

Total Penduduk Indonesia Masa Depan

Berapa total penduduk Indonesia 10, 30, atau 80 tahun mendatang? Dugaan penulis tidak ada yang berani memastikannya. Siapa yang berani memastikan peristiwa masa depan?

Masalahnya, kita tidak dapat hidup dalam kegelapan mutlak mengenai masa depan kita. Kita perlu tahu sekarang, mengenai gambar besar 10-30 tahun mendatang berbasis ilmiah perkiraan, misalnya, ratus-jutaan mulut yang harus diberi makan, jutaan balita yang perlu dimonitor berat badannya, puluhan juta penduduk usia muda yang siap membanjiri pasar kerja, puluhan juta angkatan kerja terdidik dalam usia prima, dan jutaan wanita usia subur yang siap memasok generasi penerus. Kita perlu sedikit titik terang– sekalipun tidak benderang– mengenai semua isu itu untuk memberikan sedikit kelegaan serta memandu kita menata masa depan.

Dalam konteks ini para ahli demografi menyandang tugas profesional untuk memberikan titik terang yang dimaksud. Berdasarkan dua data sensus penduduk terakhir (2000 dan 2010), misalnya, mereka mampu menawarkan gambar besar profil penduduk ke depan. Caranya sederhana yaitu dengan menghitung rata-rata pertumbuhan penduduk per tahun (=r) dalam periode 2000-2010 dan mengekstrapolasikan total penduduk ke masa depan berdasarkan angka itu dan total penduduk tahun dasar. Hasilnya, proyeksi penduduk berbasis suatu model matematik.

Tapi mereka juga mengingatkan bahwa model itu terlalu sederhana untuk membuat gambar masa depan, paling tidak karena tiga alasan. Pertama, terlalu menyederhanakan persoalan jika angka r suatu populasi diasumsikan tidak berubah (konstan) di masa depan, apalagi masa depan yang jauh. Kedua, r mencerminkan berbagai kekuatan yang belum tentu searah gerakannya: kekuatan positif (faktor penambah) yaitu kelahiran (B, birth) dan Migrasi Masuk (I, immigrant), serta kekuatan negatif (pengurang) yaitu kematian (D, death) dan migrasi keluar (E, emigrant). Singkatnya, Pt=P0+(B-I)-(D+E) di mana Pt=populasi tahun t dan P0 populasi dasar dan Pt. Semua “kekuatan” ini logisnya perlu dipertimbangkan dalam kalkulus perkiraan penduduk masa depan. Model perkiraan masa depan (proyeksi, prediksi) dengan mempertimbangkan kekuatan-kekuatan itu yang umumnya dipraktikkan oleh para ahli demografi dalam kapasitasnya sebagai perorangan atau mewakili lembaga termasuk PBB.

Bagaimana dengan alasan ketiga?

Perkiraan penduduk masa depan, seperti halnya perkiraan mengenai apa pun, perlu mempertimbangkan secara cermat faktor ketidakpastian (uncertainty factors). Mengenai faktor ini berlaku rumus umum: semakin panjang rentang waktu perkiraan semakin besar faktor itu, atau, dengan perkataan lain, semakin tidak akurat perkiraan itu. Perkiraan total penduduk 2050, misalnya, lebih akurat dengan perkiraan total penduduk 2100.

“Hebatnya”, PBB “berani” membuat perkiraan penduduk global yang dirinci menurut negara dan karakteristik wilayah sampai 2100 dalam publikasinya berjudul “World Population Prospects: Highlight[1]. Yang perlu dicatat, dalam perkiraannya, PBB menggunakan faktor “kekuatan” postif maupun negatif sebagaimana dibahas sebelumnya serta telah mempertimbangkan faktor ketidakpastian.

PBB tentu memiliki alasan yang cukup untuk mempublikasikan perkiraannya: PBB berkepentingan untuk memperoleh gambar besar masa depan penduduk global dan juga –dugaan penulis– untuk memfasilitasi banyak pihak yang tengah bersemangat dalam arti positif membuat apa yang dikenal mega-trends dengan berbagai variannya. CSIRO, misalnya, menerbitkan buku dengan judul yang provokatif secara intelektual: Our Future World: Global megatrends that will change the way we live[2].

Bagaimana gambar masa depan penduduk global menurut PBB? Penduduk global masih akan bertambah sehingga pada tahun 2100 totalnya diperkirakan akan mencapai 10.9 milyar jiwa. Menurut PBB, sebenarnya pertumbuhan penduduk di semua wilayah telah mencapai puncaknya sehingga terus berkurang, tetapi dalam hal ini Afrika adalah satu-satunya kekecualian: penduduk di benua itu akan terus tumbuh bahkan setelah akhir abad 21. Gambaran lebih rinci dapat dilihat di sini[3].

