Populasi Muslim: Besar, Pertumbuhan dan Tantangan

Menurut PEW Research Center, total populasi Muslim pada 2010 sekitar 1.6 milyar dan proyeksinya pada 2050 sekitar 2.8 milyar. Kontribusinya terhadap populasi global secara keseluruhan meningkat dari 23.2% pada 2010 menjadi 29.7% pada 2050.

Menurut sumber yang sama, kecuali untuk Buddhis, populasi pemeluk semua agama non-Muslim diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan selama kurun 2010-20150,  tetapi pertumbuhannya relatif lambat. Akibatnya, kontribusi terhadap populasi global secara keseluruhan berkurang: hanya populasi Muslim yang kontribusinya meningkat (lihat Grafik).

Besar, pertumbuhan dan tantangan populasi Muslim bukan tanpa tantangan dan ini patut diduga terkait soal kualitas. Dalam konteks ini agaknya layak disimak Hadits Nabi SAW yang semangatnya kira-kira begini:

The time will come when you are very large, but the impact to the world is nothing…

[“Besar tapi nggak ngepek“, dalam bahasa gaul.]

Semangat itu penulis tangkap dari sela-sela ceramah Tariq Ramadan yang agaknya merujuk pada satu Hadits berikut:

Rasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati,” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud).

Hadits ini bagi penulis menegaskan ajaran mengenai keunggulan kualitas terhadap kuantitas (*). Pertanyaannya adalah apakah Hadits itu merujuk pada situasi masa kini?

  1. Apakah tragedi dalam bentuk perang saudara yang kini berlangsung di Syria, Yaman, Irak, Afganistan, Lybia dan belahan lain muka bumi ini, merupakan petanda dari ramalan Nabi SAW yang tersirat dalam Hadits di atas?
  2. Apakah posisi wasit (QS 2:143) yang dimainkan Barat dalam tragedi di atas petanda yang sama? dan
  3. Apakah inferior complex yang menghinggapi Umat dalam bidang ilmu pengetahuan dan sains– seperti diungkapkan Tariq Ramadan dalam suatu ceramahnya– merupakan petanda serupa?

Jika jawaban terhadap salah satu pertanyaan di atas positif, maka pertanyaan selanjutnya yang layak diajukan adalah “Siapa (faktor eksternal) yang menzalimi Umat?”, atau “Kesalahan apa yang dilakukan oleh Umat (faktor internal)?”

Pertanyaan pertama sangat “nyaman” untuk diajukan karena sesuai dengan mentalitas “semut di seberang lautan terlihat jelas, gajah di kelopak mata tidak kelihatan”. Sebaliknya, pertanyaan kedua “berat” karena selain tidak sesuai dengan mentalitas itu juga menunut tindak lanjut berupa reformasi besar-besaran hampir dalam semua aspek kehidupan; paling tidak, demikianlah yang dikemukakan Chapra[1], dalam salah satu bukunya.

Terlepas dari mana pertanyaan yang benar, dalam konteks ini QS (13:11) agaknya layak direnungkan: “Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”. Ayat ini dikutip oleh Chapra sebagai bagian dari argumennya dalam menjelaskan kemunduran peradaban Muslim kontemporer.

Wallahualam…. @

[1] Buku yang dimaksud berjudul Muslim Civilization: The Causes of Decline and the Need for Reform. Oleh banyak ahli buku ini dinilai otoritatif dan layak baca.

(*) Dalam kontkes ini menarik dicatat fakta sejarah Dinati Umayah. Posisi populasi Muslim di kekhalifahan ini di Damascus (661-750) minoritas; juga di keemaratan (756-929) dan kehlaifahan Cordoba (929-1031) dari dinasti ini. Di dua wilayah terakhir ini populasi Muslim dilaporkan sedikit lebih kecil dibandingkan populasi Yahudi (yang tergolong minoritas).

  

← Back

Thank you for your response. ✨

Populasi Muslim: Profil dan Proyeksi

Sinopsis: Tulisan ini membahas profil dan proyeksi populasi Muslim global. Topik-topik yang dibahas: pertumbuhan, proyeksi dan komponen pertumbuhan populasi Muslim, dalam perbandingannya dengan populasi global dan populasi Kristen. Istilah populasi (bukan Umat) digunakan untuk menegaskan bahwa analisis menggunakan pendekatan sosiologis (bukan teologis).

Sumber Gambar: Google

Semua penganut agama-agama samawi– Yahudi, Kristen dan Islam– mengaku keturunan Nabi Ibrahim AS dalam arti meyakini agama mereka adalah kelanjutan dari tradisi (milah) nabi itu. Dalam tradisi alkitabiah (biblical) terdapat narasi mengenai janji Tuhan SWT akan mengaruniai Ibrahim AS berupa keturunan sebanyak “bintang di langit”[1]. Janji ini agaknya telah terpenuhi jika diukur dari populasi penganut agama-agama samawi yang semakin mendominasi populasi global.

