Kegagalan Masyarakat yang Diimpikan: Ketika Kita Terlalu Sukses Kita Lupa Cara “Gagal” dengan Benar

Di suatu pagi di Baghdad era keemasan Abbasiyah, seorang amil zakat berkeliling kota dengan kantong penuh dinar, dan pulang dengan kantong yang masih sama beratnya. Bukan karena ia malas, tetapi karena ia tidak menemukan seorang pun yang layak menerimanya. Masyarakat sudah begitu makmur, mustahiq—orang yang berhak—menjadi barang langka. Bayangkan: sebuah peradaban yang “gagal” menyalurkan zakat karena tidak ada lagi kemiskinan absolut. Ini bukan kegagalan—ini adalah kegagalan yang diimpikan.

Kita hidup di zaman yang ironis. Di satu sisi, kita dikelilingi oleh pencapaian teknologi yang memukau: AI yang menulis puisi, eksplorasi Mars, dan akses informasi yang hampir tanpa batas. Di sisi lain, kita menghadapi demoralisasi massal, kehausan spiritual, dan rasa hampa yang mendalam—seolah kemajuan material justru menggerus jiwa kita. Apa yang salah?


Filsuf eksistensialis Jean-Paul Sartre mungkin akan tersenyum sinis. Ia pernah menggambarkan dunia sebagai absurd, manusia terlempar ke dalam keberadaan tanpa tujuan bawaan. Tapi Sartre tidak melihat datangnya budaya media massa yang bukan hanya menggambarkan absurditas, melainkan memproduksinya secara industri. Media sosial, yang seharusnya menjadi alat pemersatu, sering berubah menjadi panggung pertunjukan kepribadian yang terfragmentasi, memicu kecemburuan, polarisasi, dan krisis makna yang terstruktur.

Di sinilah letak paradoks kita: kita memiliki alat, tetapi kehilangan arah. Kita punya big data, tapi miskin kebijaksanaan. Kita terkoneksi secara global, tapi terasing secara spiritual. Aliansi IPTEK dan sains seharusnya membawa kita pada pencerahan, tetapi seringkali hanya mempercepat dehumanisasi—manusia direduksi menjadi data, emosi menjadi engagement metric, dan kebenaran menjadi narrative war.

Lalu, apa yang tersisa? Kehausan spiritual yang tak terpuaskan. Di tengah banjir konten, kita justru merindukan keheningan. Di tengah gemerlap virtual, kita rindu sentuhan manusiawi yang otentik. Kita seperti masyarakat Abbasiyah itu, tapi dengan kemiskinan yang berbeda: kekayaan materi ada, kemiskinan jiwa merajalela.

Tapi inilah peluang besar kita. Kegagalan masyarakat Abbasiyah dalam menyalurkan zakat bukanlah akhir—itu adalah petunjuk. Itu menunjukkan bahwa ketika masalah dasar terpenuhi, manusia dihadapkan pada tantangan yang lebih tinggi: bukan lagi “bagaimana bertahan hidup,” melainkan “bagaimana hidup yang bermakna.”

Sekarang, bayangkan jika kita bisa menciptakan “kegagalan” versi era digital:

· Kegagalan mencari hoaks, karena literasi digital sudah menjadi DNA generasi.
· Kegagalan memicu hate speech, karena etika bermedia telah mengakar dalam budaya.
· Kegagalan menemukan ruang digital yang toxic, karena kebaikan menjadi algoritma sosial yang baru.

Untuk mencapai itu, kita tidak bisa hanya mengandalkan teknologi semata. Kita perlu aliansi baru: antara logic sains dan wisdom tradisi, antara inovasi digital dan moralitas yang dalam. Kita perlu regenerasi nilai, di mana alat media massa tidak lagi jadi alat dehumanisasi, tetapi jaringan jiwa-jiwa yang sedang pulang.

Mungkin, inilah resolusi tahun baru yang paling radikal: berani bermimpi tentang kegagalan yang lebih mulia. Bukan gagal karena miskin, tetapi “gagal” karena kebajikan sudah menjadi norma. Bukan gagal karena terbelakang, tetapi “gagal” karena peradaban sudah melampaui naluri destruktifnya.

