Labour Underutilization: Concept and Measurement (1/3)

Section 1: Unemployment and Labour Underutilization

According to Sakernas 2018 or the 2018 Indonesia’s Labor Force Survey, the estimated total of the working age population (WAP) of Indonesia (2018 ILFS) is around 194.8 million. Out of the total, 131 million are classified as labor force (LF) and seven million are the unemployed. The unemployment rate is then about 5.3%.

While many might view the unemployment rate is comparatively low, it is basically sensible given these two facts:

    • Around two-thirds of Indonesia’s employment are engaging in the informal sector, and
    • There are no social security systems applied for unemployment in this country.

In addition, given the big population of Indonesia, even such a low unemployment rate equivalent with 1.2 total population of Singapore. For further discussion on this see THIS.

Perhaps only a few (if any) who disagree on the importance of the statistics of the unemployment rate as is a leading indicator for labour market. Likewise, perhaps only a few who disagree with the notion that the unemployment rate alone already reflects the situation of the labour market appropriately.

Many believe that changes in the unemployment rate is an insensitive indicator to track the real situation in the labor market. The economic crisis, for example, this indicator does not provide a clear signal to policymakers to anticipate. In the case of the 1997 Indonesian crisis, as another example, “a puzzle” was even found: during the Mid 1997 period (before the crisis) and the end of 1998 (when peak of the crisis ended): the number of employment increased by about 1.5% and the number of unemployment decreased by 12.3% [1].

The question would be then what other statistical measures– beside unemployment rate– that can be used to reflect and monitor the dynamics of the labour market in clearer, more realistic, and more sensitive way. The 19th International Conference of Labour Statistician in 2013 (ICLS-19) accentuates such an issue and promote pose the concept of “labour underutilization” (LU).

ICLS-19 (Par. 40) proposes this concept that includes these three elements; namely, unemployment, time-related underemployment (TRU),  and potential labour force (PLF). Here are the definitions of them.

    1. Unemployment = (not in employment) AND ((seeking work AND available for work));
    2. TRU = (in employment) & ((worked less than a normal working hour) & (seeking and available for more job)).
    3. PLF (Pars. 51-55):
      • (not in employment) & ((seek empolyment) & (were not :currently available”)); i.e., unavailable job seekers, OR
      • (not in employment) & ((not “seek employument”) & (“currently available”)); i,e., available potential jobseekers.

These measures are

the basis to produce headline indicators for labour market monitoring. For more comprehensive assessment they can be used with other indicators relating to the labour market, …. in particular skill-related inadequate employment and income-related inadequate employment.. ” (Par. 41)

It is worth noting that while the first component mentioned above belongs to labour force, the third belongs to “outside labour force” as generally understood. A reference for ICLS-19 can be accessed HERE.

Graph 1 provides a schematic presentation of the components of LU as just mentioned. The graph shows among others that unemployment is only a fraction of a much larger LU category.

Graph 1: Composition of working age population

[1] Puguh Irawan and Uzair Suhaimi (1998:11) in Crisis, Poverty, and Human Development in Indonesia, BPS-UNDP.

[Proceed to Section 2: Data Availability]

Profil Ketenagakerjaan Indonesia Berdasarkan Survei Terkini

 Sumber Gambar: Google

 

Tulisan ini mengkaji secara singkat profil ketenagakerjaan Indonesia berdasarkan hasil survei terakhir yaitu Survei Angkatan Kerja 2018 (Sakernas 2018). Bagi Indonesia survei ini merupakan sumber statistik resmi (official statistics) dalam bidang ketenagakerjaan. Fokus kajian adalah komposisi penduduk usia kerja (PUK) dan salah satu komponennya yang utama yaitu pengangguran. Untuk memperoleh gambaran mengenai perkembangan antar waktu, Sakernas tahun-tahun sebelumnya juga digunakan.

