Renungan Bulan Puasa (1): Mengurus Visa

Alkisah, pada suatu hari ada sekelompok individu dari Negeri S yang datang berbaris mengurus visa masing-masing untuk melancong ke Negeri B. Visa diberikan hanya kepada mereka yang menyetujui dan menandatangani surat perjanjian. Kepada penandatangan perjanjian diberikan informasi dasar mengenai kehidupan di B:

  1. Di sana tidak akan kelaparan karena penguasa S menjaminnya,
  2. Tidak seperti di S di mana makanan melimpah dan lingkungan hidup dengan serba nyaman, di B ada ada sedikit kesulitan mencari makan dan cuacanya bisa tidak nyaman bagi spesies mereka,
  3. Di B mereka akan diberi juklak mengenai bagaimana menempuh perjalanan pulang yang aman dan nyaman, serta peringatan kemungkinan harus melalui dan tinggal di dalam jurang-dalam-sangat-mengerikan,
  4. Di B mereka akan memiliki segala sumberdaya negeri itu dan kemampuan tinggi bahkan untuk menguasai lautan, dan
  5. Di B mereka akan didampingi utusan negeri S yang secara berkala membawa kabar gembira dan peringatan sebagaimana tercantum dalam butir 3 dan 4 di atas.

Surga dan Bumi

Dalam kisah di atas, S merujuk pada Surga, sementara B pada Bumi. S adalah warisan manusia karena leluhur mereka, Nabi Adam AS dan Hawa AS, pernah tinggal di sana. Berbeda dengan kehidupan di S yang serba nyaman karena “dekat” dengan al-Rahman, kehidupan di B menuntut perjuangan hidup yang keras dan tanpa jeda: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. [Surat Al-Balad (90) ayat 4]”

لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ فِى كَبَدٍ

Tetapi cobaan itu diperlukan untuk menghasilkan amal terindah (teks: ahsanu ‘amala):

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, [Surat Al-Mulk (67) ayat 2]

Hari Alastu

Hari ketika perjanjian itu dibuat adalah Hari Alastu. Yang “mengurus visa” datang berbaris walaupun perjanjian dan pertanggungjawaban berlaku secara individual:

Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. Sesungguhnya kamu datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kamu pada kali yang pertama; bahkan kamu mengatakan bahwa Kami sekali-kali tidak akan menetapkan bagi kamu waktu (memenuhi) perjanjian. [Surat Al-Kahfi (18) ayat 48].

Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri. [Surat Maryam (19) ayat 95]

Isi perjanjian hanya satu: pengakuan bahwa Dia SWT adalah tuhan mereka dan satu-satunya:

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu [teks: alastu birabbikum]?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, [Surat Al-A’raf (7) ayat 172]

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَـٰذَا غَـٰفِلِينَ

Hari itu dipersepsikan oleh manusia sudah sangat lama sehingga belum bisa “disebut”; manusia pada tataran fisik  bahkan ada:

Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? [Surat Al-Insan (76) ayat 1]

Tuhan berfirman: “Demikianlah”. Tuhan berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali“. [Surat Maryam (19) ayat 9]

Jaminan Hidup

Sebenarnya manusia di bumi tidak akan pernah kelaparan dalam artian mutlak dan permanen karena ada jaminan dari Dia SWT mengenai rezeki mereka:

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). [Surat Hud (11) ayat 6].

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan Shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. [Surat Ta-Ha (20) ayat 132]

Semua isi bumi diperuntukkan bagi manusia; mereka dibekali kemampuan untuk “menaklukkan” lautan:

Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. [Surat Al-Baqarah (2) ayat 29].

Dan Dialah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan dari padanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. [Surat An-Nahl (16) ayat 14].

Dalam ayat terakhir langit angkasa tidak disebutkan[1] sekalipun dimungkinkan dijelajahi dengan bantuan iptek:

Hai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan (Iptek). [Surat Ar-Rahman (55) ayat 33].

Jalan Pulang

Utusan negeri S dalam kisah di atas adalah para rasul-Nya. Tugas utama mereka adalah mengingatkan manusia mengenai Hari Alastu serta (butir 1), menunjukkan jalan pulang ke S secara aman melalui, serta kabar baik dan peringatan (butir 5) mengenai perjalanan pulang itu [Surat Ta-Ha (20) ayat 123-127]:

Allah berfirman: “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama (Adam AS-Hawa AS), sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.