Mari kita mulai dari hal sederhana: menjadi mustahiq dan muzaki sekaligus di ruang digital. Menerima dengan kritis, memberi dengan tulus. Menjadi generasi yang tidak hanya pintar mengklik, tetapi juga berani memilih: antara yang viral dan yang valid, antara yang populer dan yang bermartabat.

Sejarah sudah membuktikan: kegagalan tertinggi peradaban adalah ketika kebaikan menjadi masalah logistik, bukan lagi masalah niat. Itulah masyarakat yang diimpikan. Itulah “kegagalan” yang layak kita perjuangkan.

Tahun baru, bukan hanya soal waktu yang berganti. Tapi tentang visi yang berani naik tingkat.
Sudah siap “gagal” dengan cara yang baru?

#KegagalanYangDiimpikan, #MasyarakatMustahil, #ZakatDigital, #OptimismeRadikal, #GenerasiMadaniDigital, #GagalLebihTinggi, #AliansiIlmuDanHati, #PemikirPeradaban, #NgopiSejarah,, #ResetPeradaban2025

CATATAN AKHIR TAHUN:                 Budaya Massa: Eksistensi Semu dan Panggilan Fitrah yang Terlupakan

:

Hidup mengalir begitu saja. Kita bangun, bekerja, mengonsumsi hiburan, berinteraksi di media sosial, tidur, lalu mengulanginya lagi esok hari. Tanpa kita sadari, aliran rutinitas ini seringkali menjadi arus deras yang menghanyutkan kesadaran terdalam kita. Inilah realitas yang dibentuk oleh Budaya Massa (BM): sebuah kehidupan yang dijalani tanpa dipikirkan secara mendalam, di mana eksistensi individu terancam kehilangan keotentikannya.

BM tidak sekadar tentang produk populer atau tren. Ia adalah mesin raksasa penyeragaman perasaan, hasrat, dan bahkan suara hati. Lihatlah fenomena hooliganisme di stadion atau histeria kolektif di konser mahal. Di sana, individu melebur, bersorak serempak, marah bersama, dan menangis bersama. Ia menemukan “identitas semu” yang menggoda: rasa menjadi bagian dari sesuatu yang besar, heroisme semu yang terasa membebaskan—“aku adalah bagian dari semua yang lain.” Namun, ini adalah kebebasan palsu. Yang terjadi sebenarnya adalah demoralisasi halus: kita melepaskan pertimbangan moral personal demi euforia kolektif. Suara hati yang unik dan kritis ditenggelamkan oleh desibel kerumunan.

Psikologi massa dalam BM menawarkan pelarian dari kecemasan eksistensial. Ia membuat kita alergi terhadap pertanyaan-pertanyaan ontologis mendasar: “Siapa aku?” “Untuk apa aku hidup?” “Apa tanggung jawabku?” Pertanyaan-unsur ini dianggap terlalu berat, terlalu serius, dan tidak “asyik”. BM menyodorkan jawaban instan: “Kamu adalah penggemar ini, konsumen itu, bagian dari grup ini.” Proses keterasingan pun dimulai: kita terasing dari diri sendiri (fitrah), dari sesama (yang hanya dilihat sebagai rival atau target eksploitasi), dan pada akhirnya, dari Sang Pencipta.

Di sinilah medan juang kita yang sebenarnya. Buku yang kita tulis bukan sekadar kritik, tetapi penawaran jalan pulang. Medan juangnya adalah scaling up suara hati otentik. Bagaimana caranya?

Pertama, membangunkan kesadaran fitrah. Ini diawali dengan mengingatkan kembali pada “Perjanjian Hari Alastu” (bukankah Aku ini Tuhanmu?), sebuah memori primordial dalam ruh setiap manusia tentang pengakuan ketuhanan dan kehambaan. Kesadaran ini adalah fondasi. Dari sini, lahir dua kesadaran operasional: “Kehambaan” (‘ubudiyyah) dan “Kekhalifahan” (istikhlaf). Sebagai ‘abd (hamba), kita tunduk hanya pada Allah, bukan pada tren, opini massal, atau idola budaya pop. Sebagai khalifah, kita memikul tanggung jawab aktif merawat, memperbaiki, dan memberdayakan kehidupan di muka bumi.