Tema tulisan adalah populasi Muslim global. Topik yang dibahas antara lain pertumbuhan, proyeksi dan komponen pertumbuhan populasi Muslim, dalam perbandingannya dengan populasi global dan populasi Kristen. Istilah populasi (bukan Umat) digunakan untuk menegaskan bahwa analisis menggunakan pendekatan sosiologis (bukan teologis). Dengan pendekatan ini penganut agama didasarkan  pada pengakuan yang bersangkutan (self declaration) mengenai agama yang dianut.

Populasi Agama Samawi

Populasi Agama Samawi terus meningkat jumlahnya. Pernyataan sesuai dengan data World Religion Project berikut:

  • Populasi global pada tahun 1945 –atau 74 tahun lalu– berjumlah sekitar 2.25 milyar. Dari jumlah itu, sebanyak 873 juta atau 39% adalah populasi Agama Samawi.
  • Pada tahun 2010– atau 74 tahun berikutnya– total populasi global adalah 6.84 milyar dan 54% di antaranya populasi Agama Samawi.

Singkatnya, dalam 1945-2010 terjadi kenaikan proporsi penduduk Agama Samawi dari 39% menjadi 54%.

  • Pada tahun 1945 populasi Muslim diperkirakan 159 juta. Ini berarti sekitar 7.7% dari populasi global. Sebagai perbandingan, pada tahun yang sama, proporsi untuk populasi Kristen sekitar 31.2%.
  • Pada tahun 2010 populasi Muslim sekitar 1.6 milyar milyar atau 23.2% dari populasi global. Pada tahun yang sama total dan proporsi populasi Kristen masing-masing 2.1 milyar dan 30.9%.

Singkatnya, dalam periode 2010-2010 terjadi penurunan proporsi populasi Kristen terhadap populasi global turun dari 31.2% menjadi 30.9%.

Bagaimana perkiraannya ke depan? Gambarannya dapat disimak dari proyeksi periode 2010-2050 yang dipublikasikan oleh PEW Research Center:

  • Penduduk global meningkat dari 6.90 milyar pada tahun 2010 menjadi 9.31 milyar pada tahun 2050, atau tumbuh sekitar 0.77% per tahunnya. Jika angka pertumbuhan ini berlaku setelah 2050 maka populasi global memerlukan waktu sekitar 90 tahun untuk menjadi dua kali lipat[2].
  • Dalam periode yang sama proporsi penduduk Agama Samawi naik dari 54.8% menjadi 58.3%. Sebagai catatan, kenaikan proporsi ini terjadi hanya untuk Muslim (dari 23.2% ke 26.7) dan tidak terjadi untuk Kristen maupun Yahudi.

Periset dalam lembaga ini menggunakan dan menganalisis sekitar 2,500 sumber data termasuk sensus penduduk, survei demografi, dan survei kependudukan secara umum. Terkait dengan identitas keagamaan, lembaga ini merumuskannya begini:

The measure of religious identity in this study is sociological rather than theological. In order to have statistics that are comparable across countries, the study attempts to count individuals who self-identify with each religion. This includes people who hold beliefs that may be viewed as unorthodox or heretical by others who claim the same religion. It also includes people who do not regularly practice the behaviors prescribed by their religion, such as those who seldom pray or attend worship services.

Proyeksi Populasi Muslim

Terkait proyeksi populasi Muslim, dapat dicermati proyeksi PEW Research Center berikut:

  • Populasi Muslim meningkat dari 1.60 milyar pada tahun 2010 menjadi 2.76 milyar pada tahun 2050. Dengan demikian, rata-rata angka pertumbuhan per tahun sekitar 1.38%.
  • Proporsi populasi Muslim (terhadap populasi global) dalam periode yang sama meningkat dari 23.2% menjadi 27.9%. [Sebagai perbandingan, proporsi untuk populasi Kristen tetapi pada tingkat 31.4%.]

Semua angka-angka di atas dapat diamati pada Gambar 1.

Gambar 1: Proyeksi Populasi Global 2010-2050

Sumber: PEW Research Center

Gambar di atas menegaskan beberapa hal termasuk berikut ini:

  • Selama empat dekade (2010-2050) populasi Muslim tumbuh lebih cepat dari agama-agama lain.
  • Populasi Muslim dan populasi Kristen memberikan sumbangan yang relatif sama terhadap populasi global.
  • Populasi yang mengaku bukan penganut agama tumbuh hampir 10% tetapi sumbangannya terhadap populasi global turun dari 16.4% pada tahun 2010 menjadi 13.2% pada tahun 2050.

