Tidak perlu berpayah-payah menggali teori psikologi untuk memahami satu prinsip sederhana: kebahagiaan yang sejati bukanlah harta yang bisa kita kunci dalam peti, melainkan cahaya yang justru makin terang bila dibagikan. Ia hanya bermakna ketika menjadi ruang bersama.
Tidak perlu menunggu wejangan dari seorang ajengan di pesantren untuk menyadari bahwa dalam setiap harta yang kita kumpulkan, ada napas yang turut menghidupkannya—napas mereka yang terpinggirkan. Kekayaan bukanlah pulau terpencil; ia adalah sungai yang seharusnya mengaliri sawah-sawah yang tandus.
Tidak perlu penasihat keamanan dengan peta ancaman dan sistem pengawasan canggih untuk tahu bahwa keamanan paling hakiki dibangun bukan dari pagar berduri, melik dari secangkir kopi yang kita tawarkan pada tetangga. Mereka adalah mata dan telinga yang paling jeli, pelindung yang paling tulus, karena mereka menjaga bukan hanya properti, tetapi rumah—tempat hidup bersama.
Tidak perlu berguru pada konsultan ekonomi dengan spreadsheet rumit untuk sampai pada kesimpulan yang gamblang: perusahaan yang sehat bukanlah mesin yang menggerus manusia, melainkan organisme hidup di mana setiap sel—dari pucuk pimpinan hingga akar karyawan—mendapat nutrisi yang adil. Hak yang terpenuhi bukanlah beban biaya, melainkan benih produktivitas dan loyalitas.
Tidak perlu mendengar analisis dari penasihat politik untuk mengerti bahwa stabilitas bukanlah kesunyian yang dipaksakan. Stabilitas sejati adalah harmoni dari banyak suara, termasuk—dan terutama—mereka yang dari pinggir. Kemampuan mendengarkan keluh yang tertahan adalah fondasi paling kokoh dari kedamaian yang abadi.
Untuk semua kebenaran mendasar ini, kita tak memerlukan gelar, wejangan, atau jasa konsultan. Semua tersedia bagi yang mau membuka mata hati.
Hanya satu yang sungguh-sungguh kita perlukan: Einfühlung.
Sebuah kata dalam bahasa Jerman yang lebih dalam sekadar “simpati” atau “empati” biasa. Ia adalah kemampuan untuk memahami atau merasakan apa yang dialami orang lain dari sudut pandang batin mereka sendiri; kapasitas untuk sepenuhnya menempatkan diri dalam posisi orang lain. Bukan hanya mengerti dari jauh, tapi hidup sejenak dalam kulit mereka, melihat dengan mata mereka, dan merasa dengan jantung mereka.
Dengan Einfühlung, kebahagiaan menjadi visi bersama, kekayaan menjadi tanggung jawab moral, tetangga menjadi keluarga, perusahaan menjadi komunitas, dan politik menjadi pelayanan yang penuh rasa. Ia adalah kunci—satu-satunya yang kita butuhkan—untuk membuka semua pintu pengertian dan membangun dunia yang bukan hanya efisien, tetapi juga berperasaan.
Category: Jurnal Harian
Einfühlung
Tidak perlu belajar psikologi untuk menyadari bahwa
kebahagiaan sejati hanya mungkin diraih dengan cara berbagi.
Tidak perlu wejangan ajengan untuk mengetahui bahwa
dalam kekayaan ada hak-hak kaum miskin.
Tidak perlu penasihat keamanan untuk mengetahui bahwa
tetangga adalah satpam yang paling dapat diandalkan.
Tidak perlu belajar konsultan ekonomi untuk menyimpulkan bahwa
kesehatan perusahaan menghendaki pemenuhan hak-hak karyawan.
Tidak perlu penasihat politik untuk mengetahui bahwa
stabilitas keamanan mensyaratkan kemampuan mendengarkan suara-suara kaum terpinggirkan.
Untuk semua itu tidak perlu belajar, wejangan, konsultan, penasihat.
Satu yang perlu, Einfühlung:
“the capacity to understand or feel what another person is experiencing from within their frame of reference, that is, the capacity to place oneself in another’s position“
Normandia 75 Tahun Lalu: Suatu Refleksi
75 tahun lalu Negara Indonesia masih dalam rahim ibu, Bangsa Indonesia. Sebagai bangsa Indonesia sudah eksis yang keberadaannya ditegaskan melalui Sumpah Pemuda 1928. Jadi faktanya, Indonesia adalah Negara-Bangsa: ada bangsa dulu, baru dibentuk negara. Tidak banyak negara-bangsa dalam pengertian ini, negara yang menurut bangsa ini eksis karena ‘Rahmat Tuhan…”.
75 tahun lalu, tepatnya 6 Juni 1944, terjadi peristiwa yang menentukan sejarah dan peta politik dunia masa kini. Peristiwa itu adalah pendaratan laut pasukan Kekuatan Sekutu di Normandia (Normandy) [1] untuk membebaskan Prancis dari pendudukan Nazi Jerman yang mengomandoi Kekuatan Poros. Peristiwa ini pada waktunya diikuti oleh pembebasan keseluruhan Eropa, mengakhiri Perang Dunia II, dan pembebasan negara-negara jajahan .