Dan barang siapa berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.

Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dulunya adalah seorang yang melihat?”

Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan”.

Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.

وَكَذَٰلِكَ نَجْزِى مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِنۢ بِـَٔايَـٰتِ رَبِّهِۦ ۚ وَلَعَذَابُ ٱلْـَٔاخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَىٰٓ

Naudzubillah min dzalik…@

[1] Alasan tidak disebutkan mungkin karena planet di luar bumi bukan habitat manusia secara alami. Dalam konteks ini, menanamkan investasi sumberdaya besar-besaran untuk riset luar angkasa mungkin pemborosan, sejauh manusia dianggap sebagai tujuan akhir pemanfaat iptek. Isunya di sini adalah prinsip proportionality: berapa rasio investasi yang masuk akal untuk riset luar angka dibandingkan yang untuk penyediaan air bersih, misalnya.

← Back

Thank you for your response. ✨

Wahyu Pertama Al-Quran dalam Perspektif Seorang Agnostik

Para ulama sepakat wahyu pertama Al-Quran adalah sebagaimana diabadikan dalam QS (96:1-5). Para ulama juga sepakat proses pewahyuan itu sangat memberatkan bagi Nabi SAW: “Ia (Malaikat Jibril) pun memegangku (Nabi SAW) dan mendekapku dengan erat untuk yang ketiga kalinya hingga aku pun sangat kepayahan”. Dasar pandangan para ulama adalah sejumlah Hadits yang dapat diandalkan termasuk yang diriwayatkan oleh Muslim (No.: 2277) dan Bukhari (No.:6982).

Lanjutan tulisan ini bukan mengenai substansi wahyu pertama, tetapi mengenai bagaimana respons Nabi SAW ketika dan setelah menerimanya; bukan menurut pandangan ulama, tetapi dari perspektif seorang cendekiawan Yahudi yang juga mengaku seorang psikolog dan agnostik. Cendekiawan yang dimaksud adalah Hazelton Lesly.

Sebagai catatan, agnostik adalah orang yang beranggapan tidak ada bukti yang cukup untuk mengakui atau tidak mengakui adanya Tuhan. Menurut Kamus Meriam-Webster mereka adalah yang “berpandangan bahwa setiap realitas tertinggi (seperti Tuhan) tidak diketahui dan mungkin tidak dapat diketahui” (a person who holds the view that any ultimate reality (such as God) is unknown and probably unknowable. “Agama” agnostik bersama ateis tergolong kelompok yang mengaku tidak menganut agama tertentu (unaffiliated) yang menurut PEW Research Center adalah agama terbesar ke-3 setelah Kristen dan Islam. Untuk rujukan lihat antara lain tautan ini: https://uzairsuhaimi.blog/2018/05/27/muslim_pop_challenge.

Bagi Hazelton peristiwa pewahyuan adalah “sesuatu di luar pemahaman manusia, hanya bisa disebut kekaguman yang mengerikan (a terrible awe)” dan ketakutan adalah “satu-satunya respons yang waras, satu-satunya respons manusiawi”. Hal itu dikemukakan Hazelton dalam suatu ceramah umum. Dia agaknya fokus pada sisi manusiawi dari sosok Nabi SAW, sisi yang juga ditegaskan dalam QS (18:110): “Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya manusia biasa seperti kamu, yang telah menerima wahyu)””.

Dalam ceramah yang sama ia mengemukakan pandangannya mengenai bagaimana kira-kira suasana psikologis Nabi SAW ketika turun dari gunung (Goa Hira) setelah menerima wahyu pertama:

…. Muhammad tidak turun dari gunung (Goa Hira) seolah berjalan di udara. Dia tidak berlari sambil berteriak, “Haleluya!” dan “Berkatilah Tuhan!” Dia tidak memancarkan cahaya dan sukacita. Tidak ada paduan suara malaikat, tidak ada musik, tidak ada kegembiraan, tidak ada ekstasi, tidak ada aura emas yang mengelilinginya, tidak ada perasaan mutlak, peran yang ditahbiskan sebelumnya sebagai utusan Allah…

… Muhammad did not come floating off the mountain as though walking on air. He did not run down shouting, “Hallelujah!” and “Bless the Lord!” He did not radiate light and joy. There were no choirs of angels, no music of the spheres, no elation, no ecstasy, no golden aura surrounding him, no sense of an absolute, fore-ordained role as the messenger of God…

Demikian gaya retorika Hazelton. Dia tidak terlalu tertarik dengan apa yang dapat diantisipasi terjadi, tetapi dengan apa yang tidak terjadi sekalipun mungkin diharapkan. Selanjutnya ia menambahkan:

… Dalam kata-katanya sendiri yang dilaporkan, dia pada awalnya yakin bahwa apa yang terjadi tidak mungkin nyata. Paling-paling, pikirnya, itu pasti halusinasi – tipuan mata atau telinga, mungkin, atau pikirannya sendiri bekerja melawannya.

