Peristiwa Penting 2017: Refleksi Akhir Tahun

Tahun 2017 segera berlalu dan Tahun Baru 2018 hampir tiba. Semua berharap tahun baru membawa harapan baru, tentunya ke arah yang lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pertanyannya, apakah harapan semacam ini realistis? Pada tataran individual, jawabannya seyogyanya positif: harapan hari-esok yang lebih baik perlu dirawat agar tetap “tampak” realistis. Pada tataran global, sayangnya kita perlu mengakui bahwa jawabannya cenderung negatif. Jawaban ini logis berdasarkan fakta dari sejumlah peristiwa yang terjadi sepanjang tahun 2017.

Sukar bagi kita untuk mengabaikan fakta berbagai bencana yang terjadi pada tahun ini, bencana alam maupun bencana kemanusiaan. Mengenai yang pertama sebut saja Badai Harvei yang yang menyerang wilayah metropolitan Houston (Amerika Serikat) pada minggu ke-4 Agustus[1]. Mengenai yang kedua, dapat diambil contoh kasus peristiwa “pembersihan etnis” (istilah yang diberikan oleh PBB) melalui suatu operasi militer pada 25 Agustus yang menargetkan Muslim Rohingya di Myanmar[2].

Kasus Rohingya merupakan contoh kasus pindah paksa (forced displacement) yang menurut UNHCR, secara global, mengambil korban sekitar 65,6 juta orang pada akhir tahun 2016 (angka 2017 belum tersedia tetapi patut diduga tidak banyak berkurang). Angka itu lebih besar dari pada populasi Inggris dan secara rata-rata berarti 20 orang diusir dari rumah mereka setiap menit, atau seorang setiap tiga detik. Bagi Filippo Grandi (UNHCR), “Dalam ukuran apa pun angka ini tidak dapat diterima” dan untuk menyelesaikannya perlu determinasi dan keberanian, bukan takut: “For a world in conflict, what is needed is determination and courage, not fear[3]

Jika bencana alam seperti Badai Harvei boleh dikatakan sebagai manifestasi “kehendak Tuhan”, maka kasus seperti pindah paksa jelas “buatan manusia” (man-made). Kenapa manusia melakukannya? Jawaban singkatnya, karena kebodohan, dalam berbagai tingkat dan bentuknya. Einstein mungkin benar ketika mengatakan bahwa kebodohan manusia itu tidak terhingga: “Only two things are infinite, the universe and human stupidity, and I’m not sure about the former” (“Hanya dua hal yang tak-terhigga, alam raya dan kebodohan manusia, dan saya tidak yakin mengenai yang pertama”) [4].

Kita dapat membuat daftar panjang peristiwa sepanjang tahun 2017. Walaupun demikian, kita dapat menyederhanakanna dengan memilih kasus yang secara umum dinilai memiliki signifikansi kemanusiaan dan merefleksikan suasana batin global. Daftar peristiwa selektif semacam ini dapat dilihat, misalnya, dalam daftar yang dikompilasi oleh Wikipedia[5].

Urutan pertama dalam kompilasi Wikipedia adalah demonstrasi Women’s March besar-besaran pada 21 Januari 2017 sebagai tanggapan atas peresmian Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat. Demonstrasi ini dilaporkan melibatkan jutaan orang (sebagian besar perempuan), dan berlangsung tidak hanya di AS tetapi juga di negara lain. Para demonstran menolak Presiden sebagian karena dianggap kurang hormat terhadap perempuan, rasialist, agresif, kurang akomodatif, tidak presidential, dan dituduh cenderung pada kebijakan yang kontroversial.

Tuduhan para demonstran kebijakan kontroversial belakangan terbukti sebagaimana terlihat dari beberapa peristiwa berikut:

6 April – Militer A.S. meluncurkan rudal jelajah Tomahawk di sebuah pangkalan udara di Suriah yang oleh Rusia digambarkan sebagai “agresi”;

13 April – Dalam serangan udara AS menjatuhkan senjata non-nuklir terbesar di dunia, di sebuah markas ISIL di Afghanistan.