Bagaimana dengan Indonesia? Jawabannya disajikan pada Grafik di bawah:

  • Total penduduk Indonesia pada tahun 1950 sekitar 30 juta.
  • Total itu menjadi sepuluh kali pada tahun 2030, sekitar 300 juta.
  • Pertumbuhan penduduk mencapai puncaknya pada tahun 2060 dengan total penduduk sekitar 325 juta; selanjutnya akan terus menurun.

Pertumbuhan penduduk mencapai puncaknya pada tahun 2060 dengan total penduduk sekitar 325 juta; selanjutnya akan terus menurun.

Skenario di atas menggunakan model perkiraan moderat dalam arti mengacu pada estimasi titik atau median dalam interval probabilitas estimasi yang lebar dan melebar.

Wallahualam…@

← Back

Thank you for your response. ✨

[1] https://population.un.org/wpp/Publications/Files/WPP2019_Highlights.pdf

[2] https://publications.csiro.au/rpr/download?pid=csiro:EP126135&dsid=DS2

[3] https://uzairsuhaimi.blog/2019/11/18/world-population-trend-forecasts/

World Population: Trends and Forecasts

What is the big picture of the world population? How are its past trends look like? What is the probable future trend of it? How significant the relative contribution of the major regions in shaping the profile of the world population in the past and in the coming years throughout the 21st century? These all part of the questions that this article is aimed at dealing with. The term of the past trend as used in this article is initiated from the 1950s, the era when the majority of the nations in Asia and Africa liberated themselves from European colonialism. Asia and Africa are of special interest here as the population of these two major regions– as will be clearer later– had shaped the past trends significantly and will probably determine crucially the future profile of the world population.

With regard to the past trends, Graph 1 shows that along the second half of the 20th century, Asia’s population strikingly outnumbered the population of other regions[1]. In addition, the pace of increase of the first as suggested by the graph was more rapid than that of its counterpart. This was implying the increasing share of Asia’s population to the world population: 55.4% in 1945 and 60.1% in 2018.

Graph 1: World population by Region 1950-2000 (000)

As obviously shown by the graph, the second most important region in shaping the world population was Europe. However, its position surpassed by Africa in 1996. In fact, the increasing share of Africa’s population between 1995 and 2000 was more striking than that of Asia: 9.0% in 1950 and 13.2% in 2000.

As also suggested by the graph, the share of the overall regions other than Asia and Africa during the 1995-2000 period was relatively small. However, the graph shows no clear picture of the share of the individual regions other than Asia. Graph 2 shows a clearer picture of it.

Graph 2: World population by Region 1950-2000 (000) (Asia is excluded)

Graph 2 shows clearly the year when Africa’s population exceed Europe’s population; that was in 1996. The graph also shows (but perhaps not very clear) that Europe’s population reached its peak in 1995 with a total population of about 727 million. Following the year, Europe’s declining until 2000 and even until the end of the 21st century. In line with this trend, the share of Europe’s population to the world population respectively in 1995, 2000 and 2100 were (or forecasted) 21.7%. 11.8 and 9.6%.

…. Europe’s population reached its peak in 1995 with a total population of about 727 million

Graph 3 suggests that Asia’s population is forecasted to reach its peak in 2055 when its total population will be about 5.3 billion. On Africa’s population growth, the graph also shows, as PEW Research Center[2] describes it, “is projected to remain strong throughout this century”. Based on the graph, it is apparently sensible to expect that Africa’s population would be the only population that will have sufficient momentum to grow positively, at least until the first decades of the 22nd century.

…. Asia’s population is forecasted to reach its peak in 2055 when its total population will be about 5.3 billion

Graph 3: World population by Region 1950-2100 (billion)

 

*********

According to a UN estimate (see footnote 1), the world population is estimated increasing from about 7.8 billion in 2020 to 10.9 billion in 2100. This means an annual increase of growth of 0.42%, r=0.42%[3]. This means also the additional population of about 33 million in a year. The question is what the impact of that upon the carrying capacity of the planet to support human lives living on the environment where soil for agriculture has been continuously lacking and increasingly less fertile? And or on already highly competitive labour market especially for the young amid the increasing labour supply due to natural demographic transition notably in the developing nations?

 

[1] United Nations Department of Economic and Social Affairs, Population Division, “World Population Prospects 2019”. This data source is used throughout this article unless stated otherwise.

[2] https://www.pewreseach.org/fact-tank/2019/06/17/world-popuylation-is-projected-to-nearly-stop-growing-by-the-end-of-the-year.

