Simbolisme Gua dan Gunung

Dikisahkan bahwa Nabi Muhammad Saw menerima wahyu pertama di Gua Hira, suatu gua kecil di Jabal Nur yang terletak 5 km di utara Mekah. Dikisahkan pula bahwa Nabi Musa As menerima wahyu Taurat di Gunung Thur, suatu gunung yang berlokasi di semenanjung Sinai, Mesir. Dalam dua konteks ini gua maupun gunung, selain memilki arti harfiah (geografis), tetapi juga makna simbolis. Makna kedua ini mudah dipahami karena terkait dengan penurunan wahyu yang berarti “pengungkapan ilahiah atau supernatural kepada manusia mengenai sesuatu yang terkait dengan eksistensi manusia atau dunia. Jalalyan ketika mengartikan kata at-tur (Ayat ke-1, Surat ke-52) menarasikan sebagai “bukit tempat Allah berfirman secara langsung kepada Nabi Musa”.

Di luar tradisi agama samawi, dalam banyak peradaban purba kata gua maupun gunung dimaknai sebagai representasi pusat spiritual.

  • Dalam Bahasa Sansekertakata gua (guhā) berasal dari akar kata guh yang berarti “menutupi” atau “menyembunyikan”. Kata itu seakar kata dengan gup, karenanya gupta yang digunakan untuk apapun yang bersifat rahasia dan tidak tampak di permukaan.
  • Dalam Bahasa Latin kata itu sinonim dengan kata “crypt” yang  yang juga berarti “menutupi” atau “menyembunyikan”. Ide dari kata-kata itu terkait dengan pusat, sejauh itu dilihat sebagai paling batini (inward) dan karenanya merupakan titik yang tersembunyi (hidden point).

Ide yang sama juga merujuk pada inisiasi (mistis) yang bersifat rahasia dalam kaitannya dengan peristiwa itu sendiri maupun dengan tempat di mana inisiasi itu berlangsung; keduanya tidak dapat diakses oleh orang kebanyakan yang masih berjiwa duniawi (profane) .

Dalam artian simbolis gua dilihat sebagai tempat yang terletak di bawah atau di dalam gunung sehingga keduanya saling melengkapi. Walaupun demikian, gunung menurut Guénon secara simbolis lebih purba (primordial) dibandingkan gua. Berbeda dengan gunung yang dapat terlihat secara kasat mata dari semua sisi, gua pada dasarnya tempat tersembunyi dan tertutup. Dari pengamatan ini Guénon menyimpulkan bahwa representasi pusat spiritual dari gunung terkait dengan periode di mana “kebenaran seluruhnya dapat diakses oleh semua”; pada periode sesudahnya kebenaran itu hanya dapat diakses oleh segelintir kalangan elit. Untuk memperoleh gambaran agak lengkap mengenai pikiran Guénon, berikut ini disajikan ungkapannya secara langsung :

It must be mentioned… that the mountain is more “primordial” in its significance than the cave: it is so in virtue of being outwardly visible, we might even say of being the most visible object from all sides, whereas the cave is, on the contrary, an essentially hidden and closed place. It can easily be deduced from this that the representation of the spiritual center by the mountain corresponds to the original period of earthly humanity, during which the truth was wholly accessible to all …; but when owing to the downward march of the cycle, this truth was no longer within the scope of more than a fairly restricted “élite” …. and had become hidden from the majority, the cave was a more fitting symbol of the spiritual center and therefore of the initiatic sanctuaries which are its images.

Harus disinggung… bahwa gunung lebih “primordial” signifikansinya dari gua: demikianlah karena gunung secara lahiriah terlihat, kita bahkan mungkin mengatakan menjadi objek yang paling terlihat dari semua sisi, sedangkan gua adalah, sebaliknya, pada dasarnya tersembunyi dan tertutup. Dari sini dapat dengan mudah disimpulkan bahwa representasi dari pusat spiritual oleh gunung sesuai dengan periode awal manusia di bumi ketika kebenaran sepenuhnya dapat diakses oleh semua; pada masa selanjutnya, karena siklus yang merngarah ke ke bawah, kebenaran ini tidak hanya dapat diakses hanya oleh kalangan “elite” yang cukup terbatas …. dan telah menjadi tersembunyi dari mayoritas, gua adalah simbol lebih pas dari pusat spiritual dan karenanya menggambarkan tempat inisiasi suci.

Ungkapan di atas tidak menujukkan gunung berubah atau pindah tempat; yang terjadi adalah “puncaknya” seolah-olah menyembunyikan diri ke bagian dalam. Bagi Guénon perubahan yang tampak terbalik ini (reversal) juga tidak berarti bahwa “dunia lebih tinggi dan lebih lebih dalam” (higher and inner world) telah berubah; yang berubah adalah “dunia luar” (external world), demikian juga hubungan antara keduanya. Oleh Guénon gunung diilustrasikan oleh segitiga yang mengarah ke atas sementara gua segitiga lebih kecal yang mengarah ke bawah yang lebih kecil. Gambar 1 meujukkan hubungan “terbalik” sekaligus “saling melengkapi” antara keduanya.

goa101

Bagaimana agar segitiga yang di bawah dimasukkan ke dalam segitiga yang di atas sedemikian rupa sehingga menutupi yang pertama secara sempurna. Menurut Guénon, yang kebetulan ahli matematika, caranya adalah dengan menarik satu garis tengah secara horizontal pada segitiga yang di atas dan menjadikan garis tengah itu sebagai “alas” bagi segitiga yang mengarah ke bawah. Hasilnya adalah “klop” dengan 4 segitiga: satu mengarah ke bawah, sisanyake atas sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 2. Guénon  memaknai ini sebagai simbol “Segel Sulaiman” (“Seal of Solomon”). Wallahu’alam.