1 Juni – A.S. mengumumkan keputusannya untuk menarik diri dari Paris Climate Agreement pada waktunya.

12 Oktober – AS menarik diri dari UNESCO yang segera diikuti oleh Israel.

6 Desember – AS secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Semua peristiwa ini tercantum dalam daftar yang dikompilasi oleh Wikipedia. Selain itu, daftar ini mencantumkan juga peristiwa lain termasuk ujicoba nuklir Korea Utara (Februari), kelaparan di di Yaman, Somalia, Sudan Selatan dan Nigeria (Maret), dan keptusan Dewan Keamanan PBB untuk memberikan sangsi tambahan kepada Korea Utara (Desember). Tabel 1 berikut menyajikan daftar yang dimaksud.

Berdasarkan daftar itu sukar bagi kita untuk berharap banyak bahwa 2018 akan lebih baik dari 2017. Daftar itu justru mengisyaratkan beratnya tantangan bagi masyarakat global di tahun depan, tanpa harus berharap terlalu banyak pada inisiatif dan kepemimpinan Administrasi Trump. Walaupun demikian kita tampaknya perlu menyetujui pendapat Grandi bahwa dunia dalam “keadaan perang” dan yang kita butuhkan bukan rasa takut, tetapi determinasi dan keberanian. Selain unsur determinasi dan keberanian, mungkin kita dapat tambahkan unsur sabar, unsur yang konon menjadi “rahasia” kemenangan Barca terhadap Madrid dalam pertandingan klasik baru-baru ini. Sebagai catatan, istilah sabar dalam konteks ini mengambil definisi Fulton J. Sheen[6]:

Patience is power

Patience is not an absence of action;

rather it is “timing”

it waits on the right time to act,

for the right principles

and in the right way.

Wallhu’alam….@

Tabel 1: Peristiwa Penting Tahun 2017
Bulan Peristiwa
Januari 21 Januari – Jutaan orang di seluruh dunia bergabung dalam demonstrasi Women’s March sebagai tanggapan atas peresmian Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat. Pada hari itu dilaporkan 420 gelombang protes di A.S dan diikuti di 168 di negara lain sehingga tercatat sebagai hari demonstrasi terbesar dalam sejarah Amerika, bahkan secara global dalam sejarah baru-baru ini.
Februari 11 Februari – Korea Utara mengundang kecaman internasional karena melakukan uji coba menembakkan rudal balistik yang melintasi Laut Jepang.
Maret 10 Maret – PBB memperingatkan bahwa dunia menghadapi krisis kemanusiaan terbesar sejak Perang Dunia II terkait dengan risiko kelaparan bagi 20 juta orang lebih di Yaman, Somalia, Sudan Selatan dan Nigeria.

29 Maret – Inggris memulai Negosiasi Brexit untuk meninggalkan Uni Eropa.

30 Maret – SpaceX melakukan penerbangan-ulang roket kelas orbital pertama di dunia.

April 6 April – Menanggapi dugaan serangan senjata kimia di sebuah kota yang dikuasai pemberontak, militer A.S. meluncurkan rudal jelajah Tomahawk di sebuah pangkalan udara di Suriah. Rusia menggambarkan tindakan itu sebagai “agresi”, dan menambahkan bahwa hal itu secara signifikan merusak hubungan A.S.-Rusia.

13 April – Dalam serangan udara Nangarhar tahun 2017, AS menjatuhkan MOU GBU-43 / B, senjata non-nuklir terbesar di dunia, di sebuah markas ISIL di Afghanistan.

May 12 Mei – Komputer di seluruh dunia terkena serangan cyber ransomware skala besar yang menyerang setidaknya 150 negara.

22 Mei – Suatu erangan bom teroris di sebuah konser Ariana Grande di Manchester, Inggris, membunuh 22 orang dan melukai lebih dari 500 orang.

Juni 1 Juni – Di tengah kritik luas, A.S. mengumumkan keputusannya untuk menarik diri dari Paris Climate Agreement pada waktunya.

7 Juni – Dua serangan teroris bersamaan dilakukan oleh lima teroris milik Negara Islam Irak dan Levant (ISIL) melawan gedung Parlemen Iran dan Mausoleum Ruhollah Khomeini, keduanya di Teheran, Iran, menyebabkan 17 warga sipil tewas dan 43 luka. Ini menjadi serangan ISIL pertama di Iran.

10 Juni – Expo Dunia 2017 dibuka di Astana, Kazakhstan.

12 Juni – Mahasiswa Amerika Otto Warmbier kembali ke rumah dalam keadaan koma setelah menghabiskan 17 bulan di sebuah penjara Korea Utara dan meninggal seminggu kemudian.

