Peristiwa Penting 2017: Refleksi Akhir Tahun

Tahun 2017 segera berlalu dan Tahun Baru 2018 hampir tiba. Semua berharap tahun baru membawa harapan baru, tentunya ke arah yang lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pertanyannya, apakah harapan semacam ini realistis? Pada tataran individual, jawabannya seyogyanya positif: harapan hari-esok yang lebih baik perlu dirawat agar tetap “tampak” realistis. Pada tataran global, sayangnya kita perlu mengakui bahwa jawabannya cenderung negatif. Jawaban ini logis berdasarkan fakta dari sejumlah peristiwa yang terjadi sepanjang tahun 2017.

Sukar bagi kita untuk mengabaikan fakta berbagai bencana yang terjadi pada tahun ini, bencana alam maupun bencana kemanusiaan. Mengenai yang pertama sebut saja Badai Harvei yang yang menyerang wilayah metropolitan Houston (Amerika Serikat) pada minggu ke-4 Agustus[1]. Mengenai yang kedua, dapat diambil contoh kasus peristiwa “pembersihan etnis” (istilah yang diberikan oleh PBB) melalui suatu operasi militer pada 25 Agustus yang menargetkan Muslim Rohingya di Myanmar[2].

Kasus Rohingya merupakan contoh kasus pindah paksa (forced displacement) yang menurut UNHCR, secara global, mengambil korban sekitar 65,6 juta orang pada akhir tahun 2016 (angka 2017 belum tersedia tetapi patut diduga tidak banyak berkurang). Angka itu lebih besar dari pada populasi Inggris dan secara rata-rata berarti 20 orang diusir dari rumah mereka setiap menit, atau seorang setiap tiga detik. Bagi Filippo Grandi (UNHCR), “Dalam ukuran apa pun angka ini tidak dapat diterima” dan untuk menyelesaikannya perlu determinasi dan keberanian, bukan takut: “For a world in conflict, what is needed is determination and courage, not fear[3]

Jika bencana alam seperti Badai Harvei boleh dikatakan sebagai manifestasi “kehendak Tuhan”, maka kasus seperti pindah paksa jelas “buatan manusia” (man-made). Kenapa manusia melakukannya? Jawaban singkatnya, karena kebodohan, dalam berbagai tingkat dan bentuknya. Einstein mungkin benar ketika mengatakan bahwa kebodohan manusia itu tidak terhingga: “Only two things are infinite, the universe and human stupidity, and I’m not sure about the former” (“Hanya dua hal yang tak-terhigga, alam raya dan kebodohan manusia, dan saya tidak yakin mengenai yang pertama”) [4].

Kita dapat membuat daftar panjang peristiwa sepanjang tahun 2017. Walaupun demikian, kita dapat menyederhanakanna dengan memilih kasus yang secara umum dinilai memiliki signifikansi kemanusiaan dan merefleksikan suasana batin global. Daftar peristiwa selektif semacam ini dapat dilihat, misalnya, dalam daftar yang dikompilasi oleh Wikipedia[5].

Urutan pertama dalam kompilasi Wikipedia adalah demonstrasi Women’s March besar-besaran pada 21 Januari 2017 sebagai tanggapan atas peresmian Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat. Demonstrasi ini dilaporkan melibatkan jutaan orang (sebagian besar perempuan), dan berlangsung tidak hanya di AS tetapi juga di negara lain. Para demonstran menolak Presiden sebagian karena dianggap kurang hormat terhadap perempuan, rasialist, agresif, kurang akomodatif, tidak presidential, dan dituduh cenderung pada kebijakan yang kontroversial.

Tuduhan para demonstran kebijakan kontroversial belakangan terbukti sebagaimana terlihat dari beberapa peristiwa berikut:

6 April – Militer A.S. meluncurkan rudal jelajah Tomahawk di sebuah pangkalan udara di Suriah yang oleh Rusia digambarkan sebagai “agresi”;

13 April – Dalam serangan udara AS menjatuhkan senjata non-nuklir terbesar di dunia, di sebuah markas ISIL di Afghanistan.

1 Juni – A.S. mengumumkan keputusannya untuk menarik diri dari Paris Climate Agreement pada waktunya.

12 Oktober – AS menarik diri dari UNESCO yang segera diikuti oleh Israel.

6 Desember – AS secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Semua peristiwa ini tercantum dalam daftar yang dikompilasi oleh Wikipedia. Selain itu, daftar ini mencantumkan juga peristiwa lain termasuk ujicoba nuklir Korea Utara (Februari), kelaparan di di Yaman, Somalia, Sudan Selatan dan Nigeria (Maret), dan keptusan Dewan Keamanan PBB untuk memberikan sangsi tambahan kepada Korea Utara (Desember). Tabel 1 berikut menyajikan daftar yang dimaksud.

Berdasarkan daftar itu sukar bagi kita untuk berharap banyak bahwa 2018 akan lebih baik dari 2017. Daftar itu justru mengisyaratkan beratnya tantangan bagi masyarakat global di tahun depan, tanpa harus berharap terlalu banyak pada inisiatif dan kepemimpinan Administrasi Trump. Walaupun demikian kita tampaknya perlu menyetujui pendapat Grandi bahwa dunia dalam “keadaan perang” dan yang kita butuhkan bukan rasa takut, tetapi determinasi dan keberanian. Selain unsur determinasi dan keberanian, mungkin kita dapat tambahkan unsur sabar, unsur yang konon menjadi “rahasia” kemenangan Barca terhadap Madrid dalam pertandingan klasik baru-baru ini. Sebagai catatan, istilah sabar dalam konteks ini mengambil definisi Fulton J. Sheen[6]:

Patience is power

Patience is not an absence of action;

rather it is “timing”

it waits on the right time to act,

for the right principles

and in the right way.

Wallhu’alam….@

Tabel 1: Peristiwa Penting Tahun 2017
Bulan Peristiwa
Januari 21 Januari – Jutaan orang di seluruh dunia bergabung dalam demonstrasi Women’s March sebagai tanggapan atas peresmian Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat. Pada hari itu dilaporkan 420 gelombang protes di A.S dan diikuti di 168 di negara lain sehingga tercatat sebagai hari demonstrasi terbesar dalam sejarah Amerika, bahkan secara global dalam sejarah baru-baru ini.
Februari 11 Februari – Korea Utara mengundang kecaman internasional karena melakukan uji coba menembakkan rudal balistik yang melintasi Laut Jepang.
Maret 10 Maret – PBB memperingatkan bahwa dunia menghadapi krisis kemanusiaan terbesar sejak Perang Dunia II terkait dengan risiko kelaparan bagi 20 juta orang lebih di Yaman, Somalia, Sudan Selatan dan Nigeria.