Kedua, mengkondisikan realisasi harmoni. Kesadaran fitrah itu harus diwujudkan dalam dua hubungan yang selaras: “Hablum minallah” (hubungan vertikal dengan Allah) dan “Hablum minannas” (hubungan horizontal dengan manusia). BM sering merusak keduanya: hubungan dengan Tuhan direduksi menjadi ritual tanpa makna, hubungan dengan sesama diracuni oleh kompetisi, kedengkian, dan isolasi digital.

Di silah, konsep “menebar salam” hadir bukan sekadar sebagai ucapan, tetapi sebagai filosofi praksis. Salam (keselamatan, kedamaian) adalah trigger untuk mengingatkan kembali pada kesadaran fitrah dalam interaksi sehari-hari. Setiap kali kita menebar salam, kita sedang:

  1. Mengakui keselamatan hanya berasal dari Allah.
  2. Menegaskan komitmen untuk tidak mengganggu keselamatan orang lain.
  3. Membangun jembatan bagi harmoni sosial (hablum minannas) yang bersumber dari kesadaran ketuhanan (hablum minallah).

Dengan demikian, melawan efek mematikan Budaya Massa bukan dengan mengasingkan diri, tetapi dengan menginfeksi ruang publik dengan kesadaran otentik. Kita scale up suara hati fitri itu dari level individu, ke keluarga, komunitas, hingga masyarakat. Kita hadir di pasar, di media sosial, di tempat kerja, dengan identitas utama sebagai hamba dan khalifah yang aktif menebar salam (kedamaian substantif).

Tujuan akhirnya adalah memutus rantai keterasingan. Dari eksistensi semu yang diarahkan BM, kita kembali kepada eksistensi otentik yang diingatkan oleh fitrah: manusia yang merdeka karena hanya tunduk pada Allah, bertanggung jawab atas bumi, dan menjadi sumber rahmat bagi semesta melalui setiap salam yang diwujudkan dalam tindakan.

Budaya Massa menawarkan pelarian ke dalam keramaian yang asing. Fitrah memanggil kita pulang ke diri sendiri, untuk kemudian hadir di tengah manusia sebagai pembawa kedamaian yang otentik. Pilihan ada di kita: tenggelam dalam arus, atau membangkitkan arus penyeimbang dari sumber yang paling dalam dalam diri.

Melampaui Kebiskuitan: Membedakan “tradisi” dari “Tradisi”

Sebuah iklan biskuit pernah ditutup dengan dua kata sederhana: “It’s tradition.” Iklan itu brilian, setidaknya karena dua hal. Pertama, dari sudut bahasa, dua kata itu mampu menyampaikan pesan panjang: “Biskuit ini lezat, dan telah menjadi pilihan turun-temurun dalam keluarga kami.” Kedua—sadar atau tidak oleh pembuatnya—penggunaan kata “tradition” dalam konteks santai ini berhasil menetralkan kesan negatif yang kerap melekat padanya.

Dalam pemahaman umum, “tradisi” sering diiringi stereotip: ketinggalan zaman, kaku, dan statis. Ia menjadi antonim sempurna dari “modern” yang bersinar dengan citra kemajuan, kecerdasan, dan dinamika. Namun, apakah pemahaman ini sudah utuh? Tulisan singkat ini berupaya melampaui kesan negatif itu dan mengajak kita melihat bahwa makna “tradisi” jauh lebih dalam dan mulia daripada sekadar kebiasaan usang.

Akarnya: Dari Kata ke Makna

Secara etimologis, kata tradition berasal dari bahasa Latin trãdere, yang berarti “menyerahkan” atau “menyampaikan”. Kamus Webster mendefinisikannya sebagai “seperangkat pengetahuan, kebiasaan, dan sebagainya yang diturunkan antargenerasi.” Kata “dan sebagainya” di sini krusial; ia mencakup unsur non-material seperti pola pikir, keyakinan, dan filsafat hidup.

Namun, di sini kita perlu membuat pembedaan penting, sebagaimana diungkapkan oleh pemikir seperti M. Ali Lakhani: antara tradition (dengan ‘t’ kecil) dan Tradition (dengan ‘T’ besar).

  • tradition (t kecil) merujuk pada adat, kebiasaan, atau cara konvensional dalam melakukan sesuatu. Ia berbicara tentang masa lalu dalam pengertian yang lumrah dan bisa berubah.
  • Tradition (T besar) adalah sesuatu yang sama sekali berbeda. Ia merujuk pada suatu pandangan dunia atau cara berada yang bersumber dari prinsip-prinsip pertama yang abadi. Ia berbicara tentang Kebenaran yang tak terikat waktu (Timeless Truth).

