Manusia Lanjut Usia: Suatu Refleksi

Kira-kira seminggu yang lalu penulis menghadiri acara reuni yang semua pesertanya adalah manusia lanjut usia (manula). Walaupun sudah manula, vitalitas mereka patut diacungkan jempol: mereka mampu menikmati acara reuni dengan santai dan penuh semangat sampai larut malam[1]. Kata manula, mungkin karena sering disebut selama acara itu berlangsung, mendorong penulis yang sudah manula ini untuk mengajukan pertanyaan retrospektif: Apa makna manula bagiku? Tulisan singkat ini mereflekasikan jawaban terhadap pertanyaan ini.

Menjelang Magrib

Para sufi konon sangat prihatin kepada kita yang terlalu memboroskan waktu, sumberdaya dan energi untuk sesuatu yang dijamin Tuhan (rizki); tetapi sebaliknya, mengabaikan yang tidak dijamin-Nya (nasib di akhirat). Keprihatinan ini tentunya lebih mengena bagi manula. Tidak perlu menjadi sufi untuk memiliki keprihatinan semacam itu: ia dapat dimilki oleh mereka yang mampu berpikir integral dan proporsional: integral dalam arti tidak hanya berpikir mengenai dunia-bawah-sini (lower world) tetapi dunia-atas-sana (higher world), proporsional dalam arti mampu menyadari kekerdilan-diri di hadapan Tuhan (nothingness before God) dan kesementaraan dunia-bawah-sini dibandingkan dengan keabadian dunia-atas-sana. Bagi yang meragukan kepastian rizki, kutipan berikut mungkin bermakna:

Allah berfirman ‘Wahai Bani Adam, fokuskanlah hati kalian dalam beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan lapangkan hatimu, dan Aku penuhi kebutuhanmu. Kalau kamu tidak memfokuskan ibadah kepada-Ku, maka Aku akan penuhi hatimu dengan kesibukan dan kebutuhanmu tidak akan Aku penuhi” (Hadis qudsi riwayat Ahmad,Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim).

Kenapa keprihatinan sufi itu lebih mengena kepada para manula? Karena bagi kelompok ini siklus-mataharinya secara alamiah sudah memasuki “waktu ashar”, bahkan menjelang “waktu magrib”, waktu ketika Rabb memanggilnya, suka atau tidak suka, siap atau tidak siap. Ini pasti sebagaimana banyak teks suci mengingatkan:

“Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, Ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan Kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan nyata, lalu Dia beritahukan keadamu apa yang telah kamu kerjakan” (al-Jumu’ah:8).

Menarik untuk dicatat bahwa dalam teks itu kata maut adalah subyek-aktif (yang pasti datang untuk menjemput) yang obyek-pasif-nya adalah manusia (yang pasti akan dijemput).

Angka Harapan Hidup

Tetapi kapan “waktu magrib” itu bagi seorang individu, manula atau bukan? Ini rahasia Tuhan, tidak ada yang mengetahuinya. Walaupun demikian, secara statistik kita dapat memperkirakan rata-rata angka harapan hidup (life expectancy) suatu populasi, suatu istilah teknis dalam Demografi yang merujuk pada rata-rata tahun suatu populasi (menurut umur) diharapkan dapat mencapainya selama hidup. Jadi, istilah “harapan hidup” tidak ada kaitannya dengan “harapan yang akan diperoleh dalam hidup” seperti yang mungkin dikesankan oleh istilah itu.

Sumber: Google

Bagi penduduk Indonesia, angka harapan hidup bayi baru lahir (berumur tepat 0 tahun) atau e0 adalah 67.2 tahun bagi bayi laki-laki dan 72.6 tahun bagi bayi perempuan. Ini tidak berarti bahwa lansia laki-laki berusia 60 tahun, misalnya, sisa hidupnya tinggal 7.2 tahun; bagi mereka sisa hidup masih lebih lama yaitu 16 tahun. Bagi lansia perempuan pada kelompok umur yang sama harapan hidup bahkan lebih lama yaitu 19 tahun[2]. Sekali lagi ini adalah angka rata-rata nasional pada tingkat populasi.

Pada tingkat individu penduduk penduduk Indonesia dapat saja mencapai umur 100 tahun. Secara statistik itu dimungkinkan walaupun diperkirakan hanya sekitar 5% penduduk yang mencapai usia itu. Ini berlaku bagi laki-laki maupun wanita. Bagi umur-umur lebih muda, angka harapan hidup selalu lebih tinggi untuk perempuan ketimbang untuk laki-laki sebagaimana ditunjukkan oleh Grafik. Sekadar catatan, pada grafik itu sumbu horizontal menyajikan variabel umur, sementara sumbu vertikal angka harapan hidup dalam tahun. Batang pertama pada grafik itu, misalnya, berlaku bagi mereka yang berumur 60 tahun, dan angka harapan hidupnya 16.0 tahun bagi laki-laki (berwarna biru) dan 19.0 tahun bagi perempuan (berwarna merah).

Sumber: BPS-UNFPA, unpublished paper

Proyek yang cocok

Karena faktor usia (jadi bersifat alamiah), kondisi fisik manula semakin melemah: pikiran semakin “lemot”, mata semakin buram, telinga semakin tuli. Secara fisiologis ini konon dapat dijelaskan karena fungsi organ-organ tubuhnya mulai tidak optimal dan ini “mengundang” datangnya penyakit tertentu; “celakanya” bagi manula, pengobatan terhadap penyakit itu dapat secara mudah “mengundang” penyakit lainnya, akibatnya terjadi komplikasi. Secara fisiologis tampaknya jelas bahwa manusia “dirancang” untuk, pada akhirnya, mati.

Walaupun secara fisik semakin lemah, berkat pengalaman hidup yang panjang, mereka diharapkan lebih bijak: lebih cermat dan matang dalam membuat pertimbangan dan keputusan; lebih terang mata-hatinya dalam melihat kebenaran; dan lebih peka telinga-hatinya dalam mendengar suara batin, telinga yang menurut istilah teks suci “telinga yang mampu menyimak”, udzun al-wa’iyah (al-Haqqah:16). Itulah harapannya. Hati mereka juga diharapkan, berkat pengalaman hidup yang panjang, lebih terarah pada urusan hatinya ketimbang pada hiruk-pikuk dunia-luar sebagaimana yang dilakukan Rumi:

Yesterday I was clever, So I wanted to change the world.