29 Maret – Inggris memulai Negosiasi Brexit untuk meninggalkan Uni Eropa.

30 Maret – SpaceX melakukan penerbangan-ulang roket kelas orbital pertama di dunia.

April 6 April – Menanggapi dugaan serangan senjata kimia di sebuah kota yang dikuasai pemberontak, militer A.S. meluncurkan rudal jelajah Tomahawk di sebuah pangkalan udara di Suriah. Rusia menggambarkan tindakan itu sebagai “agresi”, dan menambahkan bahwa hal itu secara signifikan merusak hubungan A.S.-Rusia.

13 April – Dalam serangan udara Nangarhar tahun 2017, AS menjatuhkan MOU GBU-43 / B, senjata non-nuklir terbesar di dunia, di sebuah markas ISIL di Afghanistan.

May 12 Mei – Komputer di seluruh dunia terkena serangan cyber ransomware skala besar yang menyerang setidaknya 150 negara.

22 Mei – Suatu erangan bom teroris di sebuah konser Ariana Grande di Manchester, Inggris, membunuh 22 orang dan melukai lebih dari 500 orang.

Juni 1 Juni – Di tengah kritik luas, A.S. mengumumkan keputusannya untuk menarik diri dari Paris Climate Agreement pada waktunya.

7 Juni – Dua serangan teroris bersamaan dilakukan oleh lima teroris milik Negara Islam Irak dan Levant (ISIL) melawan gedung Parlemen Iran dan Mausoleum Ruhollah Khomeini, keduanya di Teheran, Iran, menyebabkan 17 warga sipil tewas dan 43 luka. Ini menjadi serangan ISIL pertama di Iran.

10 Juni – Expo Dunia 2017 dibuka di Astana, Kazakhstan.

12 Juni – Mahasiswa Amerika Otto Warmbier kembali ke rumah dalam keadaan koma setelah menghabiskan 17 bulan di sebuah penjara Korea Utara dan meninggal seminggu kemudian.

18 Juni – Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) menembakkan enam rudal balistik mid-range permukaan ke darat dari basis domestik yang menargetkan pasukan ISIL di Provinsi Deir ez-Zor Suriah sebagai tanggapan atas serangan teroris di Teheran awal bulan itu.

21 Juni – Masjid Agung al-Nuri di Mosul, Irak, hancur oleh Negara Islam Irak dan Levant.

25 Juni – Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan Yaman mengalami lebih dari 200.000 kasus kolera.

27 Juni – Serangkaian serangan cyber yang menggunakan malware Petya dimulai, mempengaruhi organisasi-organisasi di Ukraina.

Juli 4 Juli – Rusia dan China mendesak Korea Utara untuk menghentikan program rudal dan nuklirnya setelah berhasil menguji rudal balistik antarbenua pertamanya.

7 Juli – Perjanjian Larangan Senjata Nuklir dipilih oleh 122 dari 193 negara anggota PBB.

10 Juli – Perang Sipil Irak (2014-sekarang): Mosul dinyatakan sepenuhnya dibebaskan dari Negara Islam Irak dan Levant.

Agustus 5 Agustus – Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat menyetujui sanksi baru terhadap perdagangan dan investasi Korea Utara.

17 Agustus – Observasi pertama dari tabrakan dua bintang neutron (GW170817) dipuji sebagai terobosan dalam astronomi multi-messenger   ketika gelombang gravitasi dan elektromagnetik dari peristiwa tersebut terdeteksi. Data dari acara tersebut memberikan bukti konfirmasi untuk teori proses-r asal mengenai unsur-unsur berat seperti emas.

21 Agustus – Gerhana matahari total (dijuluki “The Great American Eclipse”) terlihat di dalam suatu band di seluruh Amerika Serikat yang bersebelahan, melintas dari Pasifik ke pantai Atlantik.

25 Agustus – masih berlangsung – Suatu operasi militer yang menargetkan Muslim Rohingya di Myanmar “tampaknya merupakan contoh buku teks tentang pembersihan etnis”, menurut Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa.

25-30 Agustus – Badai Harvey menyerang Amerika Serikat sebagai topan Kategori 4, yang menyebabkan kerusakan parah pada wilayah metropolitan Houston, sebagian besar karena banjir yang memecahkan rekor. Sedikitnya 90 kematian dicatat, dan kerusakan total mencapai $ 198,6 miliar (2017 USD), menjadikan Harvey sebagai bencana alam paling mahal dalam sejarah Amerika Serikat.

September 1 September – Presiden Rusia Vladimir Putin mengusir 755 diplomat sebagai tanggapan atas sanksi Amerika Serikat.

3 September – Korea Utara melakukan uji coba nuklir keenam dan paling kuat.

6-10 September – Karibia dan Amerika Serikat diserang oleh Badai Irma, badai Kategori 5 yang merupakan badai terkuat yang tercatat di cekungan Atlantik di luar Karibia dan Teluk Meksiko. Badai menyebabkan setidaknya 134 kematian dan setidaknya $ 63 miliar (2017 USD) dalam kerusakan.

13 September – Komite Olimpiade Internasional memberi penghargaan kepada Paris dan Los Angeles untuk menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas 2024 dan 2028.

15 September – Cassini-Huygens mengakhiri misi 13 tahunnya dengan terjun ke Saturnus, menjadi pesawat ruang angkasa pertama yang memasuki atmosfer planet ini.

19 September – Sebelas hari setelah gempa dahsyat yang dahsyat, dan pada hari ulang tahun ke-32 dari gempa yang mematikan pada tahun 1985 di Kota Meksiko, sebuah gempa Mw 7.1 menyerang Meksiko tengah, menewaskan lebih dari 350 orang dan menyebabkan sampai 6.000 orang terluka. dan menyebabkan ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal.

19-20 September – Hanya dua minggu setelah Badai Irma menyerang Karibia, Badai Maria menyerang daerah serupa, membuat pendaratan di Dominika sebagai topan Kategori 5, dan Puerto Riko sebagai topan Kategori 4. Maria menyebabkan setidaknya 94 kematian dan kerusakan diperkirakan mencapai $ 103 miliar (2017 USD).

25 September – Kurdistan Irak memberikan suara dalam suatu referendum untuk menjadi negara merdeka, yang bertentangan dengan Irak; pada tanggal 15 Oktober, krisis tersebut meningkat menjadi konflik bersenjata singkat mengenai wilayah-wilayah yang disengketakan.

Oktober 1 Oktober – Lima puluh delapan orang terbunuh dan 546 lainnya cedera saat Stephen Paddock menembaki kerumunan di Las Vegas, melebihi serangan klub malam tahun 2016 di Orlando sebagai pemotretan paling mematikan yang dilakukan oleh seorang pria bersenjata tunggal dalam sejarah A.S.

