Mengapa Ulama Dulu Tidak Takut pada Budaya Lokal?

Episode 3: Nusantara — Ketika Tauhid Menari Bersama Budaya Rakyat

Jika Persia adalah contoh dialog Islam dengan filsafat dan kekaisaran, maka Nusantara adalah mahakarya Islam dalam mengolah budaya rakyat. Di sinilah akulturasi mencapai bentuknya yang paling halus, menyejukkan, sekaligus strategis. Para Wali—terutama Walisongo—bukan sekadar penyebar agama, melainkan arsitek peradaban. Mereka memahami satu hal penting: budaya bukan penghalang dakwah, melainkan jembatan menuju hati manusia.

Transformasi Makna

Jalan Tauhid, Bukan Sekadar Hiasan Alih-alih menghancurkan warisan Hindu-Buddha yang telah berurat akar, para Wali memilih jalan yang lebih cerdas: transformasi makna.

  • Wayang, yang semula sarat mitologi kosmologis, diisi dengan nilai Tauhid, kisah para nabi, dan filsafat akhlak. Sunan Kalijaga menjadikannya “teologi rakyat”—di mana lakon menjadi laku, dan tontonan berubah menjadi tuntunan.
  • Gamelan dan tembang tidak dipandang sebagai gangguan ibadah. Ia dijadikan dzikir kolektif. Suluk dan macapat berisi ajaran zuhud, ihsan, dan mahabbah. Seni dan ibadah tidak dipertentangkan—keduanya menyatu dalam harmoni spiritual.
  • Ritus seperti selametan, kenduri, dan slametan tidak dihapus. Ia diisi dengan doa, sedekah, dan silaturahim. Inilah Islam yang turun ke bumi—rahmatan lil ‘alamin dalam bentuk paling sosial dan membumi.

Ini bukan sekadar islamisasi simbol, tetapi pemberian jiwa baru. Konsep Sang Hyang diarahkan kepada Allah Yang Maha Esa. Falsafah memayu hayuning bawana diperkaya dengan misi khalifah fil ardh. Tata krama Jawa menemukan cerminnya dalam akhlak Rasulullah ﷺ.

Lembaga: Penjaga Harmoni Sosial

Kearifan ini tidak berhenti di era Walisongo. Ia menjelma menjadi lembaga yang menjaga keseimbangan Islam dan kebudayaan hingga hari ini.

Nahdlatul Ulama (NU) merawat harmoni antara syariat, tasawuf, dan tradisi lokal melalui prinsip al-muhafazhah ‘ala al-qadim as-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah. Islam dijaga akarnya, sekaligus dibuka masa depannya.

Muhammadiyah, dengan semangat tajdid, memajukan pendidikan, kesehatan, dan amal sosial—tetap kritis terhadap tradisi yang menyimpang, namun tidak memusuhi budaya. Islam tampil rasional, progresif, dan kontekstual.

Dua ormas besar ini—dengan ratusan juta pengikut—menjadi pilar moderasi, perekat kebangsaan, dan penjaga pluralitas Indonesia dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

Islam Nusantara: Metode, Bukan Aliran

Islam Nusantara bukan agama baru. Ia adalah metode dakwah: akidah dan syariahnya tetap Qur’an dan Sunnah, tetapi pendekatan sosial dan kulturalnya menyesuaikan genius lokal.

Metafora Rumi menutup dengan indah: Sumber airnya satu, tetapi alirannya berwarna-warni. Di Persia ia mengalir sebagai filsafat, di Turki sebagai futuwwah, di India sebagai spiritualitas, dan di Nusantara ia menari dalam irama gamelan dan wayang. Namun semuanya bermuara pada samudera yang sama: rahmatan lil ‘alamin.

Inilah Islam air—bukan Islam batu. Hidup, mengalir, dan menghidupi.

Relevansi Hari Ini Islam Nusantara memberi kita empat pelajaran besar:

  • Benteng dari ekstremisme yang memutus Islam dari akar budaya.
  • Jawaban atas Islamofobia dengan wajah Islam yang ramah dan membumi.
  • Sumber kepercayaan diri Muslim modern—beriman tanpa merasa asing.
  • Khusus Indonesia: antibodi ideologis untuk merawat NKRI, Pancasila, dan keberagaman.

Pertanyaan untuk Kita: Jika Walisongo bisa menjadikan wayang dan gamelan sebagai jalan dakwah tanpa kehilangan Tauhid, mengapa hari ini kita justru sering curiga pada tradisi local atau yang berbeda dengan ‘tradisi” kita? Apakah kita kehilangan keberanian kreatif para ulama dahulu—atau justru menyempitkan agama hingga lupa bahwa ia datang untuk menghidupkan, bukan membekukan?

