Mengenal Jalan Cinta

Menurut Ibnu ‘Arabi, jalan menuju Tuhan adalah jalan cinta (the path of love). Dasar pemikiran Syech Akbar ini adalah hadits qudsi (firman-Nya yang dinarasikan oleh Rasul SAW): “Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan”. Menurut beliau, semua yang indah di dunia ini bersifat kuasi-surgawi karena merupakan pantulan atau refleksi buram dari keindahan-Nya. Sebagai ilustrasi, ahli surga akan mengenali buah-buahan di sana berdasarkan pengenalan buah-buahan serupa di bumi. Mengenai hal ini, teks suci berikut dapat dijadikan rujukan:

Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan mereka berkata, “Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu”. Mereka telah diberi buahan-buahan yang serupa. Dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya (Al-Baqarah:25) [1].

Apa hubungan antara keindahan dengan cinta? Jawaban singkatnya: cinta adalah respon positif dan alamiah terhadap keindahan serta keinginan untuk bersatu dengan subyek yang memiliki keindahan itu.

Kita dapat saja berpendapat ungkapan Syech ini mengenai “Jalan Cinta” ini berlebihan karena kita mengenal banyak jalan menuju Tuhan dilihat dari segi penekanan: “Jalan Taat” (dengan mengikuti perintah-Nya), “Jalan Takut” (dengan tidak melanggar hudud atau batas aturan-Nya), “Jalan Taqwa” (dengan berhati-hati dalam bertindak karena konsekuensi yang menakutkan di akhirat), dan sebagainya. Walaupun demikian perlu dicatat bahwa bagi beliau, semua jalan ini sejalan, sesuai dengan perintah agama, dan menuntut kekuatan kehendak untuk berserah diri atau ber-Islam[2]. Baginya, ragam jalan ini menunjukkan bahwa agama memfasilitasi semua orang –dengan ragam kecenderungan pribadi, mentalitas, kapasitas intelektual– untuk memperoleh keselamatan hakiki dunia-akhirat (salvation) dan merupakan tujuan ultim dari semu ajaran agama.

Beberapa karakteristik “Jalan Cinta” bisa disisipkan di sini: (1) ia lebih bertumpu bukan pada kekuatan inteligensi (intelligence) maupun kehendak (the will), tetapi pada kekuatan hati (heart, qalb) yang digambarkan oleh suatu hadits qudsi memiliki kapasitas luar biasa: alam jangan raya tidak dapat menampung-Nya kecuai hati manusia; (2) ia lebih beroreintasi ke dalam (inward) dari pada ke luar (outward); dan (3) ia sangat concern terhadap aspek batiniah dari amaliah ibadah; dalam jalan ini upaya untuk memurnikan niat atau khusyu’ dalam salat fardhu, misalnya, dinilai lebih utama dari pada memperbanyak salat sunah (tanpa khusyu’).

“Jalan Cinta” inilah yang yang konon ditempuh oleh kalangan Sufi, kaum elit yang tidak sabar untuk “bertemu” Tuhan sekarang ini, di dunia ini, bukan (hanya) di akhirat kelak. Berbeda dengan kebanyakan kita, mereka memiliki kemampuan melihat secara transparan hubungan antara keindahan, kebaikan dan kebahagiaan. Bagi mereka, keindahan-Nya berasal dari kualitas ke_Tak-Terhingaan-Nya (Infinitude) yang bertepatan dengan Kebahagiaan ilahiah (the divine Bliss). Bagi mereka Tuhan lebih dilihat sebagai Indah, Cinta, Kebaikan dan Kedamaian; dengan kualitas-kualitas inilah Dia merasuki seluruh jagat raya. Apa yang mereka maksudkan sebagai Kebaikan? Ia tidak lain dari pada pancaran atau radiasi yang murah hati dari yang Indah. Bedanya, Kebaikan berorientasi ke dalam (inward), sementara Keindahan berorientasi ke luar (outward).