12 Oktober – Amerika Serikat mengumumkan keputusannya untuk menarik diri dari UNESCO, dan segera diikuti oleh Israel.

14 Oktober – Sebuah ledakan besar yang disebabkan oleh pemboman truk di Mogadishu, Somalia membunuh setidaknya 512 orang dan melukai 316 lainnya.

17 Oktober – Perang Sipil Suriah: Raqqa dinyatakan sepenuhnya dibebaskan dari Negara Islam Irak dan Levant.

25 Oktober – Pada Kongres Nasional Partai Komunis China ke-19, Xi Jinping menganggap masa jabatan keduanya sebagai Sekretaris Jenderal (pemimpin penting China), dan teori politik Xi Jinping Thought ditulis dalam konstitusi partai.

27 Oktober – Catalonia menyatakan kemerdekaan dari Spanyol, namun Republik Catalan tidak diakui oleh pemerintah Spanyol atau negara berdaulat lainnya.

November 2 November – Spesies baru orangutan diidentifikasi di Indonesia, menjadi spesies orangutan ketiga yang dikenal sebagai kera besar pertama yang dideskripsikan selama hampir satu abad.

3 November – Perang saudara Suriah: Deir ez-Zor di Suriah dan Al-Qa’im di Irak dinyatakan dibebaskan dari ISIL pada hari yang sama.

5 November – Surat kabar Jerman Süddeutsche Zeitung menerbitkan 13,4 juta dokumen yang bocor dari firma hukum lepas pantai Appleby, bersama dengan pendaftar bisnis di 19 yurisdiksi pajak yang mengungkapkan kegiatan keuangan luar negeri atas nama politisi, selebriti, raksasa perusahaan dan pemimpin bisnis. Surat kabar tersebut membagikan dokumen-dokumen tersebut dengan Konsorsium Investigasi Internasional dan memintanya untuk memimpin penyelidikan tersebut.

12 November – Sebuah gempa berkekuatan 7,3 skala Richter menyerang wilayah perbatasan antara Irak dan Iran yang menyebabkan sedikitnya 530 orang tewas dan lebih dari 70.000 orang kehilangan tempat tinggal.

15 November – Presiden Zimbabwe Robert Mugabe ditempatkan di bawah tahanan rumah, saat militer menguasai negara tersebut. Dia mengundurkan diri enam hari kemudian setelah 37 tahun memerintah.

Lukisan Leonardo da Vinci, Salvator Mundi, dijual seharga US $ 450 juta di Christie’s di New York, harga rekor baru untuk karya seni apapun.

20 November – Alam menerbitkan sebuah artikel yang mengenali asteroid kecepatan tinggi’Oumuamua yang berasal dari luar tata surya yaitu objek antar bintang pertama yang diketahui.

22 November – Pengadilan Internasional menemukan Ratko Mladić bersalah melakukan genosida yang dilakukan di Srebrenica selama Perang Bosnia 1990-an, pembantaian terburuk di Eropa sejak Perang Dunia II. Dia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

24 November – Sebuah serangan masjid di Sinai, Mesir membunuh 305 pemuja dan menyebabkan ratusan lainnya terluka.

Desember 5 Desember – Rusia dilarang mengikuti Olimpiade Musim Dingin 2018 di Pyeongchang oleh Komite Olimpiade Internasional, menyusul suatu penyelidikan mengenai doping yang disponsori negara.

6 Desember – Amerika Serikat secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

9 Desember – Militer Irak mengumumkan pihaknya telah “membebaskan sepenuhnya” seluruh wilayah Irak dari “gerombolan teroris ISIS” dan merebut kembali kendali penuh atas perbatasan Irak-Suriah.

14 Desember – Walt Disney Company mengumumkan akan mengakuisisi sebagian besar 21st Century Fox, termasuk studio film 20th Century Fox, seharga $ 66 miliar.

22 Desember – Dewan Keamanan PBB memberikan suara 15-0 untuk mendukung sanksi tambahan terhadap Korea Utara, termasuk langkah-langkah untuk memangkas impor minyak bumi hingga 90%.

Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/2017

 

Sumber: Google

 

[1] Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2017/09/02/badai-harvey/

[2] Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2017/09/17/rohingya/

[3] http://www.unhcr.org/afr/news/stories/2017/6/5941561f4/forced-displacement-worldwide-its-highest-decades.html

[4] http://www.azquotes.com/quote/87292

[5] https://en.wikipedia.org/wiki/2017

[6] Google.

← Back

Thank you for your response. ✨

 

Sidik Jari Irma

Tidak seperti halnya hantu yang datang secara diam-diam, ia datang secara terang-terangan, bahkan dengan suara gemuruh yang menciutkan; seperti halnya iblis, ia datang meninggalkan sidik jari yang memiriskan. Itulah barangkali gambaran alegoris mengenai ulah Irma, badai yang baru saja meluluh-lantahkan wilayah Karibia dan Florida (AS)[1]. Sidik jari Irma menyakinkan dan terverifikasi: meyakinkan karena dapat dipastikan malapetaka itu dapat dipastikan ulah Irma, bukan yang lain; terverifikasi karena siapa pun dapat melihatnya sendiri wujud malapertaka itu.

Irma sebenarnya telah “melunak”: statusnya telah diturunkan dari badai (hurricance) menjadi sekadar depresi tropis, kecepatan angin menjadi hanya 35mph (mil per jam) dari sebelumnya 50 mph. Status dan kecepatan itu dinilai masih berpotensi membahayakan sehingga layak diwaspadai.

Untuk jejak Irma berikut ini disajikan ringkasan yang diberikan theguardian[2] yang merujuk pada keadaan Selasa pagi pukul 6.30am GMT (2.30am ET):

  1. Akibat Irma 10 orang dikonfirmasi tewas di seluruh Amerika Serikat: 6 di Florida, 3 di Georgia dan 1 di Carolina Selatan. (Catatan: Laporan CNN Rabu pagi WIB, 12 orang tewas.)
  2. Angka kematian di Karibia mencapai 37 setelah kematian pertama di Haiti dikonfirmasi. Menurut Unicef, sumbangan dan bantuan dari masyarakat internasional akan dibutuhkan untuk mengatasi krisis yang sedang berlangsung. Inggris telah menjanjikan bantuan £ 32 juta sementara presiden Prancis, Emmanuel Macron, berangkat pada hari Senin untuk mengunjungi St. Martin.
  3. Skala kerusakan pada Florida Keys akan menjadi lebih jelas pada hari Selasa 7:00 ketika penduduk akan diijinkan masuk. Komunikasi terputus pada hari Senin sehingga arus informasi terbatas. Laporan dari komisaris kota Key West mengatakan bahwa makanan, air dan bahan bakar semakin berkurang, dan ada laporan korban tewas yang belum dikonfirmasi di daerah tersebut, diperkirakan akan terkena dampak parah setelah Irma mendarat di sana pada hari Minggu.
  4. Gubernur Florida, Rick Scott, mengatakan bahwa dia melihat “kehancuran” di Florida Keys, “Saya hanya berharap semua orang selamat,” katanya. “Mengerikan, apa yang kita lihat.”
  5. Rekam banjir bandang menyapu Jacksonville dari Sungai St Johns, sementara sekitar 13 juta orang ditinggalkan tanpa listrik di seluruh negara bagian di Florida.