Penduduk Usia Kerja

Profil ketenagakerjaan Indonesia dapat digambarkan secara singkat sebagai “serba besar”. Sebagai ilustrasi, penduduk usia kerja (PUK) menurut Sakernas 2018 berjumlah sekitar 194,8 juta jiwa. Besarnya angka ini sebenarnya wajar karena dengan total penduduk sekitar 268 juta jiwa Indonesia menempati urutan keempat negara terbesar setelah China (1.39 milyar), India (1.36 juta), Amerika Serikat (327 juta). Besarnya angka PUK Indonesia itu kira-kira setara dengan tiga kali angka keseluruhan total penduduk lima negara jiran terdekat yaitu Timor Leste, Australia, Singapura, Malaysia, Brunei[1].

PUK Indonesia == tiga kali angka keseluruhan total penduduk Timor Leste, Australia, Singapura, Malaysia, dan  Brunei

PUK dapat dibagi habis ke dalam tiga komponen utamanya yaitu “bekerja” (B), “penganggur” (P) dan “bukan angkatan kerja” (BAK). Masing-masing komponen ini eksklusif dalam arti tidak saling beririsan sehingga PUK = B + P + BAK. Istilah Angkatan Kerja (AK) merujuk pada gabungan B dan P.

Dalam persamaan ini diberlakukan aturan prioritas: B terhadap komponen lainnya dan AK terhadap BAK. Dengan aturan ini ada kepastian mengategorikan status ketenagakerjaan setiap responden survei.

Berapa besar B dan P? Sakernas 2018 menujukan angka total masing-masing lumayan besar: yaitu 124 juta dan 7 juta. Dengan demikian AK berjumlah sekitar 131 juta. Dari angka-angka ini dapat dihitung dua indikator ketenagakerjaan yaitu “angka penganggur” (AP) dan “rasio tenaga kerja/penduduk” (RTP):

    • AP = (P/AK)*100 = (7/131)*100 = 5.3%
    • RTP = (B/PUK)*100 = (124 /194.8) *100= 64%.

Sebaran umur dua indikator ini dapat dilihat pada Tabel 1. Pada tabel ini angka penganggur dapat diperoleh dengan mengurangi angka 100 dengan angka-angka pada kolom “%Bekerja/AK”.

Penganggur

Seperti terlihat dalam Tabel 1, angka penganggur di Indonesia adalah 5.3%, suatu angka tergolong kecil. Yang perlu dicatat, angka mutlak dari angka persentase yang kecil masih jutaan, 7.0 juta jiwa. Angka ini setara dengan 1.2 total penduduk Singapura[2].

Total penganggur Indonesia== 1.2 total penduduk Singapura.

Relatif kecilnya angka penganggur itu “menyembunyikan” permasalahan yang lebih struktural: angka penganggur yang didominasi oleh penduduk usia muda dan kelompok terdidik.

Sumber: INI

Tingginya angka penganngur untuk kelompok usia muda dapat dicermati pada Tabel 1. Perkembangannya antar tahun dapat dilihat pada Gambar 1.

Sumber: INI

Catatan: 2011-2013 hasil backast menggunakan penimbang perbaikan berdasarkan angka proyeksi penduduk.

Tabel 2 menunjukan relatif tingginya angka penganggur bagi kelompok terdidik (tamatan SLTA+). Menurut tabel itu risiko penganggur 2.6 kali lebih tinggi bagi kelompok terdidik dibandingkan dengan kelompok tak-terdidik.

Risiko pengaggur bagi penduduk terdidik == 2.6 kali risiko bagi yang non-terdidik.

Tingginya angka prevalensi penganggur bagi kelompok terdidik tercermin pada Gambar 2. Pada tahun 2018 terlihat, misalnya, dari 100 orang penganggur, 66-67 di anataranya terdidik. Gambatr itu juga mencerminkan bahwa tinginya angka itu bukan hal baru dan kecenderungannya memburuk.

Sumber/Catatan: Sama dengan Gambar 1.