Guénon mengungkapkan bahwa segitiga terbalik juga melambangkan hati (heart) dan cawan (cup), khususnya dalam kaitannya dengan misteri Cawan Suci (Holy Grail). Selain itu dia mengungkapkan bahwa segitiga yang di bawah lebih kecil dibandingkan dengan yang di atas tetapi dalam kaitan ini kata kecil sekaligus bermakna besar, jauh lebih besar:

Moreover, in the present case, there is a more special reason: we have recalled, in connection with the relationship between the cave and the heart, the text of the Upanishads where it is said that the Principle, which resides at “the center of the being”, is “smaller than a grain of rice, smaller than a grain of barley, smaller than a grain of mustard, smaller than a grain of millet, smaller than the seed that is in a grain of millet”, but also at the same time “larger than the earth, larger than the atmosphere (or the intermediary world), larger than the heavens, larger than all the worlds together”…

Selain itu, dalam kasus ini, ada alasan khusus lainnya: kami ingat sehubungan dengan hubungan antara gua dan hati, teks Upanishad mengungkapkan bahwa Prinsip, yang berada di “pusat wujud”, “lebih kecil dari sebutir beras, lebih kecil dari sebutir gandum, lebih kecil dari sebutir mustar, lebih kecil dari sebutir milet, lebih kecil dari benih yang ada di sebutir millet “, tetapi juga di saat yang sama “lebih besar dari bumi, lebih besar dari atmosfer (atau dunia perantara), lebih besar dari langit, lebih besar dari semua dunia bersama-sama.

Terkait dengan kutipan di atas kita dapat menganalogikan makna “besar-kecil” dengan misteri hati seorang Mukmin yang sekalipun fisik kecil tetapi menurut satu hadits qudsi dapat menampung Tuhan: “Langit dan bumi tak dapat menampung-Ku. Hanya hati seorang Mukmin yang cukup luas untuk menampungku.”

Wallahu’alam ……@

xx

xx

← Back

Thank you for your response. ✨

Senam Intelektual

Senam Intelektual

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Istilah senam intelektual (intellectual gymnastic) dikemukakan Swami Yatiswarananda (1889-1966) ketika melancarkan kritik terhadap Filsafat Barat. Dia adalah “anak spiritual” Ramakrishna (1836-1886), seorang mistis dan yogi India yang sangat dihormati.  Ramakrishna konon pernah mempraktekkan ajaran Kristen dan pernah pula diislamkan oleh seorang guru India. Terkait dengan yang terakhir ini ia dilaporkan taat berdzikir, mempraktekkan salat lima kali, dan mengenakan pakaian Arab Muslim [1]; semuanya menandakan bahwa ia serius dalam keislamannya, wallahu’alam. Ajaran-ajaran Ramakrishna sampai ke kita melalui para muridnya antara lain dan Swami Yatiswarananda yang menyebarkan ajaran gurunya itu di kawasan Eropa selama dekade 1930-1940-an.

Kenapa Swami Yatiswarananda mengkritik Filsafat Barat? Karena menurutnya Filsafat Barat terlalu mengandlakan nalar. Baginya, nalar saja tidak cukup, bahkan tidak banyak berguna. Untuk lengkapnya, dan untuk mengurangi risiko salah tafsir, berikut ini disajikan kutipan terkait argumen itu [2]:

Western philosophy has never had any great influence on life, not even on the life of the philosopher himself. Western philosophy is all reasoning, and mere reasoninsg has no great value and only leads us up to a certain point. We see the results in Kant. This is of no value at all as far as life and our progress are concerned. It is just intellectual gymnastics.

Filsafat Barat tidak pernah berpengaruh besar dalam kehidupan, bahkan bagi kehidupan filsuf sendiri. Filsafat Barat hanya berdasarkan pada penalaran saja tidak memiliki nilai yang besar dan hanya mengarahkan kita suatu titik tertentu. Kita lihat hasilnya dalam (filsafat) Kant. Ini tidak bernilai sama sekali sejauh keprihatinan kita tertuju pada kehidupan dan kemajuan. Itu hanya senam intelektual.

Mengatakan karya Kant tidak bernilai sama-sekali mungkin berlebihan; yang lebih tepat mungkin karyanya dalam realitas kehidupan tidak membawa kita kemana-mana kecuali kepada kebingungan. Untuk memperjelas maksudnya, Swami Yatiswarananda membandingkan Filsafat Barat dengan tradisi India. Menurutnya, dalam tradisi India yang datang terlebih dahulu adalah pengalaman, setelah selang waktu yang lama baru datang dasar intelektual yang berbasis pengalaman. Singaktnya, dalam tradisi India pengalaman selalu ditekankan, bukan spekulasi intelektual yang tanpa basis pengalaman.