18 Juni – Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) menembakkan enam rudal balistik mid-range permukaan ke darat dari basis domestik yang menargetkan pasukan ISIL di Provinsi Deir ez-Zor Suriah sebagai tanggapan atas serangan teroris di Teheran awal bulan itu.

21 Juni – Masjid Agung al-Nuri di Mosul, Irak, hancur oleh Negara Islam Irak dan Levant.

25 Juni – Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan Yaman mengalami lebih dari 200.000 kasus kolera.

27 Juni – Serangkaian serangan cyber yang menggunakan malware Petya dimulai, mempengaruhi organisasi-organisasi di Ukraina.

Juli 4 Juli – Rusia dan China mendesak Korea Utara untuk menghentikan program rudal dan nuklirnya setelah berhasil menguji rudal balistik antarbenua pertamanya.

7 Juli – Perjanjian Larangan Senjata Nuklir dipilih oleh 122 dari 193 negara anggota PBB.

10 Juli – Perang Sipil Irak (2014-sekarang): Mosul dinyatakan sepenuhnya dibebaskan dari Negara Islam Irak dan Levant.

Agustus 5 Agustus – Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat menyetujui sanksi baru terhadap perdagangan dan investasi Korea Utara.

17 Agustus – Observasi pertama dari tabrakan dua bintang neutron (GW170817) dipuji sebagai terobosan dalam astronomi multi-messenger   ketika gelombang gravitasi dan elektromagnetik dari peristiwa tersebut terdeteksi. Data dari acara tersebut memberikan bukti konfirmasi untuk teori proses-r asal mengenai unsur-unsur berat seperti emas.

21 Agustus – Gerhana matahari total (dijuluki “The Great American Eclipse”) terlihat di dalam suatu band di seluruh Amerika Serikat yang bersebelahan, melintas dari Pasifik ke pantai Atlantik.

25 Agustus – masih berlangsung – Suatu operasi militer yang menargetkan Muslim Rohingya di Myanmar “tampaknya merupakan contoh buku teks tentang pembersihan etnis”, menurut Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa.

25-30 Agustus – Badai Harvey menyerang Amerika Serikat sebagai topan Kategori 4, yang menyebabkan kerusakan parah pada wilayah metropolitan Houston, sebagian besar karena banjir yang memecahkan rekor. Sedikitnya 90 kematian dicatat, dan kerusakan total mencapai $ 198,6 miliar (2017 USD), menjadikan Harvey sebagai bencana alam paling mahal dalam sejarah Amerika Serikat.

September 1 September – Presiden Rusia Vladimir Putin mengusir 755 diplomat sebagai tanggapan atas sanksi Amerika Serikat.

3 September – Korea Utara melakukan uji coba nuklir keenam dan paling kuat.

6-10 September – Karibia dan Amerika Serikat diserang oleh Badai Irma, badai Kategori 5 yang merupakan badai terkuat yang tercatat di cekungan Atlantik di luar Karibia dan Teluk Meksiko. Badai menyebabkan setidaknya 134 kematian dan setidaknya $ 63 miliar (2017 USD) dalam kerusakan.

13 September – Komite Olimpiade Internasional memberi penghargaan kepada Paris dan Los Angeles untuk menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas 2024 dan 2028.

15 September – Cassini-Huygens mengakhiri misi 13 tahunnya dengan terjun ke Saturnus, menjadi pesawat ruang angkasa pertama yang memasuki atmosfer planet ini.

19 September – Sebelas hari setelah gempa dahsyat yang dahsyat, dan pada hari ulang tahun ke-32 dari gempa yang mematikan pada tahun 1985 di Kota Meksiko, sebuah gempa Mw 7.1 menyerang Meksiko tengah, menewaskan lebih dari 350 orang dan menyebabkan sampai 6.000 orang terluka. dan menyebabkan ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal.

19-20 September – Hanya dua minggu setelah Badai Irma menyerang Karibia, Badai Maria menyerang daerah serupa, membuat pendaratan di Dominika sebagai topan Kategori 5, dan Puerto Riko sebagai topan Kategori 4. Maria menyebabkan setidaknya 94 kematian dan kerusakan diperkirakan mencapai $ 103 miliar (2017 USD).

25 September – Kurdistan Irak memberikan suara dalam suatu referendum untuk menjadi negara merdeka, yang bertentangan dengan Irak; pada tanggal 15 Oktober, krisis tersebut meningkat menjadi konflik bersenjata singkat mengenai wilayah-wilayah yang disengketakan.