Apakah ini azab (siksaan) atau balaa (cobaan)? Wallahu’alam. Yang jelas kita hanya dapat merespon akibatnya, bukan mencegah kejadiannya. Dalam konteks ini tampak relevan do’a yang seringkali dilantunkan oleh sebagian muslim: “Ya daafi’al balaa (Wahai Dzat pencegah balaa..),   dst….”, doa yang yang mengekspresikan keyakinan ketidak-berdayaan diri sekaligus sensibilitas ketergantungan kepada yang di Atas dalam menghadapi balaa. Apakah manusia memberikan sumbangsih terhadap kerusakan akibat balaa? Jawabannya “ya” bagi yang percaya akan teks suci berikut:

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebbkan karena perbuatan manusia; Allah mengendaki agar mereka merasakan sebagian dari (bukti) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah (Muhammad), “Berpergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesduahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah) (Ar-Ruum, 41-42).

Wallahu’alam….@

Sumber gambar: Google

[1] Catatan awal mengenai Irma lihat https://uzairsuhaimi.blog/2017/09/09/pelajaran-dari-irma/

[2] https://www.theguardian.com/world/live/2017/sep/10/hurricane-irma-millions-brace-for-impact-as-superstorm-reaches-florida-live

← Back

Thank you for your response. ✨

Pelajaran dari Irma

Amerika Serikat (AS) tengah didera bencana alam, lagi. Kali ini Badai Irma yang dinilai dan terbukti “menghancurkan dan mematikan” (devastating and deadly). Sebelumnya, akhir Agustus lalu, negara adidaya ini didera Harvei, badai lain yang telah meninggalkan beragam “sidik jari” di kawasan Tenggara Texas[1]: wilayah Houston, misalnya, berupa guyuran sekitar 20 triliun galon air hujan, volume air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan air bagi Kota New York selama lebih dari lima dekade. Dapat dibayangkan kerusakan material yang diakibatkannya; yang jelas, terkait badai itu dilaporkan sekitar 50 jiwa meninggal.

Sementara upaya pemulihan akibat Badai Harvey masih berlangsung yang diperkirakan memerlukan anggaran sangat besar dan waktu yang lama (bulanan atau bahkan tahun), AS kini tengah sibuk menyiapkan kedatangan Irma yang dinilai lebih dahsyat dari Harvey dan diduga kuat akan mendarat di kawasan Florida. Menghadapi ini Gubernur negara bagian itu menyatakan sudah minta bantuan negara (bagian) lain dan pemerintah Federal[2]. Dia telah mewanti-wanti warganya untuk memfokuskan pada keselamatan jiwa: “rumah yang hancur dapat dibangun kembali tetapi jiwa yang hilang tidak dapat dikembalikan”, ujarnya kira-kira. Menurut laporan CNN, meghadapi bencana ini sekitar 17.000 volunter dibutuhkan di luar sumberdaya yang telah disediakan oleh pemerintah negara bagian dan federal.

Ketika tulisan ini tengah disiapkan, Irma dilaporkan telah meluntuh-lantahkan wilayah Karibia (Caribbian), suatu wilayah yang mencakup luas sekitar 2.8 juta km (daratan: 240.000 km), berpenduduk sekitar 44 juta, kepadatan 151.5/km persegi, dan 30 unit pemerintahan (13 negara merdeka; sisanya negara “jajahan” negara lain termasuk AS, Inggris, Prancis, Belanda). Korban Irma di wilayah Karibia secara keseluruhan mencakup sekitar 1.2 juta jiwa dan 26 juta lainnya dilaporkan memiliki risiko serupa. Di Barbuda saja badai itu telah menghancurkan sekitar 95% infrastruktur[3].

Ketika AS tengah sibuk menyiapkan diri untuk menghadapi Badai Irma yang berkategori 5 dan sangat dihawatirkan akan memakan banyak korban jiwa (life threatening), Mexico sibuk menagatasi korban dan kerusakan gempa bumi berskala 8.1, terbesar dalam 100 tahun terakhir menurut presidennya. Di luar ini, ada ancaman lain: dua badai serupa tengah aktif “mengintip” wilayah Karibia.

karibia1

Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Caribbean

Pelajaran apa yang dapat diambil? Yang jelas, bencana alam seperti ini di luar kendali kita. Adakah yang dapat menolong? Kebanyakan kita mungkin menjawab: “tidak ada, ini bencana alam”. Sebagian (kecil) kita yang memiliki kepekaan spiritual di atas rata-rata akan menjawab: “ada, Rabb, definitely! Surat al-Falaq mengingatkan ini[4]. Golongan terakhir ini merasa selalu tidak aman terhadap azab Tuhan: “

… dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azan Tuhannya, sesungguhnya terhadap azab Tuhan mereka, tidak ada seseorang yang merasa aman (dari kedatangannya) (Al-Ma’arij: 26-28).

Tetapi sayangnya kita “pelupa-berat”, tabiat yang diabadikan dalam teks suci:

Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut ketika kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah hati dan dengan suara yang lembut?” (Dengan mengatakan), “Sekiranya Dia menyelamtkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur”. Katakanlah (Muhammad), “Allah yang menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, namun kemudian kemudian kamu (kembali) mempersekutukann-Nya (Al-An’aam:63-64).

Wallahu’alam…. @

[1] Mengenai topik ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2017/09/02/badai-harvey/

[2] Mantan Preseiden Bush dan Obama dilaporkan tenagh aktif menghimpun dana untuk membantu korban Harvey.

[3] Lihat misalnya http://www.express.co.uk/news/weather/850317/H.urricane-Irma-path-track-when-Irma-hit-Florida-US-latest-forecast-weather-models

[4] Mengenai relevansi surat ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2016/10/08/tragedi-badai-matthew-tragedi-aleppo-dan-jejak-ilahi/

← Back

Thank you for your response. ✨

 

Badai Harvey: Suatu Tinjauan Singkat

Warga Amerika Serikat (AS), khususnya warga di wilayah tenggara Texas dan sekitar, tengah mengalami musibah dahsyat terkait dengan Badai Harvey, badai tropis terbesar yang mendarat di AS sejak Wilma 2005. Kita tentunya turut prihatin dan berempati dengan mereka dan berharap yang terbaik buat mereka. Kita tidak boleh melupakan keprihatinan, empati, simpati serta bantuan dari warga global (termasuk warga AS) kepada kita ketika terjadi bencana tsunami Aceh akhir 2004 lalu. Ketika itu warga AS sempat mengutus salah satu putra terbaiknya, mantan presiden yang sangat dihormati, Jimmy Carter.