Meninjau Ulang Makna Intelek

Kata dasar intektual jelas intelek (intellect) yang pada umumnya diartikan sebagai kemampuan berfikir secara logis (“the ability to think with a logical way”) dan kepintaran atau kecerdasan seseorang (“a very smart person”) [3]. Jika arti itu yang digunakan maka istilah senam intelektual sah secara kebahasaan. Pertanyaannya, kenapa ada istilah intellect jika maknanya sudah tercakup dalam kata think, logical dan smart? Hemat penulis, yang terjadi di sini ini adalah reduksi makna intellect yang dilakukan secara sadar maupun tidak sadar. Reduksi makna semacam itu pada umumnya merefleksikan keengganan peradaban kontemporer untuk mengakui dan berbicara mengenai hal-hal yang bersifat subtil.

Untuk memperjelas dapat dilihat persepktif filsafat perennial mengenai hal ini. Menurut Schuon, seorang juru bicara utama filsafat itu, intelek –yang berbeda dengan nalar yang kerjanya melalui operasi logika– befungsi melalui instuisi. Uraian lebih lengkap dapat dilihat dalam kutipan berikut

Intellectual intuition … is contemplative power, receptivity toward uncreated Light, the opening of the Eye of the heart, which distinguishes transcendent intelligent from reason. Reason perceives the general and proceeds by logical operations, whereas Intellect perceives the principial—the methaphysical—and proceeds by intuition; intellection is concrete in relation to rational abstraction and abstract in relation to divine Consciousness; …

Intuisi intelektual…. adalah daya kontemplatif, penerimaan Cahaya abadi, pembukaan Mata hati, yang membedakan kecerdasan transenden dari nalar. Nalar mempersepsikan yang umum dan berfungsi melalui oprasi logika, sementara intelek mempersepsikan yang prinsip atau metafisis dan bekerja melalui intuisi; intelleksi konkrit dalam kaitannya dengan abstraksi rasional dan abstrak dalam kaitannya dengan Kesadaran ilahiah.

Dari kutipan di atas jelas bahwa intelek berbeda dengan nalar. Karena intelek dalam pengertian ini asing bagi Filsfat Barat maka penerapan istilah senam intelektual bagi filsafat itu sebenarnya tidak tepat. Dari kutipan yang sama, penulis memperoleh kesan bahwa intelek kira-kira setara dengan hati dalam Bahasa Indonesia.

Hati dan Kedalamannya

Sekadar penyegar ingatan, dalam bahasa qurani terdapat empat kata yang semuanya berarti hati (Bahasa Indonesia): shard, qolb. fuad atau afidah dan albab. Konotasi masing-masing kata itu berbeda. Kata shard meruju pada bagian luar hati dan biasa diterjemahkan dada (tetapi bukan artian fisik). Kata ini digunakan oleh Nabi Musa AS ketika siap menghadapi Fir’aun: “Rab-ku, luaskanlah dadaku” (Thaha: 25). Doa ini mengisyaratkan bahwa hati sebenarnya di uar kuasa kita tetapi berada di genggaman-Nya. Karena bukan dalam kekuasaan kita bagaimana mengajaknya “bersenam”? Kutipan berikut mungkin memperjelas makna shadr:

Menurut Amir An-Najr, shadr merupakan pintu masuknya segala macam godaan nafsu, penyakit hati dan juga petunjuk dari Tuhan. Shadr juga merupakan tempat masuknya ilmu pengetahuan ke dalam dirinya manusia.
Dada adalah wilayah pertempuran utama antara kekuatan positif dan negatif dalam diri kita, tempat kita di uji dengan kecendrungan-kecendrungan nagatif nafsu. Kalau sisi positif itu yang dominan, maka dada dipenuhi oleh cahaya dan berada dalam pengawasan jiwa ilahi. Tapi jika sebaliknya yakni sisi negatif yang dominan, seperti dengki, syahwat, keangkuhan, atau kepedihan, penderitaan atau tragedi yang berlangsung lama, maka dada akan dilingkupi oleh kegelapan. Hati akan mengeras dan cahaya bhatiniyah menjadi redup [4].

Jika kata shadr merujuk pada bagian luar hati maka kata qalb pada hati dalamnya. Mengenai yang terakhir ini, sekadar penyegar ingatan, bagian akhir tahiyat akhir dalam salat berisi doa: “Wahai dzat yang membolak-balikan qalb, tetapkanlah dalam qalb-ku dalam agamamu dan ketaatan kepada-Mu” [5]. Narasi doa ini kembali memperjelas bahwa urusan hati di luar kendali kita (jadi tidak bisa diajak bersenam).