Mereka tidak datang dengan pedang, tetapi dengan kidung. Tidak menghancurkan punden, tetapi mengisinya dengan makna. Itulah seni dakwah sejati: merangkul, bukan menolak.

Barakallahu fīk

Nahi-Munkar di Era Digital: “Buang Dulu Racunnya, Baru Obati” (Level Individu & Komunitas)

Bayangkan seorang dokter bijak. Menghadapi pasien keracunan, ia tak buru-buru memberi vitamin. Langkah pertama: keluarkan racunnya. Prinsip sederhana ini, yang diwariskan Imam Al-Ghazali, adalah kunci nahi-munkar di era digital. Sebelum kita membanjiri linimasa dengan konten baik (amar makruf), tugas pertama kita adalah membersihkan ‘tubuh’ digital kita dari racun. Ini bukan tentang menghakimi, tapi tentang menyelamatkan diri dan komunitas dari infoksifikasi yang mematikan akal dan hati.

Racun Digital Apa Saja yang Harus Dibuang? (Mengidentifikasi “Al-Munkar”)

  1. Racun Hati: Ujaran kebencian (hate speech), caci maki, bully, dan hoaks yang sengaja dibuat untuk menghasut.
  2. Racun Akal: Informasi palsu (fake news), teori konspirasi tak berdasar, dan konten yang merusak logika berpikir.
  3. Racun Waktu: Konten scroll tanpa ujung yang tidak memberi manfaat, hanya sensasi kosong (gosip, challenge berbahaya).
  4. Racun Nilai: Glorifikasi gaya hidup hedonis, materialistis, dan konten yang mendistorsi makna sukses & kepahlawanan (selebritas vs guru honorer).

“Buang Racun”: Nahi-Munkar Level Individu (Mulai dari Diri Sendiri)

1. Kontrol Asupan: Berani unfollow, mute, atau unsubscribe dari akun-akun penyebar racun. Algoritma mengikuti kita.

2. Jeda Sebelum Sebar: Ketika dapat informasi provokatif, STOP. Tanya: “Ini benar? Ini perlu? Ini bermanfaat?” (Filter THINK: True, Helpful, Inspiring, Necessary, Kind).

3. Bukan Sekadar Diam, Tapi Menolak Aktif: Berani memberikan koreksi santun (tagging privat) kepada teman yang menyebar hoaks. Atau, cukup dengan tidak ikut menyebarkan.

4. Kuras Grup Chat: Di grup keluarga/komunitas, ajak kesepakatan untuk tidak menyebar info tanpa verifikasi dan tidak saling mencaci.

Bagian 3: “Buang Racun”: Nahi-Munkar Level Komunitas (Gerakan Kolektif yang Cerdas)

(Dari personal action ke social action)

1. Buat “Perjanjian Anti-Racun”: Di grup RT, pengajian, atau organisasi, buat kesepakatan bersama: “Grup ini bebas hoaks dan cacian.”

2. Tunjuk “Dokter Digital”: Identifikasi anggota yang melek literasi digital. Beri ia mandat moral untuk meluruskan dengan lembut (bil hikmah) ketika ada racun yang masuk.

3. Alihkan, Jangan Konfrontasi: Saat ada postingan negatif, jangan diumbar debat. “Banjiri” dengan counter-narasi yang positif. Share kisah inspiratif lokal, prestasi anak bangsa, atau ilmu yang bermanfaat.

4. Bangun “Klinik Digital”: Buat forum atau kanal khusus (misal, grup WhatsApp “Ruang Literasi”) sebagai tempat bertanya dan klarifikasi informasi sebelum menyebar.

Baru Kemudian, “Obati” dengan Amar Makruf yang Relevan (Setelah ruang dibersihkan, isi akan lebih efektif)

  • Setelah lingkungan digital lebih bersih, baru konten-konten baik dari MuNu (kajian, edukasi, inspirasi amal usaha) akan lebih terdengar dan bermakna.
  • Amar makruf jadi lebih powerful karena tidak bersaing dengan kebisingan racun.

Penutup

Nahi-munkar digital bukanlah sikap puritan atau anti-kemajuan. Justru, ia adalah bentuk kedewasaan berteknologi. Dengan membuang racun dari gawai dan grup kita, kita sedang melakukan detoksifikasi kolektif—menjaga ‘fiqh sosial’ di ruang maya.

Ini adalah jihad peradaban yang bisa dimulai sekarang juga: dari jempol kita sendiri, dari grup WhatsApp kita yang paling kecil. Mulailah dengan satu langkah sederhana: pilahlah sebelum membagikan. Karena membersihkan racun adalah syarat pertama untuk membangun kekebalan.

#IslamBerkemajuan, #IslamNusantara, #MuhammadiyahNU, #DetoksDigital (utama), #NahiMunkarEraDigital