Today I am wise. So I am changing myself

(Dulu saya pintar sehinga ingin mengubah dunia;

sekarang saya bijaksana sehingga saya sedang mengubah diri saya).

Dengan pikiran yang matang, mata-hati yang terang dan telinga-hati yang mampu menyimak suara hati, manula diharapkan semakin menyadari “keter-perangkap-an” jiwa dalam dunia fisik. Mengenai hal ini layak disimak ungkapan Philo dari Alexander (20SM-50M) seorang filsuf Yahudi yang berupaya ajaran kiab-kitab Yahudi (khususnya Taurat) dengan filsafat Yunani[3]. Filsuf ini memandang jiwa seperti dalam pengasingan, terperangkap dalam dunia materi yang bersifat fisik; baginya jiwa, sebagaimana dinarasikan oleh Amstrong (2001:109)[4].

Ia harus kembali kepada Tuhan, rumahnya yang sejati, meninggalkan kesenangan, dunia indrawi, dan bahkan bahasa, karena semua itu mengikat kita dengan dunia yang tidak sempurna. Akhirnya jiwa akan mencapai kebahagiaan yang membawanya mengatasi kesuraman keterbatasan ego menuju realitas yang lebih luas dan utuh.

“Jiwa yang akan mencapai kebahagiaan” dalam kutipan di atas agaknya yang dimaksud dengan istilah qurani “jiwa yang tenang”, nafsu al-muthma’innah, jiwa yang layak memenuhi undangan untuk memasuki golongan hamba-Nya dan surga-Nya (al-Fajr:27-30). Tentu tidak realistis menguntuk berharap memiliki jiwa tenang jika jiwa masih berlumur dosa yang justru manula, karena umur panjangnya, memiliki risiko besar untuk terpapar: “Bahkan apa yang mereka kerjkan itu (pekerjaan buruk) telah menutupi hati mereka” (al-Muthaffifin:14).

Mengingat hal ini semua, dalam perspektif Islami, maka “proyek” yang cocok bagi manula adalah upaya pembersihkan jiwa (tazkyatu al-nafs) dalam sisa-waktu yang tersedia. Proyek ini tentu perlu dilengkapi dengan memerbanyak istigfar (minta ampunan) serta rajin bermohon memperoleh karunia rahmat-Nya yang tak-tebatas. Bukankah Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang seperti yang ditegaskan dalam al_Zumar (53):

Wahai hamba-hamba-Ku yang melampui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh Dialah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang

Ringkasan

Apa arti manula bagiku? Bagiku manula berarti menjelang “waktu magrib” yang siap menghadapi fakta bahwa fisiknya semakin melemah, diharapkan memiliki mata- dan telinga-hati yang semakin tajam dan peka dalam melihat kebenaran dan mendengar suaru batin, dan dituntut mampu memanfaatankan waktu-mepet untuk membersihkan jiwa agar menjadi bening dan tenang sehingga layak memenuhi undangan untuk memasuki surga-Nya….. @

[1] Mengenai reuni itu lihat https://uzairsuhaimi.blog/2017/07/10/catatan-reuni/

[2] Semua angka-angka ini bukan angka resmi dalam arti dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tetapi berasal dari tulisan yang tidak dipublikasikan (unpublished), tepatnya laporan penulis untuk BPS-UNFPA yang berjudul “Konstruksi Life Table Indonesia Berdasarkan Data Sensus Penduduk”. Penulis berterima kasih kepada Pak Richard Makelew (UNFPA) atas izinnnya mengutip angka dalam laporan.

[3] Lihat https://en.wikipedia.org/wiki/Philo

[4] Karen Amstrong, Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang Dilakukan oleh Orang-orang Yahudi, Kristen dan Islam, Penerbit Mizan (Cetakan ke-3).

Legowo: Pendalaman Makna

Kata legowo (istilah halus: legawa) berasal dari bahasa Jawa yang berarti sikap batin tertentu untuk menerima satu keadaan dengan lapang dada. Apa yang perlu segera dicatat adalah bahwa legowo adalah suatu pilihan: menerima atau menolak, menerima dalam satu cara, atau dengan cara lain yang bertentangan. Mengenai definisi legowo, pernyataan Ade Ilyasi berikut dapat dirujuk[1]:

Legowo. Bisa menerima apa yang berlaku pada dirinya dengan sabar, ikhlas dan pasrah. Sabar, tidak mengeluh atas cobaan yang ada. Ikhlas, lapang dada menerima cobaan tanpa rasa emosi atau dendam. Pasrah, semua akan di serahkan kepada sang pencipta karena semua ada hikmahnya.

Paling tidak ada dua catatan mengenai definisi di atas. Pertama, kata legowo mengandung tiga unsur yang masing-masing mencerminkan suatu kebajikan spiritual tertentu: kesabaran, ketulusan dan pasrah. Ini jelas menyiratkan makna mendalam dari kata legowo dan pada saat yang sama menunjukkan sifat ekspresif bahasa Jawa. Kedua, dalam “definisi” di atas kata legowo lebih mengarah pada sifat pasif dan hanya terkait dengan cobaan.

Pertanyaannya adalah apakah kata itu dapat juga digunakan untuk mengekspresikan suatu sikap yang lebih aktif; misalnya, sebagai kesiapan-diri untuk mengambil risiko dari tindakan atau keputusan yang diambil sadar dan intensional. Jika jawabannya “ya” maka kata legowo dapat diterapkan dalam konteks yang lebih luas; termasuk misalnya, dalam kehidupan beragama. Dengan demikian, frasa “kehidupan beragama dengan legowo”, misalnya, dapat diartikan sebagai sikap, perilaku atau praktik agama yang disertai unsur kesabaran, ketulusan atau keikhlasan dan tawakal atau berserah-diri:

  • sabar dalam menjalankan perintah agama dan meninggalkan larangannya,
  • tulus dalam memasang niat beragama, dan
  • tawakal dalam menerima takdir Tuhan.

Beragama secara legowo dalam pengertian ini sejalan dengan ajaran qurani, ajaran berbasis otoritas tertinggi dalam Islam, Al-Quran:

(Dialah) Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan segala apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan bersabarlah dalam beribadah kepada-Nya (Quran 19: 65).

Padahal mereka (ahli Kitab: Umat Yahudi dan Umat Nasrani) hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama (Quran 98:5).

dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal” (Quran 5:11).