Dua padanan kata lainnya yang berarti hati adalah fuad atau afidah dan albab: fuad adalah hati yang lebih dalam dari qalb, sementara albab lebih dalam lagi dari fuas, “hatinya hati”. Wallahu’alamubimraadih.

images2

Tanda matinya hati

Sebagai penutup, berikut disajikan kutipan dari seorang Syech Sufi yang sangat berpengaruh mengenai tanda matinya hati[6]:

Di antara tanda-tanda matinya hati (qalb) dalah tidak adanya perasaan sedih atas ketaatan yang kaulewatkan dan tidak adanya perasaan menyesal atas kesalahan yang kaulakukan.

A sign of the heart’s death is the absence of sadness over the acts of obedience you have neglected and the abandonment of regret over the mistakes you have made.

Pertanyaan: Seberapa hidup hati kita?

Astagfirullaah…..@

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Ramakrishna.

[2] Swami Yatiswarananda, Readings on the Gospel of Sri Ramakrihna (1994:177), Vedanta Study Circle, Athens, Greek.

[3] Merriam-Webster’s Advanced Learner’s English Dictionary, 2008.

[4] http://emka.web.id/ke-nu-an/2011/4-level-hati-menurut-tafsir-quran/

[5]Ya muqallibal qulubi tsabbit qalbi ‘alaa diinika wa’ala thaa’atika

[6] Al-Hikam: Ibnu Atha’illah s-Sakandari, Wali Pustaka, 2016.

Doa Personal

Mengomentari Aksi Demo “Damai” 4/11/16 Ustadz Mansur –dalam suatu acara TV talk show 5/11/16 yang lalu– menekankan arti penting doa, menjelang dan pasca demo. Mengenai relatif amannya demo ini beliau mengatakan kira-kira: “Siapa yang mampu mengendalikan pendemo yang jumlahnya mencapai jutaan (secara nasional) kecuali Dia yang menguasai hati setiap orang”.

Menurutnya, karena tidak ada satu pihak pun yang menghendaki kekacauan atau kerusuhan, beliau mengajak semua pihak, termasuk penganut agama lain, untuk memanjatkan doa bagi keamanan Indonesia yang hakikatnya “milik” Tuhan. Beliau sangat meyakini kekuatan doa dan penulis yakin beliau dalam hal ini dia tidak sendirian, apalagi dalam konteks Indonesia yang dikenal religious. Melalui tulisan ini penulis bermaksud berbagai pendapat mengenai doa, khususnya mengenai doa personal.

Mode Berdoa

Dalam bentuknya yang elementer, istilah doa merujuk pada doa personal (personal prayer); artinya, yang menjadi subyek doa adalah seorang individu sehingga yang digunakan adalah kata ganti orang pertama (Saya, Aku). Contoh doa personal: “Ya Allah, karuniakan kepadaku nikmat kesehatan dan keberkahan hidup”. Contoh lain adalah doa Nabi Musa menjelang ketemu Fir’aun (Thaha: 25-26): “… Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku”.

Pernyataan doa di atas berbeda, dengan, misalnya, doa yang dinarasikan dalam al-Fatihah (ayat 5): “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. Di sini yang menjadi subyek doa bukan seorang individu manusia (such a man), melainkan manusia secara keseluruhan atau sebagai satu ras (man as such). Doa ini wajib dibaca dalam salat sehingga ketika salat sebenarnya kita meng-atas-nama-kan atau mewkili semua orang yang salat, bahkan seluruh umat manusia sebagai satu ras.

Salat, berbeda dengan doa personal, merupakan mode berdoa dengan tatacara yang sudah baku atau kanonik. Dalam konteks ini ada dua catatan yang layak dikemukakan:

  • Dalam Bahasa Inggris, istilah prayer berlaku untuk doa personal mapun salat. Karena tatacaranya yang baku (given, canonical), salat dapat dikatakan sebagai doa kanonik (canonical prayer).
  • Jika dalam doa personal masing-masing subyek doa secara bebas dapat menetukan cara dan merumuskan lafalnya; dalam doa kanonik tatacara dan lafal doa sudah baku, sudah ditentukan.

Siapa yang “mengarang” ketentuan baku itu dalam doa kanonik? Dalam konteks Islam Tuhan sendiri yang menjadi pengarangnya, didemonstrasikan oleh Jibril yang dapat dilihat secara sempurna oleh Rasul SAW[1] dan diterima oleh umat secara aklamatif.

Doa kanonik dianggap lebih sempurna dari pada doa personal karena individu manusia secara umum terlalu terbatas kepastiasnya untuk menyatakan keinginannya secara layak di hadapan Tuhan yang Maha Tinggi dan Maha Suci. Lebih dari itu, karena keterbatasan visinya, yang diminta dalam doa kita sama-sekali tidak mustahil malah merugikan kita.

Kita– di hadapan Tuhan, karena keterbatasan kita– bisa berperilaku seperti anak kecil kepada ibunya: merengek minta es krim padahal tengah menderita batuk-pilek, atau, ngotot minta permen atau coklat padahal sedang sakit gigi.

Di atas doa kanonik ada lagi mode doa yang dinilai lebih sempurna yaitu menyebut Nama Tuhan atau, mengunakan istilah agama, dzikir; yakni, melafalkan Nama Tuhan secara berulang-ulang, kira-kira seperti japa dalam tradisi Hindu[2].