… In his own reported words, he was convinced at first that what had happened couldn’t have been real. At best, he thought, it had to have been a hallucination — a trick of the eye or the ear, perhaps, or his own mind working against him.

Yang layak dicatat, pandangan Hazelton ini sejalan dengan Hadits Bukhari (No.: 6982):

… Beliaupun pulang dalam kondisi gemetar dan bergegas hingga masuk ke rumah Khadijah. Kemudian Nabi berkata kepadanya: Selimuti aku, selimuti aku. Maka Khadijah pun menyelimutinya hingga hilang rasa takutnya. Kemudian Nabi bertanya: ‘wahai Khadijah, apa yang terjadi denganku ini?’ Lalu Nabi menceritakan kejadian yang beliau alami kemudian mengatakan, ‘aku amat khawatir terhadap diriku’. Maka Khadijah mengatakan, ‘sekali-kali janganlah takut! Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Sungguh engkau adalah orang yang menyambung tali silaturahmi, pemikul beban orang lain yang susah, pemberi orang yang miskin, penjamu tamu serta penolong orang yang menegakkan kebenaran….

Wallahualam…@

← Back

Thank you for your response. ✨

Pengetahuan Primordial

Istilah primordial dalam tulisan ini mengacu pada pengetahuan sesuatu sudah pernah dan selalu kita ketahui: sudah pernah, karena kita ketahui sejak zaman azali, era pra-ada kita, atau mungkin sesaat sebelum kita ada; selalu karena pengetahuan itu tidak akan pernah hilang sepenuhnya.

Sudah Lupa

Tetapi kita sudah melupakan zaman itu karena kejadiannya sudah sangat lama. Dalam hal ini Aivanhov menarasikannya secara apik sebagai berikut:

You already know many things, but you do not know that you know. This knowledge comes from a very long time ago, when you still dwelt in the bosom of the Eternal, in light, love and beauty.

Anda sudah tahu banyak hal, tetapi Anda tidak tahu bahwa Anda tahu. Pengetahuan ini berasal dari waktu yang sangat lama, ketika Anda masih berdiam di pangkuan Abadi, dalam cahaya, cinta dan keindahan.

Substansi Pengetahuan

Terkait dengan substansi pengetahuan primordial, Aivanhop menyebut asal-usul ilaihan dan misi kita di bumi ini:

There you learned everything about your divine origin, your predestination, the work you would have to do on earth to give expression to all the powers of your soul and your spirit.

Di sana Anda mempelajari segala sesuatu tentang asal usul ilahi Anda, takdir Anda, pekerjaan yang harus Anda lakukan di bumi untuk memberikan ekspresi kepada semua kekuatan jiwa dan roh Anda.

Kenapa Lupa

Bagi Aivanhop, alasan kita melupakan pengetahuan primordial adalah bahwa kita terlalu fokus pada pengetahuan yang tidak akan bertahan lama:

True, there are so many interesting things in the world to see, hear, read and so on. But try, all the same, not to focus too much on subjects that cannot help you change your life; apply yourself instead to improving the way you live. For that is the way you will attract true knowledge. Otherwise, what will happen is this: you will spend your time accumulating knowledge by all the means at your disposal – books, radio, cinema, television – but what you take in you will not retain for long.

“Benar, ada begitu banyak hal menarik di dunia untuk dilihat, didengar, dibaca, dan sebagainya. Tetapi cobalah… untuk tidak terlalu fokus pada mata pelajaran yang tidak dapat membantu Anda mengubah hidup Anda; terapkan diri Anda sebagai gantinya untuk meningkatkan cara hidup Anda. Karena itulah cara Anda akan menarik pengetahuan sejati. Kalau tidak, yang akan terjadi adalah ini: Anda akan menghabiskan waktu mengumpulkan pengetahuan dengan segala cara yang Anda inginkan – buku, radio, bioskop, televisi – tetapi apa yang Anda peroleh tidak akan bertahan lama.