Oktober 1 Oktober – Lima puluh delapan orang terbunuh dan 546 lainnya cedera saat Stephen Paddock menembaki kerumunan di Las Vegas, melebihi serangan klub malam tahun 2016 di Orlando sebagai pemotretan paling mematikan yang dilakukan oleh seorang pria bersenjata tunggal dalam sejarah A.S.

12 Oktober – Amerika Serikat mengumumkan keputusannya untuk menarik diri dari UNESCO, dan segera diikuti oleh Israel.

14 Oktober – Sebuah ledakan besar yang disebabkan oleh pemboman truk di Mogadishu, Somalia membunuh setidaknya 512 orang dan melukai 316 lainnya.

17 Oktober – Perang Sipil Suriah: Raqqa dinyatakan sepenuhnya dibebaskan dari Negara Islam Irak dan Levant.

25 Oktober – Pada Kongres Nasional Partai Komunis China ke-19, Xi Jinping menganggap masa jabatan keduanya sebagai Sekretaris Jenderal (pemimpin penting China), dan teori politik Xi Jinping Thought ditulis dalam konstitusi partai.

27 Oktober – Catalonia menyatakan kemerdekaan dari Spanyol, namun Republik Catalan tidak diakui oleh pemerintah Spanyol atau negara berdaulat lainnya.

November 2 November – Spesies baru orangutan diidentifikasi di Indonesia, menjadi spesies orangutan ketiga yang dikenal sebagai kera besar pertama yang dideskripsikan selama hampir satu abad.

3 November – Perang saudara Suriah: Deir ez-Zor di Suriah dan Al-Qa’im di Irak dinyatakan dibebaskan dari ISIL pada hari yang sama.

5 November – Surat kabar Jerman Süddeutsche Zeitung menerbitkan 13,4 juta dokumen yang bocor dari firma hukum lepas pantai Appleby, bersama dengan pendaftar bisnis di 19 yurisdiksi pajak yang mengungkapkan kegiatan keuangan luar negeri atas nama politisi, selebriti, raksasa perusahaan dan pemimpin bisnis. Surat kabar tersebut membagikan dokumen-dokumen tersebut dengan Konsorsium Investigasi Internasional dan memintanya untuk memimpin penyelidikan tersebut.

12 November – Sebuah gempa berkekuatan 7,3 skala Richter menyerang wilayah perbatasan antara Irak dan Iran yang menyebabkan sedikitnya 530 orang tewas dan lebih dari 70.000 orang kehilangan tempat tinggal.

15 November – Presiden Zimbabwe Robert Mugabe ditempatkan di bawah tahanan rumah, saat militer menguasai negara tersebut. Dia mengundurkan diri enam hari kemudian setelah 37 tahun memerintah.

Lukisan Leonardo da Vinci, Salvator Mundi, dijual seharga US $ 450 juta di Christie’s di New York, harga rekor baru untuk karya seni apapun.

20 November – Alam menerbitkan sebuah artikel yang mengenali asteroid kecepatan tinggi’Oumuamua yang berasal dari luar tata surya yaitu objek antar bintang pertama yang diketahui.

22 November – Pengadilan Internasional menemukan Ratko Mladić bersalah melakukan genosida yang dilakukan di Srebrenica selama Perang Bosnia 1990-an, pembantaian terburuk di Eropa sejak Perang Dunia II. Dia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

24 November – Sebuah serangan masjid di Sinai, Mesir membunuh 305 pemuja dan menyebabkan ratusan lainnya terluka.

Desember 5 Desember – Rusia dilarang mengikuti Olimpiade Musim Dingin 2018 di Pyeongchang oleh Komite Olimpiade Internasional, menyusul suatu penyelidikan mengenai doping yang disponsori negara.

6 Desember – Amerika Serikat secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

9 Desember – Militer Irak mengumumkan pihaknya telah “membebaskan sepenuhnya” seluruh wilayah Irak dari “gerombolan teroris ISIS” dan merebut kembali kendali penuh atas perbatasan Irak-Suriah.

14 Desember – Walt Disney Company mengumumkan akan mengakuisisi sebagian besar 21st Century Fox, termasuk studio film 20th Century Fox, seharga $ 66 miliar.