Untuk mengeksplorasi makna Legowo lebih lanjut  kita dapat mengambil kasus menarik terkait dengan pemilihan Gubernur Jakarta yang lalu. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memberikan penilaian atas kasus tersebut; sebaliknya, tulisan ini hanya tertarik pada pemberitaan mengeai reaksi salah satu kandidat dalam menanggapi hasil pemilihan. Liputan media dalam kasus ini beragam tetapi berita utamanya dapat dirumuskan dalam kalimat singkat: “Ahok menerima kekalahannya dengan legowo, mengucapkan selamat kepada pemenang, dan menyebutkan kekalahannya sebagai kehendak Tuhan”.

Dalam kalimat itu dapat “dirasakan” hubungan-senafas antara legowo, pengakuan akan kelebihan pihak lain, dan ketetapan takdir. Dalam kalimat itu juga dapat “dirasakan” adanya unsur rendah hati (Inggris: humble, humility) dalam kata legowo. Sukar membayangkan sikap legowo dari orang yang tidak memiliki sikap rendah hati.

Rendah hati adalah salah satu matra kebajikan (Inggris: virtue, Arab: birr)[2] yang lebih mudah dipahami dari lawan katanya yaitu tinggi hati (Arab: takkbur, Inggris: pride). Istilah terakhir ini dikenal luas oleh umat beragama sebagai suatu sikap batin yang dianggap sebagai sumber, akar atau induk semua keburukan.

Sebagai kesimpulan, empat pernyataan berikut patut ditegaskan kembali:

  • Legowo adalah sikap batin untuk menerima situasi- betapa pun menyakitkan– dengan sabar, tulus dan pasrah;
  • Legowo mencerminkan kesiapan diri dalam menerima risiko dari tindakan yang dilakukan secara sadar dan bertanggung jawab;
  • Legowo adalah sikap batin yang sulit dibayangkan datang dari mereka yang kurang memiliki sikap rendah hati; dan
  • Legowo adalah suatu pilihan.

Pernyataan terakhir mengandung arti bahwa kita dapat menerima suatu peristiwa i yang telah terjadi atau menolaknya (dan ini mustahil), menerimanya dengan sabar atau tulus, atau dengan cara lain. Yang pasti, ada ketentuan takdir sebagaimana diungkapkan dengan padat dan indah dalam aforisme ketiga dari Al-Hikam:

Sensasi semangat tidak akan mampu menembus benteng takdir.

Mengenai aforisme ini, komentar Syekh Fadhallah berikut layak disisipkan di sini [3] untuk mengakhiri artikel ini:

Tak berguna! Bagaimanapun banyak energi yang Anda curahkan untuk maksud atau tujuan, itu tetap tidak akan tercapai jika tidak sesuai dengan keputusan Tuhan. Anda tidak akan memenangkan kehendak Anda di atas kehendak-Nya, yang telah menetapkan sifat yang terlihat dan tidak terlihat, dan menentukan nasib kita semua.

Demikianlah kedalaman makana spiritual kata legowo dalam konteksnya yang luas  …. @

[1] https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20120707193759AA3FrcK

[2] Lihat: https://uzairsuhaimi.blog/2016/10/22/dimensi-kebajikan/ dan https://uzairsuhaimi.blog/2016/01/01/rendah-hati/.

[3] Ibn Atthaillah, Al-Hikam, yang disertai ulasan Sech Fadhalla, Jakarta: Mandiri Abadi (2003).

 

Versi pdf (tanpa audio) dapat diakses di  https://drive.google.com/open?id=1FkcK9G-tDzXadsZxqpBc9p3qaIqaMuVG

 

 

← Back

Thank you for your response. ✨

 

Ayat Korupsi

Ayat Korupsi[1]

Syahwat Harta

Tidak ada negara yang tidak berupaya mencegah praktik korupsi. Tidak ada agama yang tidak mengutuk perilaku korupsi. Agama mungkin berbeda dalam hal perumusan ajaran teologis tetapi sama dalam hal semangat memerangi korupsi karena sifatnya yang sangat merusak tatanan masyarakat dan diakui luas sebagai “ibu” dari berbagai macam penyakit sosial (social evil), khususnya ketimpangan ekonomi. Lalu kenapa korupsi tetap merajalela? Jawaban singkatnya adalah karena kebanyakan kita tidak mampu mengendlikan syahwat harta yang melekat dalam sisi gelap kita, nafsu untuk memperoleh kekayaan material sebanyak-banyaknya dan berbangga dengan itu. Dalam frase qur’ani (102:1-2), syhawat itu, tidak akan berakhir “sampai kamu masuk dalam kubur”.

Penulis yakin banyak teks suci agama atau tradisi besar di luar Islam yang berbicara serius mengenai penyakit sosial yang satu ini. Dalam konteks Islam, teks suci itu mengenai korupsi dalam arti luas, dapat ditemukan antara lain dalam Surat al-Baqarah Ayat 188. Ayat ini yang dicoba dibahas secara singkat dalam tulisan ini.

Posisi Ayat.

Menarik utuk dicatat, posisi ayat ini terletak setelah ayat mengenai puasa (ayat 183-187), bentuk ibadah yang mendidik umat untuk dapat mengendalikan syhawat makanan, sebagai upaya mencapai derajat taqwa. Posisi ayat ini bagi penulis mengesankan ajaran bahwa untuk mencapai derajat ideal (taqwa) seseorang tidak cukup hanya dengan mengendalikan syahwat makanan tetapi harus diikuti oleh mengendalian syahwat harta, syahwat yang men-trigger praktek korupsi.

Menarik juga untuk dicatat, posisi ayat ini terletak sebelum ayat hajji (ayat 189-203), ibadah puncak dalam rukun Islam. Posisi ini bagi penulis mengisyaratkan bahwa ibadah haji tidak boleh menggunakan harta hasil korusi tetapi juga mengajarkan bahwa kita tidak layak bertemu dengan-Nya di padang mahsyar (yang diiulstrasikan oleh ritual berkumpul di padang Arafah) apalagi berada di sekitarat-Nya (diilustrasikan oleh ritual tawaf ifadah). Wallahu’alam.

