Doa Ibrahim yang Mengubah Dunia dan Jawabannya yang Lebih Dahsyat Lagi

Pernah baca doa Nabi Ibrahim di QS Al-Baqarah:126-129? Urutannya jenius:

1. “Ya Allah, jadikan negeri ini AMAN & MAKMUR” (Sandang-pangan dulu!)
2. “Berikan keimanan pada penduduknya” (Setelah kebutuhan dasar terpenuhi)
3. “Utuslah Rasul dari kalangan mereka” (Untuk mengajar & menyucikan)

Lihat? Kesejahteraan umum dulu, baru kesalehan pribadi. Ini bukan teori—Wali Songo buktikan di Jawa: masuk lewat budaya (wayang, seni) dan solusi kehidupan, baru ajarkan tauhid.

Tapi ini yang lebih bombastis: Doa itu dijawab Allah dengan ledakan pengetahuan!

QS 2:151 menjawab: Rasulullah ﷺ diutus bukan cuma bawa hukum, tapi “mengajarkan apa yang BELUM KALIAN KETAHUI” (wa yu’allimukum ma lam takunu ta’lamun).

Ini kontrak ilahi: Ikuti Rasul, Allah janjikan pengetahuan baru yang tak terbayangkan.

SEJARAH YANG DISEMBUNYIKAN: SAINS ADALAH IBADAH

Para sejarawan Barat sering “lupa” ceritakan ini: Zaman Keemasan Islam (8-14 M) adalah revolusi sains pertama dunia.

Mereka pikir: Yunani Kuno → “Abad Kegelapan” → Renaisans Eropa.
FAKTA: Ada mata rantai hilang bernama ISLAM yang bukan sekadar “jaga warisan Yunani”, tapi meledakkan inovasi.

Contoh konkret: Ibnu al-Haitsam (Alhazen).
Dari Basrah (965 M). Frustasi melihat penyakit mata merajalela di gurun Arab.
Dia eksperimen, ukur, catat — bukan percaya teori Yunani buta.
Hasilnya? Kitab al-Manazir — buku yang gulingkan 1.500 tahun teori penglihatan keliru, jadi fondasi optik modern & prinsip kamera!

Motivasinya? Mengatasi penderitaan manusia.
Baginya: mencari ilmu = ibadah = memahami ayat Allah di alam.

Ini baru SATU nama. Ada Al-Khawarizmi (Aljabar, Algoritma), Ibnu Sina (kedokteran), Al-Jazari (robotika awal) — semua produk semangat ayat “mengajarkan yang belum diketahui”.


PROVOKASI INTELEKTUAL: MENGAPA KITA DI SINI SEKARANG?

Pertanyaan menggelitik: Jika umat Islam dulu bisa jadi pelopor sains karena Al-Qur’an, mengapa sekarang justru tertinggal?

Jawabnya mungkin di urutan doa Ibrahim yang kita BALIK:

Kita sering fokus pada:

1. Kesalehan ritual individu
2. Peneguhan identitas kelompok
3. …lupa membangun peradaban yang aman, makmur, dan berpengetahuan

Kita ingin “khilafah” tapi lupa bahwa khilafah sejati dimulai dari membangun jalan, rumah sakit, sekolah, dan laboratorium yang maju — seperti yang dilakukan Umar bin Khattab.

TANTANGAN UNTUK KITA:

Allah sudah beri cetak biru (doa Ibrahim) dan kontrak janji (QS 2:151). Warisan saintis Muslim sudah buktikan: Islam kompatibel dengan puncak peradaban.

Sekarang, generasi kita yang harus menjawab:

· Apa “yang belum diketahui” yang akan kita temukan?
· Ilmu apa yang akan kita kontribusikan untuk umat manusia?
· Bagaimana kita membangun kemakmuran yang menjadi fondasi kesalehan kolektif?