Suara dari Sekolah Perenialis: Tradisi sebagai Cahaya Abadi

Untuk mendalami makna “Tradition” (T besar), kita dapat mendengarkan suara dari kalangan Traditionalist atau Perennialist. Bagi sekolah pemikiran ini, Kebenaran adalah mutlak, abadi (perennial), dan universal—ia menjadi jantung dari semua agama dan tradisi autentik. Dalam istilah Sufi, ini dikenal sebagai hikmah al-khalidiyyah (kebijaksanaan abadi).

Dua tokoh utamanya, Ananda K. Coomaraswamy dan René Guénon, memberikan penekanan yang jelas:

Coomaraswamy menegaskan, “Tradition has nothing to do with ‘ages’… Tradition represents doctrine about first principles, which do not change.” (Tradisi tidak ada hubungannya dengan ‘zaman’. Tradisi mewakili ajaran tentang prinsip-prinsip pertama, yang tidak berubah.)

Guénon menambahkan, “…there is nothing and can be nothing truly traditional that does not contain some element of super-human order.” (Tidak ada—dan tidak mungkin ada—sesuatu yang benar-benar tradisional tanpa mengandung unsur tatanan supra-manusia.)

Penerus mereka, Seyyed Hossein Nasr, memperjelas bahwa Tradisi atau ajaran tradisional adalah:

  • Anugerah dan rahmat dari Sang Maha Tinggi.
  • Penegasan kembali akan Kebenaran yang menjadi pusat dan esensi.
  • Respons terhadap Yang Sakral, yang merupakan awal dan akhir kehidupan manusia.
  • “Obat” bagi keterasingan manusia modern dari yang sakral.

Titik Kritik: Tradisi vs. Modernitas yang Lupa Diri

Tokoh puncak aliran ini, Frithjof Schuon, mengemas kritiknya dengan tajam. Baginya, Tradisi adalah pesan yang selalu relevan dan berbicara dalam bahasa yang dapat dipahami setiap orang—asalkan mereka mau mendengarkan. Yang “bangkrut” bukanlah Tradisi, melainkan kemanusiaan yang telah kehilangan intuisi akan yang supra-alami dan rasa kesucian.

Kebangkrutan ini, menurut Schuon, dipicu oleh saintisme—keyakinan dogmatis bahwa ilmu pengetahuan empiris adalah satu-satunya sumber kebenaran. Manusia modern terpesona oleh penemuan sains yang “totaliter dan tidak sah” karena sains semacam itu memberikan semua alasan untuk tetap terpaku pada dunia penampakan (world of appearances) dan menjauhkan diri dari Kehadiran Yang Mutlak.

“Humanity has allowed itself to be seduced by the discovery and invention of a totalitarian knowledge that is invalid… mesmerized by scientific phenomena… [and] drowns in its own creation.”

Kesimpulan: Kembali kepada Fitrah

Demikianlah, makna “Tradition” (T besar) ternyata begitu luas dan dalam. Ia bukan beban masa lalu, melainkan jalan pulang kepada prinsip-prinsip abadi yang menjadi pondasi keberadaan.

Semangat ini selaras dengan seruan Quran dalam istilah ad-dīn al-ḥanīf dan ad-dīn al-qayyim (QS. Ar-Rum: 30)—ajaran yang lurus dan kokoh, sesuai dengan fitrah penciptaan Allah, yang tidak berubah-ubah. Inilah Tradisi sejati: bukan sekadar warisan manusia, tetapi anugerah Ilahi yang menuntun kita kembali kepada Hakikat.

Memahaminya membuat kita sadar: memilih sebungkus biskuit “karena tradisi” adalah hal yang menyenangkan, tetapi mengenali dan hidup dalam “Tradition” adalah sebuah perjalanan menyelami makna hidup itu sendiri.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

When Dhikr Becomes Melody: The Spiritual Music of A.R. Rahman

The name “Rahman” in the title refers to the celebrated Indian composer and music producer known to the world as A.R. Rahman (full name: Allah Rakha Rahman). His signature strength lies in his ability to seamlessly blend classical Indian music with electronic sounds and traditional orchestral arrangements.