Badai Harvey berkembang dari gelombang tropis ke timur Antilles Kecil, yang mencapai status badai tropis pada 17 Agustus. Badai melintasi Kepulauan Windward yang pada keesokan harinya melintas tepat di sebelah selatan Barbados dan kemudian dekat Saint Vincent. Harvey sempat melemah pada awal 19 Agustus karena hembusan angin moderat di utara Kolombia sehingga statusnya menjadi gelombang tropis. Ketika melinatasi Teluk Campeche pada 23-24 Harvey kembali menguat cepat sehigga kembali berstatus badai tropis. Sementara badai bergerak secara umum ke barat laut, fase intensifikasi Harvey terhenti sedikit dalam semalam dari 24-25 Agustus, namun segera melanjutkan penguatan dan menjadi topan Kategori 4 pada akhir Agustus 25. Beberapa jam kemudian, Harvey mendarat di dekat Rockport, Texas, pada intensitas puncak.

Dalam periode empat hari, di beberapa daerah, Badai Harvey mencurahkan hujan lebih dari 40 inci (1.000 mm) dan dengan akumulasi puncak 51,88 in (1,318 mm) sehingga tercatat sebagai “topan tropis terbasah”. Terkait dengan badai itu Direktur FEMA Brock Long menyebut Harvey sebagai bencana terburuk di sejarah Texas dan memperkirakan pemulihan tersebut akan memakan waktu bertahun-tahun. Perkiraan awal kerugian ekonomi berkisar antara $ 10 miliar sampai $ 160 miliar, sebagian besar kerugian dialami oleh pemilik rumah yang tidak diasuransikan[1].

Akibat badai itu dilaporkan ribuan orang mengungsi (displaced), sekitar 72,000 orang diselamatkan dan 47 jiwa meninggal. Dari sisi korban bencana itu tidak sedahsyat bencana tsunami yang diperkiakan menelan korban sekitar 200,000 jiwa[2]. Walaupun demikian, Badai Harvey jelas tergolong dahsyat sebagaimana terungkap dari beberapa angka berikut ini[3].

Besarnya angka-angka di atas mengilustrasikan signifiknasi masalah yang ditimbulkan oleh Badai Harvey yang oleh CNN dilaporkan bersifat histortical. Ini jelas memprihatinkan. Yang melegakan adalah besarnya dedikasi petugas dalam upaya penyelamatan korban bencana badai itu. Yang juga melegakan adalah bahwa musibah itu tampaknya telah memicu gerakan solidarits sesama warga AS dalam membantu dan meringankan beban penderitaan korban. Dalam kaitan ini dilaporkan banyak voluntir yang terlibat secara spontan, bersemangat dan penuh pengabdian. Ada harapan samar-samar: bencana alam ini mendorong mempersatukan masyarakat AS yang kini oleh beberapa pengamat dinilai “terbelah” dan memicu diskusi publik mengenai global warming.

Apa yang dapat dilakukan menghadapi bencana alam semacam ini? Jelas tidak banyak: kita sama-sekali tidak dapat mencegah terjadinya, kita secara kolektif–bahkan dengan tingkat IPTEK yang paling terkini– hanya dapat mengantisipasi dampaknya dengan mengupayakan agar korban sesedikit mungkin. Bencana semacam ini, untuk kesekian kali, seyogyanya memberikan pelajaran penting bagi kita untuk secara legowo “menghormati” alam: pada dasarnya kita tidak dapat mengendalikan alam, tetapi “dikendalikan alam”[4].

harvey1

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Hurricane_Harvey

[2] Penulis aktif terlibat dalam Sensus Penduduk Nangro Aceh dan Nias (SPAN) 2005 yang salah satu tujuan utamanya adalah untuk menghitung jumlah korban jiwa akibat tsunami. Kegaiatan ini dibayai oleh komunitas global di bawah koordinasi UNFPA.

[3] http://abcnews.go.com/US/hurricane-harvey-wreaks-historic-devastation-numbers/story?id=49529063. Sebagian angka-angka itu masih mungkin berubah karena situasi masih sangat cair ketika tulisan ini disiapkan. Laporan CNN Sabtu (3/9/2017) petang, misalnya, mengungkapkan korban meninggal terkait Harvey menjadi 50 jiwa.

[4] Mengenai yang terakhir ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2011/12/06/dikuasai-alam/

← Back

Thank you for your response. ✨

Catatan Akhir Tahun 2016: Catatan Bencana Alam dan Tragedi Kemanusiaan

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Tahun 2016 hampir berlalu yang bagi sebagian besar kita meninggalkan sejumlah kenangan manis maupun pahit; tahun 2016 mengantarkan kita ke tahun 2017 dengan yang bagi sebagian besar kita mengandung sejumlah harapan atau kecemasan. Frase “bagi sebagian besar kita” menunjukkan bahwa ada sebagian kecil kita yang menduduki maqam atau kondisi-permanen spiritual istimewa, sedemikian istimewanya sehingga “bau” duniawi yang menggembirakan atau menyedihkan tidak berpengaruh terhadap kondisi jiwanya. Kalangan elitis ini “senantiasa berada dalam keadaan salat (“pray without ceasing[1]) atau tenggelam dalam dzikir. Maqam istimewa ini masih terlalu jauh bagi penulis dan mungkin bagi sebagian besar kita.

Sekalipun belum berada pada maqam istimewa, kita masih dapat berharap cukup bijak untuk dapat melihat masa lalu tidak hanya sekadar kenangan, tetapi juga ladang pembelajaran untuk menghadapi tantangan dan kesempatan yang akan datang. Hasilnya yang diharapkan: keadaan, capaian atau prestasi individual masing-masing kita pada tahun 2017 lebih baik dari pada tahun 2016 (I2017> I2016). Jika tidak, konon menurut Ali RA, kita “merugi” (I2017= I2016) atau bahkan “celaka” (I2017< I2016). Inilah yang pantas dijadikan sasaran “proyek 2017” bagi masing-masing kita secara individual. Di luar proyek individual tentu kita juga memiliki juga proyek kolektif yang bersifat global. Sasaran yang pantas dari proyek global adalah mengatasi sejumlah “warisan” tahun 2016 berupa sejumlah dampak bencana alam dan tragedi kemanusiaan.