Fungsi Sosial Harta

Ayat korupsi itu dimulai dengan larangan memakan harta: “Dan janganlah kamu makan hartamu di antaramu secara batil” (“Walaa ta’kuluu amwaalakum bil baathil…”). Ada tiga catatan penting mengenai potongan ayat ini:

  1. Istilah makan di sini tentu tidak hanya bermakna harfiah, “makan”, tetapi juga “memperoleh” dan “menggunakan”, atau menggunakan istilah teknis ekonomi, “mengkonsumsi” (makanan atau non-makanan);
  2. Istilah batil, menurut frase Qur’ani, mengandung dua makna: salah (sebagai lawan kata haqq[2] dan tanpa tujuan[3] (tanpa makna, berlebihan, iseng); dan
  3. Redaksi “di anatara kamu” (“bainakum”) mengisyaratkan fungsi sosial harta.

Mengenai yang terakhir ini Syihab memberikan ilustrasi[4]:

Harta yang dimilki oleh si A hari ini, dapat menjadi milik B esok. Harta seharusnya memiliki fungsi sosial, sehingga sebagian di antara apa yang dimiliki si A seharusnya dimiliki pula oleh B, melalui zakat maupun sedekah.

Singkatnya, Islam tidak mengizinkan harta pribadi secara eksklusif. Dalam konteks ini peran “hakim” (pemerintah) sangat penting dalam hal pengelolaan hak “pribadi” untuk menghindari gesekan sosial yang sangat mudah dipicu karena perbedaan kekayaan antar masyarakat.

Perilaku Korupsi

Potongan berikutnya dari ayat korupsi ini, hemat penulis, terkait dengan kekayaan negara, “harta manusia” dalam istilah Quani[5]:

… dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa padahal kamu mengetahui.

wa tudluu bihaa ilal hukkaami lita’kuluu fariqan min anwaalin annaas wa awantum ta’lamuun.

Terjamahan the Wisdom[6] terhadap frase “tudluu bihaa ilal hukkaami“ tampaknya lebih sesuai dengan situasi kontemporer paling tidak di Indonesia: “menyuap para hakim”. Ayat Korupsi sebagaimana tercantum dalam al-Baqarah 188 adalah sebagai berikut:

korupsi102

Makna lain potongan terakhir ayat ini menurut Syihab adalah sebagai berikut:

… dan janganlah menyerahkan harta kepada hakim yang berwenang memutuskan perkara bukan untuk tujuan memperoleh hak kalian, tetapi untuk mengambil hak orang lain dengan melakukan dosa, dan dalam keadaan mengetahui bahwa kalian sebenarnya tidak berhak”

Bagi penulis, dalam konteks ke-Indonesiaan kontemporer, kata hakim dalam ayat di atas dapat merujuk kepada yang menyandang profesi sebagai hakim, anggota dewan (semoga tidak termasuk anggota DKM), atau mungkin lebih jelas, Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). Yang terakhir ini dalam lembaga pemerintahan biasanya berkedudukan sebagai kepala lembaga atau pembantunya.  “Menyerahkan urusan” mungkin dapat diterjemahkan sebagai upaya “memanipulasi data atau keadaan” sedemikian rupa agar KPA memberikan izin untuk menggunakan “kekayaan negara” untuk kepentingan pribadi atau kelompok (korupsi berjamaah).

Naudzubillah min dzalik.…@

korupsi1

Sumber gambar: Google

[1] Tulisan ini diilhami oleh Khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ali Khan yang bertajuk A Quranic Lesson in Religious Psychology: https://www.youtube.com/watch?v=S_spaSigisY

[2] Waqul jaaal haqqa wazahaqal baathila (Al-Isra:81).

[3] “Wama khalaqna assamaawaati wal ardha wamaa bainahuma baathila.. (ayat).

[4] M. Quraisy Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Jilid 1: 413

[5] Shihab, ibid

[6] The Wisdom, Al-Mizan (2014: 58).

Catatan Akhir Tahun 2016: Catatan Bencana Alam dan Tragedi Kemanusiaan

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Tahun 2016 hampir berlalu yang bagi sebagian besar kita meninggalkan sejumlah kenangan manis maupun pahit; tahun 2016 mengantarkan kita ke tahun 2017 dengan yang bagi sebagian besar kita mengandung sejumlah harapan atau kecemasan. Frase “bagi sebagian besar kita” menunjukkan bahwa ada sebagian kecil kita yang menduduki maqam atau kondisi-permanen spiritual istimewa, sedemikian istimewanya sehingga “bau” duniawi yang menggembirakan atau menyedihkan tidak berpengaruh terhadap kondisi jiwanya. Kalangan elitis ini “senantiasa berada dalam keadaan salat (“pray without ceasing[1]) atau tenggelam dalam dzikir. Maqam istimewa ini masih terlalu jauh bagi penulis dan mungkin bagi sebagian besar kita.

Sekalipun belum berada pada maqam istimewa, kita masih dapat berharap cukup bijak untuk dapat melihat masa lalu tidak hanya sekadar kenangan, tetapi juga ladang pembelajaran untuk menghadapi tantangan dan kesempatan yang akan datang. Hasilnya yang diharapkan: keadaan, capaian atau prestasi individual masing-masing kita pada tahun 2017 lebih baik dari pada tahun 2016 (I2017> I2016). Jika tidak, konon menurut Ali RA, kita “merugi” (I2017= I2016) atau bahkan “celaka” (I2017< I2016). Inilah yang pantas dijadikan sasaran “proyek 2017” bagi masing-masing kita secara individual. Di luar proyek individual tentu kita juga memiliki juga proyek kolektif yang bersifat global. Sasaran yang pantas dari proyek global adalah mengatasi sejumlah “warisan” tahun 2016 berupa sejumlah dampak bencana alam dan tragedi kemanusiaan.

Bencana Alam

Tahun 2016 menyaksikan sejumlah bencana alam yang berada di luar jangkauan kita untuk mencegahnya. Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya gempa baru-baru ini (6 Desember 2016) di Kabupaten Sigli dengan intensitas maksimum berkategori IX (violent, sangat parah): 245 bangunan runtuh, 990 terluka (136 diantaranya serius) dan 104 meninggal dunia. Bencana Sigli sama-sekali bukan satu-satunya gempa yang terjadi tahun ini: dilaporkan, sepanjang 2016 terjadi 15,711 gempa. (Angka ini catatan sampai 16 November 2016 sehingga tidak mencakup bencana Sigli[2].) Wilayah yang terkena gempa tahun ini mencakup semua benua. Luasnya cakupan bencana diilustrasikan oleh Tabel 1 yang mendaftar bencana yang terjadi bulan terakhir tahun ini[3].