[3] This number comes from this formula: r=(1/80)*ln (10.9/7.8)*100

← Back

Thank you for your response. ✨

Pertumbuhan Alamiah Populasi Global

Kelahiran dan Kematian. Hanya  dua faktor alamiah inilah yang menentukan populasi manusia secara global. Dinyatakan secara berbeda, dinamika populasi global adalah fungsi dari surplus atau defisit peristiwa kelahiran (=B) terhadap kematian (=D): jika (B-D)>0 maka populasi  bertambah, jika (B-D)<0 populasi berkurang. Seperti yang akan segera terlihat, kecuali terjadi peristiwa luar bisa yang mempengaruhi kelangsungan hidup populasi global secara signifikan, populasi global patut diduga masih akan tumbuh karena (B-D)>0.

Menurut PEW Research Center[1], selama kurun 2010-2015, (B-D) bernilai positif sekitar 388.6 juta jiwa. Jika angka ini diasumsikan berlaku selama 15 tahun mendatang (dari 2015), maka selama kurun 2015-2030 populasi global akan bertambah 3×388.6 juta = 1,165.8 juta atau sekitar 1.2 milyar jiwa. Angka ini: (1) 200 juta lebih rendah dari populasi Cina sekarang (keadaan Jumat, 11 Oktober 2019: 1,435,328,900)[2], atau (2) 117 juta lebih tinggi dari populasi Indonesia sekarang (keadaan Jumat, 11 Oktober 2019: 271,431,139)[3].

Perbedaan Regional

Dinamika populasi regional lebih kompleks dari pada dinamika populasi total. Pasalnya, faktor pertumbuhan tidak hanya ditentukan oleh (B-D), tetapi juga oleh faktor migrasi, migrasi masuk [=M(I)] atau migrasi keluar [=M(O)]. Populasi Jakarta atau kawasan Asia Pasifik, misalnya, tidak hanya ditentukan oleh surplus atau defisit B terhadap D di provinsi atau kawasan itu, tetapi juga ditentukan oleh apakah M(I)-M(0) positif atau negatif. Ini masalah kompleks, apalagi jika fokusnya pada faktor pertumbuhan alamiah. Untungnya, PEW Research Center telah menghitungkan untuk kita sebagaimana disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1: Selisih Kelahiran dan Kematian Penduduk Global 2010-2015 menurut Kawasan (Ribuan)[4]

Selisih Kelahiran-Kematian

%

Distribution

Asia Pacific

202,790

52.2

Europe

-1,750

-0.5

Middle East and North Africa (MENA)

33,890

8.7

North America

9,150

2.4

Sub-Saharan Africa

108.450

27.9

Total

388.610

100.0

Tabel 1 menunjukkan pertumbuhan alamiah positif di semua wilayah kecuali Eropa. Populasi di benua ini defisit sekitar 1,75 juta kelahiran terhadap kematian. Artinya, jika keadaan seperti ini terus berlangsung maka populasi Eropa akan terus menyusut. Secara ekonomi hal ini tidak menguntungkan karena bagaimanapun total GDP adalah fungsi penduduk[5].

Jika keadaan ini tidak dikehendaki, maka satu-satunya penyelesaian logis bagi Eropa adalah mendatangkan migrasi masuk dari luar dalam jumlah yang secara signifikan lebih besar dari total migrasi keluar. Jika migran masuk dipilih yang berusia reproduktif dan produktif maka cara ini lebih efisien dari sisi waktu maupun biaya dibandingkan dengan, misalnya, kebijakan “memanjakan” pasangan usia produktif dengan berbagai kemudahan subsidi untuk menambah anak yang belum tentu dan sejauh ini terbukti tidak  efektif (selain kemungkinan juga mahal).

Bagi Eropa, mendatangkan migran usia produktif dan reproduktif dari luar akan lebih efisien dari sisi waktu dan biaya untuk mengatasi defisit kelahiran.

Tabel itu juga menunjukkan bahwa masa depan pertumbuhan populasi global patut diduga akan tergantung pada kawasan Asia-Pacific:  kawasan ini menyumbangkan lebih dari separuh pertumbuhan populasi global. Dalam konteks ini ada tiga negara “raksasa” yang memainkan peranan menentukan: Cina, India dan Indonesia. Yang menarik untuk dicatat, ciri kependudukan ketiganya berbeda: yang pertama dicirikan oleh relatif rendahnya angka kelahiran dan angka kematian, sementara yang kedua oleh relatif tingginya kedua angka itu. Posisi Indonesia berada di tengah-tengah dua “raksasa” itu dalam hal angka kelahiran dan kematian[6].