Weltanshauung Al-Quran

Pandang-dunia, world view atau tepatnya (secara epistemologi) Weltanshauung (Bahasa Jerman, dengan huruf W kapital) Al-Quran terkait pengetahuan primordial dapat dikatakan khas. Terkait dengan zaman azali ketika pengetahuan primordial itu kita kuasai, misalnya, Al-Quran mengilustrasikan kita ketika bahkan belum punya bahkan telinga (samii’an) dan mata (bashira) (QS (76:1). Terkait dengan substansi pengetahuan primordial, sebagai ilustrasi lain, Al-Quran menyebut pengetahuan mengenai Rabb SWT dan kesaksian bahwa se. iap kita memberikan kesaksian mengenai posisi kehambaan kita di hadapan-Nya (QS 7:172):

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku in Tuhanmu”? Mereka menjawab “Betul (engkau Tuhan kami), kami bersasi”. (Kami lakukan yang demikian itu agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini”.

Bagaimana mengenai alasan kita melupakan primordial? Al-Quran mengisyaratkan antara lain  ketebalan daki di hati kita karena kedurhakaan (Arab: fujjar) kepada-Nya.

Wallahualam…@

← Back

Thank you for your response. ✨

Pandang-Dunia Jahili dan Qurani

Masyarakat global tengah waswas karena epidemi Coronavirus yang mengglobal, menjangkiti (per tanggal 11 Februari 2020) sebanyak 43,101 jiwa, dan sebanyak 1,107 di antaranya meninggal[1]. Epidemi ini dilaporkan melumpuhkan kegiatan ekonomi tidak hanya di Wuhan-Cina di mana episentrum epidemi terletak, tetapi juga di kawasan Cina lainnya, bahkan dilaporkan mulai menganggu aktivitas ekonomi Dubai–Uni Emirat Arab. Yang terakhir ini menambah waswas banyak pihak karena Dubai merupakan salah satu pusat persinggahan lalu-lintas global. Demikianlah gambaran singkat mengenai kenyataan obyektif situasi-terkait virus corona.

Pertanyanya adalah apa artinya semua itu bagi kita secara subyektif. Ini adalah pertanyaan eksistensialis model Kierkegaard. Jawabannya tergantung pada cara pandang-dunia (world view, Weltanschauung), cara pandang melihat dunia secara keseluruhan. Bagi Kierkegaard semua fenomena alam yang dapat kita amati dan persepsi adalah tanda (Arab: ayat). Sayangnya dia tidak mengelaborasi lebih lanjut tanda apa.

Ada banyak cara pandang-dunia dan dua di antaranya yang utama adalah cara-pandang jahili dan cara-pandang qurani. Tulisan ini membahas secara singkat dua cara-pandang ini.

Pandangan Jahili

Istilah jahili dalam tulisan ini merujuk pada cara-pandang arus-utama Bangsa Arab sebelum kedatangan Islam awal abad ke-7. Ada empat ciri utama cara-pandang ini: (1) Ada ilah (Tuhan) lain selain Allah, (2) Tuhan tidak campur-tangan dalam urusan dunia, (3) Waktu (al-Dahr) menentukan kehidupan dunia, (4) tidak mempercayai keabadian jiwa atau kehidupan akhirat[2]. Semua ciri itu diabadikan secara ringkas dalam QS (45:24):

Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia ini saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa (teks: al-Dhar). Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanya menduga-duga saja.

Pandang-dunia jahili ini sangat suram serta mendorong sikap dan perilaku fatalisme dan kehidupan hedonisme. Yang menarik untuk dicatat, pandangan ini sangat mirip (kalau tidak persis sama) dengan konsep nihilisme dan absurditas hidup sebagaimana dikembangkan oleh para sesepuh eksistensialisme[3]:

The notion of the absurd contains the idea that there is no meaning in the world beyond what meaning we give it. This meaninglessness also encompasses the amorality or “unfairness” of the world. This conceptualization can be highlighted in the way it opposes the traditional Abrahamic religious perspective, which establishes that life’s purpose is about the fulfillment of God’s commandments. Such a purpose is what gives meaning to people’s lives. To live the life of the absurd means rejecting a life that finds or pursues specific meaning for man’s existence since there is nothing to be discovered.