Mengenai bencana alam ada dua pertanyaan retrospektif yang layak diajukan: (1) Apakah taraf iptek kontemporer sudah dapat mengantisipasi bencana semacam yang terjadi di Sigli? (2) Apakah bencana alam “murni alamiah” dalam arti tanpa “campur tangan” Dia_yang_Maha_Tinggi? Untuk pertanyaan pertama agaknya kita perlu memberikan jawaban negatif. Untuk yang kedua, kebanyakan kita mungkin cenderung menjawab positif: murni alamiah, tanpa keterlibatan Tuhan. Walaupun demikian, penulis yakin sebagian kecil dari kita meyakini keterlibatan Tuhan dalam setiap bencana alam sekalipun tidak memahami sepenuhnya hikmah dari kebijaksanaan-Nya: mereka tidak mempertanyakannya; bilaa kaifa, kata kalangan santri.

Tragedi Kemanusiaan

Tahun 2016 juga menyaksikan sejumlah tragedi kemanusiaan yang menyayatkan hati (sejauh kita masih memiliki hati). Faktor yang melatar belakanginya bemacam-macam, mulai dari fenomena el-nino, sampai pada konflik antar suku, ideologi atau faksi-keagamaan. Hebatnya, faktor latar belakang itu memiliki efek domino yang berkepanjangan. Sebagai ilustrasi, fenomena el-nino –khususnya di negara-negara berkembang dengan tingkat teknologi pertanian yang masih banyak-mengandalkan-kebaikan-alam– akan menyebabkan bencana kekeringan yang parah yang pada gilirannya menurunkan secara drastis produksi pangan serta meningkatkan harga pangan sehingga tidak terjangkau bagi kebanyakan. Sebagai ilustrasi lain, konflik antar faksi keagamaan menyebabkan perang saudara dan kekacauan politik dalam negeri sehingga mendorong migrasi masif antar negara bahkan antar benua.

Menurut Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum), kebanyakan orang yang bekerja di lembaga bantuan meyakini bahwa tahun 2016 memberikan warisan pada tahun 2017 dengan meningkatnya kebutuhan bantuan kemanusiaan. Diperkirakan, belasan negara akan membutuhkan bantuan kemanusiaan dengan “harga” sekitar $20.1 milyar:

There’s one prediction for 2016 that most aid workers can make with confidence – that the new year will usher in rising humanitarian needs. Besides displacement caused by long-term conflicts in places like Syria and South Sudan, there is also the threat of more violence in the Central African Republic and hunger caused by El Nino, which is expected to bring more drought to already-parched southern regions in Africa and potential flooding in the east. The United Nations projects that at least 87 million people in dozens of countries will require humanitarian aid next year, and is seeking a record $20.1 billion to meet their needs.

Ada satu prediksi untuk 2016 yang diyakini oleh sebagian besar pekerja bantuan bahwa tahun baru kebutuhan bantuan kemanusiaan akan meningkat. Selain untuk pengungsian yang disebabkan oleh konflik berkepanjangan di wilayah-wilayah seperti Suriah dan Sudan Selatan, juga untuk ancaman kekerasan lainnya di Republik Afrika Tengah dan kelaparan yang disebabkan oleh El Nino yang diperkirakan membawa kekeringan lebih parah di kawasan selatan yang sudah kering di Afrika dan potensi banjir di kawasan timur. PBB memperkirakan setidaknya 87 juta orang di berbagai negara akan memerlukan bantuan kemanusiaan tahun depan, dan mencari rekor $ 20,100,000,000 untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Upaya untuk mengumpulkan dana sebesar $20.1 milyar merupakan tantangan besar karena konon secara psikologis kita cenderung “tidak peduli” dengan tragedi kemanusiaan yang bersifat masif: kita lebih prihatin dengan yang satu dari pada yang banyak. Dalam hal ini menarik untuk disimak tulisan David Ropeik yang berjudul agak provokatif: “Statistical Numbing: Why Millions Can Die and We Don’t Care[4]”. Dalam tulisan ini Ropeik mengutip ungkapan Paul Slovic yang menilai kecenderungan kita ini sebagai “cacat fundamental dalam kemanusiaan kita” (“a fundamental deficiency in our humanity“), cacat yang menyebabkan kita tidak peduli, mengetahui tetapi tidak bertindak memadai, untuk mencegah terjadinya penderitaan masif dan genosida di Kongo atau Kosovo atau Kamboja atau banyak yang lainnya. Dalam tulisan yang sama Ropeik mengutip ucapan Theresia dan Stalin: (1) Ibu Theresa: “If I look at the mass I will never act. If I look at the one I will”, dan (2) Stalin: “One death is a tragedy. One million is a statistic”. 

Seperti terungkap dalam Laporan Forum Ekonomi Dunia sebagaiman tercantum dalam kutipan di atas, tragedi kemanusiaan tampaknya tidak hanya akan “berlanjut” di kawasan Syria seperti yang memperoleh perhatian media masa, tetapi juga di Yaman dan kawasan Afrika yang sejauh ini kurang memperoleh perhatian media masa. Baru-baru ini, Yayasan Thomson Reuters melakukan jajak pendapat terhadap lembaga bantuan dunia yang utama. Masing-masing mereka diminta menyebutkan tiga prioritas kemanusiaan tahun 2016 yang paling penting. Hasilnya, tidak mengagetkan: Syria berada dalam puncak daftar keprihatinan mereka. Hal ini dapat dipahami karena, seperti yang diungkapkan lembaga Vatikan kepada Lembaga Hak Azai Manusia PBB, setelah berlangsung lima tahun, perang di Syria menimbulkan “perasaan yang tanpa saya di depan tragedi yang tanpa akhir” ( “feeling of helplessness in front of an endless human tragedy”)[5].