Apa relevansinya dengan hidup kita? Bagi Schuon (2002:94)[3] tugas hidup kita adalah berupaya agar senantiasa terhubung dengan Kebenaran-Kebaikan-Keindahan sebagaimana yang dirumuskan olehnya secara padat: “Mengetahui yang Benar, menghendaki Kebaikan dan mencintai yang Indah”  (To know the Truth, to will the Goodness and to love Beauty). Bagi Schuon, sejatinya, fungsi inteligensi adalah mengetahui yang Benar (Truth), fungsi kehendak adalah menghendaki Kebaikan (Goodness) dan fungsi hati mencintai yang Indah (Beauty). Tanpa masing-masing fungsi itu, inteligensi, kehendak dan hati, nothing. Sebagai penutup dapat dikemukakan bahwa “Jalan Cinta”– karena potensinya dalam memperlihatkan postur Islam yang indah, toleran dan damai– perlu digalakkan oleh para da’i kita di kalangan internal Umat Islam yang menurut Kitab Suci-Nya merupakan umat terbaik (Al-‘Imran:110). Wallâhu’alam …..@

Sumber: Google, Al-Hadid (16), Karya Kaligrafer Badawi-al-Dirani

[1] Dengan mengambil analogi buahan-buahan, kecantikan bidadari di “dunia-atas-sana” mungkin dapat kita kenali berdasarkan persepsi kita mengenai kecantikan wanita di “dunia-bawah-sini”. Bedanya, yang kedua ini bersifat temporal, sementara yang pertama abadi alias muda terus: “Mereka dikelilingi oleh dua anak (bidadari/bidadara) yang selalu muda ….” (Al-Waqî’ah:17). Wallahu’alam.

[2] Pembagian jalan ini hanya untuk keperluan analisis karena masing-masing jalan ini tidak saling meniadakan (mutually exclusive). “Jalan Taqwa”, misalnya, mustahil ditempuh tanpa “Jalan Taat” dan “Jalan Takut” sekaligus. “Jalan Cinta” tidak bertentangan dengan dua jalan lainnya melainkan memperkuat. Dengan mengambil analogi tiga pilar Dien Islam (sesuai Hadits Jibril), “Jalan Cinta” dapat dikatakan lebih bersandar pada Pilar Ihsan yang tidak bertentangan melainkan memperkokoh secara kualitatif dua pilar lainnya; yaitu Pilar Iman dan Pilar Islam. Tulisan singkat mengenai Ihsan dapat diakses melalui: https://uzairsuhaimi.blog/2009/10/31/ihsan/.

[3] Schuon (2002, Roots of the Human Condition, World Wisdom, Inc.

 

← Back

Thank you for your response. ✨

Cinta Ala Sufi

“Allah itu indah dan mencintai keindahan” (Hadits). Hadits ini —yang kebanyakan kita cenderung mengabaikannya karena miskin imaginasi intelektual— bagi kalangan sufi maknanya sangat dalam. Bagi mereka semua keindahan –yang ada atau dapat dibayangkan– merefleksikan keindahan-Nya (Beatitude) dan kebaikan-Nya (Sovereign Good). Yang Maha Indah berasal dari yang ke-tak-terhingaan-Nya (His Infinitude, muhiith) dan ini bersesuaian dengan keberkahan-Nya (His Bliss) dan kecenderungan-Nya untuk berkomunikasi atau memancar; inilah kelimpahan dari kebaikan-Nya. Seperti diungkapkan Schuon[1],

“And Beatitude coincides with the divine “Dimension” of Infinitude, in virtue of which God shows Himself as Sovereign Good, source of all harmony and all happiness“

“Dan keindahan-Nya bersesuaian dengan “Dimensi” ilahiah dari ke-tak-terhingaan-Nya, kebajikan Tuhan yang menunjukkan diri-Nya dalam bentuk yang Maha Baik, sumber segala harmoni dan semua kebahagiaan”