22 Desember – Dewan Keamanan PBB memberikan suara 15-0 untuk mendukung sanksi tambahan terhadap Korea Utara, termasuk langkah-langkah untuk memangkas impor minyak bumi hingga 90%.

Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/2017

 

Sumber: Google

 

[1] Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2017/09/02/badai-harvey/

[2] Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2017/09/17/rohingya/

[3] http://www.unhcr.org/afr/news/stories/2017/6/5941561f4/forced-displacement-worldwide-its-highest-decades.html

[4] http://www.azquotes.com/quote/87292

[5] https://en.wikipedia.org/wiki/2017

[6] Google.

← Back

Thank you for your response. ✨

 

Bencana Kemanusiaan Rohingya: Skala dan Kompleksitasnya

Penulis kerapkali bertanya apakah kita tengah berada dalam Kali Yuga, istilah yang dalam Kitab Suci Sankerta yang merujuk pada titik nadir atau titik terburuk dalam siklus alam yang besar?[1] Atau, seperti keluhan Ebiet G Ade dalam salah satu tembangnya, “Tuhan sedang marah”? Pertanyaan ini dipicu oleh serangkaian bencana kemanusiaan (humanitarian catastrophe) yang melanda kita akhir-akhir ini: Tsunami Aceh, Badai Harvey, Badai Irma, krisis Aleppo, dan Krisis Yaman, dan sebagainya. Sebagian bencana itu terjadi karena “alam”, sebagian karena “buatan-manusia” (man-made).

Kali ini dunia kembali menyaksikan bencana dalam bentuk pembersihan etnis (ethnic cleansing) Rohingya, minoritas etnis dan agama yang tinggal di negara bagian Rakhine, Burma. Berdasarkan laporan dari berbagai media masa, penggunaan istilah pembersihan etnis dalam konteks ini, sekalipun terkesan bombastis, tidak berlebihan karena sesuai fakta lapangan, berdasarkan kesaksian sejumlah korban, sesuai rekaman foto udara mengenai penghangusan ratusan rumah tinggal di kawasan negara bagian Rakhine, serta diverifikasi oleh sejumlah pihak, termasuk Right Groups [2].

Peristiwa penganiyaan Suku Rohigya yang tidak jarang disertai kekerasan sebenarnya bukan hal baru tetapi telah berlangsung lama bahkan beberapa dekade. Walaupun demikian, sejauh ini penganiyaan tidak pernah terjadi dalam skala sedahsyat seperti yang terjadi kali ini:

  • Kelompok hak asasi manusia Amnesty International telah merilis gambar satelit yang menurutnya menunjukkan sebuah “kampanye yang diatur” untuk membakar desa Rohingya di Myanmar barat.
  • Amnesty mengatakan ini adalah bukti bahwa pasukan keamanan berusaha untuk mendorong kelompok minoritas Muslim ke luar negeri.
  • Sedikitnya 30% desa Rohingya di negara bagian Rakhine sekarang kosong, kata pemerintah.
  • Sekitar 389.000 orang Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh sejak kekerasan dimulai bulan lalu.[3]

Para korban mengungsi dalam keadaan putus asa sebagian besar kini menyesaki satu wilayah yang termasuk paling miskin Bangladesh yaitu Chittagong. Sebagian pengungsi tidak berhasil mencapai wilayah itu karena terbunuh di perjalanan. Oleh karena itu sebenarnya tidak mengherankan jika lembaga yang paling kredibel dalam kasus semacam ini, PBB, menyebutkan keadaan darurat politik dan kemanusiaan ini sebagai “text book” pembersihan etnis yang, seperti dilaporkan Alam (14 September), “akut, tidak stabil dan bisa menimbulkan ketidakstabilan di Bangladesh dan sekitarnya”[4].

Sumber: http://www.aljazeera.com/indepth/interactive/2017/09/rohingya-crisis-explained-maps-170910140906580.html

Dari gambaran di atas jelas bahwa tragedi Rohingya memiriskan tetapi juga perlu disadari masalahnya kompleks dan multidimensi. Untuk memahami kompleksitas masalahnya, menurut Alam[5], ada lima hal pokok yang perlu dicermati.