Kenapa dzikir lebih sempurna? Karena menurut Schuon[3]: (1) Tuhan dan Nama Tuhan identik, dan (2) Tuhan Sendiri (God Himself) yang menyatakan atau melafalkan NamaNya (His Name) dalam diri-Nya (in Himself), dengan demikian, dalam keabadian dan di luar semua ciptaan. Itulah sebabnya keunikan-Nya dan firman-Nya yang tidak diciptakan (His unique and uncreated Word) merupakan bentuk dasar (purwa-rupa, prototype) dari dzikir dan bahkan, secara kurang langsung, dari semua mode “pertemuan” manusia dengan Tuhan (orison).

…..  keunikan-Nya dan firman-Nya yang tidak diciptakan merupakan bentuk dasar dari dzikir dan bahkan dari semua mode “pertemuan” manusia dengan Tuhan.

Dari uraian singkat di atas terlihat ada tiga cara atau mode berdoa: doa personal, doa kanonik, dan dzikir. Bagian selanjutnya dari tulisan ini, sebagaimana tercermin dari judul, membahas mode doa pertama, doa personal.

Arti Penting Doa Personal

Pernyataan bahwa doa personal kurang sempurna dibandingkan doa kanonik (apalagi dzikir) bukan berarti doa personal tidak penting bagi kita: kita tidak dapat berbuat apa-apa tanpa pertolongan Dia karena Dialah menentukan atau, menggunakan bahasa teologis, sebab efisien dari segalanya. Selain itu, keteguhan atau kebulatan hati (resolution) tidak ada artinya tanpa disertai doa, petisi atau atau permintaan tolong kepada-Nya.

Ketika berdoa kita, selaku individu, mengekspresikan secara langsung keinginan dan kehawatiran kita, harapan dan rasa syukur kita.

doa102

Yang sangat mendasar untuk dicatat adalah bahwa tujuan berdoa bukan hanya untuk mengamankan agar keinginan tertentu kita terkabul. Doa seyogyanya juga bertujuan untuk membersihkan jiwa kita karena fungsi doa antara lain melonggarkan simpul-simpul psikis (psichic knots) kita, melarutkan gumpalan-gumpalan yang memenuhi bawah-sadar kita, serta melepaskan berbagai macam racun yang tersembunyi dalam diri kita (bangga, iri, serakah, dan sebagainya).

Melalui doa kita mengemukakan di hadapan Tuhan kesulitan-kesulitan kita, kesalahan-kesalahan kita, tekanan-tekanan jiwa yang kita alami, dan semua ini, meminjam istilah Shuon[4] “mengandaikan jiwa yang rendah-hati dan jujur, dan penyingkapan ini, dilakukan di hadapan yang Absolut, perlu untuk membangun kembali keseimbangan dan memulihkan kedamaian; singkatnya, untuk membuka pintu rahmat bagi kita”.

Sebagaimana diungkapkan sebelumnya, dalam doa personal, subyek doa dapat merumuskan lafal doa secara bebas. Pernyataan ini tidak sepenuhnya benar karena doa yang tulus perlu diawali permintaan ampun, serta disemangati paling tidak oleh oleh rasa syukur dan rasa pasrah.

  • Permintaan ampun (istigfar): bisa jadi yang kita minta bertentangan dengan kehendak Ilahiah (divine Will);
  • Rasa syukur (thankfulness): kita sadar bahwa setiap pengabulan permitaan yang diinginkan pada dasarnya merupakan rahmat (grace) yang bisa saja tidak kita peroleh; dan
  • Pasrah (tawakkal, resignation): kita perlu mengantisipasi doa yang tidak terkabul, atau lebih tepatnya, belum dikabulkan atau dikabulkan tetapi dalam bentuk lain yang lebih menguntungkan bagi kita.

 

Sikap Pasrah

Teks suci menegaskan bahwa Tuhan dekat dengan kita dan pasti mengabulkan doa personal kita (al-Baqarah: 186), Dia sangat lebih dekat urat leher nadi kita; dia sangat dekat dengan kita, lebih dekat bahka dari pada urat leher kita (Qaaf:16). Walaupun demikian, bisa jadi yang diminta dalam doa kita waktunya belum sesuai, atau perlu diganti dengan yang lebih baik. Bukankah orang tua yang bijak akan menunda mengabulkan permintaan anaknya yang merengek minta dibelikan balap padahal umurnya masih balita sampai umur si anak mencapai belasan, atau mengganti apa yang diminta dengan speda beroda tiga?

Terkait pendundaan pengabulan doa ini layak direnungkan wejangan ringkas dari syech sufi berikut ini[5]:

doa101

Jangan sampai tertundaya karunia Tuhan kepadamu setelah kau mengulang-ulang doamu, membuatmu merasa putus asa. Karena Dia menjamin pengabulan doa sesuai pilhan-Nya, bukan sesuai pilihanmu; pada waktu yang diinginkan-Nya, bukan pada waktu yang kau inginkan.