Ini bukan soal nostalgia. Ini soal meneruskan estafet yang sempat terputus.
Karena menjadi rahmatan lil ‘alamin di abad 21 berarti menjawab tantangan zaman dengan ilmu, inovasi, dan kepemimpinan yang berkeadilan.

Allah sudah penuhi janji-Nya. Sekarang, giliran kita memenuhi panggilan sebagai khalifah di bumi.

Dari doa Ibrahim, lahir peradaban. Dari semangat “belum diketahui”, lahir ilmuwan Muslim. Sekarang, giliran kita menulis bab baru.

Siap mengubah pola pikir?

CATATAN AKHIR TAHUN:                 Budaya Massa: Eksistensi Semu dan Panggilan Fitrah yang Terlupakan

:

Hidup mengalir begitu saja. Kita bangun, bekerja, mengonsumsi hiburan, berinteraksi di media sosial, tidur, lalu mengulanginya lagi esok hari. Tanpa kita sadari, aliran rutinitas ini seringkali menjadi arus deras yang menghanyutkan kesadaran terdalam kita. Inilah realitas yang dibentuk oleh Budaya Massa (BM): sebuah kehidupan yang dijalani tanpa dipikirkan secara mendalam, di mana eksistensi individu terancam kehilangan keotentikannya.

BM tidak sekadar tentang produk populer atau tren. Ia adalah mesin raksasa penyeragaman perasaan, hasrat, dan bahkan suara hati. Lihatlah fenomena hooliganisme di stadion atau histeria kolektif di konser mahal. Di sana, individu melebur, bersorak serempak, marah bersama, dan menangis bersama. Ia menemukan “identitas semu” yang menggoda: rasa menjadi bagian dari sesuatu yang besar, heroisme semu yang terasa membebaskan—“aku adalah bagian dari semua yang lain.” Namun, ini adalah kebebasan palsu. Yang terjadi sebenarnya adalah demoralisasi halus: kita melepaskan pertimbangan moral personal demi euforia kolektif. Suara hati yang unik dan kritis ditenggelamkan oleh desibel kerumunan.

Psikologi massa dalam BM menawarkan pelarian dari kecemasan eksistensial. Ia membuat kita alergi terhadap pertanyaan-pertanyaan ontologis mendasar: “Siapa aku?” “Untuk apa aku hidup?” “Apa tanggung jawabku?” Pertanyaan-unsur ini dianggap terlalu berat, terlalu serius, dan tidak “asyik”. BM menyodorkan jawaban instan: “Kamu adalah penggemar ini, konsumen itu, bagian dari grup ini.” Proses keterasingan pun dimulai: kita terasing dari diri sendiri (fitrah), dari sesama (yang hanya dilihat sebagai rival atau target eksploitasi), dan pada akhirnya, dari Sang Pencipta.

Di sinilah medan juang kita yang sebenarnya. Buku yang kita tulis bukan sekadar kritik, tetapi penawaran jalan pulang. Medan juangnya adalah scaling up suara hati otentik. Bagaimana caranya?

Pertama, membangunkan kesadaran fitrah. Ini diawali dengan mengingatkan kembali pada “Perjanjian Hari Alastu” (bukankah Aku ini Tuhanmu?), sebuah memori primordial dalam ruh setiap manusia tentang pengakuan ketuhanan dan kehambaan. Kesadaran ini adalah fondasi. Dari sini, lahir dua kesadaran operasional: “Kehambaan” (‘ubudiyyah) dan “Kekhalifahan” (istikhlaf). Sebagai ‘abd (hamba), kita tunduk hanya pada Allah, bukan pada tren, opini massal, atau idola budaya pop. Sebagai khalifah, kita memikul tanggung jawab aktif merawat, memperbaiki, dan memberdayakan kehidupan di muka bumi.