  1. Ketidakseimbangan antara Pemicu dan Respon: Civilians are paying the price for a small, armed insurgency

Tragedi Rohingya dipicu oleh serangan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA), satu kelompok pemberontak bersenjata dengan beberapa ratus pejuang, terhadap lebih dari 25 pos polisi militer dan perbatasan. Serangan ini dilaporkan telah membunuh selusin petugas keamanan Burma. Pemimpin kelompok ini, Ata Ullah, berasal dari suku Rohingya kelahiran Pakistan dan dibesarkan oleh kelompok militan di Arab Saudi. ARSA mengklaim bermaksud membentuk negara Muslim otonom untuk Rohingya. Burma mengklasifikasikannya sebagai kelompok teroris. Tidak jelas berapa banyak dukungan suku Rohingya terhadap kelompok ini.

Menghadapi peristiwa semacam ini wajar jika suatu negara melakukan suatu upaya pengamanan, sejauh itu patut dan proporsional. Masalahnya adalah pihak militer Burma meresponnya secara tidak patut dan tidak proporsional dengan cara melancarkan “operasi pembersihan” besar-besaran dan membabi-buta, suatu respon yang yang oleh komisaris tinggi PBB untuk hak asasi manusia Zeid Ra’ad al-Hussein disebut “contoh buku teks pembersihan etnis.” (a textbook example of ethnic cleansing.”) Yang terjadi adalah kekerasan selektif (hanya menargetkan suku Rohingya) dan tanpa pandang bulu (termasuk anak-anak, wanita, dan manula) dan dilaporankan disertai pembantaian, pemerkosaan, penggunaan ranjau darat dan pembakaran rumah tinggal di sekitar 80 desa.

  1. Terkait Masalah Agama dan Etnis: “Yes, it’s about religion and ethnicity

Tragedi Rohingnya jelas terkait dengan masalah agama dan etnis yang dapat kita lihat dari sisi target (korban) dan pihak yang mengkapanyekan pembersihan etnis. Dalam tragedi ini yang menjadi target adalah minoritas Muslim dari suku Rohingya yang tidak diakui kewarganegaraannya oleh Burma, sementara pihak yang gencar mengkampanyekan pembersihan etnis adalah ekstremis sayap kanan yang kuat yang dipimpin oleh biksu Buddha. Kaum nasionalis Buddhis ini terorganisasi dengan baik, berpengaruh secara sosial dan sulit dikendalikan. Biarawan sangat aktif di media sosial dalam membentuk opini publik untuk mendukung pembersihan etnis. Mereka mengklaim berusaha membatasi pernikahan antaragama dan memurnikan bangsa Burma; mereka bahkan mempertanyakan keberadaan hak-hak orang non-Buddhis di Burma[6].

  1. Terkait dengan Masalah Sumberdaya Alam: “But it’s also about natural resources — especially land

Tragedi Rohingya bukan hanya sekadar perpecahan etnis dan politik identitas tetapi juga masalah sumber daya alam. Selama berabad-abad (jika bukan ribuan tahun) suku Rohingya telah tinggal di daerah Arakan, suatu wilayah yang terletak antara Burma dan Bangladesh. Secara historis, masyarakat petani bergerak bebas melewati batas wilayah itu tetapi begitu batas negara modern terbentuk, pergerakan itu dibatasi. Karena tanah menjadi aset yang berharga dan menguntungkan, suatu undang-undang mengenai agraria diperkenalkan oleh pemerintah junta militer dan meningkat pada tahun 1990an; sebagai akibatnya, para petani pedesaan kehilangan hak kepemilikan lahan pertanian dan kepemilikannya beralih kepada pihak lain.

Selama 50 tahun terakhir, militer Burma semakin membantu negara dan perusahaan besar dalam merebut tanah yang secara tradisional dikuasai para petani. Negara telah memperluas kontrol atas wilayah dan pasokan air untuk memajukan kepentingan ekonominya di sektor pertambangan, minyak, gas alam, kayu dan pertanian. Terlepas dari reformasi demokrasi baru-baru ini, kepemimpinan militer mempertahankan kekuatan luar biasa atas setiap sektor pemerintahan dan pengembangan bisnis. Dengan jargon ingin meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pihak militer membiarkan investor China, Korea, Jepang dan multinasional lainnya bekerja di daerah-daerah yang dihuni oleh etnis minoritas seperti Rohingya, Karen, Mon dan Shan.

Aung San Suu Kyi telah memperoleh kritik internasional yang meningkat atas kegagalannya menghentikan kekerasan terhadap Rohingya. Yang perlu dicatat adalah bahwa Konstitusi Burma tidak memberikan otoritas yang nyata atas militer kepada “tokoh” itu.

