Bagaimana Doa “Salam” Merancang Tugas Terbesar Umat Manusia

Setiap hari, dalam salat kita, ada sebuah janji kosmis yang terucap. Saat tasyahhud, kita berdoa: “Assalamu’alaina wa’ala ’ibadillahish shalihin” – Kesejahteraan bagi kami dan bagi seluruh hamba Allah yang saleh.

Pernahkah kita merenungi makna terdalamnya?

Doa ini bukanlah laporan. Ia adalah sebuah proyeksi kesadaran. Sebuah niat luhur yang kita latih berulang kali, memproyeksikan sebuah dunia ideal: dunia yang damai, utuh, dan selamat. Ia adalah cetak biru spiritual untuk sebuah realitas yang kita idamkan.

Namun, doa ini memuat sebuah lompatan makna yang revolusioner. Siapakah “hamba Allah yang saleh” yang kita doakan itu? Al-Qur’an tegas: seluruh alam semesta bertasbih kepada-Nya. Gunung, lautan, pepohonan, dan binatang – semuanya tunduk pada hukum alam (Sunnatullah) dengan sempurna. Bukankah ketaatan kosmis ini bentuk “kesalehan” yang paling hakiki?

Artinya, saat kita mengucap Salam, kita secara tidak sadar sedang mendoakan keselamatan bagi seluruh jaringan kehidupan: manusia, malaikat, hingga keseimbangan ekosistem. Doa ini adalah fondasi teologis untuk etika ekologi yang dalam. Merusak lingkungan, dalam kerangka ini, adalah pengkhianatan terhadap doa kita sendiri.

Lalu, muncul pertanyaan kritis: Siapa yang bertugas mewujudkan mimpi kosmis dari dalam salat ini ke dunia nyata?

Di sinilah konsep agung Khalifah menemukan konteksnya yang sejati. Al-Qur’an menceritakan tentang sebuah Amanah (tanggungan besar) yang ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung. Mereka gentar dan menolaknya. Hanya manusia, dengan segala potensi akal dan kebebasannya, yang berani menerimanya – meski sering kali zalim dan bodoh (QS. Al-Ahzab: 72).

Penerimaan Amanah inilah yang menjadikan kita Khalifah. Bukan dalam pengertian penguasa yang mengeksploitasi, tetapi sebagai “Agen Realisasi Salam”. Tugas kita adalah menjembatani jurang antara Salam yang kita proyeksikan dalam doa, dengan Salam yang harus terwujud di bumi: keselamatan fisik, keadilan sosial, dan kelestarian ekologis.

Lantas, apakah tugas ini hanya untuk Nabi Adam saja? Tidak. Tafsir Fakhruddin Ar-Razi (w. 606 H) dalam Mafatihul Ghaib dengan tegas menyatakan bahwa ayat penciptaan Khalifah adalah “nikmat umum bagi semua keturunan Adam (bani Adam)”. Status Khalifah adalah warisan kolektif umat manusia. Ar-Razi membuktikannya dengan menunjukkan bahwa Al-Qur’an sendiri menggunakan kata “khalifah” untuk menyebut suatu kaum, suatu generasi, atau seorang pemimpin yang diberi mandat keadilan.

Dari sini, kita dapat merekonstruksi makna Khalifah dalam tiga dimensi:

  1. Ontologis (Eksistensi): Kita ada untuk menjadi wakil dari nilai-nilai Salam (kedamaian, keutuhan) di bumi.
  2. Epistemologis (Pengetahuan): Kita harus menguasai dua “kitab”: Wahyu sebagai pedoman normatif, dan “Teks Semesta” (sains) untuk memahami hukum alam agar tindakan kita bijak, bukan merusak.
  3. Teleologis (Tujuan): Ukuran keberhasilan segala tindakan kita adalah: apakah ini mendatangkan kemaslahatan (maslahah) seluas-luasnya bagi seluruh ciptaan?

Krisis planet dan kemanusiaan hari ini—dari pemanasan global hingga ketimpangan—adalah cermin dari kegagalan kolektif kita dalam menjalankan amanah ini. Kita lupa bahwa kita adalah Khalifah, realisator dari Salam yang kita ucapkan sendiri.

Jadi, setiap kali kita mengucap “Assalamu’alaikum” kepada sesama, atau “Assalamu’alaina” dalam salat, ingatlah: itu bukan sekadar salam. Itu adalah janji. Dan kita, sebagai manusia, adalah penanggung jawab utama untuk mewujudkannya.