A Staggering Reputation

A.R. Rahman’s collection of accolades is nothing short of extraordinary, including:

· 6 National Film Awards · 2 Academy Awards (Oscars) · 2 Grammy Awards · 1 BAFTA Award · 1 Golden Globe Award · 15 Filmfare Awards · 17 Filmfare Awards South

Such a list firmly places him in a league of his own.

· In 2009, Time magazine listed him among the 100 Most Influential People in the world. · In 2011, a leading UK-based world-music magazine named him one of “Tomorrow’s World Music Icons.” · He is affectionately called Isai Puyal (“The Musical Storm”) and the “Mozart of Madras.”

Beyond his musical genius, Rahman is a dedicated philanthropist. In 2004, he was appointed Global Ambassador of the Stop TB Partnership, a WHO project. He has also supported Save the Children India and provided aid for orphans in Banda Aceh affected by the 2004 Indian Ocean tsunami, among many other charitable initiatives.

The Deep-Rooted Influence of Sufism

Born into a Hindu family, Rahman embraced Islam in his twenties—a decision he describes as entirely voluntary and heartfelt. He openly acknowledges Sufism’s profound impact on his outlook on life. In one interview, he shared:

“How has Sufism affected your attitude to life?” “It has taught me that just as the rain and the sun do not discriminate between people, neither should we. Only when you experience friendship across cultures do you realise there are good people in every community…”

“Did your spiritual guide (peer) ask you to embrace Islam?” “No,he didn’t. No one is forced to convert to the path of Sufism. You only follow if it comes from your heart. A year after meeting Qadri Saaheb in 1987… I was reminded of what Jesus Christ (peace be upon him) once said: ‘I wish that you were hot or cold. So because you are lukewarm… I will spit you out of My mouth.’ What I understood was that it is better to choose one path wholeheartedly. The Sufi path spiritually uplifted both my mother and me, and we felt it was the best path for us, so we embraced Sufi Islam.”

Hasbi Rabbi Jallallah: A Sufi Musical Testament

Rahman has composed several pieces with a distinct Sufi flavour. Two of the most beloved, especially among school and university choirs, are Kun Faya Kun and Hasbi Rabbi Jallallah (often shortened to “Hasbi”). The former is particularly popular among mothers who gather for regular Yāsin recitations. Its core message revolves around the inevitability of Allah’s absolute power and the necessity of humility before Him—a sentiment powerfully captured in the repeated line, “I know nothing.”

The second piece, Hasbi Rabbi, stands out for its powerful invocation of dhikr (remembrance of Allah), expressed in profound and beautiful language (what the Qur’ān terms qawlan balīghā), set against an exquisite musical arrangement. It serves as an urgent spiritual call. Here are some representative excerpts (originally in a mixture of Indian languages and Arabic):

Those addicted to the problems of the heart, the Essence of Allah calls you!… Those whose dhikr of God comes from the heart are truly freed!… Dhikr is peace, Dhikr is victory, Dhikr is healing, Dhikr is the cure…

Hasbi Rabbi jallallah Mā fī qalbī ghayrullāh Nūr Muhammad sallallāh Ḥaqq la ilāha illallāh

The message is crystal clear: it conveys (1) the teaching of tawḥīd (the Oneness of God), and (2) an invitation to constant remembrance. Tawḥīd shines in the final line, which is the very testimony of faith. The call to dhikr dominates the first section, where the word is mentioned five times—not to define it, but to emphasise its transformative power for the one who performs it. This is the true strength of these lyrics!

The chorus’s second line—Mā fī qalbī ghayrullāh (“There is nothing in my heart except Allah”)—offers an operational definition of perfect devotion. The late KH Zezen Zainal Abidin (d. 2015) once explained in a teaching session on Al-Ḥikam that the heart (qalb) is the divine sanctuary within every human being, a place belonging exclusively to Allah.

Beyond its emphasis on tawḥīd and dhikr, the full lyrics of Hasbi are rich with Allah’s Beautiful Names (Asmā’ al-Ḥusnā), such as al-Ḥayy, al-Qayyūm, al-Raḥmān, al-Mannān, and Dhū l-Jalāli wa l-Ikrām.

The Global Embrace of Rahman’s Sufi Music

Rahman’s Sufi-inspired music enjoys widespread popularity not only in India but across Europe, North America, and Asia—particularly among school and university choirs, including those from strongly Christian backgrounds.