Perbedaan menurut Afiliasi Agama

Populasi berbeda dalam hal afiliasi agama yang dianut dan perbedaan semacam ini agaknya adalah alamiah bagi populasi[7]. Pertanyaannya adalah apakah pertumbuhan alamiah berbeda menurut afiliasi agama.

Mudah diduga pertumbuhan alamiah populasi (dalam artian absolut) sangat ditentukan oleh dua populasi agama terbesar yaitu Muslim dan Kristen. Data PEW mengkonfirmasi dugaan ini ini sebagaimana terlihat pada Grafik 1. Dari 388.6 juta faktor pertumbuhan alamiah, sebanyak 267 juta atau 70% merupakan sumbangan populasi dari dua agama ini.

Grafik 1: Selisih Jumlah Kelahiran dan Kematian Penduduk Global 2010-2015 menurut Afiliasi Agama Penduduk (Juta)[8]

Grafik itu juga menegaskan populasi Muslim lebih subur secara aktual (atau memiliki angka fertilitas lebih tinggi) dari pada populasi Kristen. Penegasan ini justified karena secara absolut pada level global, populasi Kristen lebih besar dari pada populasi global dan ini diperkirakan masih akan berlangsung sampai 2050.

Grafik 2: Defisit Kelahiran terhadap Kematian Eropa 2010-2015

Catatan: Populasi Agama Yahudi tidak diperhitungkan karena kasusnya kurang dari 10,000.

Grafik 1 menunjukkan sumbangan positif populasi Kristen terhadap pertumbuhan alamiah populasi global. Gambarannya sangat berbeda jika fokus diberikan khusus pada kawasan Eropa. Khusus di kawasan ini, seperti ditunjukkan oleh Grafik 2, sumbangan populasi Kristen defisit sekitar 5.64 juta kelahiran terhadap kematian. Demographic wise, fakta ini mengisyaratkan akan lebih efisien bagi Eropa jika mendatangkan migrasi Muslim dari luar Eropa untuk mengatasi defisit kelahiran terhadap kematian.

Demographic wise akan lebih efisien bagi Eropa jika mendatangkan migrasi Muslim dari luar Eropa…

Kesimpulan dan Pertanyaan

Sebagai kesimpulan, ada alasan untuk menduga bahwa masa depan penduduk global akan banyak dipengaruhi dinamika penduduk di kawasan Asia Pacific. Juga ada alasan untuk menduga bahwa masa depan penduduk global juga dipengaruhi oleh populasi Muslim. Pertanyaannya, apakah yang terakhir ini, dengan mengingat ajaran Islam yang secara eksplisit mengusung nilai-nilai keadilan sosial (QS 107) dan keikhlasan dalam berderma ( QS 76:9)[9], akan membawa masa depan populasi global ke arah yang lebih adil?

Wallahualam…@

[1] Appendix A,  https://www.pewforum.org/2015/04/02/religious-projections-2010-2050/

[2] https://www.worldometers.info/world-population/china-population/

[3] https://www.worldometers.info/world-population/indonesia-population/

[4] Sumber, lihat catatan kaki 1.

[5]  GDP adalah singkatan dari  “Gross Domestic Product” dan mewakili total nilai moneter dari semua produksi final barang dan jasa dalam suatu periode (biasanya setahun). GDP adalah ukuran yang paling umum dipakai untuk menghitung aktivitas ekonomi. Seperti halnya total produksi padi yang merupakan fungsi dari produktivitas (per HA) dan luas panen, demikian juga total GDP merupakan oleh produktivitas (GDP/kapita dan penduduk.

[6] Pengamatan seorang teman di ADB menarik untuk dicatat. Menurutnya, posisi Indonesia juga berada di tengah dua negara raksasa itu dalam hal demokrasi dan birokrasi: tidak semurni India dalam hal demokrasi, tidak seefektif Cina dalam hal birokrasi pemerintahan. Dia tidak mampu menjawab ketiga penulis bertanya: “Apakah keduanya harus saling melemahkan?”

[7] Itulah sebabnya dalam Islam ada larangan memaksakan agama (QS 2:256).

[8] Sumber, lihat catatan kaki 1.

[9] Keikhlasan dalam konteks ini lebih dari sekadar kedermawanan sosial (philanthropy) yang masih rentan terpapar “agenda” pribadi yang kurang terpuji. “Agenda” yang dimaksud, pada tataran negara, dapat berbentuk kebijakan luar negeri yang tampilan luarnya saja terkesan dermawan, tetapi dengan rumus tidak ada “makan siang gratis”,  menyembunyikan motivasi mengeruk keuntungan lebih besar dari pihak yang dibantu.

 

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

← Back

Thank you for your response. ✨