Pertanyaan: Apakah Zaman Now masih banyak penganut atau pemrakarsa cara-pandang jahili atau filsafat nihilis atau absurditas dunia?

Pandangan Qurani

Al-Quran, seperti halnya kitab-kitab berbasis wahyu lainnya (Taurat, Injil, dsb.), pada prinsipnya menegaskan dua ajaran pokok: (1) semua fenomena hidup di dunia-bawah-sini ini (the here-lower World) adalah tanda atau ayat keberadaan-Nya, (2) kehidupan abadi di Dunia-Atas-Sana (upper-hereafter World), dunia di mana semua jiwa akan mempertanggungkan kiprahnya di dunia ini secara adil. Ajaran kedua jelas mendorong kehidupan yang bertanggung jawab. Ajaran pertama mengingatkan bahwa Dia-SWT campur tangan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Al-Quran, meminjam istilah Izutsu, Dia SWT berkomunikasi dengan manusia secara lingustik (melalui wahyu) maupun non-lingustik (melalui fenomena alam). Dengan demikian, bagi mereka yang meyakini Kitab Suci berbasis wahyu, memaknai fenomena alam sebagai ayat, “cara”, “modus” Dia SWT berkomunikasi dengan manusia secara keseluruhan. Fenomena alam yang dimaksud mencakup aneka macam peristiwa alamiah (qurani: sunnatullah), termasuk epidemi Coronavirus, ledakan dahsyat bintang raksasa di suatu galaksi sehingga menimbulkan supernova, dan merekahnya kelopak bunga lily of the valey karena terpapar hangat matahari pagi.

… memaknai fenomena alam sebagai ayat, “cara”, “modus” Dia SWT berkomunikasi dengan manusia secara keseluruhan.

Ayat non-lingustik ini “diturunkan” (istilah qurani: tanzil) oleh-Nya dan manusia dapat memahaminya (qurani: aqala, fahima, dsb.) Kenapa? Karena manusia memiliki organ yang dibutuhkan yaitu hati (qurani: lubb (pl. albab), qalb (fuad)).

Ayat itu dapat berbentuk khabar gembira (qurani: tabasshir) termasuk nikmat dan rahmat atau kabar buruk atau peringatan (qurani: indhar) termasuk azab. Respons manusia dua macam, membenarkan (qurani: tashdiq) atau mendustakan (qurani: takzib). Respons ini menentukan secara kategori apakah manusia tergolong beriman atau kafir.

Terima kasih layak ditujukan pada Izutsu telah membuat sistematika alur pikir Weltanschauung[4] Al-Quran mengenai ayat non-linguistik ini. Sebagian kecil dari sistematika itu disajikan pada Tabel berikut dengan harapan dapat mempermudah bacaan mengenai alur pikir itu.

Tabel: Ayat Non-Lingustik dan Respons Manusia

Divine Part God “send down” the ayat Tanzil
 

 

 

 

 

 

Human Part

Man understands the meaning of ayat aqala, fahima. faqiha, tafkkara, tadzakkara, tawassama, etc
The organ of understanding lubb (pl. albab), qalb (fuad)
The meaning of ayat A: ni’mah, rahmah, etc. (tabasshir)

B: intiqam, ‘iqab. ‘adzab, sakhat, etc (indhar)

The human response (a) tashdiq

(b) takdzib

The immediate consequence I: shukr (A+a)

II: taqwa (B+a)

III. kufr ((A,B)+b)

The final result Iman (I,II),

kufr (III)

Sumber: Diadaptasi dari Izutsu (1964:147).

Sikap Taqwa

Mereka yang memilik cara-pandang qurani tidak menapikan kemungkinan fenomena alam– termasuk tetapi tidak hanya epidemi Coronavirus– sebagai azab (=B) serta membenarkannya (=a) sebagai bentuk capur tangan Dia SWT. Cara pandang ini akan menghasilkan sikap taqwa (=B+a) dalam arti takut akan azab-Nya. Inilah arti dasar taqwa. Orang yang berpandangan ini selain berusaha menghenatikan penyebaran virus lebih lanjut (ini bagian manusia) juga akan menggantungkan harapan akan campur tangan-Nya (ini bagian ilahiah). Mereka akan berharap agar pademi black death–yang menelan korban jiwa 75-200 juta jiwa manusia Eurasia dan Eropa (puncaknya 1347-1351)– tidak terulang dalam sejarah manusia [5] berkat rahmat-Nya.