Bencana Alam

Tahun 2016 menyaksikan sejumlah bencana alam yang berada di luar jangkauan kita untuk mencegahnya. Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya gempa baru-baru ini (6 Desember 2016) di Kabupaten Sigli dengan intensitas maksimum berkategori IX (violent, sangat parah): 245 bangunan runtuh, 990 terluka (136 diantaranya serius) dan 104 meninggal dunia. Bencana Sigli sama-sekali bukan satu-satunya gempa yang terjadi tahun ini: dilaporkan, sepanjang 2016 terjadi 15,711 gempa. (Angka ini catatan sampai 16 November 2016 sehingga tidak mencakup bencana Sigli[2].) Wilayah yang terkena gempa tahun ini mencakup semua benua. Luasnya cakupan bencana diilustrasikan oleh Tabel 1 yang mendaftar bencana yang terjadi bulan terakhir tahun ini[3].

Mengenai bencana alam ada dua pertanyaan retrospektif yang layak diajukan: (1) Apakah taraf iptek kontemporer sudah dapat mengantisipasi bencana semacam yang terjadi di Sigli? (2) Apakah bencana alam “murni alamiah” dalam arti tanpa “campur tangan” Dia_yang_Maha_Tinggi? Untuk pertanyaan pertama agaknya kita perlu memberikan jawaban negatif. Untuk yang kedua, kebanyakan kita mungkin cenderung menjawab positif: murni alamiah, tanpa keterlibatan Tuhan. Walaupun demikian, penulis yakin sebagian kecil dari kita meyakini keterlibatan Tuhan dalam setiap bencana alam sekalipun tidak memahami sepenuhnya hikmah dari kebijaksanaan-Nya: mereka tidak mempertanyakannya; bilaa kaifa, kata kalangan santri.

Tragedi Kemanusiaan

Tahun 2016 juga menyaksikan sejumlah tragedi kemanusiaan yang menyayatkan hati (sejauh kita masih memiliki hati). Faktor yang melatar belakanginya bemacam-macam, mulai dari fenomena el-nino, sampai pada konflik antar suku, ideologi atau faksi-keagamaan. Hebatnya, faktor latar belakang itu memiliki efek domino yang berkepanjangan. Sebagai ilustrasi, fenomena el-nino –khususnya di negara-negara berkembang dengan tingkat teknologi pertanian yang masih banyak-mengandalkan-kebaikan-alam– akan menyebabkan bencana kekeringan yang parah yang pada gilirannya menurunkan secara drastis produksi pangan serta meningkatkan harga pangan sehingga tidak terjangkau bagi kebanyakan. Sebagai ilustrasi lain, konflik antar faksi keagamaan menyebabkan perang saudara dan kekacauan politik dalam negeri sehingga mendorong migrasi masif antar negara bahkan antar benua.

Menurut Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum), kebanyakan orang yang bekerja di lembaga bantuan meyakini bahwa tahun 2016 memberikan warisan pada tahun 2017 dengan meningkatnya kebutuhan bantuan kemanusiaan. Diperkirakan, belasan negara akan membutuhkan bantuan kemanusiaan dengan “harga” sekitar $20.1 milyar:

There’s one prediction for 2016 that most aid workers can make with confidence – that the new year will usher in rising humanitarian needs. Besides displacement caused by long-term conflicts in places like Syria and South Sudan, there is also the threat of more violence in the Central African Republic and hunger caused by El Nino, which is expected to bring more drought to already-parched southern regions in Africa and potential flooding in the east. The United Nations projects that at least 87 million people in dozens of countries will require humanitarian aid next year, and is seeking a record $20.1 billion to meet their needs.

Ada satu prediksi untuk 2016 yang diyakini oleh sebagian besar pekerja bantuan bahwa tahun baru kebutuhan bantuan kemanusiaan akan meningkat. Selain untuk pengungsian yang disebabkan oleh konflik berkepanjangan di wilayah-wilayah seperti Suriah dan Sudan Selatan, juga untuk ancaman kekerasan lainnya di Republik Afrika Tengah dan kelaparan yang disebabkan oleh El Nino yang diperkirakan membawa kekeringan lebih parah di kawasan selatan yang sudah kering di Afrika dan potensi banjir di kawasan timur. PBB memperkirakan setidaknya 87 juta orang di berbagai negara akan memerlukan bantuan kemanusiaan tahun depan, dan mencari rekor $ 20,100,000,000 untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Upaya untuk mengumpulkan dana sebesar $20.1 milyar merupakan tantangan besar karena konon secara psikologis kita cenderung “tidak peduli” dengan tragedi kemanusiaan yang bersifat masif: kita lebih prihatin dengan yang satu dari pada yang banyak. Dalam hal ini menarik untuk disimak tulisan David Ropeik yang berjudul agak provokatif: “Statistical Numbing: Why Millions Can Die and We Don’t Care[4]”. Dalam tulisan ini Ropeik mengutip ungkapan Paul Slovic yang menilai kecenderungan kita ini sebagai “cacat fundamental dalam kemanusiaan kita” (“a fundamental deficiency in our humanity“), cacat yang menyebabkan kita tidak peduli, mengetahui tetapi tidak bertindak memadai, untuk mencegah terjadinya penderitaan masif dan genosida di Kongo atau Kosovo atau Kamboja atau banyak yang lainnya. Dalam tulisan yang sama Ropeik mengutip ucapan Theresia dan Stalin: (1) Ibu Theresa: “If I look at the mass I will never act. If I look at the one I will”, dan (2) Stalin: “One death is a tragedy. One million is a statistic”. 

Seperti terungkap dalam Laporan Forum Ekonomi Dunia sebagaiman tercantum dalam kutipan di atas, tragedi kemanusiaan tampaknya tidak hanya akan “berlanjut” di kawasan Syria seperti yang memperoleh perhatian media masa, tetapi juga di Yaman dan kawasan Afrika yang sejauh ini kurang memperoleh perhatian media masa. Baru-baru ini, Yayasan Thomson Reuters melakukan jajak pendapat terhadap lembaga bantuan dunia yang utama. Masing-masing mereka diminta menyebutkan tiga prioritas kemanusiaan tahun 2016 yang paling penting. Hasilnya, tidak mengagetkan: Syria berada dalam puncak daftar keprihatinan mereka. Hal ini dapat dipahami karena, seperti yang diungkapkan lembaga Vatikan kepada Lembaga Hak Azai Manusia PBB, setelah berlangsung lima tahun, perang di Syria menimbulkan “perasaan yang tanpa saya di depan tragedi yang tanpa akhir” ( “feeling of helplessness in front of an endless human tragedy”)[5].