Apa hubungan keindahan dengan cinta? Jawabannya: obyek cinta adalah keindahan. Lalu, apakah seorang sufi mencintai makhluk? Ya, dia dapat mencintai makhluk tetapi tidak tanpa atau di luar Allah SWT. Dia bahkan sangat mengapresiasi, mensyukuri serta sensitif terhadap setiap bentuk keindahan makhluk atau aksiden dalam berbagai bentuknya: langit tanpa batas, pancaran sinar matahari, cahaya, kristal, dsb. Baginya semua itu pasti merefleksikan sesuatu mengenai Allah SWT sehingga perlu dikembalikan kepada yang Maha Baik dengan cara kuasi-sakramental. Singkatnya, baginya, kecintaan terhadap makhluk adalah sah sejauh disertai dua catatan: (1) tidak didorong nafsu berlebih (aviditas) dan tirani, dan (2) disertai kesadaran –secara kuasi eksistensial– mengenai arketip-surgawi dan substansi ilahiahnya.

images

Konon, ada dua macam cinta dilihat dari dasar pijakaannya: metafisis dan kontemplatif. Pijakan metafisis –yang melihat Tuhan dari aspek abstrak—menyimpulkan keindahan-Nya. Demikian juga kontemplasi jiwa yang sensitif. Sensitif terhadap apa? Sensitif terhadap kedamaian melimpah dari Ada murni (pure Being) atau terhadap sesuatu seperti kristalinitas dari yang Mutlak (Absolute). Manusia dapat mencintai-Nya karena Imutabilitas-Nya yang tak-terbantahkan, atau karena kehangatan yang membebaskan dari ketak-terhingaan-Nya. Akhirnya, kutipan berikut ini[2] layak direnungkan:

“Beauty, love, happiness: man yearns for happiness because Beatitude, which is made of beauty and love, is his very substance”

Keindahan, cinta dan kebahagaan: manusia sangat mendambakan kebahagiaan karena keindahan-Nya; demikianlah karena substansi manusia diciptakan dari keindahan dan kebahagiaan.

Wallahu’alam …..@


[1] Schuon ( 2002 ), “On Love” dalam Roots of the Human Condition, halaman 118.

[2] Ibid, , halaman 119.

Jalan Cinta

Jalan Cinta (The_path_of_love)

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress,com

Menurut Ibnu ‘Arabi, jalan menuju Tuhan adalah jalan cinta karena “Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan” (Hadits Qudsi). Menurut dia, semua yang indah di dunia ini adalah pantulan atau refleksi dari keindahan-Nya; dengan perkataan lain, bersifat kuasi-srugawi[1]. Semuanya mengkomunikasikan kepada kepada kita sesuatu yang tak-terhingga (infinite), membahagikan (beatific) dan membebaskan (liberatic). Apa hubungannya dengan cinta? Cinta adalah respon terhadap keindahan dan keinginan untuk bersatu (dengan subyek yang memiliki keindahan itu).

Kita dapat saja berpendapat ungkapan Syech Akbar (gelar untuk Ibnu Arabi) berlebihan karena banyak cara menuju Tuhan: jalan taat (dengan mengikuti perintah-Nya), jalan takut (untuk melanggar aturan-Nya), jalan taqwa (berhati-hati dalam bertindak konsekuensi yang menakutkan di akhirat), dsb. Bagi beliau, ragam jalan ini menunjukkan bahwa agama memfasilitasi semua orang –tanpa melihat kecenderungan pribadi, mentalitas, kapasitas intelektual– untuk memperoleh kesalamatan dunia-akhirat (salvation). Yang jelas, semua jalan ini sejalan (saling memperkuat, tidak saling menghilangkan), sesuai dengan perintah agama, dan menuntut kekuatan kehendak untuk berserah diri atau ber-Islam.

dlove5

Jalan cinta lebih banyak menuntut kekuatan hati dari pada kekuatan kehendak. Jalan ini lebih beroreintasi ke dalam (inward), jalan lainnya lebih berorientasi ke luar (outward). Jalan pertama sejalan dengan salah satu hadits qudsi bahwa alam jangan raya tidak dapat menampung-Nya kecuai hati manusia. Inilah rahasia terdalam kekuatan hati yang menjadi perhatian utama para sufi, kaum elit yang tidak sabar untuk “bertemu” Tuhan sekarang ini di dunia ini, bukan (hanya) di akhirat nanti.