Kedua, mengkondisikan realisasi harmoni. Kesadaran fitrah itu harus diwujudkan dalam dua hubungan yang selaras: “Hablum minallah” (hubungan vertikal dengan Allah) dan “Hablum minannas” (hubungan horizontal dengan manusia). BM sering merusak keduanya: hubungan dengan Tuhan direduksi menjadi ritual tanpa makna, hubungan dengan sesama diracuni oleh kompetisi, kedengkian, dan isolasi digital.

Di silah, konsep “menebar salam” hadir bukan sekadar sebagai ucapan, tetapi sebagai filosofi praksis. Salam (keselamatan, kedamaian) adalah trigger untuk mengingatkan kembali pada kesadaran fitrah dalam interaksi sehari-hari. Setiap kali kita menebar salam, kita sedang:

  1. Mengakui keselamatan hanya berasal dari Allah.
  2. Menegaskan komitmen untuk tidak mengganggu keselamatan orang lain.
  3. Membangun jembatan bagi harmoni sosial (hablum minannas) yang bersumber dari kesadaran ketuhanan (hablum minallah).

Dengan demikian, melawan efek mematikan Budaya Massa bukan dengan mengasingkan diri, tetapi dengan menginfeksi ruang publik dengan kesadaran otentik. Kita scale up suara hati fitri itu dari level individu, ke keluarga, komunitas, hingga masyarakat. Kita hadir di pasar, di media sosial, di tempat kerja, dengan identitas utama sebagai hamba dan khalifah yang aktif menebar salam (kedamaian substantif).

Tujuan akhirnya adalah memutus rantai keterasingan. Dari eksistensi semu yang diarahkan BM, kita kembali kepada eksistensi otentik yang diingatkan oleh fitrah: manusia yang merdeka karena hanya tunduk pada Allah, bertanggung jawab atas bumi, dan menjadi sumber rahmat bagi semesta melalui setiap salam yang diwujudkan dalam tindakan.

Budaya Massa menawarkan pelarian ke dalam keramaian yang asing. Fitrah memanggil kita pulang ke diri sendiri, untuk kemudian hadir di tengah manusia sebagai pembawa kedamaian yang otentik. Pilihan ada di kita: tenggelam dalam arus, atau membangkitkan arus penyeimbang dari sumber yang paling dalam dalam diri.

LAGI KACAU

Kita Tau Dunia Lagi Kacau, Ini Akar Masalahnya (Bukan Cuma Politik!)

Krisis iklim, kesenjangan sosial, perang—kita sering mikir solusinya cuma lewat teknologi atau kebijakan. Tapi menurut Islam, semua chaos ini ternyata punya satu akar yang sama: penyakit spiritual.

Penyakitnya dirangkum dalam “Segitiga Keruntuhan Spiritual”:

  1. Al-Hiras (Keserakahan Kompetitif): Gaya hidup “balikin story lu, gue unggah!”. FOMO yang bikin kita eksploitasi bumi dan saingin terus. QS. At-Takatsur: 1-2 udah ngingetin soal ini.
  2. Taghallub al-Hawā (Nafsu yang Jadi Raja): Pas keinginan duniawi jadi komandan, akal sehat & hati nurani kita dicuekin. Ini yang psikologi bilang the dictatorship of desires. QS. Yusuf: 53 ngingetin kalo nafsu emang jagonya suruh jahat.
  3. Al-Fasād (Kerusakan Sistemik): Ini hasil akhirnya. Yang parahnya, para perusak malah ngaku diri mereka “reformis”. Mengeksploitasi alam? “Ini buat pembangunan!”. Nindas yang lemah? “Ini buat stabilitas!”. Mereka udah ilang rasa realitas (QS. Al-Baqarah: 11-12).

Akibatnya? Krsis Lingkungan dan Krisis Sosial. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Lihat aja Diagram 1 dan Diagram 2.

Trus, ada harapan nggak? PASTI ADA.