Pendaratan laut yang bersejarah itu adalah terbesar dalam sejarah manusia. Ia melibatkan hampir 5,000 kapal pendarat dan penyerang, 280 kapal pengawal, 277 kapal penyapu ranjau. Tentara yang mendarat: 160,000 pada hari pertama dan 875,000 pada akhir Juni. Korban: 1,000 pihak Poros dan paling tidak 10,000 pihak Sekutu.
Sumber: INI
Yang penting bagi kita adalah menarik pelajaran dari peristiwa terkait-sejarah itu. Pelajaran itu antara lain:
- Kita hidup dalam dunia-bawah-sini yang tidak akan pernah sempurna. Perang Dunia– seperti halnya Perang Salib yang terjadi sekitar satu milenium sebelumnya– menunjukkan bahwa ras manusia bisa dapat sangat konyol.
- Kita memiliki kapasitas untuk menjadi sangat biadab. Ini ditunjukkan antara lain oleh Tragedi Holocaust 1941-1945 menelan kobran sekitar 6 juta penduduk Yahudi atau 2/3 total populasi mereka di Eropa.
- Kita memiliki heroisme luar biasa serta kapasitas untuk berkorban untuk sesuatu nilai yang diyakini, antara lain nilai kemerdekaan. Ini ditunjukkan oleh jutaan martir dalam Perang Salib, Perang Dunia dan Perang Kemerdekaan.
Memori kolektif Anak Adam dalam dua milenium terakhir dipenuhi– sadar atau di-bawah-sadar– oleh kenangan dan persepsi mengenai tiga peristiwa itu: Perang Salib, Perang Dunia, dan Holocaust. Kenangan ini mengajarkan bahwa kita suka menumpahkan darah (seperti ramalan Malaikat), ingin menang sendiri, berbakat sangat-konyol dan sangat-biadab. Itulah pelajarannya.
Apakah ancaman itu sudah berakhir? Jawabannya meragukan. Kenapa? Karena seperti seorang bijak (Schuon, 2006:3, Gnosis, Divine Wisdom) ungkapkan, Zaman Now adalah zaman ketika:
(1) Religions are separated from each other by barriers of mutual incomprehension…, and
(2)… the interpenetration of civilization gives rise to many problems– not new, it is true, but singularly: “timely” and “urgent”–
Sumber Gambar: Google
Terapinya? Salah satunya mungkin tarbiyyah tazkiyatun nafs seperti shaum itu lho!. Wallahualam.
[1] Normandia adalah bagian ujang-barat-utara wilayah Prancis dengan luas sekitar 12,000 km2 dan populasi sekitar 5% dari total populasi negara itu.
Contact: uzairsuhaimi@gmail.com
Lebaran: Estimasi Populasi yang Merayakan

Sumber Gambar: Google
Umat Muslim tengah menyongsong lebaran, suatu momen yang layak mereka rayakan setelah menuntaskan puasa selama sebulan penuh. Pertanyaannya: (1) Apakah Umat Non-Muslim berhak merayakan? (2) Apakah “bayi” termasuk yang merayakan? dan (3) Apakah definisi merayakan? Tanpa definisi mustahil menghitung populasi. Tetapi memperkirakannya, atau menggunakan proksi indikator, adalah mungkin. Dengan asumsi tentunya. Tulisan ini mengasumsikan L=M di mana
L: perkiraan populasi yang merayakan lebaran, dan
M: perkiraan populasi Muslim
Asumsi ini akan menghasilkan perkiraan yang underestimate jika jawaban terhadap pertanyaan (1) positif; artinya, Non-Muslim berhak merayakan lebaran. Tetapi hal ini akan di-compensate jika jawaban terhadap pertanyaan (2) negatif; artinya, bayi dikeluarkan dalam perhitungan. Jadi, asumsinya agaknya lumayan masuk akal.
Dengan asumsi ini maka L atau perkiraan total populasi yang merayakan secara global sekitar 1.8 milyar jiwa (Untuk sumber lihat INI). Di mana saja mereka tinggal? Tersebar di lima benua tetapi sekitar 1.4 milyar atau 77% dari mereka tinggal di 15 “negara” Muslim: Indonesia, Pakistan, India, Bangladesh, Nigeria, Mesir, Iran, Turki, Aljazair, Sudan Irak, Maroko, Ethiopia, Afganistan dan Arab Saudi. Dalam konteks ini ada empat catatan yang layak dikemukakan:
-
- Daftar ini diurutkan dari terbesar dan menujukan Indonesia “merajai” angkanya sementara Arab Saudi paling kecil.
- India termasuk dalam daftar karena definisi “negara” Muslim dalam tulisan ini adalah besar populasi Muslim.
- Sekalipun secara proporsional Muslim di India hanya mencakup 14.2% dari total penduduknya, jumlahnya pada 2019 diperkirakan mencapai 1889 juta.
- Dengan populasi sekitar 1.33 milyar dan pola pertumbuhan penduduknya maka India diperkirakan akan menggeser posisi Indonesia pada tahun 2050. Selamat India!
Tabel 1 merinci total penduduk dan populasi muslim di 15 negara yang dimaksud.
Sumber: INI.
Catatan: (*) Estimasi penduduk Muslim dilaporkan dalam bentuk interval dan yang dsajikan dalam tabel ini merupakan nilai tengahnya.