Its universal appeal can certainly be attributed to its exceptional musical quality. Yet, one cannot overlook the powerful role of its spiritual message of peace and divine love—the author is personally convinced this is a major factor.

To fully appreciate Rahman’s Sufi music, readers are invited to watch:

· The original live performance of Hasbi Rabbi by A.R. Rahman himself (2017) → [link] From this video, one can feel the power of the language, the depth of the composer’s own spiritual experience, and the urgent beauty of the message. · Or the vibrant rendition by the mixed choir of Universitas Padjadjaran (UNPAD), released on 27 May 2019 → [link] Their performance leaves a powerful impression that both the musical beauty and the profound Sufi message can be wholeheartedly embraced by the younger generation.

May it bring benefit to us all.

The Golden Rule: Meditation, Concentration, and Prayer

The Golden Rule is often said to encapsulate the essence of all religious teachings: “Love God with all your strength and love your neighbor as yourself” [1]. Within this rule, “love” signifies an act of intelligence grounded in true faith (Iman), an act of will to align with the truth of that faith, and an act of the heart to fully assimilate that truth. In this profound sense, love demands the complete participation of one’s being: intelligence, will, and heart alike.

What, then, is its connection to meditation? The answer depends entirely on how meditation is defined. If understood broadly as “the act or process of spending time in quiet thought” [2], then meditation bears no direct relation to the Golden Rule. However, the link becomes profoundly intimate when meditation is viewed from the traditionalist perspective as “contact between intelligence and Truth.” To grasp this meaning more fully, consider the following excerpt from a leading figure in this school of thought:

“Another mode of orison is meditation; contact between man and God here becomes contact between intelligence and Truth, or relative truths contemplated in the Absolute. … Meditation acts on the one hand upon the intelligence, in which it ‘awakens’ certain consubstantial ‘memories,’ and on the other hand upon the subconscious imagination, which ends up incorporating into itself the truth meditated upon, resulting in a fundamental and quasi-organic persuasion” [3].

From this passage, it is evident that meditation carries a vast and profound significance—far broader and deeper than standard dictionary definitions suggest. In other words, the common understanding of meditation has been degraded, stripped of the elements that evoke the divine. This degradation, as the traditionalists argue, applies to many key terms in religious metaphysics, including “intellect” [4].

What, then, is the role of meditation? From the traditionalist viewpoint, its primary function is to “open the soul”:

“The role of meditation is thus to open the soul, first to the grace that draws it away from the world, second to what brings it nearer to God, and third to what reintegrates it into God, if one may speak in this way; however, reintegration may be only a fixation in a given ‘beatific vision,’ that is, a still indirect participation in divine Beauty.”

If meditation pertains to Truth and the intelligence, then concentration pertains to the Way and the will. While meditation and concentration represent the respective “practices” of intelligence and will, what practice does prayer (Salat) embody? It can be seen as the practice of the heart or the soul. Together, meditation, concentration, and Salat vividly illuminate the spiritual life and its primary modes. Regarding Salat, the following reflection from Schuon merits deep contemplation:

“Prayer—in the widest sense—triumphs over four accidents of our existence: the world, life, the body, the soul; we might also say: space, time, matter, desire. It is situated like a shelter, like an islet. In it alone are we perfectly ourselves, because it puts us in the presence of God. It is like a diamond, which nothing can tarnish and nothing can resist [5]”.

Endnotes:

[1] In the Islamic context, this Golden Rule is formulated as the principle of maintaining the vertical bond with the Absolute (hablun min Allah) and the horizontal bond with fellow humans (hablun min al-nas). Degradation befalls anyone who neglects these two essential connections. Wa Allāhu a’lam.

[2] Merriam-Webster’s Advanced Learner’s English Dictionary.

[3] Frithjof Schuon, Prayer Fashions Man, “Modes of Prayer” (2005, p. 59).

[4] According to Merriam-Webster, intellect is “the ability to think in a logical way.” For traditionalists, its meaning is far broader: “at once a mirror of the supra-sensible and itself a supernatural ray of light” (See Valodia in Glossary of Terms Used by Frithjof Schuon, undated). [5] Frithjof Schuon, Prayer Fashions Man, “The Servant and Union” (2005, p. 182).