Mereka tidak membutuhkan bukti logis yang canggih untuk sampai kepada kesimpulan dan sikap itu karena bagi mereka kebutuhan semacam itu berbanding lurus dengan ketidaktahuan (ignorance), bukan pengetahuan (knowledge). Pandangan mereka tercermin dalam ungkapan Schuon (2007:4) yang padat: For the sage every star, every flower, is metaphysically a proof of the Infinite [6]; yakni, Dia SWT. “Rahasia” mereka terletak pada penggunaan hati (heart) sebagai organ pemahaman (lihat Tabel), bukan pikiran (mind) yang ranahnya terbatas pada alam terikat ruang dan waktu dunia-bawah-sini (spatio-temporal realm).

For the sage, every star, every flower, is metaphysically a proof of the Infinite

Wallahualam….@

[1] https://edition.cnn.com/asia/live-news/coronavirus-outbreak-02-11-20-intl-hnk/index.html

[2] Lihat Izutsu (1964), God and Man in Quran, Koeio University.

[3] https://en.wikipedia.org/wiki/Existentialism

[4] Penutur Bahasa Inggris menggunakan istilah ini (dengan hruf awal Kapital) dalam dikursus filsafat kognitif yang serius karena padanannya world view dianggap mengambang (vague) bahkan tidak memadai.

 [5] https://en.wikipedia.org/wiki/Black_Death.

[6]Schuon, F. Spiritual Perspective & Human Facts, World Wisdom.

← Back

Thank you for your response. ✨

Air: Apa Kata Al-Quran?

Kita sebagai makhluk hidup ditakdirkan memiliki ketergantungan terhadap air[1]. Kita butuh air karena 60-70% berat tubuh kita berupa air. Demikian vitalnya fungsi air bagi tubuh sehingga kekurangannya akan memaksa tubuh secara otomatis mengambil sumber cairan lain dalam tubuh yaitu darah. Akibatnya darah mengental dan ini mengganggu fungsi darah mendistribusikan oksigen dan sari makanan ke seluruh bagian tubuh.

Untuk memenuhi kebutuhan air itu maka kita perlu minum. Masalahnya, karena minum merupakan urusan sehari-hari, kita cenderung bersikap tidak peduli terhadap sumber air yang minum kita sehari-hari, suatu sikap yang kurang elok (QS 56: 68-70):

Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkan dari awan atau Kami yang menurunkan? Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, mengapa kamu tidak bersyukur?

Kutipan di atas, dalam bentuk narasi restrospektif, mengilustrasikan gaya khas Al-Quran dalam menjelaskan keberadaan Dia SWT dan ketergantungan kita secara mutlak kepada-Nya. Gaya ini khas dalam arti– mungkin berbeda dengan gaya Kitab-Kitab suci lain– menggunakan contoh kongkret dalam kehidupan sehari-hari yang dapat diverifikasi (verifiable), bukan melalui penjelasan filosofis-abstrak atau cerita mengenai entitas atau peristiwa luar biasa yang adi manusiawi.

Yang menarik untuk dicatat, kata air (Arab: ٱلْمَآءَ), sangat sering disebutkan dalam Al-Quran selain yang dikutip di atas. Catatan penulis paling tidak ada ada 20-an ayat yang menyebutkan secara eksplisit kata air, tiga di antaranya adalah sebagai berikut:

  • “Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah menurunkan air (hujan) dari langit sehingga bumi menjadi hijau. Sesungguhnya Allah Maha halus, Maha Mengetahui” (QS 22:63).
  • Tidakkah engkau melihat bahwasanya Allah menurunkan air dari langit lalu dengan air itu Kami hasilkan buah-buahan yang beraneka macam jenisnya[2] (QS 35:27).
  • Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, kemudian menjadi kering, lalu engkau melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sungguh pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal sehat (QS 39:21).

Kutipan di atas menegaskan paling tidak dua hal. Pertama, air sangat krusial bagi kehidupan makhluk hidup di bumi termasuk manusia. Sains dapat menjelaskan hal ini secara gamblang dan tak-terbantahkan. Kedua, air itu diturunkan-Nya (Arab: anzala) dari langit. Jadi, subyeknya jelas: Dia SWT.