In spite of intense supplication, a delay in the timing of the Gift, let that not be the cause of your despairing. He has guaranteed you a response in what He chooses for you, not in what you choose for yourself, and at the time He desires, not the time you desire.

 Wallahu’alam …..@

[1] Konon, keungulan Rasul SAW dibandingkan rasul lain adalah kemampuannya untuk melihat. Ayat 1-18 Surat An-Najm hemat penulis mengilustrasikan keunggulan ini.

[2] http://www.hinduwebsite.com/hinduism/concepts/japa.asp.

[3] Schuon, Frithjof, Prayer Fashions Man, World Wisdom (2005:60). Nama muslim Schuon adalah   Isa Nur ad-Din, nama yang konon diberikan oleh Shaykh Ahmad al-Alawi, pendiri salah satu tarekat sufi di Aljazair pada tahun 1930-an.

[4] Schuon, ibid, halaman 58.

[5] Al-Hikam – Ibnu Attha’illah As-Sakandari, Wali Pustaka, 2016

Dimensi Kebajikan

Kebajikan berdimensi ganda [1]. Hal ini tercermin dari padanan katanya dalam Bahasa Inggris yaitu virtue atau dalam Bahasa Arab yaitu al-birr. Dalam kamus Bahas Inggris, kata virtue mengandung unsur integritas (integrity), adil (justice), sederhana (temperance), murni (purity), patut (decency), pantas (merit), beda (distinction), dan unggul (excellence)[2]. Dalam kamus Bahasa Arab kata al-birr mengandung unsur kejujuran (asshidieq) dan ketaatan (tha’ah), kebaikan (khair), kemasalahatan (ishlah), dan sebagainya[3].

Dari uraian singkat di atas tampak jelas bahwa semua unsur virtue maupun al-birr bernilai positif. Walaupun demikian, perbandingan yang cermat menujukkan bahwa konotasi dari dua kata itu sebenarnya tidak sepenuhnya sama: sementara yang pertama lebih banyak merujuk pada, meminjam istilah Schuon, kebajikan alamiah (natural value), yang kedua pada kebajikan supra-alamiah (supernatural value). Yang menjadi perhatian tulisan ini adalah yang kedua karena yang pertama hanya efektif jika diintegrasikan dengan yang kedua sebagaimana dinyatakan Schuon dalam kutipan berikut[4]:

Thus it is important to understand that the natural virtues have no effective value save on the condition of being integrated into the supernatural virtues….Natural virtue does not, in fact, exclude pride, that worst of illogicalities and that of preeminent vice; supernatural virtue alone –rooted in God—excludes that vice, in the eye of Heaven, cancels all the virtues. Supernatural virtue –which alone is fully human—coincide with humility; not necessarily with sentimental and individualistic humanitarianism, but with the sincere and well-grounded awareness of our nothingness before God and our relativity in relation to others. To be concrete, we would say that a humble person is ready to accept even a partially unjust criticism if it comprises grain of truth, and if it comes from a person who is, if not perfect, at least worthy of respect; a humble person is not interested in having his virtue recognized, he is interested in surpassing himself; hence in pleasing God more than men.

Adalah penting bagi kita untuk mengerti bahwa kebajikan alamiah tidak memiliki nilai efektif kecuali jika terintegrasikan ke dalam kebajikan supra-alamiah… Kebajikan alamiah tidak bebas dari kesombongan, sesuatu yang paling tidak logis dan merupakan induk dari segala keburukan; hanya kebajikan supra-alamiah –yang bersumber dari Tuhan—yang dapat terbebas dari keburukan yang dalam pandangan Langit dapat menghanguskan semua amal kebaikan. Kebajikan supra-alamiah –dan ini yang sepenuhnya manusiawi – berhimpitan dengan kebersahajaan; tidak harus sentimental atau sejalan dengan humilitiarisme individualistik, tetapi bertepatan dengan kejujuran dan kesadaran kokoh mengenai kekerdilan kita di hadapan Tuhan dan relativitas kita di hadapan yang lain. Agar kongkrit, kita dapat katakan bahwa seorang yang bersahaja siap menerima suatu kritik yang sekalipun sebagian tidak adil sejauh tetapi mengandung benih kebenaran, dan sejauh itu datang dari orang yang –jika tidak sempurna—paling tidak layak dihormati; seorang yang bersahaja tidak tertarik agar kebajikannya diakui, ia hanya tertarik untuk mengatasi dirinya; mencari lebih keridoan Tuhan dari pada pujian manusia.

Dari kutipan di atas dapat dipetik paling tidak dua macam pembelajaran yang saling terkait. Pertama, kebajikan (supra-alamiah) bebas dari kesombongan (pride) sehingga bertepatan dengan kebersahajaan (humility). Kedua, kebersahajaan ini berbasis nilai Ketuhanan (rooted in God) yaitu kejujuran (Arab: assiddieq) dan kesadaran kokoh mengenai kekerdilan diri di hadapan Tuhan dan mengenai kesetaraan atau relativitas dirinya di hadapan yang lain.