Bebeda dengan anggapan kebanyakan kita, para sufi menakankan kualitas dari pada kuantitas ibadah. Bagi mereka, memurnikan niat atau mengupayakan khusyu dalam salat fardhu, misalnya, lebih bermanfaat dari pada memperbanyak salat sunah (tanpa khusyu’). Berbeda dengan kebanyakan kita, para sufi melihat hubungan antara keindahan, kebaikan dan kebahagiaan sebagai sesuatu yang transparan. Bagi mereka, keindahan_Nya berasal dari kualitas ke_Tak-Terhingaan-Nya (Infinitude) dan ini bertepatan dengan Kebahagiaan ilahiah (the divine Bliss). Bagi mereka Tuhan dapat dilihat sebagai Indah, Cinta, Kebaikan dan Kedamaian; dengan kualitas-kualitas ini Dia merasuki seluruh jagat raya.

Apa itu Kebaikan? Ia tidak lain dari pada radiasi yang murah hati dari yang Indah. Bedanya, Kebaikan berorientasi ke dalam (inward), sementara Keindahan berorientasi ke luar (outward). Dilihat dalam konteks ini, tugas hidup diungkapkan Schuon secara padat  (2002:94)[2]: “Mengetahui yang Benar, menghendaki Kebaikan dan mencintai yang Indah”  (To know the Truth, to will the Goodness and to love Beauty)[3]. Jalan cinta ini –karena potensinya dalam memperlihatkan postur Islam yang indah, toleran dan damai– perlu digalakkan di kalangan umat. Wallâhu’alam …..@

Kabul 17 May 2013


[1] Keindahan wanita cantik, misalnya, adalah pantulan kecantikan bidadari surgawi. Sekadar pantulan? Ya, karena kecantikan wanita di dunia sangat temporal, kecantikan bidadari di surga abadi alias muda terus: “Mereka dikelilingi oleh dua anak (bidadari/bidadara) yang selalu muda ….” (Al-Waqî’ah: 17).

[2] Schuon (2002:94): Roots of the Human Condition, World Wisdom, Inc.

[3] Bagi Schuon,  fungsi inteligensi adalah mengetahui yang Benar (Truth), fungsi kehendak adalah menghendaki Kebaikan (Goodness) dan fungsi hati mencintai yang Maha Indah (Beauty). Tanpa masing-masing fungsi itu, inteligensi, kehendak dan hati, nothing.

Takdir Manusia

Takdir Manusia (Human Destiny)

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Takdir manusia adalah mengetahui. Mengetahui apa? Mengetahui yang Mutlak (the Absolute) atau yang Riil (the Real), yang berbeda dengan yang relatif atau yang tidak (kurang) riil. Kemampuan membedakan itulah fungsi intelegensi; tanpa fungsi itu intelegnsi bukan apa-apa. Pengetahuan mengenai yang Mutlak menghadirkan kesadaran mengenai keberadaan pusat (sense of the center) yang dibutuhkan agar tidak tersesat atau terombang-ambing tanpa arah. Thawaf, ritual mengeliling Ka’bah, antara lain dimaksudkan untuk memperkuat kesadaran ini. Pengetahuan mengenai yang Mutlak juga menghadirkan perasaan mengenai kesucian (sense of the holy) yang dibutuhkan agar tetap bermartabat sebagai manusia.

dest_3

Mengetahui Dia yang Mutlak adalah alasan hakiki keberadaan manusia. Tanpa pengetahuan itu kita tak_layak dikategorikan sebagai manusia karena tidak sesuai dengan takdir atau alasan keberadaannya. Simak dan renungkanlah hadits qudsi ini: “Aku adalah harta karun; Aku ingin dikenal maka Aku menciptakan”. Menciptakan apa? Menciptakan alam semesta, kosmis maupun metakosmis, yang saripati atau quintessence-nya adalah manusia. Langit dan bumi  dengan segala isinya menolak menerima “amanah” mengetahui-Nya dengan satu kekecualian: kita, manusia. Ketika dalam alam purba (hari “alastu”) berkomitmen untuk menerima amanah itu beserta semua konsekuensi logisnya.