Sebagai catatan, semua istilah, aturan, dan rumus penghitungan yang dikemukakan di atas mengacu pada standar global dalam bidang ketenagakerjaan. Standar ini tercantum dalam resolusi International Conference Labour Statistician yang ke-13 (1982) atau ICLS-13. Belakangan disadari adanya sejumlah permasalahan konseptual pada reolusi ICLS-13 ini. Permasalahan ini dicoba diatasi melalui resolusi ICLS-19 (2013) [3].

BPS merespons aspirasi ICLS-19 ini sejak 2016 sekalipun  sejauh ini baru pada tahapan penyempurnaan kuesioner. Upaya ini perlu diapresiasi dan didukung oleh pemakai data Sakernas. Alasannya, Sakernas berbasis ICLS-19 dapat diharapkan menghasilkan sejumlah headline indicators yang lebih lengkap untuk memotret profil, lebih cermat dalam mengukur besaran, serta lebih peka dan realistis dalam memantau dinamika ketenagakerjaan di Indonesia dalam terang standar global.

Semoga!

[1] Angka penduduk diambil dari SINI.

[2]  Lihat catatan kaki-1.

[3] Rujukan mengenai ICLS-19 dapat diakses di SINI.

19 Selected Tables from the ILFS

If you are interested in employment-related issues in Indonesia, this post is the right one for you.

 

Sakernas, or Indonesia Labour Force Survey (ILFS), provides regularly a number of tables concerning labour statistics of Indonesia. Some of the tables (in Excel) are published regularly HERE.

The 19 tables found that link is presented at the national level, disaggregated by age groups, gender, type of residence, and educational level. In some cases, time series data are available there.

HERE is the list of the tables.

 

Source: Google

International Conference of Labour Statisticians (ICLS): A Brief Note

Sumber gambar: Google

 

(i) Function and Participants of ICLS:

  • Global standard-setting mechanism in labour statistics
  • ILO hosts & acts as Secretariat
  • Meets every 5 years (since 1923)
  • Tripartite structure: Governments (NSO, MoL), Employers, and Workers representatives
  • Observers: International and regional organizations, NGOs

 

(ii) The objective of ICLS:

Main objectives of ICLS statistical standards

  • Provide guidance to countries in setting their national labour statistics programmes
  • Promote coherence in concepts & methods across sources & topics / areas
  • Promote international comparability, and
  • Set priorities for future work

 

(iii) The most recent ICLS:

The most recent ICLS (the 19th) took place in 2013. It produces, among others, “Resolution 1: Resolution concerning statistics of work, employment and labour underutilization’ that contains 97 Paragraphs.

The complete version of the resolution can be accessed Here; some excerpts, Here.

 

 

Beberapa Isu Ketenagakerjaan Indonesia

Jika  Anda tertarik dengan berbagai isu ketenagakerjaan Indonesia, mulai dari isu  terkait statistik ketenagakerjaan secara umum sampai PSK anak, maka Anda tengah mengaksesnya. Berikut adalah 13 tulisan terkait dengan isu-isu yang dimaksud yang sebagian tulisan sudah “fosil” (berumur) dan “jadul” (datanya “ketinggalam zaman”). Dengan dua catatan ini masing-masing tulisan ini diharapkan masih tetap layak-baca.

Daftar Isi:

  1. Komposisi Penduduk Usia Kerja 

  2. Tren Ketenagakerjaaan

  3. Mengukur Angka Penganggur

  4. Penduduk yang Tidak Bekerja Sama-sekali

  5. Pertumbuhan Berkualitas

  6. MDGs dan Ketengakerjaan

  7. Pekerja Layak

  8. Pekerja Domestik di Indonesia

  9. Estimasi Pekerja Rumah Tangga

  10. Pekerja Anak: Hand-Out Seminar

  11. Pekerja Anak VS Anak Pekerja

  12. Pekerja Anak di Pertambangan Timah

  13. Estimasi PSK Anak

 

 

← Back

Thank you for your response. ✨

PSK Anak