Ringkasan hasil jajak pendapat oleh yayasan itu disajikan pada Tabel 2. Catatan menarik yang diungkapkan tabel itu antara lain bahwa bahwa di luar Syria dan Yaman, sejumlah kawasan di Afrika juga berada dalam daftar puncak keprihatinan lembaga bantuan dunia. Isu-isu spesifik dari tragedi kemanusiaan menurut keprihatinan lembaga-lembaga bantuan itu ternyata sangat bervariasi dan hal ini menggambarkan luasnya spektrum tragedi kemausiaan sebagaimana diungkapkan oleh Tabel 3. Mengingat intensitas dan luas spektrum tragedi kemanusiaan 2016 yang dampaknya diduga masih akan kita hadapi tahun depan, maka tahun 2017 akan menjadi saksi nilai kesalehan sosial kita, nilai yang sejauh pemahaman penulis merupakan salah satu inti ajaran agama-agama besar, diukur dengan prestasi kita secara kolektif dalam merespon bencana dan tragedi itu. Wallahu’alam  …..@

Tabel 1: Gempa Desember 2016

  1. A magnitude 5.2 earthquake struck Costa Rica 6 km (3.7 mi) east northeast of Cartago on December 1 at a depth of 5.0 km (3.1 mi). The shock had a maximum intensity of VI (Strong).[236] The earthquake caused landslides and damaged some homes, forcing at least 5 families to move to a community centre.[237]
  2. A magnitude 6.3 earthquake struck Peru 43 km (27 mi) northeast of Huarichancara, Puno Region on December 1 at a depth of 10.0 km (6.2 mi). The shock had a maximum intensity of VII (Very strong).[238] At least 40 houses in Lampa Province were damaged, with some suffering total collapse. One person died and 17 others were injured.[239]
  3. A magnitude 6.0 earthquake struck offshore of the United States 53 km (33 mi) south of Shemya Island, Alaska on December 3 at a depth of 26.9 km (16.7 mi). The shock had a maximum intensity of IV (Light).[240]
  4. A magnitude 6.3 earthquake struck Indonesia 148 km (92 mi) north northeast of Palu’e Island, East Nusa Tenggara on December 5 at a depth of 526.0 km (326.8 mi). The shock had a maximum intensity of III (Weak).[241]
  5. A magnitude 6.5 earthquake struck Indonesia 19 km (12 mi) southeast of Sigli, Aceh on December 6 at a depth of 8.2 km (5.1 mi). The shock had a maximum intensity of IX (Violent). About 245 buildings collapsed as a result of the quake. 104 people were killed and over 900 were injured,[243] of which 136 suffered serious injuries.
  6. A magnitude 5.9 earthquake struck China 57 km (35 mi) south southeast of Shihezi in the Xinjiang Autonomous Region on December 8 at a depth of 13.7 km (8.5 mi). The shock had a maximum intensity of VI (Strong).[245] Two people were injured, and 25 houses suffered damage in Ürümqi region.
  7. A magnitude 6.5 earthquake struck offshore of the United States 160 km (99 mi) west of Ferndale, California on December 8 at a depth of 12.1 km (7.5 mi). The shock had a maximum intensity of IV (Light).[247]
  8. A magnitude 7.8 earthquake struck the Solomon Islands 69 km (43 mi) west southwest of Kirakira on December 8 at a depth of 41.0 km (25.5 mi). The shock had a maximum intensity of VII (Very strong).[248] Tsunami waves up to 5.0 cm (2.0 in) were measured in New Caledonia and Vanuatu.[249] More than 200 buildings in the southern part of Malaita were damaged and buildings collapsed in Makira; more than 7,000 people were affected by the quake. An eleven-year-old girl died when a building collapsed.
  9. A magnitude 6.5 earthquake struck the Solomon Islands 79 km (49 mi) west southwest of Kirakira on December 8 at a depth of 14.7 km (9.1 mi). The shock had a maximum intensity of V (Moderate).[253] This was an aftershock of the 7.8 quake.
  10. A magnitude 4.4 earthquake struck Croatia 3 km (1.9 mi) east of Trogir, Split-Dalmatia county on December 9 at a depth of 21.9 km (13.6 mi). The shock had a maximum intensity of VI (Strong).[254] The quake caused minor damage in the form of cracked walls and broken windows.[255]
  11. A magnitude 6.9 earthquake struck offshore of the Solomon Islands 94 km (58 mi) west southwest of Kirakira on December 9 at a depth of 20.6 km (12.8 mi). The shock had a maximum intensity of VII (Very strong).[256] This was an aftershock of the 7.8 quake.
  12. A magnitude 6.1 earthquake struck Papua New Guinea 131 km (81 mi) west northwest of Arawa, Bougainville on December 10 at a depth of 157.1 km (97.6 mi). The shock had a maximum intensity of IV (Light).[257]
  13. A magnitude 6.0 earthquake struck offshore of the United States trust territory of the Northern Mariana Islands 97 km (60 mi) north northwest of Farallon de Pajaros on December 14 at a depth of 27.6 km (17.1 mi). The shock had a maximum intensity of III (Weak).
  14. A magnitude 7.9 earthquake struck Papua New Guinea 46 km (29 mi) east of Taron, New Ireland on December 17 at a depth of 103.2 km (64.1 mi). The shock had a maximum intensity of VIII (Severe).[259] Though tsunami waves up to 8.0 cm (3.1 in) were measured[260] and power was knocked out in some parts of the country, no reports of injuries or damage were reported.[261]
  15. A magnitude 6.3 earthquake struck offshore of Papua New Guinea 169 km (105 mi) southeast of Taron, New Ireland on December 17 at a depth of 35.9 km (22.3 mi). The shock had a maximum intensity of IV (Light).[262] This was an aftershock of the 7.9 quake.
  16. A magnitude 6.0 earthquake struck the Solomon Islands 83 km (52 mi) west northwest of Kirakira on December 18 at a depth of 39.1 km (24.3 mi). The shock had a maximum intensity of V (Moderate).[263] This was an aftershock of the 7.8 quake.
  17. A magnitude 6.1 earthquake struck the Federated States of Micronesia 24 km (15 mi) east southeast of Ngulu Atoll on December 18 at a depth of 13.2 km (8.2 mi). The shock had a maximum intensity of IV (Light).
  18. A magnitude 6.4 earthquake struck Peru‘s Ucayali Region 201 km (125 mi) south of Tarauaca, Brazil on December 18 at a depth of 619.4 km (384.9 mi). The shock had a maximum intensity of II (Weak).
  19. A magnitude 5.4 earthquake struck Ecuador 14 km (8.7 mi) south southwest of Propicia, Esmeraldas Province on December 19 at a depth of 10.0 km (6.2 mi). The shock had a maximum intensity of VI (Strong).[266] This earthquake damaged houses, hotels, and caused some landslides in Atacames. Three people died and 47 others were injured.
  20. A magnitude 6.4 earthquake struck the Solomon Islands 80 km (50 mi) west northwest of Kirakira on December 20 at a depth of 11.3 km (7.0 mi). The shock had a maximum intensity of VII (Very strong). This was an aftershock of the 7.8 quake.
  21. A magnitude 6.7 earthquake struck offshore of Indonesia 278 km (173 mi) east northeast of Dili, East Timor on December 21 at a depth of 151.5 km (94.1 mi). The shock had a maximum intensity of V (Moderate).