Islam punya konsep #Fitrah . Sebelum lahir ke dunia, jiwa kita sudah melekat bahwa Allah itu Tuhan. Artinya, kompas moral buat bedain bener-salah sudah tertanam di dalam diri kita. Cuma aja, sering ketutup debu keserakahan dan kelalaian.

Tugas kita adalah “membersihkan debu” itu. Balik ke jati diri. Nabi Muhammad SAW juga ngasih kita jaminan lewat QS. Az-Zumar: 53: “Janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”

Jadi, solusinya dimulai dari kita. Gerakan pensucian jiwa (tazkiyatun nafs) bukan hanya membuat diri sendiri, tapi untuk mendorong perubahan sistem yang lebih adil dan berkelanjutan. Mari sembuhkan diri kita sendiri untuk menyembuhkan dunia.

Perjanjian Primordial: Implikasi Etis dan Spritual





Istilah perjanjian primordial merujuk pada ikatan suci yang bersifat pra-temporal antara setiap individu—keturunan Adam—dan Penciptanya, sebagaimana diwahyukan dalam Al-Qur’an (7:172). Ikatan ini bersifat abadi, tak tergoyahkan, dan mendasari keberadaan manusia. Namun, sayangnya, umat manusia seringkali menganggap remeh kewajiban spiritual yang mendalam ini, mengabaikan signifikansinya yang abadi.



Pertanyaan utamanya adalah: Apa implikasi etis dan spiritual dari perjanjian primordial ini? Menurut Izutsu, perjanjian ini mengubah keyakinan menjadi perjalanan seumur hidup untuk kembali—sebuah proses transformatif yang ditandai oleh tiga pilar:

  1. Tawba (Pertobatan): Sebuah pengembalian siklis ke keadaan pengakuan primordial awal, di mana jiwa mengarahkan diri kembali pada pertanggungjawaban ilahiah.
  2. Tasdīq (Penegasan): “Verifikasi” eksistensial yang tulus atas perjanjian melalui kesatuan keyakinan batin (hati), kesaksian verbal (ucapan), dan praksis etika (tindakan).
  3. Taqwā (Kesadaran Ketuhanan): Hidup dalam kesadaran abadi akan imperatif etika perjanjian—seperti keadilan, belas kasih, dan integritas moral—sebagai kewajiban suci.

Peringatan tegas Al-Qur’an terhadap pelanggaran perjanjian ini (misalnya, 2:27, 13:20-25) menggambarkan kerusakan moral sebagai pecahnya ikatan primordial manusia dengan Yang Ilahi. Izutsu berargumen bahwa pelanggaran semacam ini mengikis spiritualitas individu maupun etika masyarakat, memutus manusia dari tujuan transendentalnya.

Wallahualam… @


.



  

Perjanjian Primordial: Penafsiran Teologis Izutsu

https://uzairsuhaimi.wordpress.com/Izutsu membingkai perjanjian primordial sebagai **pola dasar kepercayaan**, dengan menyatakan bahwa perjanjian itu:  

– **Menjangkarkan Identitas Manusia**: Perjanjian mendefinisikan hubungan manusia dengan Tuhan sebagai hubungan **ketergantungan ontologis**. Manusia adalah *ʿabīd* (hamba) yang terikat oleh sumpah primordial ini.  

– **Menjelaskan Universalitas Pewahyuan**: Karena semua jiwa mengakui Tuhan, pesan-pesan kenabian (misalnya, melalui Ibraham AS, Musa AS, Muhammad SAW) adalah pengingat (*tadhkira*) akan kebenaran laten ini.  

– **Menyelesaikan Masalah Ketidakpercayaan (*Kufr*)**: *Kufr* (secara harfiah berarti “menutupi”) bukanlah ketidaktahuan tetapi *penyangkalan yang disengaja* atau “melupakan” (*nisyān*) atas perjanjian.  Kemunafikan (*nifāq*) juga berasal dari hubungan yang retak dengan kebenaran mendasar ini.

Wallahualam… @