Dialog Imajiner dengan Rumi (5)

Dialog 5: Makrifat

[Rumi tampak cerah di hari cerah itu. “Petanda baik”, bisik sang murid dalam hati.]

Rumi: Kemarilah, kita berbincang, bawa kopimu!

Murid: Siap, Master.

Murid: Apakah antum mengenal Siti Zahro? [Selanjutnya, Siti.]

[Murid heran dengan pertanyaan ini. “Siapa yang tidak mengenal wanita itu”, membatin. Dia tahu Siti tinggal berjarak ratusan mil dari kompleks Rumi, tetapi “apa arti jarak itu bagi popularitas Siti karena kecantikan paras dan keluhuran budinya”, pikir sang murid.]

Rumi: Begini. Aku baru saja melakukan survei mengenai popularitas Siti di kota ini. Sampelnya empat orang pemuda sebaya denganmu: Asep (A), Budi (B), Cecep (C) dan Dudi (D). Jangan salah, sampel dipilih secara random sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

[Murid makin heran. Masternya melakukan survei? Mengenai popularitas Siti? Master mengenal random? Melihat muridnya diam saja, Rumi melanjutkan.]

Rumi: Kesimpulan surveiku, Siti ternyata populer di kita ini. Semua, jadi 100%, pemuda yang kuwawancarai mengenal Siti.

[Sang murid tidak kaget dengan hasil “survei” itu dan mulai menduga-duga arah pembicaraan.]

Murid: Bagaimana dengan rincian hasil survei itu, Master.

Rumi: Nah itu baru muridku. Dalam membaca angka statistik kita tidak cukup mengandalkan angka proporsi, rata-rata, atau ukuran kecenderungan nilai tengah lainnya. Variasi jawaban responden perlu diperhitungkan agar bermakna.]

[Sang murid hanya tersenyum. “Dari mana Master belajar statistik”, bisiknya dalam hati.]

Rumi: Hasil survei begini (*):

A: Mengenal Siti dari ibunya yang ternyata bibinya; dia tidak pernah melihat bibinya itu;

B: Pernah berpapasan sekali dengan Siti; baginya Siti murah-senyum;

C: Beberapa kali ke rumahnya bahkan sering disuguhi makanan dan kopi oleh Siti; menurutnya, “Kopi buatan Siti mantap”.

[Karena masternya tiba-tiba berhenti, Murid bertanya.]

Murid: Bagaimana dengan D?

Rumi: Siti ternyata janda D selama tujuh tahun; punya keturunan lagi.

Rumi: Antum tahu arti makrifat?

[“Kok jadi belok begini?”, pikir Murid.]

Murid: Hanya sedikit, Master.

Rumi: Jangan antum kira makrifat itu kata sakral yang dapat dipahami secara ekslusif hanya oleh kalangan elit-khusus”. Sederhananya, kata itu berarti mengenal.

Murid: Tetapi apa hubungannya dengan Siti?

Rumi: Begini. Dengan memahami arti kata itu kita dapat katakan A, B, C dan D sama-sama memiliki makrifat mengenai Siti.

Murid: Benar, Master. Tetapi levelnya berbeda, kan?

Rumi: Nah itu baru muridku. Jadi kita lihat ada tingkatan makrifat: Makrifat Nama, Makrifat Sifat, Makrifat Perbuatan, dan Makrifat Pengalaman. Bagaimana jika kata Siti diganti dengan Tuhan? Ini PR serius untuk antum. Jelasnya, denga menggunakan konteks cerita ini, PR antum adalah berdiam-diri sambil merenungkan arti makrifat kepada Tuhan. Laporkan hasilnya besok pagi, sambil ngopi.

Murid: Siap, Master.

(*) Cerita ini diadaptasi dari Pengajian Al-Hikan Kiai Zezen yang rekamannya dapat diakses di SINI.

[Kembali ke: Dialog 4 atau Dialog 3 atau  Dialog 2 atau Dialog 1, atau Mengenal Rumi secara umum.]