Komponen Pertumbuhan Populasi

Angka Kelahiran

Pada level global, komponen pertumbuhan populasi secara keseluruhan  bersifat alamiah. Artinya, dalam suatu periode, penduduk bertambah karena kelahiran dan berkurang karena kematian. Jadi komponennya adalah kelahiran (B, dari Birth) dan kematian (D, dari Death). [Faktor lain yaitu migrasi (M, dari Migration) karena sejauh ini tidak ada laporan migrasi masuk maupun keluar dari planet bumi.]

Faktor utama yang menjelaskan relatif tingginya angka pertumbuhan populasi Muslim. Data PEW Research Center menunjukkan adanya penurunan rata-rata kelahiran anak per wanita (TFR, dari total fertility rate) dalam periode 2010-50: Muslim: turun dari 3.1 ke 2.3. Untuk populasi Kristen penurunanya  dari 2.7 ke 2.3, sementara untuk populasi global:  dari 2.5 ke 2.1. Yang layak dicatat, sekalipun tahun 2050 TFR untuk Muslim dan Kristen sama (2.3),  titik awalnya (2010) jauh lebih tinggi untuk Muslim dari pada untuk Kristen. Ini berdampak pada momentum pertumbuhan penduduk (yang lebih besar untuk Muslim dari pada Kristen.

Struktur Umur

TFR suatu populasi mungkin rendah tetapi struktur umur muda memberikan momentum bagi populasi secara keseluruhan untuk tumbuh cepat. Inilah yang terjadi dengan populasi Muslim.

Struktur umur muda secara sederhana ditunjukkan oleh rendahnya median umur: semakin rendah, semakin muda. Sebagai ilustrasi, pada tahun 2010 median umur adalah 23 tahun untuk populasi Muslim dan 30 tahun untuk populasi Kristen.

Struktur umur yang “tua” (aging) membawa konsekuensi pertumbuhan ekonomi. Faktor ini melatarbelakangi fenomena sulitnya bagi negara-negara maju (termasuk Jepang) untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Logikanya sederhana: bagi populasi “tua”, penduduk produktif proporsnya rendah sehingga nilai produksi secara keseluruhan sulit meningkat  (betapa pun tinggi tingkat produktivitas mereka).

Perpindahan Agama

Populasi global suatu agama tidak hanya dipengaruhi oleh faktor alamiah tetapi juga oleh faktor perpindahan agama. Faktor ini menjelaskan relatif tingginya pertumbuhan populasi Muslim. Data xx menujukan bahwa dalam periode 2010-20150, populasi yang masuk Islam sekitar 12.6 juta sementara yang keluar Islam sekitar 9.4 juta. Artinya, ada perpindahan agama neto sekitar plus 3.2 juta.

Sebagai perbandingan, untuk Kristen, perpindahan agama neto adalah minus 66.0 juta: yang masuk 40.1 juta, yang keluar 106.1 juta

Ringkasan

Populasi Muslim secara global terus bertambah dengan dengan tingkat pertumbuhan yang relatif tinggi. Ini terlihat dari rata-rata angka pertumbuhan per tahun (=r) yaitu 1.8%. Untuk populasi global dan Kristen angka r sama yaitu 0.77%. Jika angka-angka ini berlangsung pasca 2050 maka populasi global (juga Kristen) perlu waktu sekitar 90 tahun untuk menjadi dobel jumlahnya. Bagi populasi Muslim waktu itu hanya 50 tahun.

Relatif tingginya angka r untuk populasi Muslim terkait dengan relatif tinginya angka kelahiran, relatif mudanya struktur umur, dan relatif besarnya perpindahan agama dari agama lain.

[1] Analogi “bintang di langit”– yang mengonotasikan jumlah yang sangat banyak– mudah dipahami karena dapat diamati. Alusi semacam ini normal digunakan dalam Bahasa Agama yang tidak dapat dimaknai secara harfiah.

[2] Angka ini diperoleh dari persamaan t = ln(2)/r di mana t adalah tahun yang diperlukan untuk menjadi dobel dan r adalah rata-rata pertumbuhan per tahun.

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

← Back

Thank you for your response. ✨

Nilai Anak, Migrasi dan Rahmat Tersembunyi

Sumber Gambar: Google

Cara sederhana untuk mengenali kemajuan suatu negara adalah dengan mencermati karakteristik penduduknya. Negara-negara maju bercirikan angka kelahiran dan angka kematian yang rendah; sebaliknya, negara-negara berkembang pada umumnya– tidak selalu– bercirikan angka kelahiran dan angka kematian tinggi.

Salah satu faktor yang melatarbelakangi keadaan ini terkait dengan nilai anak (value of children) bagi orang tua. Di negara-negara maju anak dinilai lebih sebagai beban dari pada sumber daya sehingga bagi orang tua yang penting kualitas anak, bukan kuantitasnya. Bagi mereka arus ke kayaan (flow of wealth) dari arah orang tua ke anak.