Ringkasan hasil jajak pendapat oleh yayasan itu disajikan pada Tabel 2. Catatan menarik yang diungkapkan tabel itu antara lain bahwa bahwa di luar Syria dan Yaman, sejumlah kawasan di Afrika juga berada dalam daftar puncak keprihatinan lembaga bantuan dunia. Isu-isu spesifik dari tragedi kemanusiaan menurut keprihatinan lembaga-lembaga bantuan itu ternyata sangat bervariasi dan hal ini menggambarkan luasnya spektrum tragedi kemausiaan sebagaimana diungkapkan oleh Tabel 3. Mengingat intensitas dan luas spektrum tragedi kemanusiaan 2016 yang dampaknya diduga masih akan kita hadapi tahun depan, maka tahun 2017 akan menjadi saksi nilai kesalehan sosial kita, nilai yang sejauh pemahaman penulis merupakan salah satu inti ajaran agama-agama besar, diukur dengan prestasi kita secara kolektif dalam merespon bencana dan tragedi itu. Wallahu’alam  …..@

Tabel 1: Gempa Desember 2016

  1. A magnitude 5.2 earthquake struck Costa Rica 6 km (3.7 mi) east northeast of Cartago on December 1 at a depth of 5.0 km (3.1 mi). The shock had a maximum intensity of VI (Strong).[236] The earthquake caused landslides and damaged some homes, forcing at least 5 families to move to a community centre.[237]
  2. A magnitude 6.3 earthquake struck Peru 43 km (27 mi) northeast of Huarichancara, Puno Region on December 1 at a depth of 10.0 km (6.2 mi). The shock had a maximum intensity of VII (Very strong).[238] At least 40 houses in Lampa Province were damaged, with some suffering total collapse. One person died and 17 others were injured.[239]
  3. A magnitude 6.0 earthquake struck offshore of the United States 53 km (33 mi) south of Shemya Island, Alaska on December 3 at a depth of 26.9 km (16.7 mi). The shock had a maximum intensity of IV (Light).[240]
  4. A magnitude 6.3 earthquake struck Indonesia 148 km (92 mi) north northeast of Palu’e Island, East Nusa Tenggara on December 5 at a depth of 526.0 km (326.8 mi). The shock had a maximum intensity of III (Weak).[241]
  5. A magnitude 6.5 earthquake struck Indonesia 19 km (12 mi) southeast of Sigli, Aceh on December 6 at a depth of 8.2 km (5.1 mi). The shock had a maximum intensity of IX (Violent). About 245 buildings collapsed as a result of the quake. 104 people were killed and over 900 were injured,[243] of which 136 suffered serious injuries.
  6. A magnitude 5.9 earthquake struck China 57 km (35 mi) south southeast of Shihezi in the Xinjiang Autonomous Region on December 8 at a depth of 13.7 km (8.5 mi). The shock had a maximum intensity of VI (Strong).[245] Two people were injured, and 25 houses suffered damage in Ürümqi region.
  7. A magnitude 6.5 earthquake struck offshore of the United States 160 km (99 mi) west of Ferndale, California on December 8 at a depth of 12.1 km (7.5 mi). The shock had a maximum intensity of IV (Light).[247]
  8. A magnitude 7.8 earthquake struck the Solomon Islands 69 km (43 mi) west southwest of Kirakira on December 8 at a depth of 41.0 km (25.5 mi). The shock had a maximum intensity of VII (Very strong).[248] Tsunami waves up to 5.0 cm (2.0 in) were measured in New Caledonia and Vanuatu.[249] More than 200 buildings in the southern part of Malaita were damaged and buildings collapsed in Makira; more than 7,000 people were affected by the quake. An eleven-year-old girl died when a building collapsed.
  9. A magnitude 6.5 earthquake struck the Solomon Islands 79 km (49 mi) west southwest of Kirakira on December 8 at a depth of 14.7 km (9.1 mi). The shock had a maximum intensity of V (Moderate).[253] This was an aftershock of the 7.8 quake.
  10. A magnitude 4.4 earthquake struck Croatia 3 km (1.9 mi) east of Trogir, Split-Dalmatia county on December 9 at a depth of 21.9 km (13.6 mi). The shock had a maximum intensity of VI (Strong).[254] The quake caused minor damage in the form of cracked walls and broken windows.[255]
  11. A magnitude 6.9 earthquake struck offshore of the Solomon Islands 94 km (58 mi) west southwest of Kirakira on December 9 at a depth of 20.6 km (12.8 mi). The shock had a maximum intensity of VII (Very strong).[256] This was an aftershock of the 7.8 quake.
  12. A magnitude 6.1 earthquake struck Papua New Guinea 131 km (81 mi) west northwest of Arawa, Bougainville on December 10 at a depth of 157.1 km (97.6 mi). The shock had a maximum intensity of IV (Light).[257]
  13. A magnitude 6.0 earthquake struck offshore of the United States trust territory of the Northern Mariana Islands 97 km (60 mi) north northwest of Farallon de Pajaros on December 14 at a depth of 27.6 km (17.1 mi). The shock had a maximum intensity of III (Weak).
  14. A magnitude 7.9 earthquake struck Papua New Guinea 46 km (29 mi) east of Taron, New Ireland on December 17 at a depth of 103.2 km (64.1 mi). The shock had a maximum intensity of VIII (Severe).[259] Though tsunami waves up to 8.0 cm (3.1 in) were measured[260] and power was knocked out in some parts of the country, no reports of injuries or damage were reported.[261]
  15. A magnitude 6.3 earthquake struck offshore of Papua New Guinea 169 km (105 mi) southeast of Taron, New Ireland on December 17 at a depth of 35.9 km (22.3 mi). The shock had a maximum intensity of IV (Light).[262] This was an aftershock of the 7.9 quake.
  16. A magnitude 6.0 earthquake struck the Solomon Islands 83 km (52 mi) west northwest of Kirakira on December 18 at a depth of 39.1 km (24.3 mi). The shock had a maximum intensity of V (Moderate).[263] This was an aftershock of the 7.8 quake.
  17. A magnitude 6.1 earthquake struck the Federated States of Micronesia 24 km (15 mi) east southeast of Ngulu Atoll on December 18 at a depth of 13.2 km (8.2 mi). The shock had a maximum intensity of IV (Light).
  18. A magnitude 6.4 earthquake struck Peru‘s Ucayali Region 201 km (125 mi) south of Tarauaca, Brazil on December 18 at a depth of 619.4 km (384.9 mi). The shock had a maximum intensity of II (Weak).
  19. A magnitude 5.4 earthquake struck Ecuador 14 km (8.7 mi) south southwest of Propicia, Esmeraldas Province on December 19 at a depth of 10.0 km (6.2 mi). The shock had a maximum intensity of VI (Strong).[266] This earthquake damaged houses, hotels, and caused some landslides in Atacames. Three people died and 47 others were injured.
  20. A magnitude 6.4 earthquake struck the Solomon Islands 80 km (50 mi) west northwest of Kirakira on December 20 at a depth of 11.3 km (7.0 mi). The shock had a maximum intensity of VII (Very strong). This was an aftershock of the 7.8 quake.
  21. A magnitude 6.7 earthquake struck offshore of Indonesia 278 km (173 mi) east northeast of Dili, East Timor on December 21 at a depth of 151.5 km (94.1 mi). The shock had a maximum intensity of V (Moderate).