Jadi siapa yang bisa menghentikan tragedi ini? Jawabannya, pemangku kepentingan internasional yang tertarik berbisnis dengan Burma. Catatan penting bagi mereka adalah perlunya mewaspadai biaya reputasi pihak militer serta memberikan tekanan kepada pimpinan militer untuk mengakhiri permusuhan dan kekerasan. Ini sangat mendesak dan bukan hanya untuk kepentingan populasi pengungsi. Kekerasan yang terus berlanjut dan populasi pengungsi yang meledak bisa semakin mengganggu kestabilan kawasan ini.

  1. Keterbatasan Kemampuan Bangladesh Menangani Krisis: “Bangladesh can’t deal with this crisis alone”

Saat ini yang paling banyak menanggung beban pengungsi Rohingya adalah Bangladesh. Yang perlu dicatat adalah bahwa negara itu relatif kecil dilihat dari luas wilayah (hanya seukuran Iowa, Amerika Serikat) tapi padat (berpenduduk sekitar 160 juta orang), PDB-nya hanya sekitar $ 1.500 PDB per kapita, juga sangat rentan terhadap perubahan iklim. Beberapa banjir terburuk dalam beberapa dekade baru saja melanda Bangladesh, negara yang “terbiasa” dengan bencana alam terjadi dan selalu menghadapi masalah pengkikisan daratan di garis pantai selatan.

Untuk saat ini, elit pemerintah Bangladesh dan elit politik menyambut para pengungsi Rohingya. Tapi setengah juta orang terlantar dengan cepat menjadi beban besar bagi negara miskin itu. Penduduk desa dan usaha kecil di Cox’s Bazaar, Teknaf dan daerah-daerah sekitarnya telah mengumpulkan sumber daya, membuka rumah mereka dan bahkan membantu mengubur orang mati.

Tapi berapa lama hal ini dapat bertahan? Bantuan bagi pengungsi dapat memicu berkembangnya kebencian karena persepsi ketidaksetaraan di antara penduduk asli yang kurang terlayani. Rohingya yang tidak berdokumen bepergian ke luar kamp ke daerah pedalaman, mencari peluang. Banyak penelitian dan bukti menunjukkan bahwa hal ini dapat menciptakan konflik dan persaingan baru mengenai sumber daya yang terbatas, terutama karena para pengungsi tinggal lebih lama dan berusaha untuk menetap secara permanen, seperti yang dapat kita lihat di mana-mana dari Timur Tengah sampai Eropa ke Amerika Serikat.

Sebagai catatan lain, Bangladesh adalah negara berpenduduk mayoritas Muslim dengan pemerintahan sekuler. Negara itu menghadapi ancaman ekstrem kekerasan yang meningkat dari garis keras Islam, beberapa bersekutu dengan jaringan transnasional seperti al-Qaeda atau negara Islam. Liga Awami yang memerintah telah menanggapi dengan menekan para pembangkang dengan taktik seperti penghilangan paksa dan pembunuhan di luar hukum. Bergantung pada bagaimana Perdana Menteri Sheikh Hasina mengatasi krisis pengungsi dan tantangan keamanan dan ekonomi yang dihadapinya, kelompok oposisi dapat mencoba memanfaatkan situasi Muslim Rohingya. Partai Nasionalis Bangladesh (BNP) dan partai Jamaat-e-Islamii Islam menuduh Liga Awami tidak cukup berbuat cukup untuk mendukung Rohingya. Koalisi yang berkuasa menuduh Jamaat mendukung militan di Rakhine, dan BNP menyebarkan “konspirasi” tentang tanggapan pemerintah terhadap bencana kemanusiaan.

  1. Harapan bagi Aktor Internasional: “No other international actor appears to be stepping in to help solve the political crisis”

Apakah Bangladesh bisa mengharapkan bantuan dari pihak lain di wilayah ini? Mungkin tidak. Sekalipun India secara tradisional adalah sekutu Hasina, Perdana Menteri Narendra Modi telah gagal mengkritik operasi militer Burma terhadap warga sipil. Selain itu, Menteri Dalam Negeri India Rajnath Singh menggambarkan Rohingya yang berada di India sebagai imigran ilegal dan ancaman keamanan nasional.