Pandangan orang tua di negara-negara berkembang berbeda. Bagi mereka anak berfungsi sebagai buruh-murah dan jaminan hari-tua. Jadi, arus kekayaan dari anak ke orang tua. Dengan cara-pandang ini orang tua menilai memiliki banyak anak menguntungkan, “banyak anak, banyak rezeki”.

Tapi perbedaan pandangan mengenai nilai anak pada level global kini tidak terlalu signifikan. Ini sebagian terkait dengan proses penerimaan nilai-nilai “Barat” secara umum pada level global.  Sejalan dengan ini, profil kependudukan global kini boleh dikatakan banyak dipengaruhi oleh profil kependudukan dua negara “raksasa” yang memiliki angka kelahiran dan angka kematian yang rendah yaitu Cina dan Indonesia.

Di negara-negara maju angka-angka kelahiran sudah lebih rendah dari “tingkat-pergantian” (replacement level). Artinya? Artinya, anak perempuan yang akan menggantikan fungsi reproduksi ibunya jumlahnya lebih sedikit dari jumlah ibu mereka. Dampaknya? Dampaknya, jika keadaan ini dibiarkan,  jumlah penduduk akan terus berkurang sebelum akhirnya habis.

Karena memiliki angka kelahiran yang rendah, negara-nega maju (termasuk Jepang dan Korea) kini menghadapi masalah struktur umur penduduk. Masalah ini ditandai oleh berkurangnya proporsi usia muda dan meningktnyua proporsi usia tua.  Ageing. Ini berarti meningkatnya rasio-ketergantungan-tua (old-dependency-ratio) yang harus ditanggung oleh penduduk usia kerja. Ini jelas tidak menguntungkan secara ekonomi: sulitnya meningkatkan pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju, bukan karena salah-kelola governance atau kurang produktifnya tenaga kerja, tetapi karena tinginya angka rasio-ketergantungan-tua itu. Jadi, agaknya, tidak ada solusi-ekonomi dalam pengertian umum kata ini.

Penyelesaiannya? Solusi demografi: datangkan migran-masuk berusia produktif dalam arti-ekonomi maupun reproduksi dalam jumlah yang signifikan. Sesederhana itu!

Arus migrasi yang dimaksud kini tengah melanda kawasan negara-negara maju di Eropa Barat. Migran terutama dari kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara yang mayoritas Muslim, tapi juga dari kawasan Eropa Timur yang relatif miskin secara ekonomi. Sayangnya, Eropa Barat melihat arus migrasi ini lebih sebagai sumber masalah, khususnya atas nama keamanan dan ketahanan identitas nasional yang memicu hidup-suburnya ideologi nasionalise sempit dan ekslusif. Mungkin dengan sedikit kekecualian termasuk Kanselir Jerman dan PM Kanada, para petinggi “Barat” enggan melihat arus imigrasi ini sebagai “rahmat tersembunyi” yang dapat mengatasi secara efektif dan efisien masalah kependudukan mereka.

Bagi Eropa masalah ini serius sebagaimana diingatkan Tariq Ramadan:

In its haste to bolster nationalism, in its obsession with security, Europe is losing its soul.

Every country in Europe needs immigrants for their economic survival.

Wallhualam….@

 

 

 

← Back

Thank you for your response. ✨

Wallahualam… @

Beberapa Tema Kependudukan

Isu kependudukan mengadung banyak tema: data, besaran (size), struktur umur-jenis kelamin, pertumbuhan, sebaran geografis, kaitannya dengan isu-isu masyarakat (population and society), hubungannya dengan isu-isu pembangunan (population and development), penduduk dan lingkungan (planet), dan sebagainya.

Kumpulan tulisan ini mencakup sebagian kecil dari tema-tema ini yang masing-masing disajikan dalam bentuk tulisan ringkas-padat dan (harapannya) mudah dibaca. Data yang yang digunakan bukan yang terkini tetapi diharapkan masih tetap layak-baca. 

Sensus Penduduk 2010 (SP2010): Beberapa Pelajaran

  1. Konsep Penduduk
  2. Jurnal SP2010
  3. SP2010: Proyek Ambisius
  4. Besaran Penduduk
  5. Struktur Umur-Jenis Kelamin

Analisis

  1. Ledakan Penduduk?
  2. Derajat Kesehatan menurut Data Sensus
  3. Cohort-Period Fertility
  4. Fertility in West Java (MA-Thesis)

Topik Khusus:

  1. Populasi Muslim Global: Estimasi 2017
  2. Populasi Muslim Global: Sebaran Geografis
  3. Profil Kependudukan Timur Leste

Sumber Gambar: Google

 

← Back

Thank you for your response. ✨