Nama yang Mutlak

Yang Mutlak memiliki 99 nama yang indah (asmaul husna); yang terindah tercantum dalam dua ayat pertama Al-Imran: “Allah Tidak ada Tuhan Selain Dia yang Hidup dan Mandiri). Asma Allah tersusun dari empat huruf yaitu Alif, Lam, Lam dan Ha(besar) merujuk pada dzat-Nya. Asma itu unik:

  • jika huruf Alif dihilangkan maka ia akan menjadi “lillâh”, “bagi Allah”: “Bagi Allah apa yang yang ada di langit dan di bumi (ayat);
  • jika selanjutnya huruf Lam pertama dihilangkan maka ia menjadi “lahû”, milik atau hak ekskulif Allah: Milik Allah kerajaan langit dan bumi (ayat); dan
  • jika selanjutnya huruf Lam kedua dihilangkan maka ia menjadi H yang merujuk kata ganti ketiga, “Hua”, Dia: “Dia yang menciptaanmu dari jiwa yang satu.

Singkatnya, sekalipun asma dzat-Nya itu dipilah-pilah maka hasilnya tetap saja merujuk pada yang Satu. Sebagai catatan, keutamaan ayat Qursi antara lain terletak pada fakta bahwa ayat itu paling banyak mengandung kata ganti nama-Nya: “Lahû”, “Hua”, “Hu”, dst. Sebagai catatan tambahan, sebagian sufi mentradisikan banyak berdzikir dengan hanya menyebut Hua (bukan menyebut Allah secara lengkap) dengan alasan yang menarik: yang Mutlak hanya Allah maka kata ganti ketiga, Dia, pasti merujuk pada-Nya; melafalkan secara legkap asma Allah dalam dzikir yang intens bagai mereka dianggap sebagi tanda meragukan kemutlakan-Nya yang ekslusif.

Pengetahuan mutlak

Mengetahui yang Mutlak bersifat mutlak. Kenapa? Karena pengetahuan itu melekat (built-ininscribed) dalam setiap diri kita yang mustahil dapat dihilangkan secara mutlak. Juga karena kita memilki hati (qalb) yang fungsinya sebagai cermin untuk menerima pancaran ilahiah dari yang Mutlak. Pengetahuan mutlak itu dengan demikian identik dengan pengetahuan diri yang sebenarnya (self); bukan diri sebagi makhluk fisikal, emosional atau intelektual, tetapi dir sebagai makhluk jiwani (spiritual). Karena diciptaan oleh-Nya, maka esensi, hakikat atau saripati kita adalah jiwani: kita bukan tubuh yang memilki jiwa, tetapi jiwa yang tengah “terperangkap” dalam tubuh tertentu. Dengan perkataan lain, kita bukan tubuh yang berjiwa, tetapi jiwa yang bertubuh. Apa bukti kita adalah mahluk jwani? Segala yang ada di kolong langit ini pasti tidak akan pernah dapat memenuhi keinginan hati yang tak-tarbatas kecuali Dia yang Mutlak yang Tak-terbatas (the Infinite Absolute).

Konsekuensi pengetahuan mutlak

Pengetahuan yang Mutlak secara benar berarti menarik konsekuensi yang benar dari pengetahuan itu. Apa itu? Mentransendenkan-diri secara vertical dengan-Nya; atau dalam bahas agamanya, mengambakan-diri kepada-Nya, taabbud! Jika mengetahui yang Mutlak merupakan fungsi inteligensi, maka menghambakan diri kepada-Nya merupakan fungsi kehendak. Dalam konteks ini istilah munafiq dapat dilihat sebagai ketidakmampuan menarik konsekuenasi yang benar dari pengetahuan mutlak. Seorang munafiq bisa jadi melakukan salat tetapi ketika salat ingatan kepada-Nya hanya sedikit: “…walâ yadzkurûna allâha illâ qalîlâ” (ayat).