Bagaimana dengan negara lain? Beberapa negara berpenduduk mayoritas Muslim dari Turki ke Malaysia telah mengutuk penganiayaan keras terhadap Rohingya namun belum terlibat dalam membantu mengatasi krisis tersebut. Pekan lalu, menteri luar negeri Indonesia bertemu dengan Suu Kyi dan kemudian mengunjungi rekannya dari Bangladesh untuk menawarkan bantuan untuk membantu menyelesaikan krisis Rohingya.

Bagaimana dengan kekuatan regional dan global? SAARC (Asosiasi Asia untuk Kerjasama Regional) atau ASEAN (Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara), dua organisasi antar pemerintah regional telah mengupayakan solusi diplomatik tetapi belum menunjukkan hasil. Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Uni Eropa telah berupaya untuk memperbaiki kondisi kemanusiaan yang mengerikan di lapangan, namun dilaporkan tidak membuat kemajuan dalam memecahkan masalah yang lebih besar yang telah mendorong Rohingya keluar dari rumah mereka. Bagaimana dengan OKI???

Uraian di atas menyajikan gambaran memiriskan dari tragedi Rohingnya dan kompleskitas masalahnya. Upaya-upaya penyelesaian masalah pada tingkat negara, regional dan global sudah dilakukan walaupun sejauh ini belum memberikan hasil yang optimal. Lalu apakah tidak ada cara yang mungkin? Harus ada karena seperti ditekankan Tun Khin, “….dapat dipecahkan jika kemauan politik ada di sana. Itu tidak akan mudah tapi bisa dilakukan. Satu-satunya alternatif adalah membiarkan kita dibunuh…(dan itu) telah menjadi pendekatan masyarakat internasional sejauh ini.

Kutipan di atas berasal dari Tun Khin, Presiden dari Orgnanisasi Rohingya Burma (the Burmese Rohingya Organisation) di Inggris[7]. Ia menyarankan ada perubahan kebijakan sebagaimana diungkapkannya[8]:

Perubahan besar dalam pendekatan sangat dibutuhkan oleh masyarakat internasional jika kita mau menghentikan siklus kekerasan terhadap Rohingya ini. Pemerintah Burma perlu diberi tahu bahwa dukungan dan keuangan internasional bergantung pada perubahan kebijakan yang besar terhadap Rohingya. Propaganda dan hasutan kebencian dan kekerasan terhadap Rohingya harus dihentikan, undang-undang dan kebijakan yang diskriminatif harus dihilangkan, rekomendasi komisi Kofi Annan harus segera dilaksanakan dan secara penuh…. Sanksi harus dipertimbangkan terhadap perusahaan milik militer.

(A major change in approach is needed by the international community if we are ever going to stop this cycle of violence against the Rohingya. The government of Burma needs to be told that international support and finance is conditional on a major change in policy towards the Rohingya. Propaganda and incitement of hatred and violence against Rohingya must stop, discriminatory laws and policies must go, the recommendations of Kofi Annan’s commission must be implemented immediately and in full…. Sanctions should be considered against military owned companies.)

Semoga suara Tun ini memperoleh tanggapan kongkrit dan layak dari komunitas internasional…. @

Sumber: http://stream.aljazeera.com/story/201709070026-0025502

[1] Mengenai Kali Yuga lihat, misalnya, https://en.wikipedia.org/wiki/Kali_Yuga.

[2] Laporan CNN, 16 September 2017 pukul sekitar 19.00.

[3] http://www.bbc.com/news/world-asia-41270891

[4] https://www.washingtonpost.com/news/monkey-cage/wp/2017/09/14/5-things-you-need-to-know-about-rohingya-crisis-and-how-it-could-roil-southeast-asia/?utm_term=.2a8cc29d064b

[5] Ibid

[6] Dalam suatu wawancara televisi nasional Dubes kita melaporkan bahwa pihak pemerintah Myanmar sebenarnya telah melarang secara resmi kelompok ekstrimis ini. Kita tidak mengetahui secara persis yang terjadi di lapangan; yang jelas tindakan brutal dilaporkan tidak berkurang bahkan meningkat.

[7] http://www.aljazeera.com/indepth/opinion/2017/08/international-pressure-save-rohingya-170830122257236.html

[8] Ibid

← Back

Thank you for your response. ✨

Continue reading “Bencana Kemanusiaan Rohingya: Skala dan Kompleksitasnya”