Dari kutipan di atas juga tersirat arti penting hubungan vertikal (“tali Allah”) dan hubungan horizontal (“tali manusia”) dalam konteks kebajikan; yang kedua ini merupakan basis dari kemurahan-hati (charity). Dua jenis “tali” ini perlu dipegang_teguh agar terhindar dari kehinaan (dzillah): “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanian) dengan manusia…”[5]

kebajikan

Varian Kebajikan[6]

Kebajikan (supra-alamiah) memungkinkan kebenaran (veracity) menjadi kongkrit, terlihat dan hidup: tanpa unsur kebajikan, kebenaran tidak tampak atau seolah-olah tidak bertubuh (imposture). Di sisi lain, dalam perspektif spiritual, kebajikan menjadi tidak bermakna jika tidak dilandasi kebenaran.

Uraian di atas juga menyinggung kaitan kebijakan dengan kebersahajaan dan kemurahan-hati, dua wujud dari kebajikan fundamental (fundamental value). Agar berkah atau manjur, masing-masing kebijakan fundamental itu perlu dipadukan sehingga menghasilkan dua varian kebajikan: (1) “kebersahajaan” bersifat “murah hati” (charitable humility) dan (2) “murah-hati” bersifat “bersahaja” (humble charity).

Karena merupakan wujud kebajikan, masing-masing kebajikan fundamental itu, agar bermakna, membutuhkan kebenaran sebagai landasan. Kombinasi kebenaran dengan kebersahajaan menurunkan dua varian kebajikan: (3) kebenaran yang bersahaja (humble veracity) dan (4) kebersahajaan yang benar (truthful humility). Pada sisi lain, kombinasi kebenaran dengan kemuahan_hati menurunkan varian kebajikan: (5) kebenaran yang murah hati (cahritable veracity) dan (6) kemurahan hati yang benar (truthful charity).

Hemat penulis, memahami 6 (enam) varian kebajikan penting selain untuk memperkaya pemahaman kita mengenai kebajikan tetapi, tetapi juga agar tidak terjebak dalam semangat atau kecenderungan untuk memberikan penekanan yang berlebihan yang tidak perlu (overemphasis) terhadap suatu kebajikan fundamental tertentu.

  • “Kebenaran yang murah hati” (varian ke-5), sebagai contoh, mengingatkan kita bahwa kebenaran bukan hanya untuk keperluan diri-sendiri tetapi perlu di-share dengan orang lain, tentunya dengan cara sedemikian rupa sehingga dapat dipahami.
  • “Kebersahajaan yang benar” (varian ke-4) dan “kemurah-hatian yang benar” (varian ke-6), sebagai contoh lain, menegaskan bahwa “kebersahajaan” dan “kemurah-hatian” harus sesuai dan mengungkapkan kebenaran, bukan bertentangan dengannya.

Contoh terakhir ini mengilustrasikan betapa tidak eloknya melakukan suatu aksi atas nama “kebenaran” tetapi mengabaikan “kebersahajaan” dan “kemurahan_hati” ketika melakukan aksi itu. Wallaahu’alam.

Teks Suci Mengenai Kebajikan

Kebajikan bersifat universal dalam arti dapat ditelusuri dalam teks suci semua agama atau tradisi besar manusia sepanjang sejarah. Dalam konteks Islam, narasi megenai kebajikan (al-birr) dalam berbagai kontkes antara lain dapat ditemkan dalam ayat-ayat al-Qur’an berikut:

  • Ayat (3,92): Kebajikan tidak dapat kita diraih kecuali jika kita mampu menafkahkan sebagian harta yang kita cintai;
  • Ayat (3:193): Doa agar digolongkan ke dalam golongan ahli kebajikan (al-abraar); dan
  • Ayat (2:44): Kecaman kepada Bani Israil yang menyuruh orang lain melakukan melakukan kebaikan tetapi mereka sendiri tidak melakukannya.

Versi ayat yang agak panjang mengenai kebajikan dapat ditemukan dalam Ayat (2:177):

Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, kitab-kitan, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicinatinya kepada kerabat, anak yaitim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menempati janji apabila berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka adalah orang-orang yang benar dan mereka iulah orang yang bertakwa[7].

Ayat itu menyebut ahli kebajikan sebagai orang-orang yang benar atau jujur (shodaquu) dan bertaqwa (muttaquun). Ayat itu mungkin paling lengkap dalam menggambarkan kebajikan karena mengandung unsur ketiga pilar Agama Islam (sesuai “hadits Jibril”)  yaitu Iman, Islam dan Ihsan:

  • Unsur Iman: percaya kepada Allah dan rukun iman lainnya,
  • Unsur Islam: melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dan
  • Unsur Ihsan: memberikan harta yang dicintai kepada yang berhak, menempati janji, sabar dalam penderitaan.

Wallahu’alam bimuraadih….@

[1] Dalam situs ini dapat diakses tiga tulisan serupa dengan tulisan ini tapi lebih sederhana: (1) Rendah Hati (1/1/16), Kebajikan Fundamental (24/4/12) dan Kebenaran dan Kebajikan (21/4/12).

[2] Lihat misalnya, Webster’s Pocket Thesaurus, New Revised Edition (2002)..

[3] Lihat , misalnya, Kamus Lisaânul ‘Arabî.