Transendesi-diri secara verikal menuntut transendensi-diri secara horizontal: hablum minallah dan hablum minan nas. Yang terakhir ini artinya mencintai semua makhluk di bumi yang merupakan simbol atau ayat keberadan-Nya: “Cintailah yang di bumi maka makhluk yang di langit akan mencintaimu” (Hadits).

Sinopsis

Singkatnya, takdir manusia adalah mengetahui yang Mutlak (fungsi inteligensi) dan menaraik konsekunesi yang benar dari pengetahuan itu (fungsi kehendak). Menarik konskuensi yang benar berati mentransendensi-diri secara vertical maupun secara horizontal. Yang terakhir ini wujudnya adalah mencintai makhluk bumi dalam kedudukannya sebagai simbol atau ayat keberadaan-Nya. Dalam analisis terakhir, takdir manusia adalah kembali kepada-Nya dengan mengikuti atau melawan takdirnya. Mereka yang memilih “melawan” takdirnya memerlukan proses penyucian diri dalam neraka-Nya (naudzu billah) sebelum layak menghadap_nya…..@

Kabul 22/4/2013

Mencintai Keindahan

Mencintai Keindahan[1]

Uzair  Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Tak_apa mencintai keindahan (beauty); bukankah “Dia Indah dan Mencintai Keindahan?[2]

Apa itu keindahan?

    • Keindahan adalah harmoni keragaman (the harmony of diversity);
    • Akar ontologisnya terletak jauh lebih dalam dari semua apa yang dapat dipahami oleh sain yang domainnya adalah tataran fenomena;
    • Arketipnya adalah kelimpahan dan keseimbangan kualitas-kualitas ilahiah, sekaligus kelimpahan potensi-potensi eksistensial dalam Wujud murni (pure Being).

Apa itu cinta?

    • Cinta adalah kehendak untuk melepaskan dan melimpahkan  diri_sendiri pada “yang lain”;
    • Cinta adalah totalitas yang merealisasikan keseimbangan dan keindahan sempurna dan keindahan;
    • Cinta memanifestasikan keindahan.

Tak_apa mencintai keindahan asalkan tidak berhenti pada tingkat bentuk_formal obyek partikular, melainkan berlanjut sampai tingkat inti_esensial universal:

    • Mencintai keindahan sampai tingkat bentuk berpotensi memenjarakan jiwa dan merendahkan martabatnya;
    • Mencintai keindahan sampai tingkat inti berdaya memerdekakan jiwa dan meningkatkan kualitasnya.

Pada tingkat inti, keindahan lebih dari bersinggungan dengan kebenaran (truth):  keindahan adalah penampakan luar kebenaran, kebenaran adalah inti keindahan; “Beauty is the splendor of the truth[3].

Pada tingkat inti, keindahan terkait_erat dengan kebaikan (goodness): kebaikan adalah keindahan internal, keindahan adalah kebaikan eksternal.

Pada tingkat inti, keindahan tidak hanya sekadar bersesuaian dengan kebajikan (virtue): kebajikan adalah keindahan jiwa, keindahan adalah kebajikan bentuk.

Yang memprihatinkan, kita hidup dalam peradaban modern,  “… satu-satunya peradaban yang merasa perlu mengklaim bahwa keburukan (ugliness) itu indah dan keindahan itu tidak ada” (Schuon, 2009:214).

Dimana dapat ditemukan keindahan?

    • Dalam kemurnian alamiah sekuntum bunga;
    • Dalam karya seni sakral (sacred arts);
    • Dalam struktur geometris kosmos[4];
    • Dalam drama kehidupan_kematian[5].

Apakah makna di balik drama kehidupan_kematian?

Menguji siapa yang paling indah karyanya (ahsanu ‘amalâ)[6].

Wallâhu_áalam….@


[1] Ekstraksi yang disederhanakan dari “Truths and Errors Concerning Beauty” dalam Frithjof Schuon (2009), Logic and Transcendence , halaman 2017-216.

[2] Hadits Qudsi.

[4] Al-Qur’an ( 67:3).

[5] Al-Qur’an ( 67:2).

[6] Al-Qur’an ( 67:2).