Sumber: Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_earthquakes_in_2016

Tabel 2: Wilayah-wilayah Tragedi Kemanusiaan

Lembaga Bantuan Afrika Tengah Sudan Selatan Afrika lainnya Syria Yamen Wilayah lainnya
(1) Action against Hunger V Semenan-jung Afrika V
(2) ActionAid V Afrika Timur dan Selatan V
(3) Americares Afrika Barat V Kepulauan Pacifik
(4) Care International V V (El-Nino) V V
(5) Catholic Relief V V V (El-Nino)
(6) Cordaid V V V
(7) Danish Refugee Council V V Eropa
(8) International Committee of the Red Cross (ICRC) Burundi Israil dan wilayah penjajahan dan Afgha-nistan
(9) International Medical Corps (IMC) Semenan-jung Afrika dan Brundi V V
(10) Mercy Corp V V Nigeria Utara
(11) Norwegian Refugee Council V Wilayah Sahala V
(12) Plan International Ethiopia, Afrika bagian Selatan dan Brundi
(13) Save the Children V Ethiopia V
(14) Sightsavers V V Congo, dan Chad V
(15) World Vision UK V Congo V

Sumber: World Economic Forum, https://www.weforum.org/agenda/2015 /12/these-are-the-top-humanitarian-concerns-for-2016/

Table 3: Frase Keprihatinan Lembaga-lembaga Bantuan Dunia

Lembaga Frase Keprihatinan
(1) Action against Hunger “Central African Republic is a forgotten humanitarian crisis which is not making the front pages despite the violent conflict that has left over half the population in dire need of assistance. An alarming number of children are at risk of life-threatening malnutrition. As violence continues, access for aid workers is ever more restricted and food, water, and medical supplies in short supply,” said Juliet Parker, director of operations, Action Against Hunger UK.
(2) ActionAid “Climate, conflict and humanitarian crises continue to affect the lives of the poorest women and children in the world,” said Mike Noyes, ActionAid’s head of humanitarian response.
(3) Americares “Health system strengthening in west Africa is one of our top priorities for 2016. We need to ensure the health systems in these countries are not only prepared for the next major health emergency but are also better equipped to deal with everyday health crises,” said Garrett Ingoglia, vice president of emergency response.
(4) Care International “CARE continues to deepen its efforts (in the Middle East) to provide basic services to try to help people caught up in these conflicts, including housing, cash, water and sanitation. We also support government systems in neighboring countries hosting Syria refugees and partner with other INGOs to provide essential services to those most in need,” said Barbara Jackson, humanitarian director.
(5) Catholic Relief “We’re currently witnessing levels of food shortage that could turn into a full-blown humanitarian crisis not seen in Ethiopia since 1985,” said Jennifer Poidatz, vice president, humanitarian response department.
(6) Cordaid “In this rapidly changing world, you have to continuously reinvent yourself in order to achieve maximum social impact with limited resources. For us that means creating opportunities for everyone where the need is greatest as a result of war and natural disaster,” said Simone Filippini, CEO.
(7) Danish Refugee Council “In Europe refugees are crossing the Mediterranean in a scale, we haven’t seen before. We never imagined in the Danish Refugee Council that we would be required to operate in countries within the EU. At the same time we believe that this is a political crisis, and it is, therefore, essential to push for the EU to find a political solution to this,” said Ann Mary Olsen, international director.
(8) International Committee of the Red Cross (ICRC) “In addition to the crises widely covered in 2015, next year on my radar will be Burundi (and the Great Lakes area), Israel and the Occupied Territories and Afghanistan,” said Dominik Stillhart, director of operations at ICRC. “Having worked in Afghanistan for 30 years, we see that the conflict is far from over and civilians continue to pay a heavy price: 2015 was one of the deadliest years since 2001. A deteriorating security situation forces people to leave their homes and seek refuge in neighboring countries or try dangerous routes to Europe,” said Stillhart.
(9) International Medical Corps (IMC) “Sadly, we expect the already dire humanitarian situation in both Syria and Yemen to only worsen, the drought in the Horn of Africa to push food insecurity to a level not seen in decades, and the violence and heightened rhetoric in Burundi could potentially spiral into human tragedy in 2016,” said Rabih Torbay, senior vice president of international operations.
(10) Mercy Corp “Over 4 million Syrians are now registered refugees in other countries, over half of those are children. As 2015 draws to a close, protection and humanitarian aid in Syria have reached a record high, and in the absence of a viable peace, the situation is expected to deteriorate and require even more sustained humanitarian support in the coming year,” said Michael Bowers, vice president for humanitarian leadership and response.
(10) Norwegian Refugee Council “International relief agencies and underestimated local organizations are able to work with most of the needy in most of the not-so-difficult places. But we are still remarkably absent in hundreds of communities across war-torn Syria, Yemen, South Sudan and Central African Republic. Too few organizations are capable of expanding their presence in areas where armed opposition groups or designated terrorist organisations rule over millions of civilians,” said Jan Egeland, Secretary General.
(11) Plan International “Our experience in the 2011 Horn of Africa food crisis, particularly in Ethiopia, (showed) that children and pregnant women are doubly disadvantaged. Plan International will prioritise them through community-based food and nutrition assistance and school-based feeding programmes,” said Roger Yates, director of disasters and humanitarian response.
(12) Save the Children “In Ethiopia, the key concerns for Save the Children are to make sure that food is obtained and delivered to children and their families in the most affected areas to prevent malnutrition, to have rapid life-saving therapeutic feeding for those children who do fall into severe malnutrition and to provide basic access to water in affected communities,” said John Graham, Country Director for Save the Children in Ethiopia.
(13) Sightsavers

 

“It is in the field of the Neglected Tropical Diseases where we are most often in communities facing high levels of chronic insecurity, subject either to long-term conflict or frequent flashpoints,” said Dominic Haslam, director of policy and programme strategy.
(14) World Vision UK

 

“While the Syria crisis sometimes hits the headlines, our work — and the challenges facing hundreds of thousands of refugee families — carries on every day. We’ll continue to provide a huge amount of practical support in Syria and its neighboring countries, and now in Europe,” said Mark Bulpitt, head of humanitarian and resilience.