Dengan iptek manusia dapat mengupayakan hujan buatan yang untuk keperluan jangka pendek, upaya yang dapat memberikan manfaat kepada manusia tetapi pasti dalam skala terbatas. Iptek mustahil dapat menggantikan fungsi matahari menguapkan air laut untuk membentuk awan dan mendistribusikannya secara alamiah pada tataran global. Selain itu perlu dicatat bahwa hujan buatan juga membawa dampak negatif yang merugikan antara lain dalam bentuk hujan asam dan pencemaran tanah[3].

Singkat kata, kita butuh air dan untuk memperolehnya kita perlu “campur tangan” langit. Dalam kontkes ini layak disisipkan di sini penuturan Lings[4] yang kaya makna terkait dengan simbolisme air:

In the Qoran the ideas of Mercy and water—in particular, rain—are in a sense inseparable. With them must be included the idea of Revelation, tanzīl, which means literally “a sending down.” The Revelation and the rain are both “sent down” by the All-Merciful, and both are described throughout the Qoran as “mercy,” and both are spoken of as “life-giving.” … rain might even be said to be an integral part of the Revelation which it prolongs, as it were, in order that by penetrating the material world the Divine Mercy may reach the uttermost confines of creation; and to perform the rite of ablution is to identify oneself, in the world of matter, with this wave of Mercy, and to return with it as it ebbs back towards the Principle, for purification is a return to our origins. Nor is Islam—literally “submission”—other than non-resistance to the pull of the current of this ebbing wave.

Dalam Al-Quran, gagasan tentang Rahmat dan air — khususnya hujan — dalam arti tertentu tidak dapat dipisahkan. Bersama mereka harus dimasukkan gagasan Wahyu, tanzil, yang secara literal berarti “mengirim turun.” Wahyu dan hujan keduanya “diturunkan” oleh Yang Maha Penyayang, dan keduanya digambarkan di seluruh Alquran sebagai “rahmat,” dan keduanya disebut sebagai “pemberian hidup.” … hujan bahkan dapat dikatakan sebagai bagian integral atau kelanjutan dari Wahyu yang … seolah-olah menembus dunia material, Rahmat Ilahi dapat mencapai batas-batas penciptaan yang paling tinggi; dan melaksanakan ritual wudu berarti mengidentifikasi diri sendiri, di dunia materi, dengan gelombang rahmat ini, dan untuk kembali bersamanya ketika ia kembali ke Prinsip, karena pemurnian adalah kembalinya ke asal usul kita. Islam yang secara literal “tunduk” tidak bearti selain berserah-diri pada tarikan arus gelombang kembali-ke-asal.

Kutipan di atas mengaitkan air dengan rahmat karena keduanya sama-sama menggunakan kata tanzīl atau anzala. Jelasnya, kata ini dalam Al-Quran hampir semuanya digunakan untuk merujuk kepada rahmat dalam pengertian luas termasuk kitab, quran, ayat, tempat yang diberkati, dan ketenangan yang “diturunkan” ke dalam hati seseorang atau sekelompok orang. Mengenai yang terakhir ini silakan rujuk antara lain QS (48:18).

Islam yang secara literal berarti “tunduk” tidak berarti selain berserah-diri pada tarikan arus gelombang kembali ke asal-usul kita.

Walalhualam…@

[1] Istilah “bumi yang hijau” menarik untuk dicatat karena setara dengan istilah ilmiah “blue planet” yang digunakan berdasarkan fakta ilmiah bahwa sekitar 72% permukaan bumi tertutup oleh air[1]. Lihat https://id.wikipedia.org/wiki/Air

[2] Terkait dengan aneka jenis buah-buahan penulis teringat cerita seorang teman warga Jerman keturunan Argentina yang ingin ke Indonesia. Ketika ditanya apakah bermaksud mengunjungi Bali atau Candi Borobudur ia mengiyakan tetapi yang utama adalah ingin banyak menikmati buah manggis yang katanya tidak tumbuh di kawasan Amerika Latin.

[3] https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/meteorologi/hujan-buatan

[4] Martin Lings “The Qoranic Symbolism of Water”, Studies in Comparative Religion, Vol. 2, No. 3. (Summer, 1968) © World Wisdom, Inc.www.studiesincomparativereligion.com

← Back

Thank you for your response. ✨