[4] Frihjof Schuon (1988:51-52),  To Have A Center, World Wisdom Books.

[5] Al-Imran 112; terjemahan dikutip dari The Wisdom: Al-Qur’an Disertai Tafsir yang Memudahkan Siapa Saja untuk Memahami Al-Qur’an, 2014, PT Mizan Bunaya Kreativita.

[6] Disarikan dari Shuon, “Spiritual Perspectives and Human Facts”, World Wisdom online library: http://www.wordpresss.com/public/library/ default.aspx

[7] Dikutip dari The Wisdom: Al-Qur’an Disertai Tafsir yang Memudahkan Siapa Saja untuk Memahami Al-Qur’an, 2014, PT Mizan Bunaya Kreativita

Reuni Mistis

Reuni Mistis

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Istilah Reuni Mistis dalam tulisan ini mengacu pada fase ketiga, fase terakhir, dari siklus sejarah alam semesta termasuk kita. Ketiga fase itu adalah “tidak ada”, diadakan, dan “ditiadakan”. Ketiganya secara padat diungkapkan dalam teks suci: “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali”[1].

Fase pertama, “tidak ada”, bertanda kutip karena yang semua ada bersasal dari Dia SWT yang Maha Ada sehingga mustahil tidak ada dalam pengertian mutlak. Dalam alam azali sudah ada semacam pola, prototype atau ayyan tsabitah dari segala sesuatu yang dikongkritkan melalui misteri kun! (jadilah!) Khusus bagi manusia, prosesi penciptannya melalui perjanjian purba antara Khalik SWT dengan kita:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَـٰذَا غَافِلِينَ ﴿١٧٢﴾

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap itu” (7:172).

Ingatan pada momen itu, betapapun samarnya, tetap melekat dalam diri kita dan mustahil mampu kita hapuskan sama-sekali. Bagi sebagian orang terpilih, ingatan itu berubah menjadi semacam kerinduan laten, kerinduan mistis, untuk bertemu dengan-Nya. Bagi sebagian mereka, kerinduan mistis ini demikian kuatnya sehingga mampu menghambarkan semua jenis kenikmatan duniawi dan membunuh gairah untuk mengikuti perlombaan mengejar kekayaan duniawi seperti kebanyakan.

Kita sekarang dalam fase kedua, fase diadakan, tanpa tanda kutip. Karena sebelumnya “tidak ada” maka keberadaan kita pasti diadakan. Yang perlu dicatat adalah bahwa yang mengadakan kita pasti “lebih tinggi” dari kita; sangatlah absurd membayangkan kita yang memiliki kesadaran ini di-generate dari materi yang lebih rendah sebagaimana diimpikan oleh teori evolusi Darwinis.

Bagaimana dengan fase ketiga, fase “ditiadakan”? Kenapa bertanda kutip? Karena juga sangat absurd membayangkan sejarah kita berakhir dengan kematian. Mengenai ini kita memiliki pengetahuan bawaan sekalipun itu menakutkan sehingga kita terus mencoba mengabaikannya dengan segala cara. Kenapa menakutkan? Karena, suka atau tidak suka, kita mengetahui secara intuitif bahwa diri atau jiwa kita yang sebenarnya (self) bersifat “abadi”[2]. Melalui pintu kematian yang bersifat transisional, diri kita yang sebenarnya melanjutkan perjalanan pulang kembali kepada tujuan akhir segala, Dia SWT, untuk mempertanggungjawabkan kehidupan selama fase kedua, baik yang menyangkut urusan sepele maupun urusan besar. Suka atau suka, percaya atau tidak percaya, kita akan ber-reuni secara mistis dengan sumber hakiki kita.

Bagaimana mempersiapkan diri menghadapi reuni mistis itu? Yang pasti, bukan “bermegah-megah” (at-takatsur) atau turut serta dalam perlombaan mengejar kekayaan dan kekuasaan duniawi. Sayangnya, dorongan ‘bermegah-megah’ demikian kuatnya sehingga bagi sebagian kita tidak mereda sampai masuk liang kubur:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ﴿١﴾ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ ﴿٢﴾ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ﴿٣﴾ ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ﴿٤﴾ كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ ﴿٥﴾ لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ ﴿٦﴾ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ ﴿٧﴾ ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ ﴿٨﴾

(1)               Bemegah-megah telah melalaikan kamu, (2) sampai kamu masuk ke dalam kubur, (3) Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), (4) kemudian sekali-kali tidak, Kelak kamu akan mengetahui, (5) Sekali-kali tidak! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti, (6) niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahanim, (7) kemudian kamu benar-benar akan melihatnya dengan mata kepala sendiri, (8) kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu).

Bermegah-megah menggerus secara efektif kerinduan mistis untuk pulang ke kampung halaman sebenarnya, sesuatu yang akan berakhir dengan penyesalan tak_berkesudahan. Naudzu billâh min dzâlik. Wallahu’alam….@


[1] Al-Quran (2:156).

[2] Diberi tanda kutip karena bersifat relatif; yang abadi hanya Dia SWT, selainnya fana (lihat al-Qur’an (55:26-27)