← Back

Thank you for your response. ✨

Dialog Imajiner dengan Rumi (3)

Dialog 3: Konsistensi

Murid: Matster, saya yakin dengan kebenaran teks suci ini: “Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku” (2:186). Oleh karena itu saya selalu berdoa setiap habis salat khususnya mengenai keluasan rezeki. Tetapi rezekiku begini-begini saja, tetap sempit. Kenapa Master?

Rumi: Insya Allah Dia-SWT akan mengabulkan doamu. Tetapi caranya Dia yang menentukan dan waktunya Dia yang pilih. Demi kebaikanmu. Jadi, tenanglah. Lakukanlah apa yang menjadi bagianmu: terus berdoa.

[Rumi menanap mata Murid dengan lembut, agak lama seolah-olah mau menembus kedalaman hati Muridnya.]

Rumi: Tetapi Antum punya masalah. [Murid kaget mendengar ini.]

Murid: Apakah masalahnya, Master?

Rumi: Jawabannya ada dalam dirimu sendiri. Tanyakanlah itu padanya.

[Murid berupaya menerka masalah yang dimaksud, tetapi gagal.]

Murid: Maaf, Master. Saya sudah mencoba tetapi buntu.

Rumi: Begini masalahnya:

Antum ingin dekat dengan-Nya tetapi sering mengabaikan seruan azan,

Antum ingin hidup berkah tetapi jarang bersedekah, dan

Antum ingin meneladani Nabi-SAW tetapi tidak memiliki kepekaan mengenai nasib orang lemah dan anak yatim.

[Melihat Murid hanya termangu Rumi melanjutkan.]

Rumi:

Antum lebih banyak menuntut hak dari pada memenuhi kewajiban; Antum masih gemar cekcok karena masalah sepele, padahal mengerti arti penting persaudaraan; Antum mengerti hak tetangga, tetapi kerap mengabaikannya.

[Karena Murid masih termangu Rumi melanjutkan.]

Rumi:

Antum mohon Ampunan-Nya tetapi berperilaku mengundang murka-Nya, Antum menuntut kebahagiaan akhirat tetapi lebih mendahulukan dunia, Antum mengetahui Dia-Maha-Baik tetapi terus berburuk sangka kepada-Nya.

[Rumi mengakhiri nasihatnya dengan ujaran singkat.]

Rumi: Jadi, masalah Antum tidak konsisten. Dan itu serius. Tetapi Dia Maha Pengampun….]

[Murid termangu menerima pelajaran keras kali ini. Tetapi dia ingat masternya pernah mengatakan” “Truth hurts”; jadi, dia maklum dan menerima secara legowo. “Ternyata dia lebih mengenalku dari pada diriku sendiri”, bisiknya dalam hati. ] 

[Ia menatap wajah lembut dan terkaget ketika terdengar lantunan ayat (Azzumar 53) dari masternya yang matanya terpejam]:

۞ قُلْ يَـٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh Dilah yang Mah Pengampun dan Maha Penyayang”.

.

Wallahualam bi muradih…@

[Lanjut ke Dialog 4]

[Gambaran singkat mengenai Rumi dapat diakses di SINI]

 

← Back

Thank you for your response. ✨

Dialog Imajiner dengan Rumi (1)

Dialog 1: Pengantin

Rumi: Apakah antum[1] mengunjungi diri antum secara teratur?

Murid: Tidak, Master.

Rumi: Lakukanlah itu! Mulai sekarang!

Murid: Siap Master.

Rumi: Apakah keinginanmu?

Murid: Bertemu dengan Ramadhan tahun ini.

Rumi: Hmmm…!

[Rumi siap pergi tetapi tiba-tiba berbalik dan berbicara lebih serius.]

Rumi: Kau tahu akan ada perkawinan, perkawinan dengan keabadian[2]. Itu pasti. Bersiaplah jadi pengantinnya.

Murid: ???

 

[1] Antum (Arab) adalah ungkapan akrab untuk lawan bicara (Arab: mukhatabah): “engkau”, “kamu”, “anda”, “you”.

[2] Istilah Rumi untuk kematian.

[Lanjut ke Dialog ke-2]

[Gambaran singkat mengenai Rumi dapat diakses di SINI]

 

 

← Back

Thank you for your response. ✨