Sumber: Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_earthquakes_in_2016

Tabel 2: Wilayah-wilayah Tragedi Kemanusiaan

Lembaga Bantuan Afrika Tengah Sudan Selatan Afrika lainnya Syria Yamen Wilayah lainnya
(1) Action against Hunger V Semenan-jung Afrika V
(2) ActionAid V Afrika Timur dan Selatan V
(3) Americares Afrika Barat V Kepulauan Pacifik
(4) Care International V V (El-Nino) V V
(5) Catholic Relief V V V (El-Nino)
(6) Cordaid V V V
(7) Danish Refugee Council V V Eropa
(8) International Committee of the Red Cross (ICRC) Burundi Israil dan wilayah penjajahan dan Afgha-nistan
(9) International Medical Corps (IMC) Semenan-jung Afrika dan Brundi V V
(10) Mercy Corp V V Nigeria Utara
(11) Norwegian Refugee Council V Wilayah Sahala V
(12) Plan International Ethiopia, Afrika bagian Selatan dan Brundi
(13) Save the Children V Ethiopia V
(14) Sightsavers V V Congo, dan Chad V
(15) World Vision UK V Congo V

Sumber: World Economic Forum, https://www.weforum.org/agenda/2015 /12/these-are-the-top-humanitarian-concerns-for-2016/

Table 3: Frase Keprihatinan Lembaga-lembaga Bantuan Dunia

Lembaga Frase Keprihatinan
(1) Action against Hunger “Central African Republic is a forgotten humanitarian crisis which is not making the front pages despite the violent conflict that has left over half the population in dire need of assistance. An alarming number of children are at risk of life-threatening malnutrition. As violence continues, access for aid workers is ever more restricted and food, water, and medical supplies in short supply,” said Juliet Parker, director of operations, Action Against Hunger UK.
(2) ActionAid “Climate, conflict and humanitarian crises continue to affect the lives of the poorest women and children in the world,” said Mike Noyes, ActionAid’s head of humanitarian response.
(3) Americares “Health system strengthening in west Africa is one of our top priorities for 2016. We need to ensure the health systems in these countries are not only prepared for the next major health emergency but are also better equipped to deal with everyday health crises,” said Garrett Ingoglia, vice president of emergency response.
(4) Care International “CARE continues to deepen its efforts (in the Middle East) to provide basic services to try to help people caught up in these conflicts, including housing, cash, water and sanitation. We also support government systems in neighboring countries hosting Syria refugees and partner with other INGOs to provide essential services to those most in need,” said Barbara Jackson, humanitarian director.
(5) Catholic Relief “We’re currently witnessing levels of food shortage that could turn into a full-blown humanitarian crisis not seen in Ethiopia since 1985,” said Jennifer Poidatz, vice president, humanitarian response department.
(6) Cordaid “In this rapidly changing world, you have to continuously reinvent yourself in order to achieve maximum social impact with limited resources. For us that means creating opportunities for everyone where the need is greatest as a result of war and natural disaster,” said Simone Filippini, CEO.
(7) Danish Refugee Council “In Europe refugees are crossing the Mediterranean in a scale, we haven’t seen before. We never imagined in the Danish Refugee Council that we would be required to operate in countries within the EU. At the same time we believe that this is a political crisis, and it is, therefore, essential to push for the EU to find a political solution to this,” said Ann Mary Olsen, international director.
(8) International Committee of the Red Cross (ICRC) “In addition to the crises widely covered in 2015, next year on my radar will be Burundi (and the Great Lakes area), Israel and the Occupied Territories and Afghanistan,” said Dominik Stillhart, director of operations at ICRC. “Having worked in Afghanistan for 30 years, we see that the conflict is far from over and civilians continue to pay a heavy price: 2015 was one of the deadliest years since 2001. A deteriorating security situation forces people to leave their homes and seek refuge in neighboring countries or try dangerous routes to Europe,” said Stillhart.
(9) International Medical Corps (IMC) “Sadly, we expect the already dire humanitarian situation in both Syria and Yemen to only worsen, the drought in the Horn of Africa to push food insecurity to a level not seen in decades, and the violence and heightened rhetoric in Burundi could potentially spiral into human tragedy in 2016,” said Rabih Torbay, senior vice president of international operations.
(10) Mercy Corp “Over 4 million Syrians are now registered refugees in other countries, over half of those are children. As 2015 draws to a close, protection and humanitarian aid in Syria have reached a record high, and in the absence of a viable peace, the situation is expected to deteriorate and require even more sustained humanitarian support in the coming year,” said Michael Bowers, vice president for humanitarian leadership and response.
(10) Norwegian Refugee Council “International relief agencies and underestimated local organizations are able to work with most of the needy in most of the not-so-difficult places. But we are still remarkably absent in hundreds of communities across war-torn Syria, Yemen, South Sudan and Central African Republic. Too few organizations are capable of expanding their presence in areas where armed opposition groups or designated terrorist organisations rule over millions of civilians,” said Jan Egeland, Secretary General.
(11) Plan International “Our experience in the 2011 Horn of Africa food crisis, particularly in Ethiopia, (showed) that children and pregnant women are doubly disadvantaged. Plan International will prioritise them through community-based food and nutrition assistance and school-based feeding programmes,” said Roger Yates, director of disasters and humanitarian response.
(12) Save the Children “In Ethiopia, the key concerns for Save the Children are to make sure that food is obtained and delivered to children and their families in the most affected areas to prevent malnutrition, to have rapid life-saving therapeutic feeding for those children who do fall into severe malnutrition and to provide basic access to water in affected communities,” said John Graham, Country Director for Save the Children in Ethiopia.
(13) Sightsavers

 

“It is in the field of the Neglected Tropical Diseases where we are most often in communities facing high levels of chronic insecurity, subject either to long-term conflict or frequent flashpoints,” said Dominic Haslam, director of policy and programme strategy.
(14) World Vision UK

 

“While the Syria crisis sometimes hits the headlines, our work — and the challenges facing hundreds of thousands of refugee families — carries on every day. We’ll continue to provide a huge amount of practical support in Syria and its neighboring countries, and now in Europe,” said Mark Bulpitt, head of humanitarian and resilience.

Sumber: World Economic Forum, https://www.weforum.org/agenda/2015 /12/these-are-the-top-humanitarian-concerns-for-2016/

[1] Judul buku yang diedit oleh Patrick Laude, 2006, World Wisdom. Judul lengkapnya “Pray Without Ceasing: The Way of the Invocation in World Religion”.

[2] https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_earthquakes_in_2016.

[3] Ibid

[4] https://www.psychologytoday.com/blog/how-risky-is-it-really/201108/statistical-numbing-why-millions-can-die-and-we-don-t-care

[5] http://visitor.stclouddiocese.net/tag/human-tragedy/