Bagi banyak orang—termasuk penulis—yang tidak mahir berbahasa Arab, karya **Toshihiko Izutsu**, *Sufism and Taoism: A Comparative Study of Key Philosophical Concepts*, menjadi jembatan penting untuk memahami ajaran Sufisme. Izutsu secara khusus mengupas pemikiran imajinatif **Ibnu ‘Arabi**, seorang tokoh Sufi legendaris yang karyanya terkenal rumit dan sulit dipahami oleh banyak orang (penulis termasuk di antaranya). Melalui analisis Izutsu, kita akhirnya bisa mengenali gagasan-gagasan dasar **Syaikh Akbar** (gelar kehormatan Ibnu ‘Arabi) secara lebih terstruktur dan mudah dicerna.
Buku ini tidak hanya membuka pintu bagi pembaca awam, tetapi juga menyederhanakan kompleksitas metafisika Sufi Ibnu ‘Arabi—sebuah pencapaian yang membuat pemikiran sang mistikus besar ini lebih terjangkau, bahkan bagi mereka yang belum akrab dengan bahasa atau tradisi keilmuannya.
Berikut adalah poin-poin penting dari karya Izutsu yang dimaksud.
—
### **1. Kesatuan Wujud (Wahdat al-Wujūd) vs. Tao**
Izutsu menyatakan bahwa **metafisika Sufi Ibn Arabi** (berpusat pada *wahdat al-wujūd*, “Kesatuan Wujud”) dan **filsafat Taoisme** (konsep *Tao* Laozi/Zhuangzi) memiliki pandangan inti yang sama: **Realitas Tertinggi melampaui dualitas**.
– Dalam pandangan Ibn Arabi, Tuhan adalah satu-satunya Realitas sejati; segala ciptaan adalah manifestasi dari “penyataan diri-Nya”.
– Dalam Taoisme, *Tao* adalah sumber segala sesuatu yang tak berbentuk dan tak terungkapkan.
Kedua sistem ini menolak pembedaan kaku antara subjek/objek, pencipta/ciptaan, dan ada/tidak ada.
### **2. Kesadaran Manusia sebagai Cermin**
Kedua tradisi menekankan **kesadaran manusia** sebagai sarana untuk memahami Realitas Tertinggi:
– Dalam Sufisme, manusia sempurna (*al-insān al-kāmil*) memantulkan sifat-sifat Ilahi, mewujudkan kesatuan Tuhan.
– Dalam Taoisme, orang bijak menyelaraskan diri dengan *Tao* melalui *wu-wei* (tindakan tanpa pamrih) dan mengosongkan ego.
Izutsu menegaskan bahwa **peniadaan diri** (konsep *fanā* dalam Sufi dan *wu-self* dalam Taoisme) adalah kunci untuk melampaui ilusi.
### **3. Bahasa dan Paradoks**
Izutsu mengeksplorasi kegagalan **bahasa** dalam mengungkapkan kebenaran mistis, sehingga kedua tradisi bergantung pada **paradoks dan penyangkalan**:
– Ibn Arabi menggunakan bahasa simbolis (misalnya, “Dia/Bukan Dia”) untuk menggambarkan kehadiran dan transendensi Tuhan.
– Taoisme terkenal dengan pernyataan, “Tao yang bisa diucapkan bukanlah Tao yang abadi,” menekankan kesunyian dan ambiguitas.
Kedua sistem memandang kata-kata hanya sebagai petunjuk, bukan penjelasan mutlak.
### **4. Kesatuan Dinamis, Bukan Monisme Statis**
Izutsu menekankan bahwa kedua tradisi tidak sekadar menganut “kesatuan” yang kaku. Sebaliknya, mereka menggambarkan **interaksi dinamis**:
– Konsep *tajalli* (penampakan diri Ilahi) dalam Sufisme menciptakan keragaman tak terbatas dalam kesatuan.
– Dualitas *yin-yang* dalam Taoisme muncul dari dan kembali ke *Tao*, menjaga harmoni kosmik.
Realitas adalah kesatuan-dalam-keberagaman yang hidup dan terus berubah.
### **5. Filsafat Komparatif sebagai Jembatan**
Tujuan Izutsu adalah menunjukkan bahwa **pengalaman mistis**, meski dibingkai secara budaya, mengungkap kebenaran universal. Dengan membandingkan Sufisme dan Taoisme, ia membuktikan:
– Tradisi berbeda menyuarakan wawasan serupa tentang eksistensi.
– Dialog lintas budaya memperkaya pemahaman terhadap keduanya.
### **Warisan Pemikiran**
Karya Izutsu menantang pembaca untuk melihat melampaui perbedaan permukaan antara mistisisme Timur dan Barat, mendorong pendalaman menuju **inti yang tak terungkapkan** dari pengalaman spiritual. Analisisnya tetap menjadi **tonggak penting dalam filsafat komparatif**.
Wallahualam… @