Sumber: World Economic Forum, https://www.weforum.org/agenda/2015 /12/these-are-the-top-humanitarian-concerns-for-2016/

[1] Judul buku yang diedit oleh Patrick Laude, 2006, World Wisdom. Judul lengkapnya “Pray Without Ceasing: The Way of the Invocation in World Religion”.

[2] https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_earthquakes_in_2016.

[3] Ibid

[4] https://www.psychologytoday.com/blog/how-risky-is-it-really/201108/statistical-numbing-why-millions-can-die-and-we-don-t-care

[5] http://visitor.stclouddiocese.net/tag/human-tragedy/

Makna Batiniah Wudu

Istilah wudu (abolition) merujuk pada aktivitas pembasuhan sebagian anggota tubuh tertentu khususnya pada bagian muka, kedua belah tangan sampai siku, dan kedua pasang kaki sampai pergelangan kaki. Secara lahiriah, tindakan pembasuhan itu bersifat fisikal atau duniawi (profan). Walaupun demikian, wudu mengandung makna beyond tindakan profan karena intensi, “niat-ingsun” atau motivasinya adalah membebebaskan, membersihkan atau menyucikan dari dari segala sesuatu yang bersifat tidak suci (hadats). Inilah yang penulis maksdukan dengan “makna batiniah” (the inner meaning) wudu.

Penegasan mengenai makna batiniah wudu dapat dilihat dari praktek para ulama yang melafalkan bacaan-bacaan tertentu ketika membasuh anggota tubuh tertentu ketika berwudu. Sebagai ilustrasi, ketika membasuh kaki, sebagian ulama membaca lafal doa “Allâhumma tsabbit qadamayya ‘alas shirâti yauma tazillul aqdâmu fin nâri”; yang artinya kira-kira, “Wahai Tuhanku, tetapkan kedua kakiku di atas shirat pada hari ketika banyak kaki manusia terpeleset di api neraka,”[1] Dalam lafal do’a itu tampak bahwa kaki melambangkan keseluruhan jalan hidup kita di dunia ini.

wudhu107

Menurut fikih wudu hukumnya bersifat anjuran (sunat) tetapi menjadi keharusan (wajib) ketika hendak melakukan salat (atau tawaf): wudu merupakan prasyarat sahnya salat (atau tawaf). Dengan berwudu seseorang menjadi terbebas dari ketidaksucian atau hadats kecil yang secara umum tidak kasat mata[2].

Dalam praktek, anggota tubuh yang dibasuh dalam berwudu tidak hanya mencakup wajah, tangan dan kaki, tetapi juga mulut, hidung dan telinga. Seperti disinggung sebelumnya, masing-masing anggota tubuh itu mengandung simbol kekotoran tertentu yang harus disucikan ketika seorang hamba siap menghadap-Nya. Tangan, misalnya, menurut Schuon menyimbolkan tindakan-tindakan duniawi (profan) secara umum. Untuk lengkapnya, berikut ini disajikan ungkapan Schuon mengenai makna simbolis anggota tubuh yang dibasuh ketika wudu:

In abolition, the hand refers to profane actions; the mouth to the impurities contracted knowingly; the nose to the impurities contracted unwillingly and unconsciously; the face to the shame of sin; the forearms to impure intention; the ears to deafness with regard to the divine Words; the head to pride; the ears to waywardness. Or in positive terms: the purified hand to spiritual actions; the mouth to active purity; the nose to passive and unconsciousness purity; the face to the state of grace; the forearms to purity of intention; the ears to the receptivity to the divine Words or to spiritual or angelic inspirations; the heads to humility before God, hence to awareness of our nothingness;the feet to our qualification for the path of contemplation (Schuon: 145-146)[3]

Dari kutipan di atas tampak bahwa masing-masing anggota tubuh melambangkan suatu aspek ketidaksucian atau ketidakmurnian tertentu yang melekat dalam diri kita sehingga perlu dimurnikan terlebih dahulu sebelum menghadap Dia yang Maha_Suci:

·      Tangan : Tindakan duniawiah (profan);
·      Mulut : Kekotoran yang dilakukan secara sengaja;
·      Hidung : Kekotoran yang dilakukan tanpa sengaja dan tanpa sadar;
·      Wajah : Keburukan aib dosa;
·      Lengan : Kekotoran niat; dan
·      Telinga : Ke-tidak-patuhan.

Dari kutipan di atas juga tampak bahwa setelah dimurnikan masing-masing anggota tubuh itu mengandung suatu aspek kesucian tertentu:

·      Tangan : Tindakan spiritual;
·      Mulut : Kemurnian yang bersifat aktif;
·      Hidung : Kemurnian yang bersifat pasif dan tanpa sadar;
·      Wajah : the state of grace;
·      Lengan : Kemurnian niat;
·      Telinga : Kesiapan menerima Firman ilahiah atau inspirasi spiritual;
·      Kepala : Kerendahan hati di hadapan Tuhan; dan
·      Kaki : Kualifikasi untuk menempuh jalan kontemplasi.

Keharusan wudu sebelum menghadap-Nya melalui salat menghendaki agar kita terbebas dari semua bentuk “kekotoran”: keterikatan terhadap semua urusan duniawi serta terbebas dari semua jenis kekotoran, aib dosa, kekotoran niat, dan dari semua bentuk ketidak-patuhan. Hemat penulis, semua ini mengisyaratkan bahwa Dia hanya berkenan menerima kita jika keseluruhan individualitas kita sudah murni dalam arti terbebas dari semua bentuk kekotoran itu. Pertanyaan restropektif: Apakah kualifikasi itu berlaku untuk mengahadap-Nya melalui pintu kematian? Astagfirullah…. @

[1] Lihat Sayid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, Jakarta; http://www.nu.or.id/post/read/66243/doa-basuh-kaki-kanan-saat-wudhu;

[2] Untuk terbebas dari hadats besar seseorang harus mandi dengan niat khusus yakni bersuci dari hadats besar.

[3] Frithjof Schuon, Sufism: Veil and Quintessence (2006), World Wisdom, Inc. Nama muslim Schuon adalah Isa Nur ad-Din, nama yang konon diberikan oleh Shaykh Ahmad al-Alawi, pendiri salah satu tarekat sufi di Aljazair pada tahun 1930-an. Schuon adalah Syech dari tarekat itu sampai akhir hayatnya (May, 1998).